ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
4.1 Permasalahan Pembangunan
4.1.6 Permasalahan Ekonomi
Permasalahan yang dihadapi di bidang ekonomi terkait dengan masalah ketenagakerjaan, koperasi dan UMKM, penanaman modal, industri, perdagangan dan jasa, perikanan dan kalautan, pertanian dan ketahanan pangan, yang secara spesifik masing-masing permasalahannya dapat dielaborasi sebagai berikut :
(1) Masalah ketenagakerjaan yang ada berawal dari masih tingginya angka pengangguran terbuka yang pada tahun 2012 masih sebesar 19.614 orang yang berarti sekitar 18,12 % dari total angkatan kerja sebanyak 108.239 orang.
Angkatan kerja baru yang terus meningkat adalah penduduk yang lulus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan, ini yang potensial memunculkan pengangguran baru. Terbatasnya kesempatan kerja, kurangnya ketrampilan, serta rendahnya jiwa kewirausahaan merupakan beberapa penyebab munculnya pengangguran baru di Kota Probolinggo. Terbatasnya lapangan perkerjaan formal yang mampu menyerap keahlian para pencari kerja juga menyebabkan banyak tenaga kerja yang tidak terserap oleh lapangan kerja yang tersedia.
(2) Masalah yang dihadapi oleh pelaku usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi adalah masalah permodalan, pemasaran dan manajemen. Berbagai usaha telah ditempuh untuk menanggulangi masalah tersebut dan hasilnya memang telah mulai nampak baik dari segi meningkatnya jumlah pelaku usaha maupun dari omzet usahanya. Meskipun demikian masih diperlukan usaha yang bersifat komprehensif sehingga dapat memecahkan ketiga masalah tersebut secara permanen. UMKM-K di Kota Probolinggo masih memerlukan solusi yang lebih inovatif untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi agar mampu menigkatkan usaha dan daya saing mereka.
(3) Masalah yang dihadapi dibidang perdagangan adalah masih belum kuatnya daya saing produk lokal dipasar nasional dan internasional, terutama dalam menghadapi produk-produk berbiaya rendah. Penataan ritel/pasar modern perlu dilakukan untuk menciptakan persaingan sehat antar ritel maupun dengan pasar tradisional. Perhatian juga terarah pada belum kuatnya upaya perlindungan terhadap sarana dan prasarana perdagangan pasar tradisional.
(4) Masalah yang dihadapi bidang perindustrian, baik industri kecil, menengah maupun industri kreatif, secara umum adalah kuantitas dan kualitas sumber daya manusia pelaku usaha industri yang masih kurang memadai, penciptaan iklim yang kondusif bagi berkembangnya sektor industri yang belum optimal, apresiasi terhadap insan industri khususnya industri kreatif yang masih kurang, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang belum optimal dan perlunya dorongan peran lembaga pembiayaan yang mendukung pengembangan industri secara optimal.
(5) Beberapa permasalahan yang selama ini dianggap sebagai faktor penghambat pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan antara lain faktor internal dan faktor eksternal.Faktor Internal antara lain sebagian besar nelayan merupakan nelayan tradisional dengan karaktersitik sosial budaya yang belum kondusif untuk kemajuan usaha, sebagian besar struktur armada yang dimiliki masih didominasi struktur skala kecil dan tradisional (berteknologi rendah), ketimpangan tingkat pemanfaatan stock ikan antara kawasan satu dengan kawasan lainnya, masih banyaknya praktek illegal, penegakan hukum masih belum optimal, masih terus terjadi kerusakan lingkungan ekosistem laut, terbatasnya sarana prasarana sosial dan ekonomi (transportasi, komunikasi, kesehatan, pendidikan dan perumahan) dan lemahnya market intelligence yang meliputi penguasaan informasi tentang segmen pasar, harga dan pesaing.
Sedangkan faktor eksternal yang ikut mempengaruhi lambatnya pembangunan kelautan dan perikanan adalah khususnya yang terkait dengan kebijakan moneter, fiskal dan investasi seperti suku bunga pinjaman dan penyediaan kredit perikanan.
(6) Penanaman modal merupakan elemen penting dalam penyelenggaraan perekonomian daerah dan ditempatkan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan salah satu indikator penting yang dapat menunjukkan kemajuan perekonomian daerah. Permasalahan yang dihadapi
adalah belum optimalnya upaya pemanfaatan sumber daya potensial yang ada melalui kegiatan pengembangan, pengawasan/pengendalian dan promosi investasi.
(7) Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki. Menurut UU RI nomor 7 tahun 1996 tentang pangan menyebutkan bahwa pangan merupakan hak asasi bagi setiap individu di Indonesia. Oleh karena itu terpenuhinya kebutuhan pangan merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi.
Selain itu pangan juga memegang kebijakan penting dan strategis berdasar pada pengaruh yang dimilikinya secara sosial, ekonomi, dan politik. Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan ketahanan pangan di Kota Probolinggo adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi dimana setiap individu dan rumahtangga memiliki akses secara fisik, ekonomi, dan ketersediaan pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Selain itu aspek pemenuhan kebutuhan pangan penduduk secara merata dengan harga yang terjangakau oleh masyarakat.
(8) Pembangunan pertanian dalam arti luas dengan prinsip kemandirian dan berkelanjutan senantiasa harus diwujudkan dari waktu ke waktu.
Permasalahan yang secara umum dihadapi dalam pembangunan pertanian antara lain adalah penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan pertanian. Dari segi kualitas, faktanya lahan pertanian terus mengalami degradasi yang luar biasa, dari sisi kesuburannya akibat dari pemakaian pupuk an-organik. Sementara itu, dari sisi kuantitasnya konfeksi lahan di daerah kita yang memiliki kultur dimana orang tua akan memberikan pembagian lahan kepada anaknya turun temurun, sehingga terus terjadi penciutan luas lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan bangunan dan industri. Masalah lainnya adalah terbatasnya aspek ketersediaan infrastruktur penunjang pertanian. Hal ini diperparah dengan rendahnya kesadaran dari para pemangku kepentingan untuk mempertahankan lahan pertanian produksi, menjadi salah satu penyebab infrastruktur pertanian menjadi buruk.
Permasalahan lainnya adalah adanya kelemahan dalam sistem alih teknologi.
Ciri utama pertanian modern adalah produktivitas, efisiensi, mutu dan kontinuitas pasokan yang terus menerus harus selalu meningkat dan terpelihara. Produk-produk pertanian baik komoditi tanaman pangan (hortikultura), perikanan, perkebunan dan peternakan harus menghadapi pasar dunia yang telah dikemas dengan kualitas tinggi dan memiliki standar
tertentu. Tentu saja produk dengan mutu tinggi tersebut hanya dapat dihasilkan melalui suatu proses yang menggunakan muatan teknologi standar.
Masalah lain adalah muncul dari terbatasnya akses layanan usaha terutama di permodalan dan masih panjangnya mata rantai tata niaga pertanian, sehingga menyebabkan petani tidak dapat menikmati harga yang lebih baik, karena pedagang telah mengambil untung terlalu besar dari hasil penjualannya.