• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PANCASILA SECARA KONTEKSTUAL

A. Permasalahan

Buku ―Menggali Dan Menemukan Roh Pancasila Secara Kontekstual‖, penulis mulai dengan memaparkan atau membahas temuan awal dalam bentuk permasalahan. Mengingat sejarah kelahiran Pancasila sendiri dibidani oleh permasalahan fundamental dalam menggali, merumuskan dan menetapkan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Namun sebelum penulis melangkah lebih jauh lagi untuk memaparkan dan mendeskripsikan keterkaitan antara Pancasila dengan permasalahan, terlebih dahulu akan disinggung sepintas lalu apa itu permasalahan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia433 permasalahan berasal dari kata dasar

―masalah‖ yang berarti ―sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan‖, sedangkan permasalahan bermakna

―hal yang menjadikan masalah; hal yang dimasalahkan; persoalan‖.

Dalam Wikipedia434 masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa jadi kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi membingungkan. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan.

Umumnya masalah disadari "ada" saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Dalam beberapa literatur riset, masalah sering kali

433 Ebta Setyawan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), https://kbbi.web.id/masalah, (05 Maret 2020, 12:10).

434 Wikipedia, Masalah, https://id.wikipedia.org/wiki/Masalah, (Sabtu, 30 Mei 2020, 11:07).

144 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang paling kecil risikonya.435 Penemuan masalah sendiri adalah sebuah momentum awal yang krusial dan menentukan.436

Terkait dengan tulisan ini, permasalahan yang dimaksudkan adalah tentang problematika yang lahir dan dihadapi bangsa Indonesia, baik sebelum diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia maupun setelah ditetapkannya instrumen atau alat kelengkapan berdirinya negara, seperti konstitusi yang di dalamnya memuat dasar negara. Sejak semula permasalahan komplikatif yang harus diterima bangsa Indonesia sebagai sebuah realitas historis adalah posisinya yang terjajah dan tertindas bangsa asing. Bangsa Indonesia pernah merasakan ratusan tahun berada di bawah cengkeraman penjajahan asing. Jadi, permasalahan kontekstual pertama bangsa Indonesia ketika itu adalah kedudukannya di bawah penguasaan penjajah. Setelah menydari permasalahan tersebut, maka yang menjadi persoalan berikutnya bagi bangsa Indonesia, yaitu mencari jalan keluar untuk mengatasinya atau bagaimana caranya melepaskan diri dari hegemoni penjajah.

Persoalan pelik berikutnya, yakni faktor-faktor yang menghambat atau mempersulit bangsa Indonesia keluar dari genggaman penjajah. Tiga hal tersebut merupakan persoalan mendasar dan kontekstual yang pertama kali dihadapi bangsa Indonesia. Dari ketiga permasalahan konseptual itu strategi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari ikatan penjajah menjadi problematika paling fundamental. Mengingat permasalahan yang muncul pada waktu itu bukan semata-mata karena adanya kesenjangan

435 Wikipedia, Masalah...”

436 Yudhi Hartanto, Memahami Masalah dalam Pendekatan Filsafat, https://www.kompasiana.com/yudhihertanto/5aff7f8816835f277773b502/me mahami-masalah-dalam-pemdekatan-filsafat, (Sabtu, 30 Mei 2020, 11:30)

modernisasi teknologi (persenjataan) antar penjajah dengan yang dijajah, tetapi juga disebabkan bentuk perlawanan bangsa Indonesia belum berskala nasional, melainkan masih bersifat kedaerahan/

lokal. Artinya pergerakan melawan penjajah masih terisolir, terlokalisir dan terbatas di daerahnya masing-masing, bukannya terstruktur, masif, dan sistematis dalam konteks perjuangan nasional yaitu mendirikan sebuah negara yang berdaulat dengan memerdekakan seluruh bangsa yang ada. Sementara itu, permasalahan penjajahan yang berkepanjangan rupanya melahirkan penderitaan lahir batin yang sangat sulit dihapuskan dari memori kolektif bangsa Indonesia. Perlakuan sewenang-wenang penjajah dalam bentuk kekejaman fisik benar-benar merendahkan martabat bangsa dan menggoreskan luka menganga yang tidak mungkin bisa sembuh begitu saja. Bertolak dari permasalahan di atas timbulah sebuah keinginan, tekad, dan tujuan mulia bangsa Indonesia untuk sesegera mungkin memperoleh kemerdekaan yang kekal dan abadi.

Karena dengan kemerdekaan itulah bangsa Indonesia bisa terlepas dan terbebas dari belenggu rantai penjajah yang mengikatnya dengan kuat.

Namun disadari atau tidak, bahwa keinginan, tekad, dan tujuan luhur the founding tather untuk merebut kemerdekaan adalah sebuah tantangan, perjuangan, sekaligus permasalahan baru bagi bangsa Indonesia yang harus dipecahkan. Sebab usaha memerdekakan bangsa Indonesia dari cengkeraman penjajah bukanlah perkara yang gampang dan sederhana, seperti halnya membalikan telapak tangan. Diperlukan semangat juang yang tinggi dan pantang menyerah agar bangsa Indonesia dapat mencapai kemerdekaannya. Berbagai daya dan upaya dilakukan bangsa Indonesia untuk merebut atau memperjuangkan kemerdekaannya. Bukan hanya dengan mengangkat senjata melalui perang (revolusi fisik) yang dilancarkan oleh pejuang-pejuang tangguh bangsa ini. Strategi diplomasi melalui perundingan di atas meja, yang bertumpu kepada kemahiran intelektual tokoh-tokoh

146 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

bangsa pun telah ditempuh. Usaha gigih bangsa Indonesia pada saat itu kurang lebih memang membuahkan hasil, meskipun tidak serta merta menghadirkan sebuah kemerdekaan. Melalui perjuangan itu, secara psikologis penjajah mulai menyadari keseriusan bangsa Indonesia dalam memperoleh hak politiknya untuk merdeka.

Berkat keuletan dan kesabaran bangsa Indonesia, perlahan tapi pasti peluang untuk mendapatkan kemerdekaan pun terbuka lebar seiring mulai terpojoknya Tentara Jepang oleh Pasukan Sekutu.

Terdesaknya kedudukan Jepang dalam perang Asia Timur Raya membuatnya tidak memiliki alternatif lain, kecuali berupaya menunjukan kemurahan hatinya dengan menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dikemudian hari. Adapun langkah kongkrit dalam usaha merealisasikan janji-janji politiknya itu, Pemerintah Jepang pun membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Maret 1945. Secara historis, pendirian BPUPKI ini mempunyai tujuan untuk menyelidiki hal-hal yang penting mengenai kemerdekaan Indonesia, serta menyusun pelbagai rencana yang penting lainnya.437 Dengan memperhatikan tugas-tugas yang diembannya, dapat dikatakan, badan ini memiliki tanggungjawab moral yang begitu tinggi terhadap bangsa Indonesia. Bisa dipastikan akan banyak halangan dan rintangan yang dijumpai BPUPKI saat menjalankan tugasnya untuk menyelidiki kesiapan Indonesia merdeka. Sidang Badan Penyelidik itu adalah sidang yang berat, penuh resiko, karena sidang tersebut menyangkut kelanjutan nasib bangsa Indonesia di kemudian hari...‖.438

437 Saifudin, “Lahirnya UUD 1945: Suatu Tinjauan Historis Penyusunan dan Penetapan UUD 1945”, Unisia, No. 49/XXVI/III/2003, hlm. 296.

438 Setialaksana, Nana, “Peranan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1945 Dalam Proses Menuju Kemerdekaan Indonesia”, History and Education, Vol.4, No.2, (September, 2017), hlm.110.

Apakah dengan dibentuknya BPUPKI lantas persoalan perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan tuntas begitu saja? Tentu saja tidak!! Karena BPUPKI bukanlah sebuah tujuan, melainkan hanya sebuah badan bentukan Pemerintahan Jepang yang bertugas menyelidiki kesiapan bangsa Indonesia merdeka. Setelah dibentuk, BPUPKI pun mulai melaksanakan tugasnya untuk menyelidiki kemungkinan bangsa Indonesia merdeka. Artinya masih terbuka lebar munculnya pemasalahan baru seiring pelaksanaan tugas-tugas BPUPKI tersebut. Benar saja, bahwa saat sidang pertama BPUPKI berlangsung, beragam persoalan terkait kesiapan Indonesia merdeka pun segera mengambang ke permukaan. Tidak main-main permasalahan yang diketengahkan atau dikemukakan pendiri bangsa dalam persidangan BPUPKI adalah hal-hal bersifat pokok dan prinsipil. Permasalahan fundamental yang menyeruak setelah terbentuknya BPUPKI adalah mengenai dasar negara bagi Indonesia merdeka. Bermula dari pancingan DR. Radjiman Widiodiningrat selaku Ketua BPUPKI yang pada sidang pertamanya menanyakan atas dasar apa negara merdeka ini didirikan? Jadi masalah yang sangat asasi itu ialah atas dasar apa negara baru ini didirikan?439 Oleh karena itu, permasalahan utama yang muncul dan perlu diselesaikan BPUPKI dalam mempersiapkan Indonesia merdeka adalah dasar negara. Tokoh bangsa yang tergabung dalam BPUPKI memandang permasalahan dasar negara sebagai fondasi awal untuk berdiri dan tegaknya sebuah negara yang kekal abadi. Sudah menjadi wacana publik, bahwa suatu negara bisa berdiri dengan tegak dan kokoh jika dilandaskan pada dasar negara yang mapan. Wacana inilah yang

439 M. Fahri, “Akar Perbedaan Islam dan Politik Di Indonesia (Tinjauan Historis-Ideologis)”, Bestari, (Agustus-Desember, 1996), hlm. 31.

148 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

menjadi topik diskusi paling alot di kalangan tokoh-tokoh bangsa Indonesia baik kalangan Islam maupun nasionalis.440

Untuk mengurai persoalan filosofis tersebut beberapa anggota BPUPKI memberanikan diri tampil menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka. Rupanya permasalahan dasar negara bagi Indonesia merdeka tidak hanya berhenti sampai disana. Karena muncul persoalan baru yang tersimpul dalam bentuk pandangan-pandangan tokoh bangsa.

Mengingat pandangan para tokoh bangsa mengenai dasar negara yang diutarakan melalui pidatonya dalam persidangan BPUPKI tidaklah sama. Bukan hanya sekedar berbeda, sering kali konsep dasar negara yang diajukan tokoh bangsa bagi Indonesia merdeka berseberangan dan bertolak belakang satu sama lainnya. Gagasan kontradiktif dalam persidangan BPUPKI yang paling banyak menyita perhatian dan menguras energi anggotanya adalah menyangkut hubungan konseptual antara agama dengan negara.

Permasalahan tersebut menjadi krusial bagi bangsa Indonesia, karena berimplikasi luas terhadap perumusan dasar negara ke depannya. Dalam perjalanannya, problematika perumusan dasar negara, memunculkan dua kelompok yang berlawanan pandangan politik mengenai relasi agama dengan negara. Mau tidak mau, perbedaan gagasan tentang dasar negara bagi Indonesia merdeka harus segera dicarikan solusinya. Pandangan berbeda dalam badan BPUPKI merupakan permasalahan ideologis yang membutuhkan sentuhan dan resolusi intelektual dari pendiri bangsa. Untuk mendestruksi problematika tersebut, dibentuklah Panitia Kecil yang bertugas merumuskan kembali dasar negara dengan menyaring dan menemukan modus vivendi diantara pendapat-pendapat peserta sidang BPUPKI. Panitia Kecil BPUPKI terdiri dari sembilan orang, yakni Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakkir, Agus Salim,

440 Alman Amrusi Jailan , “Tarik Ulur Islam Dan Dasar Negara”, Daulah:

Jurnal Hukum Dan Perundangan Islam, Vol. 2, No. 1, (April, 2012), hlm. 3.

Wahid Hasjim (golongan Islam), Soekarno, Mohammad Hatta, Achmad Subarjo, Muhammad Yamin, dan A.A Maramis (golongan nasionalis).441

Tidak berbeda jauh dengan kondisi politik BPUPKI, Panitia Sembilan yang mengemban tugas mencari modus vivendi atas perbedaan gagasan tokoh bangsa juga mengalami nasib yang serupa. Kerja-kerja ideologis Panitia Sembilan umumnya terbentur dengan permasalahan yang mengkristal pada persidangan BPUPKI.

Tak ayal Panitia Sembilan yang memanggul tugas mulia tersebut selalu saja dirundung permasalahan yang sifatnya prinsip, asasi, dan fundamental. Implikasi yang ditimbulkan dari persoalan itu mengakibatkan pendirian anggota Panitia Sembilan terpecah belah, terpolarisasi, dan mengkerucut menjadi dua kelompok berbeda.

Tidak mengherankan bila perbedaan kelompok semacam ini memunculkan dua gagasan berlainan mengenai dasar negara bagi Indonesia merdeka. Meskipun pendekatan politik melalui lobi-lobi secara gencar telah dilakukan tokoh bangsa untuk memperpendek jarak ideologis yang ada, namun tetap saja permasalahan yang muncul sangat tidak mudah diuraikan. Pada umumnya pendiri bangsa terjebak dalam hiruk pikuk permasalahan prinsipil yang pemecahannya memang sangat sulit terutama untuk menemukan kesepakatan atau konsensus. Perdebatan umumnya berjalan alot karena anggota Panitia Sembilan masih bersikukuh dan berpegang teguh pada konsepsinya masing-masing. Perdebatan sengit yang arahnya saling mengunci gagasan satu sama lain menghiasi dan mewarnai pelaksanaan tugas Panitia Sembilan itu. Pergumulan ideologis dalam Panitia Sembilan ini baru dapat diakhiri setelah sikap kelompok nasionalis melunak dengan legowo menerima (setengah hati) konsep dasar negara yang ditawarkan kelompok agama. Setelah melalui perdebatan yang sangat menegangkan,

441 Mujar Ibnu Syarif, “Spirit Piagam Djakarta Dalam Undang-Undang Dasar 1945” , Jurnal Cita Hukum, Vol. 4, No. 1 (Juni, 2016). Hlm. 16.

150 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

sampailah Panitia Sembilan ini pada sebuah konsensus fenomenal tentang dasar negara yang dituangkan dalam rumusan Piagam Djakarta pada 22 Juni 1945.

Apakah dengan dicapainya konsensus pendiri bangsa pada 22 Juni 1945, permasalahan mengenai dasar negara Indonesia selesai begitu saja? Tentu tidak!! Karena permasalahan ideologis pada waktu itu masih menjadi momok menakutkan yang membayang-bayangi perjuangan bangsa Indonesia. Padahal Piagam Djakarta telah diterima dan disepakati sebagai dasar negara bagi Indonesia merdeka. Sayangnya rumusan dasar negara yang dituangkan pendiri bangsa dalam Piagam Djakarta belum sepenuhnya mampu mencerminkan, menampung, dan meng-akomodasi kondisi kontekstual Indonesia yang majemuk ini.

Artinya konsensus yang dicapai Panitia Sembilan tentang rumusan dasar negara dalam Piagam Djakarta tidak mengakomodir kepentingan politik yang berbeda. Apalagi masih banyak pihak yang merasa belum puas dengan kesepakatan yang dihasilkan Panitia Kecil ini. Dengan kata lain, Piagam Djakarta yang dimaksudkan sebagai resolusi integratif atas perbedaan gagasan dasar negara belum bisa meredam konflik dan memuaskan pihak-pihak yang bersilang pandangan. Piagam Djakarta yang diharapkan mampu mendestruksi permasalahan prinsipil bangsa dalam membentuk dasar negara justru masih memendam konflik laten yang sewaktu-waktu bisa saja muncul kembali. Kemungkinan bangkitnya permasalahan tersebut tidak terlepas dari proses maupun kondisi Panitia Sembilan, serta situasi Indonesia ketika Piagam Djakarta dirumuskan. Adapun faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik itulah yang pada gilirannya mempengaruhi Panitia Sembilan dalam merampungkan pekerjaannya merumuskan dasar negara bagi Indonesia merdeka. Hal itu terlihat jelas dari hasil kesepakatan dasar negara yang tertuang secara eksplisit dalam Piagam Djakarta. Keberhasilan Panitia Sembilan dalam mewujudkan konsensus dasar negara dengan menampikan dan

mengesampingkan kontekstualitas Indonesia yang majemuk merupakan sebuah pengingkaran yang akan membawa permasalahan ke depannya.

Wajar setelah bangsa Indonesia berhasil memproklamasi-kan kemerdekaannya, persoalan prinsipil ini bangkit kembali.

Mulai ada pihak yang mengungkit, mempermasalahkan, dan menggugat rumusan dasar negara karya Panitia Sembilan yang disahkan BPUPKI. Singkat cerita, bahwa sebelum berlangsungnya sidang PPKI pertama pasca kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, permasalahan ideologis kembali menyeruak.

Mengingat rancangan dasar negara yang merupakan hasil konsensus Panitia sembilan yang semula hendak diajukan dalam sidang pertama PPKI rupanya menuai polemik, kontroversi, dan penolakan dari masyarakat Indonesia bagian timur yang sebagian besar memeluk agama Kristen. Opsir Kaigun Jepang yang mengaku sebagai utusan masyarakat Indonesia bagian timur menyampaikan aspirasi tersebut kepada Moh. Hatta. Penolakan terhadap rumusan dasar negara yang tercantum dalam Piagam Djakarta merupakan permasalahan baru yang harus diterima dan dihadapi pendiri bangsa kala itu. Adapun yang menjadi keberatan utama (pokok persoalan) bagi masyarakat Indonesia bagian timur, yaitu rumusan dasar negara yang tertuang dalam Piagam Djakarta dianggap mengistimewakan golongan agama tertentu. Karena pengistimewaan golongan agama tertentu bagi mereka sama saja dengan melegalkan tindakan diskriminatif terhadap golongan agama lainnya. Oleh karena itu, mereka menolak bila negara merdeka yang hendak didirikan didasarkan atas agama tertentu.

Karena bila negara merdeka yang hendak didirikan masih dipaksakan dengan fondasi seperti itu masyarakat Indonesia bagian timur mengancam tidak akan ikut bergabung di dalamnya.

Penolakan masyarakat Indonesia bagian timur untuk bergabung dengan negara merdeka bila dasar negara yang disahkan adalah hasil konsensus Panitia Sembilan merupakan permasalahan baru

152 I Gusti Ngurah Santika, S.Pd., M.Pd M.Pd

yang mengganjal dan harus segera disingkirkan pendiri bangsa.

Berarti bila dipahami secara saksama, rumusan Piagam Djakarta sejak awal memang mengandung sebuah permasalahan kontekstual yang tidak mungkin bisa diterima dan disepakati bangsa Indonesia yang majemuk ini.

Meskipun secara kontekstual rumusan dasar negara dalam Piagam Djakarta bertentangan dengan kondisi majemuk bangsa Indonesia, bukan berarti dengan serta merta tuntutan masyarakat Indonesia bagian timur bisa dikabulkan the founding father. Namun permasalahan yang muncul bila tuntutan masyarakat Indonesia bagian timur tidak dipenuhi, yaitu persatuan dan kesatuan bangsa yang dengan susah payah dirajut akan terancam. Dalam pikiran Moh. Hatta terbayang bagaimana sulitnya membangkitkan, menggalang, dan membangun persatuan yang kokoh. Haruskah persatuan bangsa Indonesia kandas akibat rumusan dasar negara yang tidak menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Setelah melalui perenungan yang mendalam dengan mengutamakan integrasi bangsa di atas segala-galanya, Moh. Hatta pun memutuskan untuk mengadakan penjajakan dan pendekatan ideologis terhadap golongan muslim. Mengingat permasalahan besar akan muncul bila tuntutan masyarakat Indonesia bagian timur dipenuhi tanpa terlebih dahulu mengadakan pendekatan dengan golongan muslim. Permasalahan berikutnya yang muncul adalah bagaimana strategi Moh. Hatta meyakinkan golongan muslim agar mengerti dan memahami tuntutan masyarakat Indonesia bagian timur. Moh. Hatta pun berusaha berkali-kali membujuk golongan muslim supaya bersedia kembali merundingkan tuntutan tersebut.

Pada awalnya golongan muslim bersikeras tetap pada pendiriannya, yaitu menolak negosiasi apapun terkait Piagam Djakarta. Dengan kegigihan Moh. Hatta yang pantang menyerah meyakinkan golongan muslim pada akhirnya berbuah manis dengan diterimanya konsepsi yang diajukan masyarakat Indonesia bagian timur. Atas dasar persatuan bangsa Moh. Hatta bersama golongan muslim

sepakat memenuhi permintaan masyarakat Indonesia bagian timur untuk menghapuskan beberapa ketentuan yang berbau syariat Islam dalam Piagam Djakarta. Setelah dicoretnya ketentuan yang mengandung konotasi agama dalam Piagam Djakarta itu, barulah persidangan pertama PPKI dapat berjalan lancar dan berhasil mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 yang di dalam rumusannya memuat Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia.