III TEKNIK DAN PRODUKSI 1 Bagian Produksi
A. Permasalahan, Penyebab Dan Arah Perbaikan
A. Permasalahan, Penyebab Dan Arah Perbaikan
1. Kontinyuitas pengaliran air yang kurang saat ini di sebabkan oleh masih rendahnya produksi air oleh sistem yaitu hanya 18,94 liter/detik dari kapasitas produksi terpasang 30 liter/detik,kondisi ini di sebabkan oleh;
Tidak optimalnya pemanfaatan sumber mata air di Tanjung seli akibat mengalami rembesan air laut.pemopaan air hanya dilakukan 10 12 jam/hari tergantung kondisi pasang surut air laut .Sumur Dalam 1,2,3,4 dan 5 mengalami penyusutan debit (idealnya 25 liter/detik) sehingga pompa tidak dapat berproduksi sesuai dengan kapasitas terpasang. Kapasitas produksi yg terbatas tersebut sangat mempengaruhi tingkat pelayanan yg masih rendah yaitu 37,53%, dimana kondisi sekarang sudah tidak mampu lagi untuk meningkatkan pelayanan. Ini dapat terlihat dari kenyataan yg ada bahwa telah terpasang jaringan pipa induk pada beberapa ruas jalan di Kelurahan Dowora dan Soadara namun sampai saat ini belum dapat difungsikan oleh PDAM Kota Tidore meskipun ada permintaan sambungan pelanggan baru.
Pemanfaatan kapasitas reservoir saat ini baru mencapai 100 m3 dari total kapasitas reservoir 300 m3. Dengan demikian tidak ada cadangan air yg dapat disuplay saat jam pemakaian maksimum menyebabkan didaerah pelayanan tidak
BAB VII Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII -43 mendapatkan air bersih. Berdasarkan Survey Kebutuhan Nyata (RDS) kebutuhan air pada jam maksimum adalah 35,42 liter/detik namun yg dapat diproduksi saat ini hanya 18,94 liter/dtk. Agar kontinyuitas air dapat dipenuhi selama 24 jam/hari maka produksi harus mencapai kebutuhan harian maksimum (Qhm = 1,1) yaitu sebesar 25,97 liter/dtk dan untuk memenuhi kebutuhan jam puncak sebesar 35,42 liter/dtk, maka disarankan untuk mengoptimalkan pemanfaatan reservoir I.
Rendahnya tekanan air dibeberapa jaringan distribusi diakibatkan oleh :
- Pompa mata air Tanjung Seli diaktifkan hanya 10-12 jam/hari - Sumber air yg menyusut membuat pompa tidak dapat
memberi tekanan yg maksimal karena pipa tidak terisi penuh oleh air.
- Tekanan yg kurang dari 10 m seperti yg terjadi di lapangan dapat diakibatkan oleh tingginya tingkat kebocoran yakni 38,15%. Saat ini banyak jaringan pipa distribusi yg telah berumur lebih dari 10 tahun dan berada di tengah jalan raya.
2. Bidang Teknis “Sumber Air Baku”
Kapasitas total sumber air baku PDAM Kota Tidore sebesar 35 liter/detik, namun hingga saat ini pemanfaatnya belum optimal karena sumber mata air Tanjung Seli mengalami rembesan air laut menyebabkan kadar garam cukup tinggi. Dari laporan hasil analisa kualitas air di laboratorium PDAM Kota Tidore diketahui bahwa sampel air yg diambil saat laut pasang memiliki kadar garam melebihi persyaratan kualitas air bersih, namun saat laut surut mata air memiliki kadar garam yg masih memenuhi persyaratan.
Dari hasil pengamatan lapangan serta informasi dari petugas bagian produksi PDAM Kota Tidore, rembesan terjadi karena bak penangkap mata air (broncaptering) tidak kedap air dan mengalami retakan serta karena sekat eton penahan air pasang mempunyai kedalaman yg kurang. Pada saat pasang, air laut akan masuk melalui bagian bawah
BAB VII Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII -44 sekat beton dan jika dilakukan pemompaan air laut diluar broncaptering akan tersedot masuk melalui dinding yg retak. Fakta yg ada bahwa air yg sudah mengalami rembesan terkadang masih didistribusikan tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
Mengingat kondisi sumber air baku yg cukup sulit di Kota Tidore maka upaya pemanfaatan sumber mata air ini harus dioptimalkan yaitu dengan membangun kembali broncaptering serta komponen lain yg dianggap berpengaruh terhadap terjadinya rembesan. Penanganan permasalahan ini tentunya memerlukan suatu kajian/penelitian yg mendalam tentang pola rembesan, kondisi pasang surut air laut dan struktur lapisan tanah/batuan di sekitar broncaptering sehingga akan memberikan solusi penanganan yg tepat dan efektif. Namun karena ruang lingkup penulisan ini dititik beratkan pada sistem distribusi air bersih, maka penanganan yg disarankan tidak akan sedetail mungkin dan hanya merupakan penanganan secara umum.
3. Aspek Keuangan
Dari evaluasi terhadap aspek keungan dapat disimpulkan sebagai berikut;
PDAM kota Tidore masih mengalami kerugian yang disebabkan oleh biaya operasi lebih besar pendapatan operasi
Nilai rasio yang tidak sebanding dengan nilai pendapatan penjualan Nilai aktifitas produktif tidak sebanding dengan tingkat penjualan air Jumlah piutang yang belum tertagih cukup besar
Bila di cermati lebih lanjut terhadap urain neraca PDAM Kota Tidore pada tahun 2007,faktor utama kerugian adalah besarnya biaya penyusutan perlatan dan bangunan yang ada sehingga biaya penyusutan aktifitas tetap tidak sebanding dengan produktivitas dari aktifitas bersangkutan.seperti yang di ketahui bahwa beberapa bangunan milik PDAM Kota tidore memilikinilai besar seperti Resevior dan jaringan transmisi,hingga saat ini tidak di fungsikan namun biaya penyusutan aktivannya tetap di perhitungkan.Selain itu dengan tidak difungsikan reservior maka bangunan pompa selama 24 jam opersional akan
BAB VII Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII -45 membuat beban biaya produksi semakin besar.Hal ini terlihat dari biaya produksi air per m3 lebih besar dari harga jual air per m3,dengan demikian tarif yang berlaku tidak dapat menutupi biaya operasional yang cukup besar.
Berdasarkan hasil analisa diatas,dalam upaya untuk meningkatkan kinerja PDAM Kota Tidore terutama yang berkaitan dengan aspek kesehatan keuangan perusahaan dalam hubungannya dengan kelancaran operasional perusahaan dalam melayani para pelanggannya,maka beberapa hal yang direkomendasi kepada PDAM Kota Tidore adalah sebagai beriku;
Mengoptimalkan aktivan tetap yang dimiliki untuk mendukung produktivitas
Melakukan penilaian terhadap aktivan tetap yang tidak produktif atau tidak digunakan lagi untuk segera dikeluarkan dari klasifikasi aktivan tetap
Melakukan perbaikan terhadap aktivan tetap yang produktif namun saat ini dalam kondisi tidak efisien
Untuk menutupi biaya opersional yang cukup besar maka PDAM Tidore harus melakukan penyesuaian tarif yang berlaku saat ini dengan taetap mempertimbanggkan kemampuan pelanggan
Meningkatkan efektifitas penagihan dengan mengoptimalkan pelayanan dan petugas di lapangan
4. Aspek Operasional
Dari aspek operasional dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Cakupan pelayanan baru mencapai 21,29%,untuk daerah pelayanan kecamatan Tidore,Tidore selatan dan Tidore Utara,sedangkan untuk keseluruhan jumlah daratan Halmahera, jika dihitung Rasio terhadap jumlah penduduk Kota Tidore Kepulauan cakupan pelayanan dibawah
20% .
Kualitas air di sebagian daerah pelayanan terasa payau bahkan asin disaat laut sedang pasang,dikarenakan sumber mata air mengalami rembesan air laut
BAB VII Rencana Pembangunan Infrastruktur Cipta Karya VII -46 Kontinuetas panggilan di beberapa daerah pelayanan belum
mencapai 24 jam
Tingkat kehilangan air cukup tinggi yaitu 38,15%dari jumlah air yang diproduksi
Produktifitas pemanfaatan instalasi yang masi rendah dari kapasitas terpasang
Peneran meteran pelanggan yang tidak pernah dilakukan sepanjang tahun 2005
Tingkat kehilangan air tidak dapat dipastikan berhubung seluruh Water Mater yang terdapat pada setiap sumur bor dan Reservaor tidak berfungsi [Rusak]
Rasio karyawan per 1000 Pelanggan adalah 17,57,ini berarti tiap karyawan melayani pelanggan sudah mencukupi dari pelayanan yang ideal manurut standar
5. Aspek Administrasi
Nilai yg diperoleh dari aspek administrasi sangat rendah bila dibandingkan dengan maksimum nilai yg dapat diperoleh. Hal ini antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
Tidak memiliki Renncana Jangka Panjang(corporate lan)
Memiliki Rencana Organisasi dan Uraiyan tugas namun baru dipedomani sebagian
Tidak memiliki prosedur Organisasi standar
Memilikin Rencana penilaian Kinerja Karyawan namun belum dipedomani sepenuhnya