• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Persampahan

Dalam dokumen Bab.6 ASPEK TEKNIS PER SEKTOR (Halaman 91-94)

Permasalahan yang dihadapi hingga lima tahun kedepan paling tidak meliputi :

1. Kualitas pelayanan masih belum menyokong prinsip pemilahan sampah menjadi basah dan kering, dan daya angkut akan selalu terbentur kepada biaya pengandaan dan pemeliharaan peralatan.

2. Peran serta masyarakat untuk menekan volume timbulan sampah masih rendah, karena masih kuat anggapan bahwa tugas pengelolaan sampah masyarakat hanyalah membuang sampah dengan benar serta membayar retribusi saja.

3. Kelembagaan di tingkat masyarakat masih sulit ditumbuhkan, dan kelembagaan di Pemerintah Kota memerlukan waktu untuk pembinaan kualitas SDM dan kemampuan koordinasi antar instansi teknis.

4. Keberadaan peraturan masih belum menjangkau banyak aspek dalam pengelolaan kebersihan dan penegakkan peraturan yang masih belum maksimal.

5. Pendanaan di masa depan akan menghadapi masalah penetuan skala prioritas antara prioritas pendidikan, prioritas kesehatan, dan priorotas stimulus ekonomi masyarakat melalui peningkatan infrastruktur ekonomi dan jaring pengaman sosial. Sehingga besar kemungkinan kebijakan pendanaan daerah belum akan memprioritaskan masalah sanitasi.

6.4.2.3. Analisa Pengembangan Persampahan

Rumusan Masalah Analisa Permasalahan

1. Masyarakat sejak awal belum mengetahui bahwa ada peranan mereka dalam menekan volume timbulan sampah yang akan memberi dampak signifikan. Peranan lain yang belum disadari adalah melakukan pemilahan sampah yakni sampah basah dan kering, serta pemahaman bahwa kegiatan 3 R dapat menjadi sektor produktif masyarakat. 2. Kemapuan Dinas Kebersihan dalam

mengangkut volume sampah baru mencapai tingkat 80 %, sedangkan kemampuan pengelolaan baru mencapai 60 %.

3. Bentuk penanganan sampah pada tahap akhir di TPA masih berupa penimbunan (open dumping), belum sampai kepada pengelolaan sampah menjadi bentuk lain yang masih dapat memberikan manfaat ekonomi. Serta sistem menerapkan sistem sanitary landfill.

Kualitas Pelayanan  Keterbatasan armada pengangkut sampah  Keterbatasan fungsi TPA hanya sampai open

dumping. Peran

Masyarakat/Industri

 Kedisiplinan masyarakat membuang sampah rendah, apalagi diberi keharusan untuk memilah sampah menjadi sampah basah dan kering.  Kesadaran sebahagian masyarakat membayar

retribusi sampah masih rendah

 Belum adanya peran industri penghasil sampah anorganik (plastik, stereoform) dalam pemanfaatan ulang hasil industrinya

Kelembagaan/ Manajemen

 Kualitas SDM yang menangani persampahan masih kurang

 Keterbatasan dana untuk penyuluhan persampahan  Penyuluhan kurang, sehingga kesadaran rendah  Masih terbatasnya kader kebersihan

Pengaturan/ Peraturan

 Perda No. 8 tentang retribusi kebersihan belum bisa dijalankan dengan optimal

Pendanaan/Non Pemerintah

 Belum adanya upaya penggalian sumber-sumber dana swasta/masyarakat

Alternatif pemecahan masalah dalam menangani persampahan di Kota Medan adalah :

1. Melibatkan masyarakat sebagai pelaku awal dalam pemilahan sampah dan menekan volume sampah dengan mengubah pola perilaku dalam pengemasan barang.

2. Mendorong masyarakat dan swasta untuk menciptakan sektor produktif melalui kegiatan 3 R.

3. Meningkatkan metoda pemilahan sampah, metoda pengangkutan, kemampuan TPS dan sarana

4. Tingkat kemampuan TPA dari tempat penampungan akhir menjadi tempat pengelolaan sampah dan menggunakan sistem sanitary landfill.

Sistem pengelolaan sampah pada dasarnya dibagi dua menjadi : 1. Sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat, meliputi :

a. Merubah pola perilaku dalam mengemas dan memilih barang sehingga mampu menekan volume timbulan sampah baru

b. Menciptakan perilaku memilah sampah sejak dari rumah / pusat kegiatan menjadi sampah basah dan kering.

c. Turut serta dalam kegiatan produktif dalam hal 3 R, terutama re-use barang bekas menjadi barang untuk kegunaan lain serta komposting sampah organik menjadi pupuk organik. 2. Sistem pengelolaan sampah terpusat yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan meliputi :

a. Penyediaan TPS yang menampung sampah basah dan kering.

b. Sistem pengangkutan yang cepat dan memiliki daya angkut yang besar dan sudah meliputi sistem pengangkutan dan penyimpanan sampah basah dan kering.

c. Sistem pengelolaan sampah di TPA sudah ditingkatkan tidak lagi hanya tempat penimbungan tetapi sudah memiliki kemampuan proses sampah, serta menggunakan sistem sanitary landfill. Pengembangan sistem pengeloaan persampahan di Kota Medan membutuhkan :

1. Proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

2. Pengembangan metoda penampungan sampah dan pengangkutan sampah secara terpisah antara sampah basah dan kering.

3. Peningkatan TPA menjadi tempat pengelolaan sampah dan menggunakan sistem sanitary landfill.

6.4.2.4. Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan Sistem Persampahan

Penjabaran program-program Bidang Cipta Karya Sektor PLP sub sektor Persampahan selanjuynya disesuaikan dengan struktur tatanan program RPJMN yang diwujudkan dalam paket-paket proyek/program yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagi berikut :

1. Pembangunan prasarana dan sarana TPA sampah; 2. Pembangunan prasarana dan sarana TPST 3R; 3. Operasi dan pemeliharaan;

4. Pengembangan dan pemantapan kelembagaan pengelolaan persampahan;

5. Penyuluhan meningkatkan pemahaman pentingnya sanitasi dan 3R; 6. Piranti lunak: MP/outline plan, FS atau DED.

Usulan kegiatan-kegiatan tersebut selanjutnya didampingi dengan penyiapan kelengkapan bagi pelaksanaan kegiatan seperti yang telah ditentukan (rediness criteria) dengan penjelasan sebagai berikut.

A. Program Pembangunan Prasarana TPA

Lingkup kegiatan dan kriteria pembangunan infrastruktur Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) adalah sebagai berikut:

 Lingkup Kegiatan :

1. Peningkatan Kinerja TPA:

 Pembuatan tanggul keliling TPA, jalan operasional, perbaikan saluran gas dan saluran drainase serta pembuatan sel dan lapisan bawah yang kedap sesuai persyaratan sanitary landfill;

 Pengadaan alat berat setelah TPA selesai dibangun dengan syarat pemerintah kota bersedia mengoperasikan TPA secara sanitary landfill;

 Pembuatan jalan akses, pagar hijau (buffer zone) di sekeliling TPA, pembangunan pos pengendali, sumur pemantau, jembatan timbang, kantor operasional oleh pemerintah kab./kota ;

 Kesediaan pemerintah kota dalam menyediakan dana untuk pengolahan sampah di TPA serta pengadaan alat angkut sampah (melalui MoU Pemda dan Dit. PPLP);

 TOT kepada Tim Pelatih Kab/Kota untuk dapat melaksanakan pelatihan operator Instalasi Pengolahan Leachate (IPL);

 Sosialisasi/diseminasi NSPM pengelolaan IPL;

 Produk materi penyuluhan/promosi kepada masyarakat;

 Penyediaan media komunikasi (brosur, pamflet, baliho, iklan layanan masyarakat, pedoman dan lain sebagainya).

2. Pengembangan TPA Regional

 Penyiapan MOU antara 2 (dua) atau lebih kab./kota untuk pengelolaan TPA bersama secara regional;

 Penetapan daerah yang akan memanfaatkan TPA, serta yang bersedia menyediakan lahan sebagai lokasi TPA regional;

3. Pemanfaatan Prasarana dan Sarana yang ada  Rehabilitasi Prasarana Sarana;

 Melengkapi Prasarana Sarana yang telah ada;  Peningkatan Operasi dan Pemeliharaan.

4. Penyediaan Prasarana dan Sarana Persampahan atau Pembinaan Sistem Modul Persampahan  Pengadaan dan penambahan peralatan;

 Pembangunan Prasarana dan sarana;  Pilot Project TPA.

5. Piranti Lunak

 Peningkatan kelembagaan;

 Peningkatan peran serta masyarakat dan swasta;  Penyiapan hukum dan kelembagaan.

 Kriteria Kesiapan :

Kondisi dan persyaratan perolehan program tersebut di atas adalah:

1. Sudah memiliki RPI2-JM dan SSK/Memorandum Program atau sudah mengirim surat minat untuk mengikuti PPSP;

2. Adanya minat/permohonan dari Pemerintah Kabupaten/Kota untuk prasarana yang direncanakan;

3. Adanya dokumen Master Plan Persampahan/Studi/DED; 4. Adanya kesiapan lahan;

5. Adanya kesiapan institusi pengelola.

B. Program Pembangunan Prasarana Persampahan 3R

Dalam dokumen Bab.6 ASPEK TEKNIS PER SEKTOR (Halaman 91-94)

Dokumen terkait