Surat permohonan Kartini dan Roekmini tidak segera dijawab oleh pemerintah, karena itu mereka memutuskan membuka sekolah untuk anak-anak gadis. Sekolah ini menekankan pada pembinaan budi pekerti dan karakter anak, karena itu suasana sekolah diciptakan
seperti suasana di rumah. Semua aktifitas di sekolah selalu didasari
oleh perasaan saling menyayangi dan mencintai, sehingga didalamnya senantiasa terjalin keceriaan dan keharmonisan.
Bulan Juni 1903 kegiatan persekolahan dimulai dengan men- gambil tempat di pendopo kabupaten. Pengelolaan sekolah lepas dari pengaruh pemerintah, karena Kartini mengatur sekolah sesuai dengan gagasan yang ada dalam dirinya. Murid-murid sekolah umumnya anak-anak priyayi yang ada di kota Jepara, sehingga sekolah tidak perlu menyediakan penginapan.
seminggu, dari Hari Senin sampai dengan Hari Kamis. Murid belajar 4,5 jam setiap harinya, dimulai dari jam 08.00 sampai dengan jam 12.30. Murid-murid belajar membaca, menulis, menggambar, tata krama,
sopan-santun, memasak, serta membuat kerajinan tangan. Aktifitas
Kartini di sekolah menjadikannya melupakan rasa pedih karena gagal berangkat ke Belanda.
Kartini banyak menghabiskan waktu memikirkan pengelolaan sekolah yang baru didirikannya, karena minat masyarakat yang ingin menyekolahkan anaknya terus bertambah. Meskipun pikiran dan tenaganya habis untuk mengurus sekolah Kartini raut kebahagiaan senantiasa terpancar dari mukanya. Kartini bersyukur dirinya bisa mendatangkan manfaat bagi masyarakat.
Pertengahan Juli 1903 perhatian Kartini dalam mengelola sekolah mulai terpecah, karena datang utusan Bupati Rembang Raden Adipati Djojo Adiningrat membawa surat lamaran untuk Kartini. Bupati Sos- roningrat sangat bahagia menerima surat lamaran tersebut karena ada bangsawan dengan kedudukan tinggi melamar Kartini,21 karena itu su-
rat lamaran tersebut diterima tetapi keputusannya diserahkan kepada anaknya.
Bupati Sosroningrat menerima surat lamaran dengan perasaan bimbang, karena dirinya sudah mengetahui dan memahami pendirian Kartini yang memilih untuk tidak menikah. Bupati Sosroningrat dengan hati-hati menyampaikan surat lamaran tersebut agar jangan sampai menyinggung perasannya. Kartini diberikan kesempatan untuk berpikir secara jernih, apakah mau menerima atau menolak lamaran tersebut.
21 Orang tua pada masa itu merasa malu jika anak perempuannya belum menikah saat sudah berusia 20 tahun. Usia Kartini saat dilamar sudah 24 tahun, karena itu dianggap sudah terlalu tua untuk menikah.
Bupati Sosronigrat berharap Kartini bersedia menerima lamaran dari Bupati Rembang tersebut, karena itu kepadanya disampaikan per- timbangan-pertimbangan untuk mempengaruhi keputusan yang akan diambil Kartini. Menurut Bupati Sosoroningrat calon suaminya tersebut adalah bupati yang sudah berpikiran maju, yang akan menjadikannya sebagai garwa padmi. Orang tua hanya menginginkan puterinya bisa hidup bahagia.
Kartini sangat bimbang untuk mengambil keputusan dari permasalahan ini, karena ada pertentangan dalam dirinya untuk membahagiakan diri sendiri atau membahagiakan orang tua. Kartini menjadi semakin bingung jika memikirkan nasib surat permohonan izin belajarnya yang belum mendapatkan jawaban dari pemerintah. Kartini mohon izin kepada ayahnya diberikan waktu 3 hari untuk memikirkan jawaban dari surat lamaran tersebut (Soeroto, 1982: 337).
Kartini mulai berpikir menghitung keuntungan dan kerugian jika menerima atau menolak lamaran tersebut secara cermat. Keinginan untuk membahagiakan orang tua dan membahagiakan dirinya menjadi alat untuk menimbang keputusan yang akan diambilnya. Kartini juga mulai memandang baik terhadap pernikahan, karena tidak semuanya berujung pada penderitaan perempuan. Kunjungan Kartini ke R.A. Soe- lastri di Kendal dan R.A. Kardinah di Pemalang merubah pandangan nya tentang pernikahan.
Bupati Sosroningrat menunggu jawaban dari Kartini dengan perasaan harap-harap cemas, dengan perasaan berat hati Kartini menerima lamaran Raden Adipati Djojo Adiningrat. Pilihan tersebut diambil untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak, meskipun harus mengorbankan keinginannya untuk sekolah, ujian, kemudian
bekerja. Kartini memilih untuk menderita demi kebahagiaan kedua orang tuanya.
Surat lamaran Raden Adipati Djojo Adiningrat diterima oleh Kartini disertai dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu : 1. Bupati Rembang menyetujui dan mendukung gagasan-gagasan
dan cita-cita Kartini.
2. Kartini diizinkan membuka sekolah dan mengajar puteri-puteri bangsawan di Rembang (Soeroto, 1982: 341).
Jawaban Kartini segera disampaikan kepada Bupati Rembang dan mendapatkan persetujuan, sehingga pernikahan antara Raden Adipati Djojo Adiningrat dengan Kartini bisa segera dilaksanakan.
Pada 24 Juli 1903, setelah Kartini menerima lamaran Raden Adipati Djojo Adiningrat, datang surat dari Surat Keputusan Gubernur Jenderal yang memberikan izin kepada Kartini dan Roekmini untuk melanjutkan pendidikan ke Batavia. Mereka mendapatkan bantuan biaya dari pemerintah masing-masing sebesar f. 200,- (dua ratus gulden) sebulan selama dua tahun. Keputusan pemerintah tersebut menjadi tidak berarti karena Kartini sudah memutuskan untuk menikah, semen- tara Roekmini tidak mungkin pergi sendiri belajar di Batavia.
Kartini menilai sudah menjadi suratan takdir untuk menjalani garis hidupnya. Semua peristiwa yang dialaminya diterima dengan tabah dan sabar, karena itu bea siswa dari pemerintah yang sudah didapatkannya berusaha dialihkan untuk orang lain meskipun tidak dikenalnya. Permohonan ini disampaikan kepada Nyonya Abendanon melalui surat bertanggal 24 Juli 1903.
”Sudikah Ibu menyampaikan kepada Yang Mulia?
Hati kami sangat tertarik kepada seorang anak muda, dan kami ingin sekali melihat dia bahagia. Anak muda itu namanya Salim; orang Sumatera berasal dari Riouw. Tahun ini dia menempuh ujian di HBS dan mencapai nomer satu dari ketiga HBS. Anak itu ingin benar pergi ke Belanda untuk belajar jadi dokter; sayang keadaan keuangannya tidak mengizinkan. Gaji Ayahnya hanya f. 150,-
Tak dapatkah orang lain memanfaatkan bea siswa kami? Buatlah kami bahagia dengan cara membuat bahagia orang lain“.
Pernikahan Kartini yang semula direncanakan pada 12 November 1903, atas permintaan Bupati Rembang dimajukan menjadi 8 November 1903. Pernikahan dilaksanakan di Jepara dengan cara yang sederhana dihadiri oleh saudara-saudara dekat kedua mempelai. Pernikahan ini tidak disertai dengan upacara mencium kaki mempelai laki-laki oleh mempelai perempuan sesuai dengan permintaan Kartini.Mempelai la- ki-laki mengenakan pakaian dinas, sementara Kartini memakai pakaian seperti keseharian biasa (Soeroto, 1982: 354).