TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Sekilas Kehidupan Warga Bantaran
1. Pernyataan-Pernyataan dalam Penyebab Konflik
Secara struktural, konflik tentang dana bantuan banjir yang terjadi antara warga bantaran dan pemerintah kota, terjadi jauh sebelum banjir tahun 2007 terjadi. Penguasaan tanah bantaran oleh pemerintah dan badan pertanahan yang seharusnya menjadi tugas penting, tampaknya tidak dilakukan dengan baik. Kelemahan tersebut memungkinkan penguasaan tanah oleh individu. Selain itu aktivitas pemerintah kota yang kurang tanggap terhadap penghuni bantaran Sungai Bengawan Solo membuat warga merasakan adanya legalitas dan pengakuan pemerintah terhadap lokasi hunian di bantaran sungai yang seharusnya dilarang. Permasalahan pertanahan dan penguasaan tanah pada akhirnya bertalian dengan permasalahan dana bantuan banjir tahun 2007. Situasi seperti itu itu membuat ada dua status tanah di kawasan bantaran, yaitu: tanah hak milik (THM) dan tanah negara (TN).
Berdasarkan penjelasan di atas, struktur konflik yang terjadi antara warga bantaran Sungai Bengawan Solo dengan pemerintah kota Surakarta sudah terbentuk jauh sebelum bencana banjir terjadi di akhir tahun 2007. Bagaikan bom waktu yang siap meletus, potensi konflik yang sudah berkembang sejak dekade 1970-an tersebut pada akhirnya meletus menjadi pertentangan antara warga bantaran dengan pemerintah kota karena dipicu oleh banjir pada sebagian besar wilayah Surakarta pada akhir 2007. Wartawan harian umum Joglosemar, Abdul Alim mengatakan
Menurut saya konflik tersebut merupakan konflik kepentingan yang terjadi antara warga bantaran dengan pemerintah kota yang dimulai dari kerancuan proses pendataan lahan pada tahun 1970-an, karena saat itu belum ada proses pembebasan tanah oleh balai besar [pen: Bapeda dan Badan Pertanahan] sehingga diperjualbelikan kepada masyarakat, sehingga masyarakat sendiri belum tahu bahwa wilayah tersebut [pen: bantaran Sungai Bengawan Solo] merupakan daerah yang tidak boleh dihuni sekaligus daerah yang rawan banjir. Karena itu pada tahun 1970-an banyak warga masyarakat yang membeli wilayah tersebut, dengan
commit to user
mengaku memiliki sertifikat tanah]. Pada tahun 1980-an balai besar [pen: Bapeda dan Badan Pertanahan] menyatakan bahwa daerah bantaran merupakan milik pemerintah, selain itu pada tahun-tahun tersebut belum ada bencana seperti tahun 2007. (Wawancara pada 21 Maret 2010)
Selain itu, pada saat diwawancarai terkait dengan konflik yang terjadi antara pemerintah kota dan warga bantaran, Alim lebih banyak menyampaikan pendapatnya terhadap konflik tersebut melalui sudut pandang seorang jurnalis. Hal itu membuat ia lebih banyak bercerita tentang penyebab paling mendasar dari konflik tersebut, yang ternyata berkaitan dengan masalah pertanahan yang terjadi sejak tahun 1970-an.
Lebih lanjut Alim menjelaskan bahwa selama dekade 1970-an hingga sekarang wilayah bantaran rupanya lebih banyak dihuni oleh warga yang tinggal secara liar atau warga yang tinggal dengan cara menyerobot tanah milik pemerintah atau semacamnya. Ia menjelaskan hal itu dengan gaya yang santai namun tetap serius.
Sepanjang perjalanan waktu dari tahun 80-an hingga tahun 2000-an banyak tanah yang ditempati oleh warga yang sebenarnya tidak membeli tanah tapi hanya menyerobot atau tinggal di sana secara liar. Karena itu ada dua kelompok warga yang tinggal di daerah bantaran, yaitu kelompok yang membeli tanah, dan kelompok yang hanya mendirikan bangunan [pen: mendirikan bangunan secara liar]. (Wawancara pada 21 Maret 2010)
Dengan demikian kita dapat mengetahui bahwa tidak semua warga, yang tinggal di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo, tinggal secara resmi dan memiliki bukti otentik tentang kepemilikan tanah di wilayah bantaran. Hal itu menghasilkan dua kategori warga yang tinggal di bantaran, yaitu warga yang tinggal secara resmi karena memiliki sertifikat dan warga yang tinggal secara liar.
Fakta itu dikuatkan oleh pernyataan Sukasno SH, sebagai ketua DPRD Surakarta. Ia pada dasarnya menjelaskan tentang kondisi struktural yang sebenarnya dapat tumbuh menjadi potensi konflik di kemudian hari. Karena kesalahan
commit to user
pemerintah di waktu lampau–pemerintah Orde Baru, karena tidak konsisten menjalankan aturan. Secara lebih jelas, Sukasno menerangkan
Kalau saya boleh mengatakan, kesalahan ada pada pemangku kepentingan atau pemerintah kota saat itu [pen: pemerintah kota pada 40 tahun silam]. Sekitar zaman Orde Baru. Sehingga ini sebagai sebuah pembelajaran bahwa semua dinas yang terkait dengan itu tetap harus menjalankan semua aturan yang sedang berlaku. Kalau dirunut siapa yang mengeluarkan sertifikat seperti itu, tentu Badan Pertanahan, kok bisa bisa begitu? Lha iya kok bisa?... Jadi pemerintah saat itu [pen: pemerintah Orde Baru], pada dasarnya tidak konsisten menjalankan aturan. Hal yang sama juga terjadi di Bengawan Solo, pada saat ini. (Wawancara pada 11 Mei 2010)
Fakta bahwa peralihan dan perubahan status tanah bantaran yang sebenarnya tidak boleh di huni berubah menjadi pemukiman jelas merupakan janin konflik yang kelak akan berkembang di kemudian hari. Sukasno SH sendiri tidak dapat menjelaskan bagaimana perubahan status itu bisa terjadi selain hanya mengisayaratkan bahwa semua yang dinas yang ada saat itu ikut bertanggungjawab atas semua kesahalan tersebut.
Sebagai ketua DPRD, Sukasno SH, sudah menjabat selama dua periode, karena kemampuannya dan mungkin juga kecakapannya dalam menjalankan tugas. Di samping itu, Sukasno SH dikenal sebagai pribadi yang ramah dan murah senyum, kepada semua orang termasuk kepada peneliti. Sejujurnya, sempat muncul banyangan di benak peneliti, bahwa Sukasno SH, merupakan pribadi yang sulit ditemui, sombong, dan super sibuk, mengingat jabatannya sebagai ketua DPRD. Akan tetapi, semua pandangan dan gambaran tersebut sirna ketika bertemu langsung dengan ketua DPRD tersebut. Menariknya lagi, Sukasno SH juga relatif kooperatif dan memberikan begitu banyak informasi tentang permasalahan dana banjir yang mencetuskan konflik.
commit to user
Fakta bahwa ada perubahan status tanah terlarang menjadi tanah hak miliki yang sah, seperti yang terjadi di tanah bantaran Sungai Bengawan Solo, yang sekarang menjadi konflik, sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan konflik yang relatif besar di kemudian hari. Sebab, bagaimanapun juga kenyataan seperti itu akan menimbulkan kerancuan hukum dan inkonsisitensi terhadap penerapan aturan di kemudian hari. Secara struktural, kesalahan dalam penerapan aturan akan menghasilkan kesalahan fatal di kemudian hari. Struktur konflik yang terjadi di bantaran Sungai Bengawan Solo tentang dana bantuan banjir, tampaknya disebabkan oleh hal semacam itu.
Penyebab struktural konflik yang terjadi lebih dari tiga puluh tahun lalu serta terjadinya bencana banjir, tahun 2007, akhirnya memicu pertentangan antara warga dengan pemerintah kota. Dengan demikian, aktivitas pemerintah kota yang mulai melakukan pendataan korban banjir, yang terjadi pada tahun 2007, di wilayah bantaran rupanya menjadi titik kritis dimulainya konflik antara warga bantaran dengan pemerintah kota. Seorang warga bantaran bernama Maryono mengungkapkan Pada akhir tahun 2007, semua daerah yang terkena banjir diminta untuk mengirimkan data [pen: dalam hal ini data tentang perkiraan jumlah kerugian sementara], isi data itu saya nggak ngerti, tapi data itu mungkin digunakan untuk mendaftar atau data tentang siapa saja yang menjadi korban banjir. Data tersebut dikirimkan ke balaikota sebagai awal untuk meminta bantuan dari pusat [pen: pemerintah pusat di Jakarta]. Setelah ada informasi bahwa dana tersebut sudah dikucurkan dari pusat, tiba-tiba pemerintah kota bikin program yang bernama relokasi, karena pengertian bantuan banjir tidak sampai pada pengalokasian dalam bentuk lain. Jadi yang namanya bantuan banjir yang seharusnya tetap dalam bentuk bantuan, bukan dalam bentuk yang lain, sehingga bantuan tersebut juga harus dalam bentuk bantuan bukan diembel-embeli dengan tujuan dan program yang lain. (Wawancara pada 12 Februari 2010)
Peryataan Maryono memberikan gambaran besar bahwa proses pendataan yang dilakukan pemerintah kota untuk semua korban banjir rupanya tidak hanya
commit to user
dimaksudkan untuk memberikan bantuan materi semata namun juga meluncurkan program relokasi, yang kelak ditentang oleh sebagian warga bantaran.
Pernyataan tersebut dikuatkan oleh warga bantaran yang lain bernama Nunuk Ismiyati. Ia secara pribadi mengungkapkan bahwa pendataan yang dilakukan oleh pemerintah kota sebenarnya penuh dengan tipu daya atau mungkin juga kesalahan.
Setelah itu sekitar bulan Maret atau April, kami diberi blangko sebagai cara pendataan semua rumah yang terkena banjir di seluruh wilayah sungai Bengawan Solo. Lalu setelah itu, saya, sebagai sekretaris RT, dan ketua RT [pen: Agus Sumaryawan], mulai mendata siapa saja yang terkena banjir, di blangko tersebut ada formulir yang bertujuan mendata siapa saja yang tinggal di rumah tersebut dan nama KK yang terkait, untuk pada akhirnya dikirim ke kelurahan lalu ke Bapeda. Beberapa bulan kemudian semua pengurus RT diundang ke Bapeda untuk rapat dalam rangka membahas semua data yang telah dikirim sebelumnya, untuk diajukan ke menkokesra demi rehabilitasi rumah yang rusak karena banjir. ... namun mak bedunduk [pen: sekonyong-konyong] ada woro-woro wacana tentang program relokasi yang pada dasarnya ―mau yo monggo‖ yang juga sempat disampaikan pak walikota ―mau yo monggo-yen ora yo ora opo-opo, neng monggo-yen ono inspeksi soko Jakarta ojo salahne aku‖ [pen: mau ya silahkan tidak mau ya tidak apa-apa, tapi kalau ada pemeriksaan dari Jakarta jangan salahkan saya]. Dari sini-kan ada maksud bahwa relokasi itu sukarela, tetapi dia, pak walikota, tanpa sepengetahuan RT ada woro-woro akan diberikan bantuan sekitar 22,5 juta rupiah sebagai ganti rumah dan fasilitas umum yang rusak khusus bagi penghuni yang tinggal di tanah negara (TN). Jika dihitung-hitung jika tanah negara (TN) sudah mendapatkan bantuan, maka sisanya-kan ada hak bantuan bagi tanah hak milik (THM), tetapi mengapa sampai sekarang belum dibayarkan. Itulah yang jadi masalah sampai sekarang. ... (Wawancara pada 17 Februari 2010)
Peryataan yang dikatakan oleh Nunuk Ismiyati tersebut menujukkan bahwa pemerintah kota sebenarnya menggulirkan program relokasi dengan cama membonceng program dana banjir. Pendataan yang dilakukan pemerintah kota pada tahun 2008 tampaknya lebih banyak ditujukan untuk menggulirkan program relokasi tesrebut.
commit to user
Penjelasan yang disampaikan Nunuk Ismiyati menujukkan bahwa program relokasi yang dilakukan pemerintah terkesan tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan serta sosialisasi yang memadai atau setidaknya sosialisasi yang diberikan pemerintah kota untuk warga bantaran kurang menjangkau sasaran. Hal itu membuat munculnya beragam asumsi di antara warga bantaran atau setidaknya para anggota SKoBB.
Sementara itu, koordinator dan ketua aksi sekaligus ketua SKoBB, Agus Sumaryawan memberikan pernyataan bahwa konflik dan pertentangan ini dimulai ketika pemerintah kota melakukan proses pendataan yang kelak digunakan sebagai data relokasi. Padahal menurut pandangan Agus Sumaryawan, data tersebut hanya digunakan sebagai data pemberian bantuan bagi korban banjir dan tidak ada hubungan sama sekali dengan relokasi. Secara tegas ia menyatakan
Setelah banjir, pihak kelurahan mulai mendata semua warga yang tinggal di bantaran untuk dimintakan bantuan. Setelah itu semua ketua RT yang tinggal di bantaran disuruh ke pemerintah kota untuk mendapatkan
pengarahan seperti ini ―semua warga yang tinggal di bantaran pemberian
bantuan diberikan pada semua pemilik tanah, pemilik rumah, dan semua warga baik yang tanah negara (TN) dan tanah hak milik (THM)‖. Tidak ada sedikitpun muncul kata ―relokasi‖. Dengan demikian semua warga
yang tinggal menjadi korban banjir istilahnya hanya menunggu bantuan dari pusat [pen: bantuan dari pusat yang diberikan melalui pemerintah kota] yang akan segera cair dan tidak berbentuk material, kalau tidak berbentuk materi pasti berbentuk uang. (Wawancara pada 23 Januari 2010)
Peryataan yang diberikan Agus Sumaryawan tampak berkesesuaian dengan pernyataan yang diberikan Maryono dan Nunuk Ismiyati. Kenyataan itu menujukkan bahwa konflik dan pertentangan tentang dana banjir antara warga bantaran dan pemerintah kota dimulai oleh adanya pendataan korban banjir yang kelak digunakan sebagai program relokasi. Berdasarkan peryataan tersebut muncul indikasi bahwa
commit to user
pemerintah kota menggulirkan program relokasi secara tiba-tiba yang secara umum jauh dari rencana awal yang hanya berupa pemberian bantuan banjir.
Kenyataan seperti itu rupanya dikuatkan oleh peryataan Agus Sumaryawan yang secara umum menyatakan bahwa program relokasi tersebut baru muncul pada pertengahan tahun 2008 hingga akhir tahun 2008. Dengan demikian dapat diketahui bahwa program relokasi muncul belakangan setelah program bantuan dana banjir disosialisasikan. Pada saat diwawancarai, ia menyatakan bahwa
Namun di akhir tahun 2008, mulai beredar kencang isu tentang relokasi, sehingga warga yang tinggal di daerah ini mulai menentang secara keras,
bahkan di sini di pasang spanduk besar bertuliskan ―Tolak Relokasi Sampai Titik Darah Penghabisan‖. Penolakan tersebut tampaknya
membuat pemerintah kota merapkan tak-tik belanda ―devide et impera‖[pen: adu domba]. Di sini ada dua status tanah, tanah negara (TN) dan tanah hak milik (THM), karena dipecah maka warga yang tinggal di tanah negara menjadi takut terhadap pemerintah. Beberapa waktu setelah itu ada sosialisasi yang diberikan oleh pemerintah kota berkaitan dengan masalah relokasi tersebut yang intinya bermaksud mengatakan ―warga
yang mau relokasi silahkan, yang tidak mau silahkan, namun jika terjadi
sesuatu dari pemerintah pusat, pemerintah kota tidak ikut campur‖. Tetapi
proses sosialisasi tersebut seakan menekan warga yang tinggal di wilayah bantaran untuk mau direlokasi. (Wawancara pada 23 Januari 2010)
Keberadaan program relokasi yang bagi warga dianggap sebagai program yang berjalan sepihak membuat warga yang tinggal di bantaran Sungai Bengawan Solo menolak dengan tegas program relokasi. Dengan demikian, warga hanya mau menerima uang bantuan banjir namun menolak relokasi yang diberlakukan oleh pemerintah kota.
Perhatikan lebih jauh peryataan yang diberikan oleh Agus Sumaryawan tersebut. Secara langsung, ia menyatakan bahwa pemerintah tampaknya mendiskriminasi warga-warga yang enggan direlokasi. Ia juga menjelaskan adanya semacam bentuk tekanan sosial, mulai dari diskriminasi pembuatan KK (Kartu Keluarga) hingga pengurusan sertifikat tanah, yang dilakukan pemerintah kota
commit to user
terhadap warga yang enggan ikut serta dalam program relokasi. Kenyataan seperti itu rupanya menjadi salah satu alasan warga yang tinggal di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo untuk menggulirkan pertentangan kepada pemerintah kota terkait dengan tuntutannya terhadap dana bantuan banjir dan penolakan terhadap program relokasi.
Sosok Agus Sumaryawan dikenal sebagai seoarang yang dengan gigih menentang program relokasi tapi mendukung program pencairan dana bantuan banjir yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan. Perwajahan Agus Sumaryawan tampaknya dapat disamakan dengan Jaya Suprana, pemilik Museum Rekor Indonesia. Selain itu, gaya bicaranya yang berapi-api dan ngotot dan berani berpendapat membuat Agus Sumaryawan menjadi penentang program relokasi yang digulirkan pemerintah kota. Pengaruhnya yang kuat di masyarakat bantaran membuatnya berhasil menggerakkan masyarakat untuk mau berjuang bersama-sama untuk melakukan beragam aksi yang terkait dengan penolakan program relokasi.
Tentang proses pendataan yang dipermasalahkan itu, Suparno HS, seorang tokoh masyarakat, yang berperan besar terhadap program relokasi dan beberapa program pemerintah yang lain, sebenarnya menjelaskan bahwa proses pendataan tersebut sebenarnya digunakan sebagai data awal untuk mengetahui seberapa parah kondisi korban banjir untuk pada akhirnya dimintakan bantuan dari pemerintah pusat berupa uang untuk biaya perbaikan properti, relokasi sekaligus membeli tanah warga yang berada di tanah hak milik serta yang berada di tanah negara. Ia menjelaskan
Ya mungkin dari pemerintah kota, melalui lurah itu mulai mendata semua korban banjir tahun 2007 untuk diajukan ke pemerintah pusat, ke Jakarta, jadi datanya di taruh di sana [pen: pemerintah pusat]. Kemudian setelah itu, data yang dikirim ke sana [pen: ke pemerintah pusat], dan ke kelurahan, jadi kalau mau data lengkap semuanya ada di kelurahan. Terus setelah semua korban di data, oleh walikota semua korban yang telah
commit to user
didata tadi, dicatat dalam ‗buku putih‘ [pen: buku catatan tentang semua korban banjir yang akan diberikan bantuan dan akan direlokasi], juga
yang ditepi bantaran itu juga ada ‗buku putih‘, semua itu bagi warga yang
menempati tanah negara. Setelah itu semua warga yang berada di tanah negara, yang masuk dalam ‗buku putih‘ tadi semuanya kita data untuk
diajukan relokasi, sekaligus mendata semua warga yang bersedia relokasi, sehingga tidak ada paksaan. (Wawancara pada 14 April 2010)
Suparno HS sendiri tidak menampik kenyataan bahwa proses pendataan tersebut sebenarnya bertujuan untuk mendata semua korban banjir untuk pada saatnya diberikan dana bantuan banjir sebagai ganti kerugian. Namun demikian, data tersebut juga berfungsi sebagai data awal bagi upaya relokasi warga yang berada di sekitar bantaran, terutama yang tinggal di tanah negara (TN).
Penjelasan yang diberikan oleh Suparno HS juga menekankan bahwa proses relokasi itu bukanlah sebuah paksaan yang harus diikuti, namun sebuah bentuk program pemerintah dengan sifat sukarela. Jadi warga sendiri yang berhak memutuskan untuk ikut serta dalam relokasi atau tetap tinggal di wilayah bantaran dengan segala resikonya. Apabila warga bersedia ikut serta dalam program relokasi, maka warga tersebut harus menyerahkan beberapa syarat administratif sebagai bentuk pengurusan administrasi oleh pemerintah kota. Kenyataan bahwa program relokasi bersifat sukerela inilah yang belum banyak diketahui secara jelas oleh semua warga bantaran Sungai Bengawan Solo, baik yang tinggal di tanah negara maupun yang tinggal di tanah hak milik.
Ketika diwawancarai, Suparno HS juga menegaskan secara kuat bahwa sebenarnya program relokasi tersebut bukanlah sebuah keharusan, sama seperti yang pernah dikatakan oleh Agus Sumaryawan. Ketua Pokja tersebut menyatakan bahwa
―Setelah itu semua warga yang berada di tanah negara, yang masuk dalam ‗buku putih‘ tadi semuanya kita data untuk diajukan relokasi, sekaligus mendata semua warga yang bersedia relokasi, sehingga tidak ada paksaan.‖ (Wawancara pada 14
commit to user
April 2010). Tidak adanya paksaan dalam relokasi sebenarnya sangat ditekankan oleh Suparno HS dalam setiap pernyataan yang diberikan. Hanya saja Ia dan pemerintah kota hanya menekankan bahwa wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo merupakan larangan untuk hunian warga
Pemerintah kota tidak pernah memaksa untuk relokasi, tetapi itu-kan
tempat larangan, bukan tempat pemukiman. Lalu saya dari pokja bilang
begini ―mbok ya sudah program pemerintah diikuti saja, wong banjir itu
merepotkan orang banyak, selain hanya merepotkan sendiri‖.
(Wawancara pada 14 April 2010)
Pernyataan serupa juga dilakukan oleh Suparno HS pada saat sosialisasi sebelum program relokasi digulirkan.
Ya diberi pemahaman seperti ini, ―Anda itu menempati tanah negara‖ atau dibalik seperti ini ‖Anda itu setiap tahun kebanjiran, kalau begitu
Anda merepotkan diri sendiri dan orang banyak, maka dari itu pemerintah
memberlakukan relokasi dengan pemberian uang sekian.‖ (Wawancara pada 14 April 2010)
Paparan yang diberikan oleh Suparno HS sebenarnya menujukkan itikad baik pemerintah untuk menertibkan penghuni wilayah bantaran yang kebanyakan tinggal secara liar di tanah negara, sekaligus mensahkan mereka untuk dapat tinggal secara resmi, melalui program relokasi.
Warga bantaran yang menerima relokasi kebanyakan berasal dari tanah negara (TN). Keberadaan warga di tanah negara dianggap sebagai penghuni liar. Karena itu ketika pemerintah kota menggulirkan program relokasi, sekaligus mensahkan posisi hukum dan status tanah yang mereka miliki, warga bantaran yang tinggal di tanah negara langsung setuju. Saryono, sebagai warga bantaran yang mendukung relokasi menyatakan bahwa
Sebetulnya tanah itu [pen: tanah bantaran] tidak boleh ditempati, berhubung orang kepepet, ya mau nggak mau, orang ya saya kerjanya di situ, jadi ya tinggal di situ juga [pen: kawasan bantaran]. Terus dari pemerintah, karena selalu setiap hujan banjir, setiap hujan banjir, dari
commit to user
pemerintah mengadakan rapat yang dibantaran tanggul itu mau direlokasi. Itu juga ada yang menolak, juga ada yang menerima, tapi Alhamdulillah
banyak yang menerima begitu. (Wawancara pada 20 April 2010)
Penjelasan Saryono memberikan pemahaman bahwa warga bantaran yang menerima program relokasi kebanyakan berada di kawasan tanah negara yang sepenuhnya belum memiliki sertifikat tanah dan bukti pengesahan lainnya. Selain itu bujukan pemerintah terhadap mereka mungkin dapat dikatakan berhasil. Akan tetapi bujukan pemerintah kepada warga yang tinggal di tanah hak milik (THM) sepertinya kurang membuahkan hasil nyata.
Namun demikian, tidak semua warga bantaran tinggal secara liar, ada beberapa warga yang tinggal di wilayah bantaran secara resmi karena memiliki sertifikat tanah, seperti yang terjadi pada Agus Sumaryawan dan kawan-kawan. Mereka mulai menggulirkan konflik dan pertentangan kepada pihak pemerintah kota dengan mengedepankan isu relokasi terhadap semua warga yang tinggal di tanah negara maupun yang tinggal di tanah hak milik. Kenyataan seperti itu membuat sebagian warga yang tinggal di tanah hak milik mulai resah dan menganggap pemerintah kota berupaya keras menyingkirkan mereka dari wilayah bantaran sekaligus menahan dan menunda uang pembayaran bantuan banjir yang seharusnya menjadi hak mereka. Selain itu kepemilikan sah terhadap tanah di wilayah bantaran juga berhasil membuat pemerintah kota cukup kerepotan, pasalnya ada bukti sah yang menguatkan warga yang tinggal di tanah hak milik. Kebanyakan warga yang tinggal di tanah hak milik hanya mau pindah dengan imbalan yang pantas atau setidaknya membeli tanah mereka dengan harga yang pantas.