Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan pedoman dalam melakukan praktek akuntansi dimana uraian materi di dalamnya mencakup hampir semua aspek yang berkaitan dengan akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan sekumpulan orang dengan kemampuan dalam bidang akuntansi yang tergabung dalam suatu lembaga yang dinamakan Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Dengan kata lain, pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) adalah buku petunjuk bagi pelaku akuntansi yang berisi pedoman tentang segala hal yang ada hubungannya dengan akuntansi.
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) mencakup konvensi, peraturan dan prosedur yang sudah di susun dan disahkan oleh lembaga resmi ( standard setting body ) pada saat tertentu. Pernyataan ini memberikan pemahaman bahwa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan buku petunjuk tentang akuntansi yang berisi konvensi atau kesepakatan, peraturan dan prosedur yang telah disahkan oleh suatu lembaga atau institut resmi. Dengan kata lain Pernyataan Standar Keuangan (PSAK) merupakan sebuah peraturan tentang prosedur akuntansi yang telah disepakati dan telah disahkan oleh sebuah lembaga atau institut resmi.
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang disusun oleh lembaga Ikatan Akuntansi Indonesia selalu mengacu pada teori-teori yang berlaku dan memberikan tafsiran dan penalaran yang telah mendalam dalam hal praktek terutama dalam pembuatan laporan keuangan dalam memperoleh informasi yang akurat berhubungan data ekonomi. Berdasarkan pernyataan di atas dapat dipahami bahwa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) mengacu pada penafsiran dan penalaran teori-teori yang ” berlaku” dalam hal praktek ”pembuatan laporan keuangan” guna memperoleh informasi tentang kondisi ekonomi.
Pemahaman di atas memberikan gambaran bahwa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) berisi ” tata cara penyusunan laporan keuangan” yang selalu mengacu pada teori yang berlaku, atau dengan kata lain didasarkan pada kondisi yang sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan tidak menutup kemungkinan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) berisi ”tata cara penyusunan laporan keuangan ” yang selalu mengacu pada teori yang berlaku, atau dengan kata lain didasarkan pada kondisi yang sedang berlangsung. Hal ini menyebabkan tidak menutup kemungkinan Pernyataan S tandar Akuntansi Keuangan (PSAK) dapat mengalami perubahan / penyesuaian dari waktu ke waktu sejalan dengan perubahan kebutuhan informasi ekonomi. Dari keseluruhan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan suatu buku petunjuk dari prosedur akuntansi yang berisi peraturan tentang perlakuan, pencatatan, penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang disusun oleh lembaga IAI yang didasarkan pada kondisi yang sedang berlangsung dan telah disepakati (konvensi) serta telah disahkan oleh lembaga atau institut resmi.
Sebagai suatu pedoman , Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) bukan merupakan suatu kemutlakan bagi setiap perusahaan dalam membuat laporan keuangan. Namun paling tidak dapat memastikan bahwa penempatan unsur-unsur atau elemen data ekonomi harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar semua data ekonomi dapat tersaji dengan baik, sehingga dapat memudahkan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam menginterpretasikan dan mengevaluasi suatu laporan keuangan guna mengambil keputusan ekonomi yang baik bagi tiap-tiap pihak.Adapun Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang membahas mengenai piutang yaitu PSAK 54 dan PSAK 43.
1. PSAK 54
Pernyataan ini mengatur standar akuntansi keuangan dan pelaporan restrukturisasi utang-piutang bermasalah, baik bagi debitur maupun kreditur.
Pernyataan ini tidak mencakup akuntansi untuk penyisihan piutang tidak tertagih dan tidak mengatur metode estimasi piutang tidak tertagih. Pernyataan ini diterapkan pada akuntansi restruturisasi utang-piutang bermasalah.Pernyataan ini tidak mengatur :
a) Imbalan Kerja yang telah diatur dalam PSAK No.24 (Revisi 2004) b) Sewa yang telah diatur dalam PSAK No.30 (Revisi 2007)
c) Akuntansi untuk Investasi dalam Efek Utang tertentu yang telah diatur dalam PSAK No.50
d) Kuasi-Reorganisasi yang telah diatur dalam PSAK No. 51.
Untuk tujuan Pernyataan ini, restrukturisasi utang-piutang tidak selalu merupakan restrukturisasi utang-piutang bermasalah karena kondisi debitor mengalami kesulitan
keuangan. Penerapan Pernyataan ini harus dilakukan secara prospektif. Laporan keuangan untuk periode sebelum diberlakukannya pernyataan ini tidak perlu dinyatakan kembali (restated).Adapun isi dari beberapa ayat dalam PSAK 54 yaitu sebagai berikut :
1) Pernyataan ini mengatur standar akuntansi keuangan dan pelaporan restrukturisasi hutang-piutang bermasalah, baik bagi debitur maupun kreditur. Pernyataan ini tidak mencakup akuntansi untuk penyisihan piutang tidak tertagih dan tidak mengatur metode estimasi piutang tidak tertagih.
2) Untuk kepentingan Pernyataan ini, restrukturisasi hutang-piutang bermasalah terjadi jika, berdasarkan pertimbangan ekonomi atau hukum, kreditur memberikan konsesi khusus kepada debitur yaitu konsesi yang tidak akan diberikan dalam keadaan tidak terdapat kesulitan keuangan di pihak debitur. Konsesi ini dapat berasal dari perjanjian antara kreditur dan debitur atau dari keputusan pengadilan atau peraturan hukum. Sebagai contoh, kreditur dapat merestrukturisasi syarat hutang-piutang untuk meringankan beban kebutuhan kas jangka pendek debitur. Banyak restrukturisasi hutang-piutang bermasalah mencakup pengubahan syarat hutang untuk mengurangi atau menunda pembayaran kas yang diperlukan oleh debitur dalam jangka pendek guna membantu debitur untuk meningkatkan kondisi keuangan, sehingga debitur akan dapat membayar kembali hutangnya kepada kreditur. Sebagai contoh, kreditur dapat menerima kas, asset lain, atau pemberian saham dari debitur untuk
pembayaran kewajiban debitur, meskipun nilai yang diterima oleh kreditur lebih rendah dari jumlah hutang-piutang yang seharusnya dibayar oleh debitur, karena kreditur berkesimpulan bahwa langkah tersebut akan memaksimumkan pemulihan investasi yang telah dilakukan oleh kreditur.
3) Apapun bentuk konsesi yang diberikan oleh kreditur kepada debitur dalam restrukturisasi hutang-piutang bermasalah, tujuan kreditur adalah untuk mendapatkan yang terbaik dalam situasi yang sulit. Kreditur berharap untuk memperoleh kas lebih banyak atau nilai lain dari debitur,atau untuk meningkatkan kemungkinan penerimaan kas dengan cara memberikan konsesi dibandingkan jika kreditur tidak memberikan konsesi sama sekali.
4) Dalam Pernyataan ini, suatu piutang atau hutang (secara kolektif disebut hutang-piutang) merupakan suatu hak kontraktual untuk menerima uang atau suatu kewajiban kontraktual untuk membayar kas berdasarkan permintaan atau pada tanggal yang ditentukan, yang tercantum sebagai aset atau kewajiban di dalam neraca debitur atau kreditur pada saat restrukturisasi dilaksanakan. Piutang atau hutang yang termasuk dalam restrukturisasi hutang-piutang bermasalah umumnya terjadi sebagai akibat dari pemberian pinjaman atau peminjaman kas, investasi dalam efek hutang-piutang (debt securities) yang sebelumnya diterbitkan, ataupembelian atau penjualan barang dan jasa secara kredit. Contohny adalah piutang atau hutang, wesel, surat hutang (debentures) dan obligasi (baik yang dijamin maupun yang tidak dijamin atau baik yang dapat diubah maupun yang tidak dapat diubah), dan jika ada, bunga terhutang
yang berkaitan dengan hutang-piutang tersebut. Umumnya, restrukturisasi setiap piutang atau hutang dirundingkan secara terpisah, namun seringkali dua atau lebih piutang atau kewajiban dirundingkan secara bersamaan.
Sebagai contoh,seorang debitur dapat merundingkan restrukturisasi dengan sekelompok kreditur walaupun pada awalnya debitur menandatangani instrumen hutang-piutang secara individu dengan setiap kreditur. Untuk tujuan Pernyataan ini, restrukturisasi tiap piutang atau kewajiban, termasuk yang dirundingkan dan direstrukturisasi secara bersamaan, harus dipertanggung-jawabkan secara individual. Yang menjadi acuan adalah substansi, bukan bentuk formalnya. Sebagai contoh, bagi seorang debitur, obligasi merupakan satu kewajiban, meskipun terdapat banyak pemegang obligasi.
2. PSAK 43
Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi beserta pengungkapan transaksi anjak piutang baik bagi factor maupun bagi klien.Ruang Lingkup dalam Pernyataan SAK 43 ini hanya mengatur perlakuan akuntansi beserta pengungkapannya untuk transaksi anjak piutang. Pernyataan ini tidak mengatur perlakuan akuntansi untuk piutang yang digunakan sebagai jaminan pinjaman serta transaksi pengalihan aset lainnya, seperti sekuritasi aset (asset back securitization) dan transaksi pembelian kembali aset (repurchase).Anjak piutang adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan yang berasal dari transaksi usaha.Dalam PSAK 43 ini juga dijelaskan mengenai jenis-jenis anjak piutang dan perlakuan akuntansinya untuk setiap jenis
anjak piutang. Pernyataan ini berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1998. Penerapan lebih dini dianjurkan.