• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

1911-1999 KEUNTUNGAN LUAR BIASA (EXTRA ORDINARY GAIN):

1.12. Pernyatan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

PSAK adalah pedoman atau peraturan umum yang harus dianut jika seseorang melakukan pencatatan dan pelaporan akuntansi. PSAK diadobsi dari Financial Accounting Standards Board (FASB) yang merupakan standar akuntansi yang berlaku di Amerika Serikat. Kemudian dilakukan perbaikan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Akuntansi didasarkan pada 2 asumsi dan 4 konsep dasar akuntansi.

Dua asumsi tersebut adalah (Arief Suadi, 1994):

1. Entitas ekonomi diharapkan akan dapat hidup terus menerus, kecuali apabila terbukti sebaliknya.

2. Nilai mata uang yang digunakan sebagai satuan pengukur dalam akuntansi bernilai tetap.

Empat konsep dasar akuntansi tersebut adalah:

1. Entitas ekonomi dianggap terpisah dari penyedia dana (pemiliknya).

2. Aktivitas ekonomi dari sebuah entitas ekonomi harus dipecah-pecah ke dalam periode-periode dan setiap periode dibuatkan laporan keuangan.

3. Transaksi keuangan harus dicatat berdasarkan harga pertukaran agar laporan keuangan menjadi obyektif.

4. Penentuan laba periodik dan posisi keuangan dilakukan berdasarkan metode akrual (accrual basis).

Agar laporan keuangan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin, konsep dasar akuntansi tidak saja harus dimengerti oleh penyedia laporan keuangan, tetapi harus dimengerti juga oleh pemakainya. Prinsip dan konsep dasar akuntansi antara lain adalah:

1. Satuan Usaha/Entitas Ekonomi (Business Entity)

Akuntansi beranggapan bahwa suatu badan usaha itu terpisah dari pemiliknya. Setiap badan usaha memiliki kegiatan usaha tersendiri.

Kegiatan usaha selalu terjadi dalam satu unit usaha tertentu, demikian pula dalam sistem akuntansi. Badan usaha memiliki harta benda dan hutang-hutang tersendiri. Persamaan dasar akuntansi:

AKTIVA = KEWAJIBAN + EKUITAS 2. Perusahaan Masih Bekerja/Berjalan (Going Concern)

Perusahaan yang didirikan biasanya diharapkan akan dapat bekerja dengan baik dalam jangka waktu yang diinginkan. Demi kelangsungan hidup perusahaan diperlukan adanya suatu tingkat keuntungan tertentu. Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan yang diperoleh dengan biaya yang dibebankan. Dasar penghitungan

pendapatan dan biaya yang berlaku di Indonesia dilakukan atas dasar accrual basis, yaitu pendapatan yang diperoleh selama satu periode akuntansi tertentu dikurangi dengan biaya yang dibebankan selama periode yang bersangkutan. Pendapatan yang diperoleh adalah pendapatan yang diterima per kas selama satu periode ditambah dengan pendapatan periode ini yang belum diterima dikurangi dengan pendapatan periode yang akan datang yang diterima terlebih dahulu.

Biaya yang dibebankan adalah biaya yang telah dibayar secara tunai selama periode akuntansi, ditambah dengan biaya periode ini yang belum dibayar, kemudian dikurangi dengan biaya periode akuntansi yang akan datang yang dibayar lebih dahulu.

3. Satuan Hitungan (Unit Measurement)

Pencatatan dan pelaporan dalam akuntansi dinyatakan dalam satuan hitungan nilai tertentu, misalnya dalam satuan hitungan rupiah, dolar AS, yen, dan sebagainya.

4. Periode Akuntansi (Accounting Period)

Perhitungan mengenai besarnya penghasilan/pendapatan dan biaya/

beban harus didasarkan pada periode atau jangka waktu tertentu.

Misalnya, laporan laba rugi untuk periode satu tahun, enam bulan, tiga bulan, satu bulan, dan sebagainya.

5. Aspek Dualisme (Dualism Aspect)

Pencatatan dalam akuntansi dilaksanakan secara rangkap. Setiap transaksi dicatat dua kali secara sebelah menyebelah, yaitu pada sisi kiri atau debet dan sisi kanan atau kredit pada dua akun/rekening atau lebih yang berbeda.

6. Obyektivitas (Objectivity)

Data akuntansi harus sesuai dengan kenyataan. Harga-harga yang tercatat pada surat-surat bukti atau dokumen perusahaan harus sesuai dengan tingkat harga yang sedang berlaku di pasar pada saat itu. Catatan harus merupakan pencerminan tentang transaksi yang telah terjadi. Kenaikan harga tidak boleh dicatat sebagai keuntungan. Keuntungan baru akan diakui dan dicatat apabila telah terjadi transaksi jual beli.

7. Prinsip Harga Perolehan (Cost Principles)

Aktiva tetap dicatat sebesar harga perolehannya, yaitu harga beli ditambah dengan seluruh biaya yang perlu sehingga aktiva tetap yang bersangkutan digunakan untuk pertama kali dalam kegaiatan usaha.

Sebagai misal, UD Muncul membeli sebuah truk angkutan secara tunai seharga Rp300.000.000,00; biaya balik nama Rp30.000.000,00;

biaya pemasangan bak truk Rp5.000.000,00; biaya melatih mesin truk Rp400.000,00. Pembelian truk angkutan tersebut dicatat ke dalam akun/rekening “Truk Angkutan” sebesar Rp335.400.000,00.

8. Penjelasan Selengkapnya (Full Disclosure)

Pencatatan dan pelaporan dalam akuntansi dilakukan secara lengkap dan jelas, agar mudah dibaca kembali. Misalnya aktiva tetap yang berupa truk dengan harga perolehan (cost) Rp335.400.000,00 dan telah disusut selama 2 tahun sebesar Rp100.000.000,00 dilaporkan sebagai berikut:

Truk angkutan Rp335.400.000 Kurang: Akumulasi depresiasi 100.000.000

Rp235.400.000

9. Sikap Kehati-hatian (Conservatism)

Pencatatan dan pelaporan dalam akuntansi dilakukan secara hati-hati dan teliti. Keuntungan yang belum pasti tidak perlu dicatat dan dilaporkan. Sedangkan kerugian yang belum pasti boleh dicatat sekarang. Misalnya, UD Sami Rajasa memiliki saldo piutang sebesar Rp12.600.000,00 dan dari jumlah itu sebesar Rp92.000,00 mungkin tidak akan tertagih. Piutang seperti itu dilaporkan sebagai berikut:

Piutang usaha Rp12.600.000 Kurang: Cadangan kerugian piutang 92.000

Rp12.508.000 10. Dasar Kebendaan (Materiality)

Selisih perhitungan kas yang kecil sekali antara jumlah uang tunai menurut catatan dan jumlah uang yang tersedia di laci dan di bank boleh dianggap tidak ada. Sebab apabila dicari penyebabnya akan menyita banyak waktu yang nilainya lebih tinggi daripada nilai selisih kas yang dicari itu. Misalnya menurut catatan kas, saldo uang tunai adalah sebesar Rp53.564.800,00 dan jumlah uang tunai yang ada di dalam laci kas kecil dan kas di bank Rp53.563.900,00. Selisih kas yang jumlahnya hanya sebesar Rp900,00 kalau dibanding dengan total kas yang jumlahnya Rp53.563.900,00 bolehlah dianggap tidak ada, sebab jika dicari penyebab timbulnya selisih akan menghabiskan waktu dan tenaga saja.

11. Dasar Keajekan (Consistency)

Kita harus ajek/konsisten dalam menerapkan metode akuntansi dan dalam penyusunan laporan keuangan, kecuali harus digunakan metode baru karena metode yang lama sudah tidak sesuai lagi. Hal ini disebabkan dalam menetapkan alokasi biaya ada beberapa metode.

Dalam praktik ada beberapa metode dalam menetapkan besarnya biaya depresiasi aktiva tetap. Begitu pula dalam rangka menghitung dan menetapkan besarnya nilai persediaan akhir barang yang ada di dalam gudang. Misalnya, suatu perusahaan telah menerapkan metode FIFO guna menetapkan besarnya nilai persediaan akhir, dengan pertimbangan bahwa secara umum tingkat harga dalam keadaan stabil dari tahun ke tahun. Namun apabila harga-harga mengalami kenaikan, maka tidaklah diperbolehkan memakai metode LIFO, kecuali dalam keadaan darurat dan mendesak guna menyelamatkan kelangsungan hidup banyak perusahaan dan untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang secara umum sedang mengalami kelesuan dan depresi hebat.

2.1. J U R N A L

Jurnal merupakan buku pertama kali (the book of original entry) dalam mencatat rekening-rekening/perkiraan-perkiraan/akun-akun/pos-pos dengan jumlah-jumlah atau angka-angka yang sesuai.

Jurnal ada 2 macamnya, yaitu jurnal umum dan jurnal khusus:

1. Jurnal Umum (General Journal). Jurnal umum digunakan untuk mencatat segala macam transaksi yang telah terjadi di dalam perusahaan. Jurnal umum ada 4 macam bentuknya, yaitu:

a. Jurnal Umum Dua Lajur (Two Column General Journal)

Jurnal umum dua lajur memiliki dua sisi, yaitu sisi kiri/debet dan sisi kanan/kredit. Jurnal umum dua lajur (two coloumn general journal) hanya digunakan untuk menerangkan di dalam kelas.

Dalam praktik jarang dipakai, kecuali dalam hal tertentu. Bentuk jurnal umum dua lajur adalah sebagai berikut:

JURNAL Halaman : 09 Tanggal No

SB Rekening dan Uraian F Debet

(Rp) Kredit (Rp)

2017 2 01 Kas 111 1.500.000

Sep Modal Adi 411 1.500.000

(ditanamkan modal dalam perusahaan)

3 02 Persekot sewa 116 300.000

Kas 111 300.000

(dibayar sewa 6 bulan)

4 03 Perlengkapan cukur 115 100.000

Kas 111 100.000

(dibeli tunai perlengk. cukur)

7 Peralatan cukur 211 1.000.000

Kas 111 200.000

Hutang usaha 211 800.000