• Tidak ada hasil yang ditemukan

kursi) menurut Pemohon dan Termohon adalah sebagaimana pada Tabel 3 di bawah ini

NO NAMA PARTAI POLITIK

PEROLEHAN KURSI

Termohon Pemohon 1 Partai Nasional Demokrat 1 0

2 Partai Kebangkitan Bangsa 1 1 3 Partai Keadilan Sejahtera 0 0 4 Partai Demokrasi Indonesia

Perjuangan

1 1

5 Partai Golongan Karya 2 3

6 Partai Gerakan Rakyat Indonesia Raya

1 1

7 Partai Demokrat 1 1

8 Partai Amanat Nasional 0 0 9 Partai Persatuan

Pembangunan

1 1

10 Partai Hati Nurani Rakyat 1 1 14 Partai Bulan Bintang 0 0 15 Partai Keadilan dan Persatuan

Indonesia

0 0

JUMLAH 9 9

Tabel 3: perolehan kursi masing-masing peserta pemilu untuk Daerah Pemilihan Tanjung Balai 2 (9 kursi) menurut Pemohon dan Termohon

Bahwa Termohon telah salah dan keliru dalam menetapkan jumlah perolehan suara sah kepada Partai Amanat Nasional untuk Pemilu Anggota DPRD Kota Tanjungbali pada Dapil Tanjungbalai 1, Tanjungbalai 2 dan Tanjungbalai 3;

Bahwa seandainya Termohon benar dalam menetapkan jumlah perolehan suara sah Pemohon akan memperoleh tambahan 1 (satu) kursi di Daerah Pemilihan Tanjungbalai 2;

Bahwa untuk seluruh daerah pemilihan Pemilu DPRD Kota Tanjungbalai perolehan total suara sah Partai Amanat Nasional seharusnya 0 (kosong) dengan alasan-alasan hukum sebagai berikut:

Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional Kota Tanjungbalai tidak menyerahkan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye hingga batas akhir penyampaian Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye [Bukti P.5.8.2.4 s/d Bukti P.5.8.2.6 ], padahal Termohon telah mengingatkan Partai Politik Peserta Pemilu Kota Tanjungbalai [Bukti P.5.8.2.7 ];

Pasal 138 Ayat (3) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya dalam permohonan ini disebut UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD) menentukan:

”Dalam hal pengurus Partai Politik peserta pemilu tingkat pusat, tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota, tidak menyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu kepada kantor akuntan publik yang ditunju koleh KPU sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 135 ayat (1), Partai Politik yang bersangkutan dikenai sanksi berupa tidak ditetapkannya calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota menjadi Calon Terpilih”.

Pasal 215 huruf a UU Pemilu DPR, DPD dan DPRD menentukan: ”Penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, dari partai politik peserta pemilu didasarkan oleh perolehan kursi Partai Politik Peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan, dengan ketentuan Calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota ditetapkan berdasarkan calon yang memperoleh suara terbanyak;

Ketentuan Pasal 138 Ayat (3) jo Pasal 215 huruf a UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD mengandung makna partai politik yang tidak menyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu kepada kantor akuntan publik yang ditunjuk oleh KPU hingga batas waktu yang ditentukan tidakakan memiliki anggota legislatif di tingkatan masing-masing;

Bahwa peraturan perundang-undangan pemilu tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana dampak penerapan ketentuan Pasal 138 Ayat (3) UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD terhadap perolehan suara sah partai politik tingkat Kabupaten, Kota, Propinsi atau pusat yang tidak menyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu, namun apabila melihat ketentuan tentang Dana Kampanye pada pasal-pasal lain dalam UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD( Pasal 138 ayat (1), Pasal 303, 304 dan 305) yang antara lain berbunyi:

”Dalam hal pengurusan Partai Politik Peserta Pemilu tingkat pusat, tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota tidak meyampaikan laporan awal dana kampanye Pemilu kepada KPU,KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 ayat (1), partai politik yang bersangkutan dikenai sanksi berupa pembatalan sebagai peserta pemilu pada Wilayah yang bersangkutan” (vide Pasal 138 Ayat (1) UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD);

”Peserta pemilu dilarang menerima sumbangan dana kampanye pemilu yang berasal dari: a. Pihak asing, b. Penyumbang yang tidak jelas identitasnya,

c.Pemerintah, Pemerintah daerah, BUMN dan BUMD atau d.Pemerintah Desa dan Badan Usaha Milik Desa (vide Pasal 139 UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD);

”Setiap orang, kelompok, perusahaan, dan/atau badan usaha nonpemerintah yang memberikan dana kampanye pemilu melebihi batas yang ditentukan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 131 ayat (10) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah)(vide Pasal 303 Ayat (1) UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD);

Bahwa dengan memperhatikan ketentuan pidana dalam hal dana kampanye (Pasal 303, 304 dan 305 UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD) maka penyampaian laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu menjadi sangat penting bila dibandingkan dengan tidak meyampaikan laporan awal dana kampanye Pemilu yang tidak memiliki kaitan dengan sanksi pidana tetapi hanya sanksi pembatalan sebagai peserta pemilu;

Bahwa sehubungan dengan dalil pemohon angka 10, maka terhadap partai politik yang tidak menyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu, seluruh suara sah Partai Amanat Nasional haruslah 0 (kosong) untuk Daerah Pemilihan Kota Tanjungbalai 1, Tanjungbalai 2, dan Tanjungbalai 3;

KESIMPULAN

Bahwa dikarenakan DPD Partai Amanat Nasional Kota Tanjungbalai tidak meyampaikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana kampanye pemilu dengan mengacu pada UU Pemilu DPR,DPD dan DPRD khususnya Pasal 138, Pasal 303, 304 dan 305, maka perolehan suara sah Partai Amanat Nasional untuk DPRD Kota Tanjungbalai menjadi 0 (kosong);

Bahwa karena suara sah Partai Amanat Nasional untuk DPRD Kota Tanjungbalai adalah 0 (kosong), maka terjadi perubahan BPP pada Dapil 1 dari 2.738 menjadi 2.584, Dapil 2 (dua) dari 3.373 menjadi 3.172 dan Dapil 3 (tiga) dari 3.232 menjadi 3.069, dengan demikian perolehan kursi Partai Golkar untuk Dapil 2 (dua) bertambah 1(satu), semula mendapatkan 2 (dua) kursi menjadi 3 (tiga) kursi;

2.5.2 NIAS Dapil II

Bahwa Termohon telah salah menetapkan Perolehan suara Pemohon dan berpengaruh pada perolehan kursi Anggota DPRD di Daerah Pemilihan Nias 2 Kabupaten Nias;

Tabel: Data Perolehan Suara berdasarkan DB

No. DAPIL Perolehan Suara

Selisih Alat Bukti Termohon Pemohon

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1. Nias II 773 960 187 P- 1s/d.P- 2

4.3.1 Bahwa suara pemohon secara perorangan dikurangi sebesar 187 suara, oleh Termohon, sehingga berpengaruh untuk perolehan kursi DPRD Kab. Nias Dapil II, karena seharusnya bila Termohon melakukan rekapitulasi secara benar Pemohon mendapat jatah 1 (satu) kursi,-

4.3.2. Bahwa Suara Pemohon pada tingkat KPPS Desa Siofabanua, PPS Desa Siofabanua dan PPK di Kecamatan Bawolato adalah berjumlah 960 suara (tidak terjadi perubahan). Sedangkan Hasil Rekapitulasi KPU di tingkat Kabupaten Nias suara Pemohon di Desa Siofabanua, Kecamatan Bawolato adalah 773 suarasehingga jumlah suara Pemohon berkurang 187 suara di Tingkat Rekapitulasi KPU Kabupaten Nias.(Bukti Terlampir).

4.3.3. Bahwa berdasarkan hasil Rekapitulasi Pleno di Tingkat KPUD Kabupaten Nias sebesar 773 suara sangat jelas menyimpang dari fakta yang ada, dimana hal tersebut dapat dibuktikan dengan Hasil Rekapitulasi Pleno di Tingkat KPPS, PPS dan PPK Kecamatan Bawolato adalah 960 suara (tidak ada perubahan).

4.3.4. Bahwa dengan berkurangnya suara Pemohon di Tingkat Rekapitulasi KPUD Kabupaten Nias sebanyak 187 suara yang tidak mempergunakan hasil rekapitulasi Pleno di Tingkat KPPS, PPS dan PPK Kecamatan Bawolato mengakibatkan Pemohon merasa sangat dirugikan dengan tidak terpilihnya caleg OSARAO BAWAMENEWI, SH (Pemohon)

DPRD KAB/KOTA LABUHAN BATU SELATAN V