Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa persalinan (labor) adalah rangkaian peristiwa mulai dari kenceng-kenceng teratur sampai dikeluarkannya produk konsepsi (janin, plasenta, ketuban, dan cairan ketuban) dari uterus kedunia luar melalui jalan lahir dengan bantuan atau kekuatan sendiri. (Sumarah, 2008;h.1)
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik dan janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan 30-40 minggu. Lahir spontan dengan plasenta berkembang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin (Prawiroharjo, 2010;h.100).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil kosepsi ibu. Proses ini dimulai dengan kontaksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada servik, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta (Varney ,2008;h.672).
b. Teori sebab- sebab terjadinya persalinan
Menurut Sumarah (2008;h.3) teori sebab–sebab terjadinya persalinan antara lain :
1) Teori keregangan otot rahim
Dengan meregangnya otot rahim dalam batas tertentu menimbulkan kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai dengan sendirinya.
2) Teori penurunan progesteron
Proses penuanan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu,dimana terjadi penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap progesteron.
3) Teori oksitosin internal
Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot rahim, sehingga sering terjadi kontarksi braxton hicks. Menurunya konsentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktifitas,sehingga persalinan dimulai.
4) Teori prostagladin
Konsentrasi prostagladin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu,yang dikeluarkan oleh desidua. Pemberian prostagladin pada saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga terjadi persalinan.
Teori ini menunjukkan pada kehamilan dengan anensefalus sering terjadi keterlambatan persalinan karena tidak terbentuk hipotalamus.
6) Teori kekurangan nutrisi
7) Bila nutrisi berkurang maka hasil konsepsi segera dikeluarkan. 8) Faktor lain.
c. Permulaan terjadi Persalinan
Dengan penurunan hormon progesteron menjelang persalinan dapat terjadi kontraksi. Menurut Manuaba (2013;h.164) Kontraksi otot rahim meyebabkan:
1) Turunnya kepala, masuk pintu atas paggul, terutama pada primigravida minggu ke-36 dapat menimbulkan sesak dibagian bawah, diatas simfisis pubis dan sering ingin berkemih atau sulit kencing karena kandung kemih tertekan kepala.
2) Perut lebih melebar karena fundus uteri turun.
3) Muncul saat nyeri di daerah pinggang karena kontraksi ringan otot rahim dan tertekannya pleksus Frankenhauser yang terletak sekitar serviks (tanda persalinan palsu).
4) Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi otot rahim. 5) Terjadi pengeluaran lendir, lendir penutup serviks dilepaskan.
Faktor-faktor penting dalam persalinan adalah power
(His/kontraksi otot rahim,kontaksi otot dinding perut, kotraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan, keregangan dan kontraksi
ligamentum rotundum), pasanger (janin dan plasenta), passage (jalan lahir lunak dan jalan lahir tulang) (Manuaba, 2013 h.169).
d. Tanda Persalinan
Menurut Manuaba (2013:h.169) tanda-tanda persalinan dijabarkan sebagai berikut:
1) Kekuatan His, makin sering terjadi dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.
2) Dapat terjadi pengeluaran pembawa tanda (pengeluaran lender, lender bercampur darah).
3) Dapat disertai ketuban pecah.
4) Pada pemeriksaan dalam, dijumpai perubahan serviks (perlunakan serviks, pendataran serviks, terjadi pembukaan serviks).
5) Kekuatan yang Mendorong Janin dalam Persalinan.
Aktivitas kontraksi rahim (His) mempunyai beberapa ciri khas sebagai berikut:
a) Saat hamil. Perubahan perimbangan estrogen dan progesteron menimbulkan kontraksi otot rahim dengan sifat tidak teratur menyeluruh, tidak nyeri, dan berkekuatan 5 mmHg yang disebut Braxton Hicks. Makin tua kehamilan, kontraksi Braxton Hicks makin sering terjadi sejak umur 30 minggu. Kekuatan kontraksi Braxton Hicks akan menjadi kekuatan His dalam persalinan (Manuaba, 2013 h.170).
b) Kekuatan His kala pertama. Sifat kontraksi otot rahim kala pertama, menurut Manuaba (2013;h.170) adalah sebagai berikut: (1) Kontraksi bersifat simetris.
(2) Fundal dominan, artinya bagian fundus uteri sebagai pusat dan mempunyai kekuatan yang paling besar.
(3) Involunter artinya tidak dapat diatur oleh parturient (ibu). (4) Intervalnya makin lama makin pendek.
(5) Kekuatannya makin besar dan pada kala II diikuti dengan reflex mengejan.
(6) Diikuti retraksi artinya panjang otot rahim yang telah berkontraksi tidak akan kembali ke panjang semula.
(7) Setiap kontraksi mulai dari pace maker yang terletak sekitar insersi tuba, dengan arah perjalanan ke daerah serviks uteri dengan kecepatan 2cm/detik.
(8) Kontraksi rahim menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut, dan dapat menjalar ke arah paha.
c) Kekuatan His kala II (pengusiran). Kekuatan His pada akhir kala pertama atau permulaan kala kedua mempunyai amplitude 60 mmHg, interval 3 sampai 4 menit dan durasi berkisar 60 sampai 90 detik (Manuaba, 2013 h.171).
Kekuatan His dan mengejan mendorong janin kearah bawah dan menimbulkan keregangan yang bersifat pasif. Kekuatan His menimbulkan putar paksi dalam, penurunan kepala atau bagian terendah, menekan serviks dimana terdapat pleksus
Frankenhauser, sehingga terjadi reflex mengejan. Kedua kekuatan His dan refleks mengejan makin mendorong bagian terendah sehingga terjadilah pembukaan pintu, dengan crownin dan penipisan perineum. Selanjutnya kekuatan His dan refleks mengejan menyebabkan ekspulsi kepala, sehingga berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, muka, dan kepala seluruhnnya (Manuaba, 2013;h.171).
Kekuatan His (kontraksi) rahim pada kala III. Setelah istirahat sekitar 8 sampai 10 menit, rahim berkontraksi untuk melepaskan plasenta dari insersinya, di lapisan Nitabusch. Pelepasan plasenta dapat mulai dari pinggir atau dari sentral dan terdorong ke bagian bawah rahim. Untuk melahirkan plasenta diperlukan dorongan ringan secara Crede (Manuaba, 2013;h. 171).
d) Kekuatan His pada kala IV. Setelah plasenta lahir, kontraksi rahim tetap kuat dengan amplitude sekitar 60 sampai 80 mmHg, kekuatan kontraksi ini tidak diikuti oleh interval pembuluh darah tertutup rapat dan terjadi kesempatan membentuk thrombus. Melalui kontraksi yang kuat dan pembentukan thrombus terjadi penghentian pengeluaran darah postpartum. Kekuatan His dapat diperkuat dengan memberi obat uterotonika. Kontraksi ikutan saat menyusui bayi sering dirasakan oleh ibu postpartum, karena pengeluaran oksitosin oleh kelenjar hipofisis posterior (Manuaba, 2013 :h.171-172).
e. faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jalannya proses persalinan 1) Penumpang (passanger).
Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta. Hal-hal yang harus diperhatikan mengenai janin adalah ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin; sedangkan yang perlu diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan luasnya.
2) Jalan lahir (passage).
Jalan lahir terbagi atas dua, yaitu jalan lahir keras dan jalan lahir lunak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari jalan lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang pangggul; sedangkan yang perlu diperhatikan pada jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina dan introitus vagina.
3) Kekuatan (power).
Faktor kekuatan dalam persalinan dibagi atas dua, yaitu: a) Kekuatan primer (kontraksi involuter)
b) kontraksi berasal dari segmen atas uterus yang menebal dan hihantarkan ke uterus bawah dalam bentuk gelmbang.
c) Kekuatan sekunder (kontraksi volunter)
d) Kekuatan sekunder tidak mempengaruhi dilatasi serviks, tetapi setelah dilatasi serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting dalam usaha untuk mendorong keluar dari uterus dan vagina (Sondakh, 2013 hal 4).
4) Posisi ibu (positioning).
Perubahan posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk menghilangkan rasa letih, memberi rasa nyaman, dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak (contoh: posisi berdiri, berjalan, duduk, dan jongkok) memberi sejumlah keuntungan, salah satunya adalah memungkinkan gaya gravitasi membantu penurunan janin (Sondakh, 2013. Hal: 5).
5) Respons psikologis (psychology response).
Respon psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh:
a) Dukungan ayah bayi/pasangan selama proses persalinan. b) Dukungan kakek-nenek (saudara dekat) selama persalinan. c) Saudara kandung bayi selama persalinan.
f. Tahapan persalinan.
Menurut Sondakh (2013;h. 5-8) tahapan persalinan antara lain : 1) Kala 1 (Kala Pembukaan)
Kala 1 dimulai dari saat persalinan dimulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase yaitu :
a) Fase laten : berlangsung selama 8 jam, servik membuka sampai 3 cm.
b) Fase aktif : berlangsung selama 7 jam, servik membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3 fase yaitu :
(1) Fase akselersi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
(2) Fase dilaktasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3) Fase deselarasi : pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kla satu berlangsung +12 jam, sedangkan pada multigravida +8 jam. (Sondakh, 2013;h.5).
2) Kala II (Kala Pengeluaran Janin)
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut :
a) His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik.
b) Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
c) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan akibat tertekannya pleksus frankenhauser
d) Kedua kekuatan his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi :
(1) Kepala membuka pintu
(2) Subocciput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara berturut–turut lahir ubun–ubun besar, dahi, hidung, serta kepala seluruhnya (Sondakh,2013;h.6).
Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu menyesuaikan kepala pada punggung (Sondakh, 2013;h.6).
e) Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan cara :
(1) Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, kemudian ditarik dengan menggunakan cunam ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan keatas untuk melahirkan bahu belakang.
(2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi .
(3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban (Sondakh,2013;h.6). f) Lamanya kala II untuk primigravida 1,5–2 jam dan multigravida
1,5–1 jam.
3) Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III dimuai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Proses
pelepasan plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan tanda–tanda dibawah ini :
a) Uterus menjadi bundar
b) Uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.
c) Tali pusat bertambah panjang.
d) Terjadi semburan darah tiba–tiba (Sondakh, 2013;h.6). 4) Kala IV (Kala Pengawasan/Observasi/Pemulihan)
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam post partum. Rata–rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc biasanya 100–300 cc. Jika perdarahan lebih dari 500 cc maka dikatakan abnormal.
Menurut Sondakh (2013;h.7) tujuh pokok penting dalam pengawasan kala IV adalah :
a) Kontraksi rahim: baik atau tidaknya diketahui dengan pemeriksaan palpasi.
b) Perdarahan : ada atau tidaknya, banyak atau biasa.
c) Kandung kemih: harus kosong, jika penuh, ibu dianjurkan untuk berkemih dan kalau tidak bisa lakukan kateter.
d) Luka–luka : jahitan baik atau tidak, ada perdarahan atau tidak. e) Plasenta dan selaput ketuban harus lengkap.
f) Keadaan umum ibu, tekanan darah, nadi, pernafasan dan masalah lain.
g. Langkah-langkah persalinan normal
Menurut APN (2008) langkah-langkah persalinan normal ada 58 langkah, sebagai berikut:
1) Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda kala dua, seperti sebagai berikut:
a) Adanya keinginan untuk meneran. b) Tekanan pada rektum dan vagina. c) Perineum menonjol.
d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.
2) Memastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk sfiksia: tempat datar dank keras, 2 kain dan 1 handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari tubuh bayi.
a) menggelar kain diatas perut ibu, tempat resusitasi dan ganjal bahu bayi.
b) Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3) Memakai celemek plastik.
4) Melepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian keringkan tangan dengan tisu atau handuk pribadi yang bersih dan kering.
6) Memasukkan oksitosin ke dalam tabung suntik memakai sarung tangan DTT dan steril.
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hai-hati dari depan ke belakang, dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air DTT.
a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan seksama. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi.
b) Membuang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.
c) Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5%)
8) Melakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap. Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.
9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan ke dalam larutan klorin 0,5% kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
10) Memeriksa denyut jantung janin untuk memastikan DJJ setelah kontrasksi dalam batas normal(120-160 x/menit).
a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf
11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu memposisikan diri dengan nyaman dan sesuai dengan keinginannya. Menunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang ada.
12) Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaimana peran mereka untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran secara benar
13) Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (bila ada rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).
14) Melaksanakan bimbingan meneran saat ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran:
a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
b) Medukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman.
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
e) Mengajurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
g) Menilai DJJ tiap kontraksi uterus selesai
h) Segera merujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah 120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam) meneran (multigravida)
15) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
16) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm. 17) Meletakkan kain bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu. 18) Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat
dan bahan.
19) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
20) Setelah tampak kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk meneran perlahan sambil bernapas cepat dan dangkal.
21) Memeriksa kemungkinan lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi dan meneruskan segera proses kelahiran bayi.
a) Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi
b) Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua tempat dan potong diantara dua klem tersebut
22) Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
23) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, menempatkan kedua tangan di masng-masing sisi muka bayi menganjurkan ibu untuk meneran saat ada kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut gerakkan kearah atas dan kearah luar untuk melahirkan bahu belakang.
24) Setelah kedua bahu dilahirkan, menggeserkan tangan kearah perineum ibu untuk menyangga kepala bayi. Lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tagan atas untuk menelusuri dan memegang lengan dan siku sebelah atas.
25) Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusuri tangan atas berlanjut ke punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki (masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).
26) Melakukan penilaian selintas. Bila bayi mengalami asfiksia lakukan resusitasi.
27) Mengeringkan dan memposisikan tubuh bayi diatas perut ibu. a) Mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan. b) Mengganti handuk basah dengan handuk yang kering.
c) Memastikan bayi dalam kondisi mantap diatas perut ibu
28) Memeriksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi lain dalam uterus (hamil tunggal).
29) Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan menyuntikkan oksitosin (agar uterus berkontraksi baik).
30) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, menyuntikkan oksitosin 10 unit (IM) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin)
31) Dengan menggunakan klem, menjepit tali pusat (2 menit setelah bayi lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar bayi. Dari sisi luar klem penjepit, dorong isi tali pusat kearah distal (ibu) dan lakukan penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.
32) Memotong dan pengikatan tali pusat.
a) Dengan satu tangan, mengangkat tali pusat yang telah dijepit kemudian lkukan pengguntingan, tali pusat (lindungi perut bayi) diantara 2 klem tersebut
b) Mengikat tali pusat dengan benang DTT/ steril pada satu sisi kemudian lingkarkan kembali 1 benang ke sisi berlawanan dan lalkukan ikatan kedua menggunakan simpul kunci
d) Melepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah disediakan
33) Mempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada perut
ibu. Usahakan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari putting susu ibu.
34) Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi.
35) Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
36) Meletakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, ditepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat. 37) Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah
sambil tangan yang lain mendorong uterus kearah belakang-atas (dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas. Jika uterus tidak berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu. 38) Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorsokranial)
a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta
b) Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat
(1) Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM
(2) Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh (3) Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan
(4) Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
(5) Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir
(6) Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta mnual
39) Saat plasenta muncul di introitus vagina, melahirkan plasenta dengan kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
40) Segera setelah plassenta dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus terasa lembek). Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/masase.
41) Memeriksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu mupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke dalam kantung plastik atau tempat yang sudah disediakan.
42) Mengevaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan penjahitan bila leserasi menyebabkan perdarahan.
43) Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
44) Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit bayi-ibu (di dada ibu paling sedikit 1 jam).
a) Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusui dini dalam waktu 30-60 menit. Bayi cukup menyusui dari 1 payudara
b) Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu
45) Melakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1mg IM di paha kiri anterolateral setelah jam kontak kulit ibu-bayi.
46) Memberikan suntikan imunisaasi Hepatitis B (setelah 1 jam pemberian vitamin K1) di paha kanan anterolateral.
a) Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewktu-waktu bisa disusukan
b) Letakkan kembali bayi pada dada bu bila bayi belum berhasil menyusu di dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu
47) Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan c) Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascpersalinan
d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang sesuai untuk penatalaksanaan atonia uteri
48) Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
49) Mengevaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
50) Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan.
a) Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama pascapersalinan
b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal
51) Memeriksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernapas denga baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal