• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Persentase kematian bibit sukun

Hasil analisis ragam (Lampiran 5), menunjukkan bahwa perlakuan crystal soil tidak nyata mempengaruhi persentase kematain bibit sukun. Persentase kematian bibit sukun yang diamati setiap harinya disajikan pada Tabel berikut, Persentase kematian bibit sukun yang diperoleh selama pengamatan 3 minggu (Lampiran 5) berbeda untuk setiap perlakuan. Hal ini disebabkan dosis crystal soil

5,4 5,4 3,4 3,2 3,2 3 2,9 2,7 1,5 1,5 1,3 1,2 1,2 1 1 1 0,8 0,6 0,5 0,5 0 0 1 2 3 4 5 6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 B ob ot B as ah ( g) Hari Ke- Bobot Basah (g)

yang diberikan berbeda untuk setiap tanaman. Persentase kematian bibit sukun disajikan pada Tabel 1.

Perlakuan Ulangan Hari ke 19 20 21 A0 1  2  3  4  A1 1  2  3  4  A2 1  2  3  4  A3 1  2  3  4  A4 1  2  3  4  A5 1  2  3  4  A6 1  2  3  4  Total 28 16 9 3

Persentase Kematian bibit 57,14 32,14 10,71 100,00 Tabel. Persentase kematian bibit sukun

Pada table di atas menunjukkan bahwa pada hari ke-19 tingkat persentase kematian bibit sukun paling tinggi yaitu 57,14 sedangkan persentase kematian bibit sukun yang paling rendah adalah pada hari ke-21 yaitu 10,71%. Tanaman

yang mati bisa berbeda sesuai dengan perlakuan yang diberikan. Tingkat persen kematian bibit yang lebih tinggi terjadi pada perlakuan crystal soil yang diberikan kepada tanaman yang lebih sedikit. Tabel di atas menunjukkan bahwa pada persentase 57,14% jumlah bibit sukun yang mati yaitu yang paling banyak yaitu 16 bibit sukun yang mati. Sedangkan pada persentase 10,71%, jumlah bibit yang mati yaitu yang paling sedikit yaitu 3 bibit sukun yang mati.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan crystal soil tidak nyata mempengaruhi tinggi dan diameter bibit sukun. Hasil tersebut menunjukkan ketersediaan air mempengaruhi pertumbuhan bibit sukun.. Menurut Haryati (2003) kekurangan air pada tanaman terjadi karena ketersediaan air dalam media tidak cukup dan transpirasi yang berlebihan atau kombinasi kedua faktor tersebut.

Dalam pertumbuhannya, bibit sukun mengalami kekurangan air yang disebabkan tidak adanya dilakukan penyiraman. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terjadinya penurunan persentase kadar air tanah. Setiap harinya kadar air tanah yang diukur, persentasenya semakin menurun. Hal ini disebabkan bahwa air yang tersedia di dalam tanah semakin hari semakin berkurang. Adanya crystal soil sebagai komopenen penahan air juga mengalami penurunan berat bobot basah crystal soil tersebut. Panas matahari juga mempengaruhi crystal soil tersebut di mana suhu pada rumah kaca yaitu pada pagi hari (T=300, 2’C, dan kelembababn 70%), siang hari (T=330, 2’C, dan kelembababn 74%) dan sore hari (T=33,80, 2’C, dan kelembababn 68%)

Hasil penelitain juga menunjukkan bahwa perlakuan crystal soil tidak nyata mempengaruhi persentase kematian bibit sukun. Pada perlakuan (A1, A2,

A3, A4, A5, A6) crystal soil yang diberikan, A6 adalah jumlah crystal soil yang paling banyak diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman A6 tersebut merupakan tanaman yang paling lama mati atau tingkat persentase kematian bibit sukun yang paling rendah. Meskipun perlakuan yang lain juga memiliki tingkat persentase yang tinggi, akan tetapi tanaman A6 juga ikut turut di dalamnya (bibit sukun yang mati berdasarkan ulangan). Bibit sukun yang mati ditandai oleh daun yang kecoklatan, layu dan kering, berguguran, batang yang kurus dan kering. Bibit sukun hanya dapat bertahan dalam waktu tiga minggu saja. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti dosis crystal soil yang sedikit dan panas matahari karena crystal soil tidak boleh kontak langsung dengan sinar ultra violet. Jumlah crystal soil yang diberikan juga mempengaruhi pertumbuhan bibit sukun tersebut. Semakin lama air dalam tanah bisa disuplai dan ditahan

Dari pengamatan yang dilakukan, dapat dlihat bahwa crystal soil yang diberikan tidak signifikan terhadap pertumbuhan. Dari penelitian Rahardjo (2007) bahwa di lapangan memerlukan crystal soil sebanyak 5-20 kg/ha dan dari hasil sementara penelitiannya menunjukkan bahwa hydrogel mempunyai potensi untuk digunakan sebagai salah satu teknologi mengatasi usaha budidaya tanaman di lahan kering dan efisiensi pemakaian air untuk tanaman-tanaman tertentu. Berbeda dengan pengamatan di rumah kaca, hasil penelitian menunjukkan crystal soil tidak sehebat di lapangan karena bibit sukun hanya bertahan selama tiga minggu saja. dan dalam menyerap air, crystal soil hanya dapat bekerja menyerap 50 kali berat crystal soil itu sendiri sedangkan menurut pernyataan Irawan (2007) Hydrogel mampu menyerap air sebanyak 400 kali berat hydrogel itu sendiri.

Menurut Irawan (2007) Produk hydrogel akhir-akhir ini terkenal di Indonesia sebagai media pengganti tanah untuk tanaman dalam ruangan ataupun sebagai hiasan/dekorasi ruangan. Sebenarnya ada banyak sekali aplikasi untuk produk ini di lapangan seperti: pembibitan, perkebunan/HTI, reklamasi lahan bekas tambang, pertamanan, lapangan golf/sepak bola, tanaman palawija, transportasi bibit jarak jauh, campuran media tanam, pengganti media tanaman indoor dan dekorasi. Sehingga tak heran apabila banyak yang mempergunakan crystal soil (hydrogel) yang memiliki sifat mampu menyerap air dapat dikembangkan lebih luas lagi tidak hanya untuk media tanam namum juga untuk hiasan dekorasi tertentu. Hydrogel dapat terurai melalui pembusukan oleh mikrobia sehingga produk ini sangat aman digunakan. Polimer ini sensitif terhadap sinar matahari langsung yang mana itu akan memutus rantai polimernya dan terurai menjadi beberapa oligomer. Hydrogel akan terurai secara alami di dalam tanah menjadi CO2, H2O dan komponen nitrogen.

Dengan pernyataan tersebut, sungguh berbeda dengan hasil penelitian ini. Kemungkinan tingkat keberhasilan penelitian di rumah kaca ini sangatlah rendah. Diduga teknis di lapangan dengan di rumah kaca berbeda cara pengaplikasiannya atau aunjuran dosis yang diberikan masih terlalu sedikit.

Tanaman yang kekurangan air mengakibatkan tingkat persentase kematian yang tinggi. Menurut Sinaga (2008) secara umum tanaman akan menunjukkan respon tertentu bila mengalami cekaman kekeringan. Respon tanaman terhadap sters air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Sesuai dengan pernyataan Sri (2000), stres air pada tanaman dapat disebabkan oleh dua hal yaitu (1) kekurangan suplai air di

daerah perakaran dan (2) permukaan air yang berlebihan oleh daun. Sudah laama diketahui stress air (kekerignan) menghambat pertumbuhan tanaman. Juga sudah diketahui bahwa potensial air dalam pembuluh xilem berbagai jenis tanaman bernilai negatif selama sebagain besar masa hidup tanaman.

Mapegau (2006) Tanaman yang mengalami cekaman air stomata daunnya menutup sebagai akibat menurunnya turgor sel daun sehingga mengurangi jumlah CO2 yang berdifusi ke dalam daun. Hal ini dapat diartikan bahwa pertumbuhan tanaman sangat peka terhadap defisit (cekaman) air karena berhubungan dengan turgor dan hilangnya turgiditas dapat menghentikan pembelahan dan pembesaran sel yang mengakibatkan tanaman lebih kecil. Pengaruh cekaman air pada pertumbuhan tanaman dicerminkan oleh daun-daun yang lebih kecil.

Stress air dapat terjadi karena kekurangan atau kelebihan air di lingkungan tanaman., sehingga air sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman di mana menurut Sri (2000) air merupakan bagian yang esensil bagi protoplasma dan membentuk 80-90% bobot segar jaringan yang tumbuh aktif, air adalah pelarut, di dalamnya terdapat gas-gas, garam-garam dan zat-zat terlarut lainnya, yang bergerak keluar masuk sel, dari organ ke organ dalam proses transpirasi, air adalah pereaksi dalam fotosintesis dan pada berbagai proses hidrolisis, air adalah esensil untuk menjaga turgiditas di antaranya dalam pembesaran sel, pembukaan stomata, dan menyangga bentuk (morfokogi) daun-daun muda atau struktur lainnya yang berlignin.

Dokumen terkait