HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Persentase Penutupan Karang
Penutupan karang hidup pada kedua stasiun penelitian yang terletak di perairan pulau Rubiah termasuk kategori sedang dan buruk. Rinciannya adalah sebesar 9,86 % (kategori buruk) pada kawasan transplantasi karang dan 48,16 % (kategori sedang) pada kawasan terumbu karang alami.
Tabel 3. Persentase Tutupan Terumbu Karang Hidup Pada Kawasan Transplantasi Karang dan Kawasan Terumbu Karang Alami Pulau Rubiah, Aceh
Kawasan
Persentase Tutupan Terumbu Karang
Jumlah
Tabel 3 memperlihatkan bahwa kategori bentuk hidup (Lifeform) karang yang ditemukan pada kedua kawasan penelitian (kedalaman 6 m) lebih banyak dari golongan Non-Acropora daripada Acropora. Temuan ini tampaknya sesuai dengan Morton (1990) yang menunjukkan bahwa keberadaan Acropora cenderung pada wilayah yang memiliki aksi gelombang yang cukup. Indarjo et al., (2004) menambahkan bahwa indikator keberadaan Acropora di suatu perairan adalah memiliki kecerahan yang tinggi serta sirkulasi air yang bebas dan keadaan ini hanya terjadi di kedalaman 3 m.
Dari Tabel 3 juga terlihat bahwa persentase CM (Coral Massive) pada kawasan alami diperoleh hingga 40,25% dan merupakan luasan lifeform tertinggi dibandingkan lifeform lainnya pada kawasan penelitian. Hasil ini sesuai dengan penemuan Indarjo, et al., (2004) yaitu pada kedalaman mencapai 7 m, yang relatif lebih gelap, ditemukan karang berbentuk masif, sub-masif, bentuk menjalar serta bentuk jamur.
Tidak ditemukannya bentuk bercabang untuk kategori lifeform karang baik golongan Acropora maupun Non-Acropora pada kedua kawasan menunjukkan bahwa daerah tersebut tidak terlindungi dari hempasan gelombang.
Hal ini dimungkinkan karena keberadaan perairan Pulau Rubiah khususnya sisi Timur pulau merupakan kawasan yang cukup terbuka dan langsung mengarah ke laut lepas sehingga sulit terlindung dari hempasan gelombang. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di kawasan Taman Laut Nasional Taka Bonerate, Pulau Latondo Kecil (DKP-Coremap, 2006) yang menyebutkan besarnya nilai persentase tutupan karang CB (Coral Branching) menandakan bahwa daerah tersebut cukup terlindung dari hempasan gelombang, karena hampir sebagian besar karang berbentuk cabang cukup rentan terhadap arus dan gelombang.
Dalam laporannya, Fadli et al., (2012) menyebutkan bahwa kawasan transplantasi terbesar di pulau Rubiah mencapai luasan lebih kurang 250 m2 dan merupakan hasil kerja dari RTD (Rubiah Tirta Divers) yang sudah dimulai sejak tahun 2005. Kondisi di lapangan sudah jauh berbeda, transplantasi karang itu tidak berhasil tumbuh dengan baik yang ditunjukkan dengan kecilnya persentase tutupan karang hidup yang ada. Hal ini diduga akibat tidak adanya usaha monitoring terhadap kondisi transplantasi yang telah dilakukan. Harriot dan Fisk (1988) menyatakan bahwa transplantasi karang yang bertujuan untuk mempercepat regenerasi dari terumbu karang secara umum berhasil dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 50% sampai dengan 100%.
Pada kawasan alami kondisi terumbu karang terlihat lebih baik, ditunjukkan dengan nilai persentase tutupan karang hidup yang lebih besar daripada persentase pada kawasan transplantasi karang. Penilaian kondisi terumbu karang pada kawasan alami yang berada di sisi Timur Pulau Rubiah ini pernah
dilakukan sebelumnya oleh Ulfah (2013) yang menyimpulkan bahwa kondisi terumbu karang di Pulau Rubiah cukup baik. Pada kedalaman 3 m tutupan karang dinyatakan dalam kondisi baik (50,82%), sedangkan pada kedalaman 6 m dinyatakan dalam kondisi sedang (36,12%). Perolehan ini sesuai dengan hasil yang ditemukan di lapangan bahkan meningkat pada kondisi terumbu karang untuk kedalaman 6 m, yaitu 48,16%. Baiknya kondisi terumbu karang di kawasan ini diduga karena optimalnya dukungan faktor fisik-kimia bagi kehidupan karang serta terjaganya kawasan ini dari segala bentuk aktivitas yang mengancam kelestarian terumbu karang.
Tabel 4. Persentase Tutupan Terumbu Karang Mati Pada Kawasan Transplantasi Karang dan Kawasan Terumbu Karang Alami Pulau Rubiah, Aceh.
Jenis Lifeform Kode Transplantasi (%)
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat bahwa persentase penutupan karang mati pada kawasan transplantasi adalah sebesar 28,68 % dan untuk kawasan terumbu karang alami 29,84 %. Persentase diperoleh dari bentuk hidup (life form) terumbu karang yang sudah berupa Death Coral with Algae (DCA), yaitu karang yang mati akibat tertutup oleh alga. Perolehan ini lebih tinggi dari yang didapat pada penelitian sebelumnya oleh Ulfah (2013) yaitu karang mati pada kedalaman 3 m tercatat sebesar 11,60%, sedangkan pada kedalaman 6 m tercatat 10,28%.
Pada prinsipnya, pola interaksi yang umum terjadi adalah terumbu karang membutuhkan ikan-ikan pemakan alga agar alga yang terlalu banyak menempel di tubuh karang tidak sampai menutupi polip/mulut karang hingga menurunkan laju pertumbuhan karang. Namun ikan-ikan yang ditemui bukan hanya berasal dari kelompok pemakan alga dan plankton saja (seperti kelompok Pomacentridae), tapi juga cukup banyak yang berasal dari kelompok pemakan karang yaitu famili Chaetodontidae. Populasi alga yang menempel pada karang meningkat, sehingga lama-kelamaan jumlah karang mati menjadi tinggi dan
akhirnya tertutup alga berupa Death Coral with Algae (DCA). Nybakken (1988) menegaskan bahwa kelompok ikan yang secara aktif memakan koloni-koloni karang: adalah spesies yang memakan polip-polip karang di lingkungan mereka sendiri, seperti salah satunya ikan Chaetodontidae. Motoda (1940) dalam Nybakken (1988) memperlihatkan bahwa pemangsaan pada koloni-koloni karang oleh ikan, pada keadaan yang cukup berat mungkin dapat mematikan koloni.
Persentase karang mati diselimuti alga (DCA) sangat tinggi pernah tercatat pada penelitian yang dilakukan di Pulau Rajuni Kecil (DKP-Coremap, 2006) yaitu mencapai 91,34%. Hal tersebut terlihat dari rataan terumbu yang masih terdapat pada tepi Pulau Rajuni Kecil ini namun keberadaan karangnya sudah mati dan telah ditumbuhi alga, mengindikasikan kerusakan ini telah berlangsung lama dimana terjadi penangkapan ikan dilakukan dengan cara pembiusan.
Nilai indeks mortalitas karang yang didapat akhirnya merujuk pada dua kecenderungan berbeda pada dua kawasan ini. Nilai indeks mortalitas untuk kawasan transplantasi adalah 0,74, sedangkan untuk kawasan terumbu karang alami adalah 0, 38. Hal ini menunjukkan telah terjadi kematian karang yang lebih tinggi pada kawasan transplantasi karang.