• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik

X = Jumlah total obat yang diresepkan c. persentase peresepan antibiotik = q/X x 100%

keterangan, q = Jumlah antibiotik yang diresepkan X = Jumlah total obat yang diresepkan d. persentase peresepan sediaan injeksi = r/X x 100%

keterangan, r = Jumlah sediaan injeksi yang diresepkan X = Jumlah total obat yang diresepkan

e. persentase peresepan obat yang sesuai dengan DOEN = s/X x 100% keterangan, s = Jumlah obat yang sesuai dengan DOEN

X = Jumlah total obat yang diresepkan

H. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini hanya menggunakan lembar resep bukan rekam medis pasien sehingga tidak dapat diketahui keterangan lebih lanjut mengenai penggunaan obat bagi pasien. Selain itu, Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta belum memiliki Formularium Rumah Sakit sehingga digunakan Daftar Obat Esensial Nasional.

17

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta adalah sebuah rumah sakit yang terletak di daerah pinggiran kota Yogyakarta dengan jumlah total resep yang masuk ke Instalasi Farmasi Rawat Jalan selama periode 2007 adalah 31.494 lembar resep terbagi dalam dua belas bulan. Dari jumlah tersebut diambil 1.200 sampel. Rincian pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel III.

Tabel III. Pengambilan Sampel Resep Periode 2007

Bulan Jumlah Resep Masuk Jumlah Sampel

Januari 2.849 108 Februa ri 2.668 102 Maret 2.876 110 April 2.439 93 Mei 2.566 98 Juni 2.298 88 Juli 2.461 94 Agustus 2.504 95 September 2.349 89 Oktober 2.812 107 November 2.756 105 Desember 2.916 111 TOTAL 31.494 1.200

Peresepan di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta paling banyak dilakukan oleh dokter umum karena jumlah dokter umum di rumah sakit tersebut lebih

banyak daripada dokter spesialis. Rincian distribusi peresepan dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel IV. Rincian Distribusi Peresepan oleh Dokter Umum dan Dokter Spesialis di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode 2007

Dokter Jumlah Resep Persentase

Umum 785 65,42% 65,42% Sp. A. 152 12,67% Sp. PD. 127 10,58% Sp. OG. 50 4,16% Sp. Saraf 22 1,83% Sp. BD. 17 1,42% Sp. BM. 17 1,42% Sp. THT. 15 1,25% Sp. KK. 10 0,84% Sp. B. 3 0,25% Sp. BU. 2 0,16% 34,58% Total 1200 100,00% Keterangan :

Sp . A. = Sp Anak; Sp . PD. = Sp Penyakit Dalam; Sp . OG. = Obstetrik dan Ginekologi; Sp. BD. = Sp Bedah Digesti; Sp. BM. = Sp Bedah Mulut; Sp . THT = Sp Telinga Hidung Tenggorokan; Sp. KK. = Sp Kulit dan Kelamin; Sp. B. = Sp Bedah; Sp . BU. = Sp Bedah Urologi

A. Rata-rata Jumlah Obat per Lembar Resep

Rata-rata jumlah obat per lembar resep dapat digunakan untuk melihat seberapa besar polifarmasi yang terjadi. Jumlah total obat yang terdapat pada 1200 lembar resep sampel periode 2007 adalah sebanyak 3119. Dari data tersebut, didapat rata-rata jumlah obat per lembar resep yang diperoleh dari rasio jumlah total obat dengan jumlah resep sampel yaitu 2,59.

Tabel V. Rincian Jumlah Obat per Le mbar Resep Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode 2007

No. Jumlah Obat

per Lembar Resep Jumlah Resep

Jumlah TotalObat Persentase Jumlah Resep 1. 1 219 219 18,25% 2. 2 362 724 30,16% 48,41% 3. 3 364 1092 30,33% 4. 4 205 820 17,10% 5. 5 39 195 3,25% 6. 6 8 48 0,66% 7. 7 3 21 0,25% 51,59% Jumlah Total 1200 3119 Rata-rata 3119/1200 = 2,59 100,00%

Menurut WHO (1993), sebaiknya jumlah obat per lembar resep adalah 2 untuk setiap diagnosis. Hasil penelitian di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta menunjukkan peresepan dengan jumlah obat >2 per lembar resep 51,59%.

Hasil penelitian WHO yang pernah dilakukan di Indonesia tentang penggunaan obat pada dua puluh unit pelayanan kesehatan untuk resep pasien rawat jalan, rata-rata jumlah obat per lembar resep adalah 3,3 (Quick, dkk., 1997).

Banyaknya keluhan dari pasien dapat mengakibatkan peresepan dengan jumlah obat yang cukup banyak. Masih terdapat pula pasien yang beranggapan bahwa semakin banyak obat yang diterima maka akan semakin manjur. Padahal, semakin banyak jumlah obat yang diterima oleh pasien, maka semakin besar kemungkinan terjadinya polifarmasi. Dokter spesialis biasanya juga memberikan peresepan dengan jumlah obat yang banyak karena peresepan oleh dokter spesialis diberikan dengan pertimbangan obat untuk diagnosis utama, obat untuk mengatasi

komplikasi atau efek samping obat utama, obat untuk mengatasi penyakit penyerta, dan juga suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Kemungkinan terjadinya polifarmasi perlu diwaspadai karena polifarmasi dapat mengakibatkan terjadinya efek samping dan interaksi obat, maka dari itu setiap pemakaian obat harus melalui pertimbangan agar diperoleh manfaat maksimal dengan risiko minimal bagi individu bersangkutan. Untuk mengetahui ada tidaknya polifarmasi harus dilakukan analisis lebih lanjut dengan melihat rekam medis pasien.

B. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik

Persentase peresepan obat dengan nama generik untuk pasien rawat jalan di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta adalah 24,33%.

Gambar 2. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik untuk Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta Periode 2007

Obat yang beredar di pasaran umumnya menggunakan nama dagang yang digunakan oleh masing- masing produsen. Promosi tiap produsen yang

intensif menyebabkan harga obat dengan nama dagang biasanya lebih mahal. Penggunaan obat yang dipasarkan dengan nama generik adalah salah satu cara untuk mengendalikan harga obat.

Saat ini masih banyak praktisi kesehatan ya ng tidak meresepkan obat dengan nama generik karena beberapa faktor antara lain kurangnya informasi mengenai mutu obat dengan nama generik sehingga timbul keraguan akan mutu obat, tidak menguasai benar akan nama generik, dan adanya penawaran keuntungan lebih dari peresepan obat dengan nama dagang. Penerapan konsep nama generik untuk rasionalisasi harga obat juga sudah digiatkan oleh pemerintah dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 189/MENKES/SK/III/2006 tentang Kebijaksanaan Obat Nasional, namun kewajiban penggunaan obat dengan nama generik sendiri hanya berlaku pada unit-unit kesehatan pemerintah saja.

Peresepan obat dengan nama generik sebenarnya juga dimaksudkan untuk mempermudah proses peracikan obat. Bila peresepan dilakukan dengan menggunakan nama/merek dagang, maka akan terjadi ‘harga mati’ bahwa merek tersebut yang harus diberikan. Obat dengan nama generik akan mempermudah proses pemilihan obat yang akan diberikan dengan melihat kondisi pasien.

Dokumen terkait