BAB II SASARAN KRITIK DAN HAL YANG DIKRITIK
2.11 Persepakbolaan
Persepakbolaan Indonesia tengah mengalami krisis. Krisis itu di antaranya seret prestasi, kualitas pemain dan perangkat pertandingan (wasit), hingga kekisruhan dalam pertandingan.
Sebut saja diskriminasi serta kekerasan fisik dan verbal, baik yang melibatkan pemain, perangkat pertandingan, maupun pendukung. Sebagai olahraga yang dimiliki masyarakat dunia, tidak terkecuali rakyat Indonesia, upaya dan sikap kritis-konstruktif pun perlu dilakukan untuk membangun persepakbolaan tanah air maupun dunia menjadi lebih baik.
(67) Selain jadi comic, gua juga seneng sepak bola. Di sini ada fans Barcelona? Gua kasih tahu, Barcelona ini memiliki taktik yang nggak dimiliki sama klub-klub lain: tiki-taka. Tiki-taka ini permainan dari kaki ke kaki, dari Xavi ke Iniesta, Iniesta ke Messi, gol. Keren kan. Dan, sebenarnya Indonesia memiliki taktik juga, tapi nggak dimiliki sama negara-negara lain: teka- teki. Karena dia nggak bakal tahu ngoper ke mana. (Pras Teguh, pre show 1).
(68) Tapi, emang menurut gua, wasit itu harus tegas. Loe lihat di Piala Dunia, kalau ngasih kartu kuning ya ngasih aja. Wasit Indonesia ragu-ragu. Pelanggaran:
O1: Hei! Aduh kasih nggak ya? Kasih nggak ya? O2: Apa, kartu?
O1: Ha? Enggak, gatel. (Pras Teguh, show 15)
(69) Tapi sebenarnya, jujur, gua kurang suka sama bola, gua kurang suka nonton bola, nggak suka bahkan. Karena kalau menurut gua, bola itu penuh dengan provokasi. Loe lihat kemarin itu ada kasus Materazzi disundul sama Zidane. Itu karena Materazzi memprovokasi Zidane.
O1: Eh, Zidane, ibu kamu teroris ya? Zidane masih sabar.
O1: Eh, Zidane, adik kamu teroris ya? Zidane masih sabar.
O1: Eh, Zidane, Bapak kamu tukang siomay ya?
O2: Eh, anjir, gua digombalin. Derrr (menanduk dada O1) (Dzawin, show 15).
Sasaran tutur pada ketiga wacana tersebut mengacu pada insan persepakbolaan nasional dan internasional. Wacana (67) ditunjukkan dalam kata Indonesia. Tuturan ini mengimplikasikan tim nasional (timnas) sepak bola
Indonesia. Wacana (68) diungkapkan melalui frasa Wasit Indonesia. Wacana (69) ditandai melalui tuturan (1) bola itu penuh dengan provokasi, (2) Materazzi, dan (3) Zidane. Ketiga tuturan tersebut mengimplikasikan kasus provokasi berbau isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) yang dilakukan oleh pemain bertahan timnas Italia, Marco Materazzi terhadap Zinedine Zidane, gelandang sekaligus kapten timnas Perancis pada babak final Piala Dunia 2006.
Hal yang dikritikkan kepada persepakbolaan nasional dan internasional adalah sebagai berikut. Pertama, kualitas permainan timnas sepak bola Indonesia. Kedua, kualitas wasit sepak bola Indonesia. Ketiga, tindakan provokasi dalam sepak bola.
2.11.1 Kualitas Permainan Timnas Indonesia
Wacana (70) mengandung kritikan terhadap kualitas permainan kualitas timnas Indonesia.
(70) Selain jadi comic, gua juga seneng sepak bola. Di sini ada fans Barcelona? Gua kasih tahu, Barcelona ini memiliki taktik yang nggak dimiliki sama klub-klub lain: tiki-taka. Tiki-taka ini permainan dari kaki ke kaki, dari Xavi ke Iniesta, Iniesta ke Messi, gol. Keren kan. Dan, sebenarnya Indonesia memiliki taktik juga, tapi nggak dimiliki sama negara-negara lain: teka-teki. Karena dia nggak bakal tahu ngoper ke mana. (Pras Teguh, pre show 1).
Comic mengkritisi strategi dan kualitas permainan timnas sepak bola Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dalam tuturan Sebenarnya Indonesia memiliki taktik juga, tapi nggak dimiliki sama negara-negara lain: teka-teki. Karena dia nggak bakal tahu ngoper ke mana.
dua dekade terkini. Terakhir kali timnas sepak bola Indonesia meraih juara yakni dalam ajang SEA Games pada 1991. Comic berasumsi bahwa penyebab kegagalan sepak bola Indonesia karena salah menerapkan strategi permainan dan bahkan telah menjadikannya sebagai identitas sepak bola tanah air. Comic menamai taktik itu teka-teki. Menurut comic, taktik ini layaknya menebak sebuah enigma: penuh misteri, rahasia, terkaan, dan pertanyaan. Demikian halnya dengan permainan sepak bola Indonesia: antarpenggawa timnas Indonesia menyimpan teka-teki, dan menebak-nebak ke arah mana atau kepada siapa bola yang sedang dalam kendali rekan timnya akan dituju. Bola operan pun tidak jarang jatuh pada kubu lawan atau bahkan meninggalkan lapangan pertandingan.
2.11.2 Kualitas Wasit Indonesia
Wacana berikut ini berisi kritikan terhadap kualitas wasit sepak bola Indonesia.
(71) Tapi, emang menurut gua, wasit itu harus tegas. Loe lihat di Piala Dunia, kalau ngasih kartu kuning ya ngasih aja. Wasit Indonesia ragu-ragu. Pelanggaran:
O1: Hei! Aduh kasih nggak ya? Kasih nggak ya? O2: Apa, kartu?
O1: Ha? Enggak, gatel. (Pras Teguh, show 15).
Comic mengkritisi kualitas wasit sepak bola Indonesia dalam memimpin dan menjalankan pertandingan. Hal tersebut ditunjukkan melalui kalimat Wasit Indonesia ragu-ragu. Tuturan ini mengimplikasikan ketidaktegasan sikap wasit Indonesia dalam mengambil sebuah keputusan pada pertandingan sepak bola.
kepemimpinan wasit selalu dikeluhkan oleh para peserta kompetisi. Tidak jarang penampilan wasit di atas lapangan pun memicu perdebatan bagi tim yang bertanding. Keputusannya pun sering kali mengernyitkan dahi pemain, pelatih, hingga kubu pendukung. Rendahnya kualitas penyelenggaraan sepak bola Indonesia sebagai salah satu dampak dari minimnya kompetensi para wasit. Akibatnya, pertandingan yang bergulir pun tidak jarang jauh dari rasa adil dan bersih.
Sebagai contoh, comic menyoroti kualitas wasit Indonesia melalui dialog. Pada dialog tersebut, O1 (wasit) digambarkan tidak tegas dalam menentukan sikap untuk memberi kartu kuning pada O2 (pemain) yang melakukan pelanggaran. Akibat mendapat intimidasi O2, O1 menjadi takut. Lantas, O1 pun mengurungkan niatnya untuk memberi hukuman pada O2.
2.11.3 Tindakan Provokasi
Wacana (72) berikut memuat kritikan terhadap tindakan provokasi dalam dunia sepak bola.
(72) Tapi sebenarnya, jujur, gua kurang suka sama bola, gua kurang suka nonton bola, nggak suka bahkan. Karena kalau menurut gua, bola itu penuh dengan provokasi. Loe lihat kemarin itu ada kasus Materazzi disundul sama Zidane. Itu karena Materazzi memprovokasi Zidane.
O1: Eh, Zidane, ibu kamu teroris ya? Zidane masih sabar.
O1: Eh, Zidane, adik kamu teroris ya? Zidane masih sabar.
O1: Eh, Zidane, Bapak kamu tukang siomay ya?
O2: Eh, anjir, gua digombalin. Derrr (menanduk dada O1) (Dzawin, show 15).
Comic mengeluhkan maraknya berbagai tindakan provokasi di dalam sepak bola. Hal ini diungkapkan melalui tuturan Karena kalau menurut gua, bola itu penuh dengan provokasi. Pada wacana di atas, comic mencontohkan kisah tandukan keras Zidane, kapten Timnas Perancis, ke dada Materazzi, bek Timnas Italia, pada partai final Piala Dunia 2006. Tindakan Zidane dipicu oleh ucapan Materazi yang tertuju kepadanya. Tuturan tersebut –yang diduga berunsur SARA– menyulut emosi Zidane, yang lantas menandukkan kepalanya tepat pada dada Materazzi hingga jatuh tersungkur dan terkapar beberapa saat di atas lapangan. Kisah itu pun menjadi salah satu drama sekaligus kisah kontroversial dalam sejarah sepak bola modern.
Keengganan comic menyukai sepak bola disebabkan oleh maraknya kontroversi dan friksi yang terjadi pada cabang olahraga ini. Namun, upaya-upaya menanggulangi berbagai entitas kekerasan, seperti kampanye antidiskriminasi (SARA) telah dilakukan dan terus digalakkan oleh federasi sepak bola negara- negara di dunia.