VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Persepsi Responden Pengunjung
6.1.2 Persepsi Responden Pengunjung Terhadap
Kebersihan, Keamanan, Aksesibilitas
dan Pelayanan Pengelola ... 45 6.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Wisata ... 47 6.2.1 Uji Normalitas ... 48 6.2.2 Uji Autokorelasi ... 49 6.2.3 Uji Multikolinearitas ... 49 6.2.4 Uji Heteroskedastisitas ... 49 6.2.5 Uji t ... 49 6.2.6 Uji F ... 50 6.3 Variabel yang Berpengaruh Nyata Terhadap Permintaan
Wisata Taman Wisata Matahari ... 50 6.4 Variabel yang Tidak Berpengaruh Nyata Terhadap Permintaan
Wisata Taman Wisata Matahari ... 51 6.5 Dampak Ekonomi dan Lingkungan Kegiatan Wisata Taman
Wisata Matahari ... 52 6.5.1 Dampak Ekonomi ... 53
6.5.1.1 Dampak Ekonomi Langsung ... 56 6.5.1.2 Dampak Ekonomi Tidak Langsung ... 59 6.5.1.3 Dampak Ekonomi Lanjutan ... 61 6.5.2 Nilai Efek Pengganda ... 63 6.5.3 Dampak Negatif Kegiatan Wisata Terhadap Lingkungan 64
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67
7.1 Kesimpulan ... 67 7.2 Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 69 LAMPIRAN ... 72 RIWAYAT HIDUP ... 88
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Rangking Devisa Pariwisata Terhadap Komoditas Ekspor
Lainnya 2006-2011 ... 1 2. Perkembangan Wisatawan Nusantara 2006-2011 ... 3 3. Penelitian Mengenai Persepsi Kawasan Wisata ... 16 4. Penelitian Mengenai Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Permintaan Wisata ... 17 5. Penelitian Dampak Ekonomi ... 18 6. Metode Analisis Data ... 24 7. Kriteria Persepsi Responden Pengunjung Mengenai Kondisi
TWM Pada Tahun 2012 ... 25 8. Indikator Dampak Negatif Kegiatan WisataTerhadap Lingkungan .. 33 9. Karakteristik Sosial Ekonomi Responden Pengunjung Taman
Wisata Matahari Tahun 2012 ... 36 10.Karakteristik Berwisata Responden Pengunjung Taman Wisata
Matahati Tahun 2012 ... 38 11.Karakteristik Sosial Ekonomi Responden Tenaga Kerja di Taman
Wisata Matahari Tahun 2012 ... 39 12.Karakteristik Responden Unit Usaha di Taman Wisata Matahari
Tahun 2012 ... 40 13.Karakteristik Sosial Ekonomi Responden Masyarakat Sekitar
Taman Wisata Matahari Tahun 2012 ... 42 14.Persepsi Responden Pengunjung Terhadap Sarana dan Prasarana
Di Taman Wisata Matahari Tahun 2012 ... 44 15.Persepsi Responden Pengunjung Terhadap Kebersihan di Taman
Wisata Matahari Tahun 2012 ... 45 16.Persepsi Responden Pengunjung Terhadap Keamanan di Taman
Wisata Matahari 2012 ... 46 17.Persepsi Responden Pengunjung Mengenai Aksesibilitas ke
Taman Wisata Matahari Tahun 2012 ... 46 18.Persepsi Responden Pengunjung Terhadap Pelayanan Pengelola
Tahun 2012 ... 48 20.Penyerapan Tenaga Kerja dari Masyarakat Sekitar dengan
Keberadaan Taman Wisata Matahari Tahun 2012 ... 53 21.Proporsi Pengeluaran Pengunjung dan Kebocoran yang Terjadi
Di Kawasan Taman Wisata Matahari 2012 ... 55 22.Proporsi Pendapatan Pemilik Unit Usaha di Taman Wisata
Matahari Tahun 2012 ... 57 23.Dampak Ekonomi Langsung di Taman Wisata Matahari Tahun
2012 ... 58 24.Total Pengeluaran Unit Usaha di Dalam dan Luar Daerah Tujuan
Wisata Tahun 2012 ... 59 25.Dampak Ekonomi Tidak Langsung di Taman Wisata Matahari
Tahun 2102 ... 60 26.Proporsi Pengeluaran Responden Tenaga Kerja Taman Wisata
Matahari Tahun 2012 ... 61 27.Dampak Ekonomi Lanjutan di Taman Wisata Mataharu Tahun
2012 ... 62 28.Nilai Efek Pengganda dari Pengeluaran Wisatawan di Taman
Wisata Matahari Tahun 2012 ... 63 29.Persepsi Masyarakat Sekitar, Tenaga Kerja, dan Unit Usaha yang
Merasakan Dampak Negatif Kegiatan Wisata Terhadap
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Hasil Regresi Berganda dengan Minitab 15 ……… 73
2. Residual Plot Hasil Regresi ……… 74
3. Uji Klomorgof Smirnov ……… 75
4. Proporsi Pengeluaran Pengunjung ……… 76
5. Proporsi Pengeluaran Unit Usaha ……… 81
6. Rata-rata Pendapatan Tenaga Kerja Perbulan ……… 83
7. Pengeluaran Tenaga Kerja ……… 84
8. Perhitungan Efek Pengganda ……… 86
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki kekayaan alam berlimpah beserta keindahan alam dan
keragaman budaya yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Potensi
tersebut dapat dimanfaatkan dan dikelola baik dalam sektor perkebunan,
pertanian, industri, maupun pariwisata sebagai faktor penunjang ekonomi negara.
Salah satunya yang cukup potensial adalah sektor pariwisata dengan
memanfaatkan keindahan alam serta keragaman budaya agar dapat menarik
perhatian wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke
Indonesia sehingga dapat menghasilkan devisa bagi negara.
Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
sektor pariwisata sebagai komoditas ekspor penyumbang devisa bagi
perekonomian negara. Kondisi ini dapat dilihat dari nilai devisa yang cenderung
meningkat dari tahun 2006-2010. Sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa
sebagai komoditas ekspor bagi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ranking Devisa Pariwisata Terhadap Komoditas Ekspor Lainnya Tahun 2006 - 2010 No Jenis Komoditas 2006 2007 2008 2009 2010 Nilai (juta USD) Nilai (juta USD) Nilai (juta USD) Nilai (juta USD) Nilai (juta USD) 1 Minyak&gas bumi 21.209,50 22.088,60 29.126,30 19.018,30 28.039,60 2 Pakaian jadi 5.608,16 5.712,87 6.092,06 5.735,60 6.598,11 3 Karet Olahan 5.465,14 6.179,88 7.579,66 4.870,68 9.314,97 4 Minyak sawit 4.817,64 7.868,64 12.375,57 10.367,62 13.468,97 5 Alat listrik 4.448,74 4.835,87 5.253,74 4.580,18 6.337,50 6 Pariwisata 4.447,97 5.345,98 7.377,00 6.298,02 7.603,45 7 Tekstil 3.908,76 4.177,97 4.127,97 3.602,78 4.721,77 8 Kayu olahan 3.324,97 3.076,88 2.821,34 2.275,32 2.870,49 9 Kertas 2.859,22 3.374,84 3.796,91 3.405,01 4.241,79 10 Bahan kimia 2.697,38 3.402,58 2.754,30 2.155,41 3.381,85 11 Makanan olahan 1.965,56 2.264,00 2.997,17 2.960,73 3.620,86 Sumber : Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2012)
Pariwisata selain sebagai sumber devisa juga dapat membuka peluang
kesempatan kerja baru untuk masyarakat sekitar tempat wisata dan mengurangi
angka pengangguran. Semenjak diberlakukannya UU No.32 Tahun 2004
mengenai otonomi daerah, masing-masing daerah terus berusaha mengembangkan
potensi yang ada di daerahnya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
(PAD), salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan adalah sektor
pariwisata, devisa yang dihasilkan dari sektor pariwisata akan dialokasikan untuk
daerah otonomi tersebut (Nirwandar, 2005).
Menurut Wahab (2003) dengan adanya pariwisata dapat mempercepat
sirkulasi ekonomi suatu negara melalui pengeluaran dari wisatawan dalam
menciptakan dampak lanjutan sehingga memperbesar efek pengganda (multiplier effect). Pendapatan lanjutan tersebut misalnya dengan pembangunan suatu kawasan wisata pada suatu daerah akan muncul fasilitas pendukung seperti
restoran, tempat penginapan maupun tempat penjualan kerajinan tangan khas
daerah tersebut.
Perkembangan wisatawan nusantara (wisnus) sejak tahun 2006 sampai
dengan tahun 2011 berfluktuasi setiap tahunnya, pada tahun 2006 jumlah wisnus
berjumlah 114.270.000 orang dengan rata-rata pengeluaran sebanyak Rp
431.240.000,00 terus meningkat sampai tahun 2010 yakni dengan jumlah
wisatawan nusantara sebanyak 122.312.000 orang dengan rata-rata pengeluaran
perjalanan sebesar Rp 641.760.000,00. Pada triwulan I-III tahun 2011 jumlah
wisatawan nusantara mencapai 89.112.000 orang dengan pengeluaran perjalanan
sebesar Rp 662.680.000,00. Data mengenai perkembangan wisatawan nusantara
Tabel 2. Perkembangan Wisatawan Nusantara 2006-2011 TAHUN WISNUS (ribuan orang) PERJALANAN (ribuan) RATA - RATA PERJALANAN (kali) PENGELUARAN PER PERJALANAN (ribu Rp) TOTAL PENGELUARAN (triliun Rp) 2006 114.270,00 204.553,00 1,79 431.240,00 88,21 2007 115.335,00 222.389,00 1,93 489.950,00 108,96 2008 117.213,00 225.041,00 1,92 547.330,00 123,17 2009 119.944,00 229.731,00 1,92 600.300,00 137,91 2010 122.312,00 234.377,00 1,92 641.760,00 150,41 2011 *) 89.112,00 172.917,00 1,94 662.680,00 114,59
Sumber : Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif & BPS (2012) *) Angka Sementara Triwulan I - III
Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang
memiliki banyak potensi tempat wisata yang dapat dikunjungi oleh wisatawan
baik mancanegara maupun nusantara, selain itu letaknya yang bersebelahan
dengan Ibukota Jakarta sehingga memudahkan akses dari wisatawan untuk
mengunjungi berbagai tempat wisata yang ada di Bogor. Kawasan wisata di
Kabupaten Bogor umumnya berbasis wisata alam yang berpotensiuntuk
dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat meningkatan pendapatan daerah.
Salah satu daerah di Kabupaten Bogor adalah kawasan Puncak yang
dikenal sebagai tempat yang dingin dan segar dan penuh dengan wilayah
pegunungan yang alami, sehingga menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat.
Salah satu daerah kawasan Puncak yang menjadi tujuan wisata adalah Taman
Wisata Matahari (TWM) yang berlokasi di Jalan Raya Puncak Bogor. TWM
memiliki luas sekitar 30 hektar menawarkan suasana wisata pegunungan dengan
fasilitas wisata untuk keluarga yang seperti villa, kolam renang, wisata air, ATV,
wisata agro, wisata edukasi, flying fox, dan taman bermain anak-anak. Taman Wisata Matahari merupakan salah satu tempat favorit para wisatawan terutama
wisata yang lengkap. Potensi kawasan tersebut apabila dikembangkan secara lebih
lanjut dan tetap menjaga lingkungan sekitar dapat memberikan dampak ekonomi
bagi masyarakat sekitar.
1.2 Perumusan Masalah
Kegiatan wisata di kawasan Puncak, Bogor selain dapat meningkatkan
pendapatan daerah, juga merupakan salah satu alternatif pendukung kegiatan
wisata dan rekreasi bagi masyarakat di daerah Jabodetabek. Umumnya wisatawan
yang berasal dari kota tersebut jenuh dengan aktivitas di Ibukota dan
menginginkan kegiatan wisata dengan udara yang sejuk serta pemandangan yang
indah dan asri. Salah satu alternatif kawasan wisata yang letaknya tidak jauh dari
kota Jakarta adalah Taman Wisata Matahari (TWM) yang didirikan sejak April
2007. Wisatawan yang berkunjung ke TWM umumnya datang dengan keluarga
atau rombongan pada hari libur.
Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor
pada tahun 2007 jumlah wisatawan yang datang ke kawasan ini sebanyak 12.900
orang, kemudian pada tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 110.504
orang. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan, tercatat selama tahun 2009
jumlah wisatawan yang berkunjung ke TWM sebanyak 234.691 orang, kemudian
pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 700.772 orang. Tercatat sampai
dengan Juni 2011 jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 453.284 orang.
Apabila hari libur atau hari-hari besar seperti lebaran, kawasan ini ramai
dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai daerah.
Taman Wisata Matahari merupakan wisata massal yang memiliki konsep “theme park” berbasis alam. Pengelola memanfaatkan kontur alam yang ada
seperti sungai, danau untuk kegiatan wisata. Wisatawan dapat melakukan atraksi
wisata seperti arung jeram, perahu kano, dan berbagai wahana yang tersedia
dengan suasana alami yang masih segar, sehingga daya tarik tersebut dapat
menarik minat pengunjung. Selain untuk income pengelola, konsep theme park ini membutuhkan tenaga kerja banyak seperti sebagai petugas kebersihan, keamanan,
penjaga permainan sehingga dapat menciptakan peluang lapangan kerja baru
untuk masyarakat sekitar.
Awalnya areal TWM yang hanya seluas 10 Ha adalah rumah tinggal
pemilik, kemudian dikembangkan menjadi taman wisata matahari dengan
membeli lahan persawahan masyarakat. Masyarakat sekitar sempat khawatir
dengan adanya pembangunan TWM dapat menghilangkan mata pencahariaan
mereka sebagai petani. Berdasarkan info dari pihak pengelola TWM, menyatakan
bahwa memberikan ganti rugi yang sesuai dengan kesepakatan dengan
masyarakat, dan meyakinkan masyarakat bahwa dengan adanya TWM dapat
menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, khususnya masyarakat yang
dulunya hanya bertani dan tidak memiliki penghasilan tetap.
Permintaan terhadap kawasan wisata ini akan berpengaruh terhadap
pendapatan baik untuk pengelola setempat maupun bagi masyarakat sekitar.
Pembangunan TWM ini seharusnya dapat memberikan kontribusi kepada
masyarakat sekitar berupa peningkatan pendapatan, peluang penyerapan tenaga
kerja sebagai kompensasi terhadap konversi lahan sawah tempat mereka bekerja,
sesuai dengan janji pengelola kepada masyarakat sekitar. Oleh karena, itu perlu
dikaji seberapa besar dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dengan adanya
Berdasarkan uraian tersebut, beberapa masalah yang dapat diuraikan
adalah sebagai berikut :
1) Bagaimana kondisi wisata di kawasan Taman Wisata Matahari ?
2) Bagaimanakah permintaan wisata terhadap kawasan Taman Wisata
Matahari?
3) Bagaimana dampak ekonomi dan dampak lingkungan yang
ditimbulkan oleh kawasan wisata Taman Matahari terhadap
masyarakat sekitar?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini
adalah:
1) Menganalisis persepsi wisatawan mengenai kawasan wisata Taman
Wisata Matahari untuk pengembangan lebih lanjut kawasan tersebut.
2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan wisata di
kawasan Taman Wisata Matahari.
3) Menghitung dampak ekonomi dan mengidentifikasi dampak
lingkungan yang ditimbulkan oleh kawasan Taman Wisata Matahari
terhadap masyarakat sekitar.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti, sebagai bahan pembelajaran dalam menerapkan ilmu
yang telah diperoleh dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan
2. Bagi pemerintah, sebagai bahan pertimbangan untuk pengawasan
sekitar kawasan wisata dan pengembangan sektor pariwisata.
3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan mampu memberikan
penjelasan mengenai dampak ekonomi Kawasan Taman Wisata
Matahari
1.5 Batasan Penelitian
Batasan penelitian ini antara lain adalah wisatawan yang dijadikan
responden hanya wisatawan lokal, unit usaha yang dijadikan responden hanya
yang berada disekitar kawasan TWM saja yang dimiliki oleh masyarakat sekitar
dan umumnya berskala kecil, masyarakat yang dijadikan responden berasal dari
Desa Leuwimalang dan Desa Cilember. Kondisi TWM yang dimaksud pada
tujuan penelitian adalah kondisi TWM berdasarkan persepsi pengunjung.
Kawasan sekitar TWM yang dimaksud adalah Desa Cilember dan Desa Leuwi
Malang. Data jumlah pengunjung yang dijadikan acuan untuk perhitungan
dampak ekonomi rata-rata kunjungan dari tahun 2007-2010. Dampak ekonomi
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pariwisata
Pariwisata menurut Wahab (2003), dapat dipandang sebagai suatu yang
abstrak, misalnya sebagai suatu gejala yang melukiskan kepergian orang-orang
didalam negaranya sendiri (pariwisata domestik) atau penyeberangan orang-orang
pada tapal batas suatu negara (pariwisata internasional). Proses bepergian ini
mengakibatkan terjadinya interaksi dan hubungan-hubungan, saling pengertian
insani, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, motivasi, tekanan-tekanan, kepuasan,
kenikmatan dan lain-lain diantara sesama pribadi atau antar kelompok. Pariwisata
mengandung tiga unsur, yakni: manusia (sebagai pelaku kegiatan pariwisata),
tempat (unsur fisik yang tercakup oleh kegiatan itu sendiri), dan waktu (unsur
tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri dan selama berdiam di tempat
tujuan).
Menurut Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
ada berbagai istilah mengenai pariwisata, yaitu wisata adalah kegiatan perjalanan
yang dilakukan oleh sesorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat
tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan
daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Selanjutnya
pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas
serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan
pemerintah daerah.
Sebagai suatu aktivitas, pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan
dasar masyarakat maju dan sebagian kecil masyarakat negara berkembang.
2.2 Theme Park Berbasis Alam
Menurut Soewantoro (1997), obyek wisata alam adalah sumber daya yang
berpotensi dan berdaya tarik bagi wisatawan serta yang ditujukan untuk
pembinaan cinta alam, baik dalam kegiatan alam maupun pembudidayaan.
Sementara itu, bentuk kegiatan yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam
yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan dan tata lingkungannya disebut
wisata alam. Pada umumnya yang menjadi daya tarik utama wisatawan alam
adalah kondisi alamnya, sedangkan fasilitas seperti makanan bersih, pelayanan
sopan dan sarana akomodasi adalah hanya faktor pendukung bagi wisatawan alam
untuk melakukan kegiatan wisata alam.
Menurut Marpaung (2002), terdapat banyak jenis daya tarik wisata dan
dibagi dalam berbagai macam sistem klasifikasi. Secara garis besar daya tarik
wisata dibagi menjadi tiga yaitu daya tarik alam, daya tarik budaya, dan daya tarik
buatan manusia. Salah satu daya tarik buatan manusia adalah konsep theme park, yang merupakan atraksi yang ditujukan untuk rekreasi ditekankan pada fantasi
dan imajinasi yang dibuat dengan pertimbangan khusus, seperti Disney World
(skala besar), Water Activity Park (skala kecil). Definisi theme park menurut Michael Sorkin (1992), Ralluca dan Gina (2005) adalah sebuah atraksi yang
dibuat secara permanen dengan sumberdaya yang dapat dikendalikan dan dikelola
untuk hiburan dan pendidikan dari kunjungan wisatawan.
Komponen supply wisata salah satunya adalah atraksi wisata, atraksi wisata dibagi mejadi tiga yakni primary natural attractions, primary man-made
attractions, dan purpose-built attractions (Vanhove, 2005). Taman Wisata Matahari termasuk ke jenis atraksi wisata purpose-built attractions yakni sengaja dibangun untuk wisata. TWM merupakan perpaduan antara theme park dan wisata alam karena menggunakan sungai dan danau yang ada sebagai salah satu atraksi
wisata, disamping fasilitas wahana wisata lainnya.
2.3 Wisatawan
Suatu tempat wisata pasti akan dikunjungi oleh wisatawan, menurut Cohen
(1974) dalam Pitana (2005) seorang wisatawan adalah seorang pelancong yang
melakukan perjalanan atas kemauan sendiri dan untuk waktu sementara saja,
dengan harapan mendapatkan kenikmatan dari hal-hal baru dan perubahan yang
dialami selama dalam perjalana yang relatif lama dan tidak berulang.
Menurut Yoeti (2008), wisatawan terbagi menjadi dua jenis berdasarkan
asal daerahnya, yaitu wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara
(wisman). Wisatawan nusantara adalah orang yang berdiam dan bertempat tinggal
pada suatu negara yang melakukan wisata di negara dimana tempat wisatawan
tersebut tinggal. Wisatawan mancanegara adalah orang yang melakukan
perjalanan wisata yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan tempat
wisatawan tersebut tinggal.
Menurut Wahab (2003) motivasi merupakan hal yang sangat mendasar
dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata. Pada dasarnya seseorang
melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal, motivasi-motivasi tersebut
a) Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik atau fisologis, antara lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam
kegiatan olahraga, bersantai dan sebagainya.
b) Cultural Motivation yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan
budaya.
c) Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang
dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang
membosankan dan seterusnya.
d) Fantasy Motivation yaitu adanya motivasi bahwa di daerah lain seseorang akan bisa lepas dari rutinitas keseharian yang menjemukan dan yang memberikan
kepuasan psikologis.
2.4 Persepsi
Menurut Koentjaraningrat (1990), menyatakan bahwa persepsi merupakan
proses fisik, fisiologi dan psikologis yang menyebabkan berbagai macam getaran
atau tekanan yang diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau
diproyeksikan oleh individu menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan.
Selanjutnya, penggambaran tentang lingkungan dengan fokus yang paling
menarik perhatian seorang individu seringkali juga diolah dalam suatu proses
dengan akal yang menghubungkan penggambaran tadi dengan penggambaran lain
yang sejenis yang pernah diterimanya dan diproyeksikan oleh akal di masa lalu
dan ditimbulkan kembali sebagai kenangan atau penggambaran lama dalam
Persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang
kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus
menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui
atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera (Chaplin,
1997). Persepsi wisatawan dapat diperoleh setelah melihat dan menggunakan
sarana dan prasarana yang ada pada suatu kawasan wisata.
2.5 Ekonomi Wisata
Dari sisi ekonomi, pariwisata muncul dari empat unsur pokok yang saling
terkait erat atau menjalin hubungan dalam suatu system, yakni a) permintaan atau
kebutuhan; b) penawaran atau pemenuhan kebutuuhan berwisata itu sendiri; c)
pasar dan kelembagaan yang berperan untuk memfasilitasi keduanya; dan d)
pelaku atau aktor yang menggerakkan ketiga elemen tadi (Steck, et.al, 1999) dalam Yoeti (2008). Menurut Yoeti (2008) ekonomi wisata adalah sebuah
pendekatan pariwisata yang dilakukan dari sudut pandang ekonomi, sehingga
dalam penerapannya ekonomi wisata menggunakan prinsip-prinsip ekonomi yang
dijelaskan sebagai berikut
2.5.1 Permintaan Wisata
Menurut Yoeti (2008) permintaan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi
ekonomi dan sisi sosial psikologis. Sisi ekonomi menyangkut gejala-gejala
permintaan dalam hubungannya dengan keseluruhan faktor-faktor ekonomi,
sedangkan sisi sosial psikologis meninjau persoalan dari sisi manusia sebagai
konsumen dalam menentukan pilihannya untuk membeli sesuatu barang
kebutuhannya.
yaitu potential demand dan actual demand. Yang dimaksud dengan potential demand adalah sejumlah orang yang berpotensi untuk melakukan perjalanan wisata karena memiliki waktu luang dan punya tabungan yang relatif cukup.
Sedangkan yang dimaksud dengan actual demand adalah orang-orang yang sedang melakukan perjalanan wisata pada suatu Daerah Tujuan Wisata (DTW)
tertentu. Morley (1990) menyatakan bahwa permintaan akan pariwisata
tergantung pada ciri-ciri wisatawan, seperti penghasilan, umur, motivasi, dan
watak. Ciri-ciri ini masing-masing akan mempengaruhi kecenderungan orang
untuk bepergian mencari kesenangan, kemampuannya untuk bepergian dan
pilihan tempat tujuan perjalanannya.
2.5.2 Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi yang terjadi karena kegiatan pariwisata menurut Marine Ecoturism for Atlantic Area (META) (2001), terdiri dari Efek Langsung (Direct Effects), Efek Tidak Langsung (Indirect Effects) dan Efek Induksi (Induced Effects). Sementara itu, Efek Tidak Langsung dan Efek Induksi kadang-kadang disebutnya sebagai Efek Sekunder (Secondary Effects) yang menyertai Efek Langsung selaku Efek Primer (Primary Effect).
Dampak ekonomi pariwisata alam adalah manfaat atau kontribusi produk
wisata berbasis alam terhadap ekonomi suatu wilayah. Dampak tersebut dapat
berupa: (1) penerimaan dari penjualan produk wisata (tiket masuk taman nasional,
hotel, campground, restoran, atraksi, transportasi dan retail), (2) pendapatanmasyarakat, (3) peluang pekerjaan dan (4) penerimaan pemerintah dari
pajak dan retribusi (Frechtling, 1987). Pariwisata menjadi faktor penting dalam
sektor perekonomian. Menurut Wahab (1976) pentingnya wisata dalam
perekonomian karena dapat meningkatkan industri-industri baru yang erat
kaitannya dengan pariwisata, meningkatkan permintaan tehadap handicrafts, souvenir goods yang berasal dari daerah sekitar tempat wisata.
2.5.2.1 Prinsip Multiplier Effect
Clement dalam Yoeti (2008), menyatakan bahwa setelah wisatawan datang
pada suatau negara atau DTW, mereka pasti akan membelanjakan dollarnya pada
perusahaan-perusahaan kelompok industri pariwisata untuk memenuhi kebutuhan
(needs) dan keinginan (wants) selama mereka tinggal di negara atau DTW tersebut. Uang yang dibelanjakan wisatawan itu, setelah dibelanjakan tidak
berhenti beredar akan tetapi berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain atau
dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain (yang berkaitan dengan pariwisata).
Efek pengganda (Multiplier effect) memiliki beberapa prinsip seperti yang dijelaskan oleh Yoeti (2008) yaitu: uang yang dibelanjakan wisatawan tidak
pernah berhenti beredar dalamkegiatan ekonomi dimana uang itu dibelanjakan,
uang itu selalu berpindah tangan dari orang satu ke orang yang lain, semakin cepat
uang berpindah tangan, semakin besar pengaruh uang itu dalam perekonomian
setempat dan semakin besar nilai koefisien multiplier, uang itu akan hilang dari
peredaran, apabila uang itu tidak lagi berpindah tangan tetapi berhenti dari
peredaran karena sudah tidak memberikan pengaruh terhadap perekonomian
setempat, pengukuran terhadap besar kecilnya uang yang dibelanjakan wisatawan
2.5.2.2 Faktor Kebocoran
Uang yang dibelanjakan oleh para wisatawan selalu bepindah dari satu
orang ke orang yang lainnya. Menurut Murphy (1987) dalam Milasari (2010).
Kebocoran ekonomi dari pengeluaran wisatawan dimulai sebelum wisatawan
mencapai daerah tujuan. Kebocoran ekonomi dari pariwisata mungkin
digambarkan sebagai jumlah pendapatan yang gagal didapat di sistem ekonomi