BAB III METODOLOGI PENELITIAN
C. Definisi Operasional
1. Persepsi Risiko
Variabel 2 : Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang
C. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang dapat diamati. Penyusunan definisi operasional ini dibuat sebagai acuan untuk alat pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian (Suryabrata, 1998).
Definisi operasional ketiga variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Persepsi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang
Persepsi risiko adalah penilaian calon pramugari terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan pesawat terbang selama penerbangan yang dapat mengancam dirinya.
Tinggi rendahnya persepsi risiko dilihat dari skor total pada Skala Persepsi Risiko. Semakin tinggi skor total, maka semakin tinggi persepsi subjek terhadap risiko mengalami kecelakaan pesawat terbang. Sebaliknya semakin rendah skor totalnya, maka semakin rendah persepsi subjek terhadap risiko mengalami kecelakaan pesawat terbang.
2. Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang
Kecemasan menghadapi risiko kecelakaan pesawat terbang adalah reaksi emosi, fisiologis serta kognitif calon pramugari ketika ia berpikir tentang adanya ancaman dari risiko kecelakaan pesawat terbang yang mungkin dialaminya.
Kecemasan subjek diukur dengan Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang. Tinggi rendahnya kecemasan subjek dapat dilihat dari skor total yang diperolehnya. Makin tinggi skor total yang diperoleh subjek, maka semakin tinggi pula kecemasannya. Sebaliknya semakin rendah skor totalnya, maka semakin rendah pula kecemasan yang dialami subjek.
3. Spiritualitas
Spiritualitas adalah pengalaman individu yang bersifat pribadi dalam hubungannya dengan kekuatan tertinggi atau kekudusan serta hubungan dengan lingkungan dan orang lain. Spiritualitas akan diukur
dengan menggunakan The Daily Spiritual Experiences Scale (DSES)
yang disusun oleh Lynn G. Underwood, Ph.D dengan 15 butir skala yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Kematangan spiritualitas subjek dapat dilihat dari skor total yang diperolehnya. Makin tinggi skor total yang diperoleh subjek, maka individu semakin matang secara spiritual. Sebaliknya semakin rendah skor totalnya, maka individu kurang matang secara spiritual.
D. SUBYEK PENELITIAN
Subyek dalam penelitian ini adalah calon pramugari yang sedang menempuh proses pendidikan atau pelatihan sebagai pramugari. Subyek penelitian diambil dari lembaga pendidikan pramugari yang diambil secara
purposive sampling, yaitu mengambil sampel dengan kriteria tertentu. Adapun kriteria yang telah ditentukan adalah :
1. Lembaga pendidikan pramugari memiliki siswa/ mahasiswa aktif pada
tahun ajaran 2008-2009.
Pembatasan ini dilakukan mengingat adanya perbedaan masing-masing lembaga pendidikan pramugari dalam hal memulai proses pelatihan.
2. Lembaga pendidikan pramugari yang memiliki program studi selama 1
tahun.
Pembatasan ini dilakukan mengingat adanya perbedaan waktu program studi pada masing-masing lembaga pendidikan pramugari.
Berdasarkan kriteria dan teknik pemilihan subyek yang telah ditentukan, maka subyek dalam penelitian ini adalah calon pramugari di
Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD), International Institute
Aviation and Management (IIAM) dan P3 Nusantara di Yogyakarta. Jumlah keseluruhan mahasiswa di Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan
(STTKD) adalah 35 orang dan International Institute Aviation and
Management (IIAM) adalah 19 orang. Oleh karena itu, semua mahasiswa digunakan sebagai subyek penelitian. Jumlah keseluruhan mahasiswa di P3 Nusantara adalah 52 orang. Namun, yang digunakan sebagai subyek penelitan hanya 33 orang. Mahasiswa lainnya (19 orang) digunakan sebagai subyek try out.
Dapat disimpulkan bahwa masing-masing lembaga pendidikan pramugari di atas memiliki mahasiswa dengan jumlah yang sedikit. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan lebih dari satu lembaga pendidikan pramugari untuk memperoleh subyek penelitian yang memadai. Upaya yang dilakukan peneliti untuk mengontrol subyek yang berasal dari tiga lembaga pendidikan pramugari adalah memilih lembaga pendidikan pramugari yang berada di kota Yogyakarta dan memiliki program studi selama 1 tahun.
Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, maka subyek penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Deskripsi Subyek
Deskripsi Jumlah Total
18 tahun 53 orang 19 tahun 19 orang 20 tahun 6 orang Usia 21 tahun 3 orang 81 orang 3 bulan 24 orang 4 bulan 42 orang Masa Studi 6 bulan 15 orang 81 orang
E. METODE DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
Metode yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan cara menyebarkan skala kepada subyek yang akan mengungkap masing-masing variabel.
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Skala Persepsi Risiko
a. Bentuk Alat dan Penyusunan Item
Skala Persepsi Risiko disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan definisi operasional persepsi risiko. Bentuk skala yang digunakan diadaptasi dari Skala Persepsi Risiko yang disusun oleh Lerman, et.al (1995) yang terdiri dari 3 item. Item pertama mengungkapkan penilaian pribadi dan dua item lainnya mengungkapkan penilaian pribadi yang dibandingkan dengan orang lain.
Pada penelitian ini, item pertama pada skala persepsi risiko akan mengungkapkan penilaian calon pramugari terhadap kemungkinan mengalami kecelakaan pesawat terbang. Item ini disusun untuk melihat bagaimana calon pramugari mempersepsi kemungkinan mengalami kecelakaan pesawat terbang ketika mereka telah menjalankan profesi sebagai pramugari. Item kedua dan ketiga akan mengungkapkan penilaian calon pramugari terhadap kemungkinan mengalami kecelakaan pesawat terbang dibandingkan dengan orang lain, baik sesama calon pramugari
maupun orang awam. Kedua item ini disusun untuk melihat bagaimana calon pramugari mempersepsi dirinya lebih mungkin atau tidak mungkin mengalami kecelakaan pesawat terbang apabila dibandingkan dengan orang lain.
Masing-masing item dalam skala ini akan menunjukkan tinggi rendahnya risiko mengalami kecelakaan pesawat terbang yang dipersepsi oleh masing-masing calon pramugari.
Tabel 2. Blue Print
Skala Persepsi Risiko
Pernyataan Item
1. Menurut Saudara, ketika menjadi pramugari, seberapa kemungkinan Saudara mengalami kecelakaan pesawat terbang?
1
2. Seberapa kemungkinan Saudara mengalami kecelakaan pesawat terbang dibandingkan dengan calon pramugari/ pramugari lainnya?
1
3. Seberapa kemungkinan Saudara mengalami kecelakaan pesawat terbang dibandingkan dengan orang lain (bukan calon pramugari/ pramugari)?
1
b. Cara Pemberian Skor
Jawaban dari setiap pernyataan menggunakan metode penskalaan Likert yang mempunyai empat pilihan jawaban, yaitu : SM (Sangat Mungkin), M (Mungkin), TM (Tidak Mungkin) dan STM (Sangat Tidak Mungkin). Pemberian skor untuk setiap respon dalam Skala Persepsi Risiko dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
Tabel 3.
Skor dari setiap respon dalam Skala Persepsi Risiko Item Respon Skor
1, 2, 3 SM M TM STM 4 3 2 1
2. Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang
a. Bentuk Alat dan Penyusunan Item
Skala kecemasan disusun oleh peneliti berdasarkan definisi operasional yang terdiri dari aspek afeksi, kognisi dan fisiologis. Timbulnya kecemasan selalu disertai oleh lebih banyak gejala-gejala fisiologis (Schneiders, 1964). Oleh karena itu, walaupun terdiri dari tiga aspek, komposisi aspek fisiologis yang digunakan lebih banyak dari dua aspek lainnya. Skala kecemasan disusun
berdasarkan aspek-aspek kecemasan yang dituangkan ke dalam
blue print berikut ini:
Tabel 4. Blue Print
Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang pada Calon Pramugari sebelum seleksi
Pernyataan Aspek Kecemasan Favorabel Unfavorabel Total 1. Afeksi 7 5 12 2. Kognitif 7 7 14 3. Fisiologis 10 10 20 TOTAL 24 22 46
Jumlah item keseluruhan dari skala kecemasan menghadapi risiko kecelakaan pesawat terbang adalah 46 item (24 item favorabel dan 22 item unfavorabel). Skala ini digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya kecemasan menghadapi risiko terjadinya kecelakaan pesawat terbang pada subyek penelitian. Distribusi item pada Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini :
Tabel 5. Distribusi Item
Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang pada Calon Pramugari sebelum seleksi
Pernyataan Aspek
Kecemasan Favorabel Unfavorabel
Total (%) 1. Afeksi 1,7,13,19, 25,31 & 36 4,10,16,22 & 28 12 (26,09%) 2. Kognitif 5,11,17,23, 29,34 & 39 2,8,14,20, 26,32 & 37 14 (30,43%) 3. Fisiologis 3,9,15,21,27, 33,38,41,43 & 44 6,12,18,24,30, 35,40,42,45 & 46 20 (43,48%) TOTAL 24 22 46 (100%)
b. Cara Pemberian Skor
Aspek-aspek dalam skala kecemasan menghadapi risiko kecelakaan pesawat pada calon pramugari dijabarkan dalam item-item yang bersifat mendukung (favorabel) dan bersifat tidak mendukung (unfavorabel). Jawaban dari setiap pernyataan menggunakan metode penskalaan Likert yang mempunyai empat pilihan jawaban, yaitu : SS (Sangat Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju) dan STS (Sangat Tidak Setuju). Pemberian skor untuk setiap respon terhadap pernyataan favorabel dan unfavorabel pada Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :
Tabel 6.
Skor dari setiap respon pada pernyataan Favorabel dan Unfavorabel dalam Skala Kecemasan Menghadapi Risiko Kecelakaan Pesawat Terbang
Pernyataan Respon Skor
Favorabel SS S TS STS 4