BAB II. LANDASAN TEORI
B. PERSEPSI TERHADAP KEPEMIMPINAN
1. a. Pengertian persepsi
Persepsi merupakan proses mengetahui mengenai objek dari suatu kejadian objektif dengan bantuan indera. Persepsi juga merupakan kesadaran dari proses organis (Chaplin dalam Hartini, 1999). Bitter (dalam Sahrah, 2004) mengatakan persepsi adalah proses organik untuk dapat mengenali objek maupun kejadian melalui penangkapan, pemilihan, pengorganisasian dan penginterpretasian stimulus berdasarkan minat, kepentingan dan pengalaman subyektif yang dimiliki oleh individu tersebut. Meskipun subyektif, namun persepsi merupakan proses kognitif yang penting yang dapat memaknai kejadian yang terjadi dalam hidup seseorang. Cronbach (dalam Sahrah, 2004) mengatakan bahwa persepsi akan terjadi jika ada objek atau stimulus yang akan dipersepsi, ada alat indera dan ada perhatian terhadap objek yang akan dipersepsi. Selain itu, persepsi merupakan suatu dasar bagi setiap manusia untuk berperilaku.
Menurut Walgito (1993) persepsi adalah suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptor dimana stimulus yang diterima tersebut diteruskan ke otak, sehingga individu menyadari apa yang diperolehnya melalui penginderaan tersebut.
Pada dasarnya persepsi berhubungan erat dengan penginderaan dan objek stimulus. Namun hal ini tentu saja bukan kegiatan melihat suatu objek saja, melainkan sebuah proses yang bertalian dengan kemampuan seseorang dalam mengartikan atau menginterpretasikan suatu objek stimulus, sehingga
persepsi bukan hanya sebuah kegiatan melihat saja, namun juga memproses dan menanggapi stimulus yang dialami (Kartono, 1984).
Proses persepsi meliputi beberapa tahap, yaitu : 1) penangkapan stimulus atau informasi melalui indera dari berbagai sumber, 2) pemilihan atau seleksi yang dilakukan oleh otak untuk membedakan informasi yang penting dan yang tidak, 3) pengorganisasian informasi-informasi yang penting kedalam pola-pola tertentu yang bertujuan memudahkan pemahaman, dan 4) penafsiran terhadap informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, dengan melakukan proses persepsi, individu akan memperoleh kesadaran akan dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Davidoff dalam Walgito, 1993).
Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan proses organik untuk dapat mengenali objek maupun kejadian melalui penangkapan, pemilihan, pengorganisasian dan penafsiran stimulus berdasarkan minat, kepentingan dan pengalaman subyektif yang dimiliki oleh individu.
b. Dampak Persepsi
Hasil-hasil persepsi karyawan terhadap kepemimpinan adalah:
1. Dapat merasa nyaman mengenai kondisi tempat bekerja termasuk kepemimpinan.
2. Merasa didukung, dihargai dan diperhatikan sehingga menjadikan karyawan menunjukkan peran serta yang optimal bagi perusahaan.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Seseorang
Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang:
a. Pelaku Persepsi
Apabila seseorang individu memandang pada suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, maka penafsiran itu sangat dipengaruhi pribadi dari perilaku persepsi individu itu sendiri. Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan.
b. Target Objek
Karakeristik-karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan karena terget tidak dipandang secara terisolasi atau sendiri, maka hubungan suatu target dengan latar belakangnya mempengaruhi persepsi.
Dalam hal ini objeknya adalah laki-laki dan perempuan. Perbedaan fisik biologis seorang laki-laki dan perempuan diyakini oleh para ahli akan berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual. Laki-laki dianggap lebih rasional dibandingkan dengan seorang perempuan. Secara fisiologis menurut Kowa dalam penelitian Sahrah (2004) laki-laki lebih kontinu dalam berkarya. Hampir semua pekerjaan mengacu pada persyaratan akan sifat tersebut, sehingga pada akhirnya laki-laki dipersepsikan lebih mampu daripada seorang perempuan.
c. Situasi
Ada beberapa hal yang masuk dalam faktor situasi yaitu budaya dan agama. Faktor budaya mempengaruhi seseorang dalam mempersepsikan sesuatu. Pada kultur patrilinear beben peran seks seorang laki-laki lebih dominan dibandingkan peran seks seorang perempuan, sehingga laki-laki akan lebih dipercaya untuk memegang peran kepemimpinan dibandingkan perempuan.
Faktor agama juga dianggap sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mempersepsikan sesuatu terutama dalam hal kepemimpinan perempuan. Respon keras terkadang terjadi dari berbagai pihak yang pro ataupun kontra dengan kepemimpinan wanita.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Bawahan terhadap Atasan
Berhm (dalam Hartini, 1999) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi bawahan terhadap atasan adalah :
a. Pemimpin harus diterima sebagai salah satu bagian dari bawahannya. b. Pemimpin harus diterima sebagai keseluruhan dari semua kelompok. c. Pemimpin harus diterima sebagai yang terbaik dari bawahannya. d. Pemimpin harus mampu memenuhi harapan dari bawahannya.
4. Pengertian kepemimpinan
Menurut Kartono (1986) pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya kecakapan dan kelebihan
disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Selain itu, Faiechild (dalam Kartono, 1986) mengemukakan bahwa pemimpin adalah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha atau upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi.
Sementara itu Yulk (dalam Kartono, 1986) mendefinisikan kepemimpinan merupakan proses untuk mempengaruhi orang lain untuk memahami dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Selain itu, menurut Hasibuan (dalam Kartono, 1986) kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
Maka, dilihat dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus, memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang dapat mempengaruhi kelompok dan perilaku bawahan untuk memahami dengan apa yang perlu dilakukan serta proses memfasilitasi individu yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama dan bekerja secara produktif serta mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran atau tujuan tertentu sesuai dengan situasi yang ada.
5. Kepemimpinan wanita
Menurut Hennig (dalam Pribadi, 2009), kebanyakan wanita melihat dirinya sebagai seseorang yang ragu, bimbang, bingung akan tujuan-tujuan mereka dalam hidup, dan menunggu dipilih atau disadari keberadaannya oleh pria. Mereka tidak suka mengambil risiko dan mereka menjadi gelisah dalam situasi di mana mereka tidak mengetahui banyak hal. Sifat-sifat seperti itu bertentangan dengan sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin, seseorang yang bertanggung jawab, menetapkan tujuan, mengambil risiko, dan membuat keputusan. Para peneliti menemui bahwa para wanita yang suka memimpin tidak menganggap diri mereka sebagai wanita dan berbeda; mereka melihat diri mereka sebagai manusia. Pola pikir mereka, begitu juga kemampuan mereka, memampukan mereka menjadi pemimpin Mereka tidak hanya belajar untuk melatih kekuatan pribadi mereka, mereka juga sudah sanggup mengesampingkan emosi mereka di situasi yang membutuhkan penilaian yang jelas. Mereka bukannya tidak emosional, tapi mereka telah belajar memahami diri dan mengendalikan perasaan mereka.
Penelitian mengungkapkan bahwa pemimpin wanita memberdayakan para pendukung dengan memberi kesempatan kepada orang-orang yang mereka pimpin untuk menyatakan pendapat dan memberi masukan. Para pemimpin wanita ini juga melakukan berbagai upaya untuk pengembangan diri. Pemimpin wanita memberi petunjuk dan bimbingan yang diperlukan kepada para pendukung untuk melakukan pekerjaan yang ditugaskan.
Menurut Schermerhorn (dalam Pribadi, 2009),pemimpin wanita selalu lebih cenderung untuk mengambil bagian dimana mereka lebih menghormati dan prihatin terhadap pekerjanya/bawahannya dan berbagi ‘kekuasaan’ serta perasaan dengan orang lain.
6. Persepsi terhadap kepemimpinan
Persepsi merupakan proses organik untuk dapat mengenali objek maupun kejadian melalui penangkapan, pemilihan, pengorganisasian dan penafsiran stimulus berdasarkan minat, kepentingan dan pengalaman subyektif yang dimiliki oleh individu.
Pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dapat mempengaruhi kelompok dan perilaku bawahan untuk memahami dengan apa yang perlu dilakukan serta proses memfasilitasi individu yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama dan bekerja secara produktif serta mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran atau tujuan tertentu.
Berhasil tidaknya seorang pemimpin tidak hanya ditentukan dari bentuk pribadi yang dimiliki seorang pemimpin, melainkan tidak terlepas dari pandangan dan interpretasi yang diambil oleh seorang bawahan. Setiap individu tidak akan dapat menilai dirinya secara objektif, apakah dirinya layak atau tidak hanya berdasarkan penilaian pribadi, karena tindakan dan perilaku seseorang lebih mudah diterjemahkan oleh orang lain yang melihat maupun mengalaminya secara langsung. Hal ini tidak jauh berbeda dengan
penerimaan atau persepsi anggota dalam menafsirkan kepemimpinan yang ada.
Dari uraian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa persepsi terhadap kepemimpinan yang dipimpin oleh wanita adalah sebuah proses penilaian terhadap pemimpin wanita dengan menggunakan penginderaan dan penginterpretasian mengenai kepemimpinan. Pemimpin ini memberikan perhatian dan dukungan, bimbingan dan pengarahan anggota dalam tugas serta menekankan pencapaian tujuan bersama.
7. Faktor-faktor kepemimpinan
Menurut Kartono (1986), faktor-faktor kepemimpinan adalah:
a. Kelenturan Budaya (cultural flexibility), kelenturan budaya tidak hanya mengelola, tetapi persyaratan ini juga untuk mengenali dan menerima perbedaan-perbedaan yang ada dalam organisasinya.
b. Ketrampilan berkomunikasi (communication skills), pemimpin yang efektif harus mampu berkomunikasi, baik secara tertulis, lisan maupun secara non verbal.
c. Ketrampilan dalam Manajemen Sumberdaya Manusia (HRD Skills), yaitu yang berkaitan dengan pemimpin dalam usahanya untuk meningkatkan suasana pembelajaran, merancang program pelatihan, menyebarkan informasi dan pengalaman, meramalkan hasil akhir, mengadakan konseling karir, menciptakan perubahan organisasi dan menyesuaikan diri dengan semua pihak.
d. Kreativitas (creativity), kreativitas tidak hanya dimiliki oleh pemimpin itu sendiri, melainkan sebagai pemimpin.
8. Aspek-aspek kepemimpinan
Gibson (dalam Sahrah, 2004) menyebutkan 3 aspek kepemimpinan, yaitu :
a. Kecerdasan (intelligence)
Seorang pemimpin dinilai akan berhasil jika memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak buahnya. Hal ini meliputi pertimbangan, ketegasan, pengetahuan dan kefasihan berbicara).
b. Kepribadian (personality)
Sifat kepribadian menunjuk pada sifat seperti keuletan, originalitas, integritas, pribadi, dan kepercayaan diri yang berkaitan dengan kepemimpinan yang efektif.
c. Kemampuan mengawasi
Kemampuan mengawasi adalah kemampuan untuk mendayagunakan segala bentuk pengawasan secara efektif yang ditunjukkan oleh persyaratan situasi tertentu. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan memperoleh kerjasama, popularitas dan prestise, kemampuan bergaul, partisipasi sosial, bijaksana dan diplomasi.