S
ejak berhenti dari kantor SMAR dan menerima tunjangan Assedic mulai Maret 1982, kegiatan-kegiatan saya di berbagai bidang masih berjalan terus, walaupun mengalami perobahan-perobahan berhubung dengan terjadinya beraneka-ragam perkembangan.Kegiatan-kegiatan dengan Komite TAPOL yang diketuai oleh Philippe Farine makin berkurang, karena sebagian terbesar para tapol, termasuk yang di pulau Buru, sudah dibebaskan. Kegiatan yang tetap teratur adalah yang bersangkutan dengan Komite Timor, yang sudah berdiri sejak 1976, dan penyelenggaraan soirée
indonésienne bersama-sama banyak teman-teman Indonesia dan
Perancis lainnya. Dalam soirée indonésienne ini kita sajikan masakan-masakan Indonesia (gulai dan sate), nyanyian, ceramah dan pemutaran film. Kegiatan ini juga punya peran untuk menggalang persahabatan dengan berbagai orang, yang ternyata berguna untuk masa-masa kemudian. Meskipun kelihatannya hanya kecil, tetapi dalam prakteknya kegiatan-kegiatan semacam ini memerlukan persiapan berhari-hari dan memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit (menempelkan affiche, mengirimkan undangan, meneleponi teman-teman).
Dalam tahun 1981 dan 1982 ini, kita masih ikut serta dalam
Fête de l’Humanité, dengan mendirikan “Stand Indonesia” yang
Pascal Lutz ikut dalam Fête ini dengan memotongi daging untuk dibikin saté.
Untuk tahun 1982 kita pesan lebih dari 400 kg daging). Dalam Fête de
l’Humanité tahun 1982
(bulan September) inilah kita umumkan bahwa kita tidak lama lagi akan mendirikan restoran Indonesia. Kita menjual bon (semacam karcis) yang bisa dipakai untuk makan di restoran yang akan kita dirikan kemudian.
Sementara itu, makin bertambah jugalah jumlah teman-teman Indonesia yang datang dari Tiongkok dan negeri-negeri lainnya untuk bermukim di Perancis. Masalah mencari pekerjaan menjadi makin mendesak bagi banyak teman. Walupun saya berhak menerima tunjangan Assedic selama dua tahun, maka saya mulailah mempelajari kemungkinan-kemungkinan untuk mendirikan perusahaan, tempat banyak teman bisa bekerja. Sebab, pada waktu itu sudah mulai susah untuk mencari pekerjaan bagi orang-orang asing, bahkan juga bagi réfugié yang mendapat hak untuk bekerja.
Sejak bulan April 1982, dan selama beberapa bulan, saya mulai membeli buku-buku tentang bagaimana mendirikan perusahaan di Perancis, dan mengadakan konsultasi dengan
Agence de Création d’Entreprises dll. Juga mempelajari
peraturan-peraturan tentang kemungkinan untuk mendapat tunjangan/ bantuan dari pemerintah atau organisasi-organisasi untuk mendirikan perusahaan dalam rangka menciptakan kerja dan mengurangi pengangguran.
Waktu itu, dengan terpilihnya M. François Mitterrand sebagai Presiden dan terbentuknya pemerintahan yang baru dengan pimpinan M. Pierre Mauroy sebagai Perdana Menteri, berbagai organisasi (association) ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, antara lain untuk melawan pengangguran.
Dengan ALDEA (Agence de Liaison pour le Développement de
l’Economie Alternative, yang waktu itu dipimpin oleh Patrice
Sauvage) dan Boutique de Gestion de Paris (yang dipimpin oleh Danielle Desgué) diadakan konsultasi tentang berbagai aspek yang menyangkut persiapan untuk mendirikan perusahaan yang bisa menampung banyak tenaga (perusahaan apa, bagaimana mendapatkan dana, masalah-masalah juridis dll). Dari konsultasi-konsultasi ini makin jelas bahwa ide untuk mendirikan toko buku, percetakan, toko kerajinan tangan, pressing (pencucian) dll. tidaklah merupakan proyek yang ideal. Sebab, perusahaan-perusahaan semacam itu tidak bisa mempekerjakan banyak orang.
Dari konsultasi dengan berbagai organisasi-organisasi Perancis dan teman-teman Indonesia, maka akhirnya lahirlah ide untuk mendirikan restoran Indonesia yang khusus menyajikan masakan-masakan Indonesia. Pengalaman beberapa tahun sebelumnya dalam menjual masakan Indonesia (saté, gulai,
pisang goreng dan lain-lain) di Fête l’Humanité dan soirée indonésienne memberikan harapan besar bahwa masakan Indonesia akan menarik bagi orang-orang Perancis. Kenyataan bahwa waktu itu tidak ada satu pun restoran Indonesia di Paris juga merupakan faktor pertimbangan untuk memilih proyek ini. Ide untuk mendirikan restoran ini disambut hangat oleh sebagian besar teman-teman Indonesia dan Perancis. Tetapi ada juga yang meragukan apakah proyek ini bisa terwujud, sebab tidak ada modal yang tersedia dan juga tidak ada yang mempunyai pengalaman dalam mendirikan perusahaan dan mengelola restoran. Jadi rintangan atau kesulitan-kesulitan cukup banyak yang harus diatasi. Sejak ide untuk mendirikan restoran ini sudah makin matang, maka sejak bulan Mei 1982 saya mencurahkan tenaga sehari-harinya untuk berusaha merealisasikan gagasan ini. Dan karena sudah démission (minta berhenti) dari pekerjaan di Kementerian Pertanian, dan menerima tunjangan dari Assedic, maka bisa digunakan waktu sepenuhnya untuk usaha ini.
Mulailah saya membeli buku “Bagaimana mendirikan restoran” dan mengamati cara-cara bekerja di restoran di Paris, sambil menyusun dossier d’études (feasibility study). Dalam proses ini, terlihatlah bahwa badan hukum yang paling ideal dari perusahaan yang akan didirikan itu seyogyanya adalah koperasi. Karena, bentuk hukum koperasi yang ditopang oleh dossier yang baik (tujuan, orientasi, cara pengelelolaan dan lain-lain), bisa merupakan daya tarik dalam mencari dana untuk modal.
Sementara itu, walaupun datangnya “dana” masih belum jelas, saya mulai menghubungi restoran-restoran yang mau dijual atau dioperkan, yang memasang iklan di berbagai suratkabar atau majalah. Dengan melakukan perundingan-perundingan dengan pemilik-pemilik restoran itu, maka
didapatlah secara berangsur-angsur pengetahuan tentang berbagai aspek restoran (pentingnya tempat, luasnya ruangan, kapasitas kursi, segi-segi juridis dan masalah-masalah lain).
Dalam usaha mencari restoran yang mau dijual atau dioperkan ini, maka saya telah mencurahkan waktu yang tidak sedikit untuk mendatangi berbagai daerah kota Paris. Dalam mengunjungi berbagai tempat ini, saya sering ditemani oleh seorang kawan, yang akhirnya juga menjadi salah seorang di antara anggota badan pendiri usaha koperasi kita ini, yaitu Sobron Aidit.
Perkenalan saya (lewat Danielle Desgué) dengan Georges Hébré, pemimpin restoran koperasi “Le Temps des Cerises” waktu itu, merupakan bantuan yang besar dalam masa-masa persiapan ini. Dengan dialah, statuts (anggaran dasar) SCOP Fraternité disusun. Statuts ini secara resmi ditandatangani pada tanggal 26 November 1982. (Dan, kemudian, ia bersedia menjadi anggota dari SCOP kita, atas nama Le Temps des Cerises). Ia memberi kesempatan kepada saya dan kawan-kawan Indonesia lainnya, untuk job-training (stage) beberapa waktu di restorannya, dan menggalang persahabatan dengan berbagai teman yang bekerja di restorannya.
Bantuan dari teman-teman ALDEA juga besar dalam mempersiapkan berdirinya SCOP Fraternité dan restoran kita. ALDEA adalah suatu LSM Perancis yang bertujuan untuk membantu berdirinya perusahaan yang didirikan atas prinsip-prinsip “alternatif,” artinya prinsip-prinsip yang tidak hanya mementingkan segi komersial saja, melainkan juga segi sosial, kemanusiaan dll.
menghu-bungi instansi-instansi dan orga-nisasi-organisasi. ALDEA telah menunjuk salah seorang pengu-rusnya (Jean Mata) untuk menangani pembukuan res-toran kita. Peker-jaan ini ia lakukan sampai beberapa tahun, yang meru-pakan juga sema-cam “kursus”
management, dengan
“ h o n o r a r i u m persahabatan.” Persahabatan dengan Pascal Lutz (yang waktu itu masih bekerja sebagai direktur asrama - foyer - orang-orang Afrika di Saint Denis) merupakan pengalaman yang penting. Sebab, sejak ia ikut menangani kegiatan-kegiatan di Fête de l’Humanité selama beberapa tahun, persahabatan ini diteruskan ketika mempersiapkan berdirinya SCOP Fraternité dan restoran kita.
Ketika diajukan usul kepadanya, apakah ia bersedia untuk menjadi gérant (pemegang kuasa) dari SCOP yang akan kita dirikan, maka ia menyambutnya dengan hangat. Ia menyatakan bahwa ia setuju untuk menemani usaha kita, karena tujuan usaha ini cocok di hatinya.
sebelumnya dengan t e m a n - t e m a n Perancis lainnya, seperti Jean Yves L a v a y s s i è r e , Paulette Gereaud, juga sangat penting untuk menghadapi masa-masa mendi-rikan SCOP Frater-nité ini.
Bukan saja me-reka telah ikut menyumbangkan pikiran yang ba-nyak mengenai ma-cam-macam soal, tetapi juga kemudi-an bersedia menjadi anggota SCOP. Bahkan, mereka telah berani
menan-datangani surat jaminan (ikut bertanggung-jawab menurut hukum) ketika kita membikin kontrak pembayaran sebanyak 400 000 Franc (ditambah 80.000 F untuk berbagai biaya untuk advokat, pajak transfer dan lain-lain) dengan pemilik restoran “Le Madras” (Mme Zachet), walaupun waktu itu masih belum pasti dari mana datangnya dana yang diperlukan sebagai modal. Rasa persahabatan yang telah digalang dengan mereka sebelum 1982 itu telah mendorong saya untuk mengusulkan nama
“Fraternité” bagi koperasi (SCOP) yang akan kita dirikan dan yang akan mendirikan restoran. Ini untuk memanifestasikan persaudaraan antara teman-teman Indonesia dan Perancis, yang mendukung lahirnya ide ini.
Mengenai nama yang akan diberikan kepada restoran telah diusulkan kepada teman-teman untuk mengambil nama “Indonesia” saja. Ini lebih jelas bagi banyak orang, daripada nama lainnya seperti Nusantara, Bali, Borobudur.
Untuk mencari tempat yang baik dan yang harganya tidak tinggi, memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Lebih dari tiga puluh restoran yang “dijual” telah dikunjungi selama tiga bulan. Akhirnya kita temukan restoran “Le Madras,” lewat iklan di Figaro.