• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSOALAN SASTRA DAN PENCIPTAAN KARYA POPULER

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 130-137)

Dalam tulisannya, Satyagraha menganjurkan untuk menye- barkan karya-karya sastra seluas-luasnya lewat media massa, televisi, radio, dan kampus-kampus, sehingga orang-orang tidak heran jika mendengar dan membicarakan “Seribu Kunang-Kunang di Manhanttan” atau “ Dokter Zhivago”, yang tentu saja diharap- kannya mampu menjadikan masyarakat kedanan dengan sastra. Hal itu juga didukung Doktor Kuntoro Wiryomartono, dalam majalah Humanitas, Yogyakarta, tentang perlunya mengambil langkah pendek penanggulangan masalah keterampilan sastra dari masyarakatnya dengan jalan mengembangkan jenis “sastra koran” yang lebih meluas pangsa pasarnya mulai dari rakyat kecil hingga pejabat.

Namun, pendapat-pendapat itu bagi Farouk tak memberi jaminan besar pada fakta sastra yang ada pada saat ini. Selain faktor sistem yang diciptakan Balai Pustaka cenderung menjauh- kan elite sastra dari masyarakat, lemahnya apresiasi masyarakat terhadap sastra adalah hal yang cukup mendasar dari terpencil- nya sastra di masyarakat serta ditambah lemahnya budaya baca masyarakat.

Ilustrasi di atas mungkin sebagai kilas balik pembicaraan kita pada penilaian “Kehidupan Sastra Indonesia sedang Se- karat?”. Sebab, adalah benar bahwa kekhawatiran Farouk dan seluruh sastrawan tentang fakta sastra kita tak begitu saja bisa dijawab oleh usulan Satyagraha Hurip atau pun Doktor Kuntoro. Sastra koran memang sempat dijalankan, tetapi rupanya rutinitas yang terlalu tinggi menjadikan kejenuhan rubrikasi sastra dan budaya di media massa menjadikan koran-koran perlahan mengurangi kolom-kolom tersebut dan menggantikannya dengan yang sedang trendi di masyarakat. Sebab lain, tentu saja karena koran adalah dunia bisnis yang juga menjadi periuk nasi bagi pemilik dan pelaksananya, bahkan bagi masyarakatnya.

Persoalan Sastra dalam Kehidupan

Artinya, ada hal yang lebih dulu harus kita pecahkan dan kita cari jawabannya sebelum lahir lagi fakta yang lebih baru

dari fakta-fakta yang berkembang. Misalnya, benarkah bahwa sastra itu hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia? Benarkah masyarakat memang butuh sastra? Sejauh mana ting- kat fleksibilitas sastra mengimbangi tingkat fluktuasi kehidup- an manusia yang kian hari kian berkembang?

Jika hal tersebut dapat dijawab, tentu saja kita bisa meng- antisipasi permasalahannya mengapa sastra terpencil di masya- rakat. Kita ambil contoh bandingan sastra dengan dunia ekonomi kita yang berkembang cepat, sampai sejauh mana sastra bisa mengimbanginya?

Tentu saja itu perlu dipertanyakan karena untuk memasya- rakat diperlukan perimbangan yang sesuai dengan selera masya- rakat, sebab dari sana pula masyarakat berhak untuk memilih hal mana yang mesti diutamakan. Dari sana pula ada kemungkin- an pembentukan masyarakat satra yang bagaimana yang ada di Indonesia.

Benar pula jika ada gambaran bahwa Horison dan Basis sebagai majalah yang sempat jadi “buku suci” bagi setiap penik- mat sastra pada beberapa dasawarsa, kini tak bisa lagi dijadikan “buku suci”. Lalu, ada baiknya pula kita iri pada Malaysia yang begitu arif memandang sastrawan dan dunianya. Namun, kita pun lebih arif pula jika sebelumnya menengok dulu “rumah” kita sendiri dengan keinginan kuat untuk “melayakkannya” sebelum melihat “rumah” orang-orang yang terkadang membuat kita frustasi ingin “bunuh diri”.

Fenomena sastra Indonesia yang diteriakkan Soni juga berang- kat dari rumah sendiri lewat beberapa pengalamannya “berdiskusi” dengan rekan sejawat dan koleganya. Saya pun ingin memberikan beberapa pengalaman di “rumah” kita tentang sastra.

Inilah dia. Akhir tahun 1989, Jakob Sumardjo dalam Pikiran Rakyat secara deskriptif telah mengemukakan bahwa “pena para sastrawan kita memang sudah lama tumpul”. Ditambah lagi pe- nerbitan buku sastra tak menimbulkan gema di tengah masya- rakatnya. Tahun itu juga disebutnya sebagai tahun studi budaya/

belajar karena tak ada kegiatan seni budaya dan tokoh yang menonjol dan monumental selain gelombang usaha penerjemahan karya sastra dunia ketiga.

Akhir tahun 1989, juga sebelum keberangkatan W.S. Rendra ke negeri Sakura untuk menggelar “Selamatan Anak Cucu Sulaiman” di Depok, penulis sempat “ngobrol” tentang masalah kehidupan sastra di Indonesia. Diakuinya sastra Indonesia me- mang menyedihkan karena beberapa sebab, di antaranya ke- beradaan sastra kita mengkhawatirkan tidak hanya disebabkan oleh karya sastra dan masyarakat sastranya, tetapi juga disebab- kan oleh sastrawan kita yang turut membantu suasana buruk itu. Misalnya, seniman/sastrawan kita sudah tidak gigih lagi membaca situasi masyarakat dan berkarya yang bermutu, selain hidupnya yang sudah kurang mantap dan tidak konsisten lagi mengabdikan dirinya pada dunia sastra. Contohnya banyak sastrawan yang terjun ke dunia bisnis, menjadi wartawan, atau bintang film. Selain itu, menjamurnya masalah drop out sekolah, jalan hidup, dan drop out sosial di masyarakat adalah hal yang paling berat karena itu berkaitan dengan masyarakat secara langsung. Apa jadinya sastra kita kalau masyarakatnya saja sudah banyak yang mengalami drop out sosial.

Di ruang kuliah, guru sastra saya, Prof. Dr. H. Yus Rusyana, bercerita bahwa pada zamannya hasil-hasil sastra itu memiliki fungsi yang amat penting, baik secara personal maupun sosial. Secara personal, hasil sastra berfungsi sebagai kelanggenan, spiritual, dan estetis. Secara sosial, berfungsi menjaga dan me- lestarikan aktivitas dan pranata sosial. Karena itu, terjadilah du- kung mendukung yang timbal balik antara hasil sastra dan masya- rakatnya. Hasil sastra mencerminkan, memurnikan, dan mem- beri pemahaman tentang kehidupan masyarakat, dan sebaliknya masyarakat menghidupi sastra itu. Sastra pun merupakan sarana dalam kelangsungan masyarakat. Karena itu pula sastra ter- pelihara.

Budayawan Saini K.M. pun dalam wawancara dengan pe- nulis di ruang kerjanya, tahun 1990, bercerita tentang sebuah

model masyarakat sastra yang membuatnya iri. Satu saat beliau diutus ke luar negeri dan berjalan-jalan sambil mencari majalah Time. Setelah Time diperolehnya, segera dicarinya kolom berita yang mengabarkan buku sastra apa yang sedang hangat dan populer di negara itu lewat abstract. Menakjubkan, ketika ia me- nyempatkan untuk melihat ke sekelilingnya, orang-orang sedang membaca dan membicarakan karya tersebut. Ia agak sedikit ter- kesima sambil berdecak dan bergumam, “Jika saja masyarakat Indonesia seperti itu.”

Selain itu, tentu saja tidak kita lupakan pendapat Satyagraha Hurip yang menghujat bahwa “Kemiskinan Kaum Intelektual: Sumber Keterpencilan Sastra” dalam Kompas, 14 Mei 1989.

Masih banyak cerita saya tentang “rumah”, tapi itu pun tak menjamin kekhawatiran semua pihak tentang fakta sastra kita akan lekas teratasi. Cerita tentang rumah hanya untuk membuat kita lebih arif memandang dulu keadaan “rumah” kita karena dari “rumah”-lah kita memulai sesuatu sambil berniat mening- katkan “rumah” itu menjadi lebih “nyaman” dan “hadir” sebagai bagian dari kehidupan kita yang terus berkembang.

Lalu, bagaimana dengan fakta sastra kita yang sedang seka- rat ini? Tentu saja itu tidak bisa kita lupakan begitu saja karena denyutnya tetap masih kita rasakan dan kita nikmati. Walaupun faktanya jelas kita lihat di masyarakat tak begitu menggembira- kan dengan cerita-cerita “rumah” yang telah kita simak dan kita dengar serta kita tatap.

Sastra kita masih sebatas sastra kulit yang kadang dibutuh- kan untuk bungkus “tubuh-tubuh” dan jika tak dibutuhkan lagi tercecer begitu saja di sembarang tempat. Sepertinya masih eng- gan untuk menikmati kelezatan “buah” di dalamnya.

Akhirnya, apakah kita akan tetap membiarkan sastra Indo- nesia sekarat? Tentu saja tidak. Namun, sekali lagi, ada baiknya kita selalu menengok “rumah” kita yang masih punya “kulit” sambil mencari jawab kembali pertanyaan-pertanyaan, benarkah bahwa sastra itu hal mendasar dalam kehidupan manusia? Benar- kah masyarakat kita masih butuh sastra? Sejauh mana tingkat

fleksibilitas sastra mengimbangi tingkat fluktuasi kehidupan manusia yang terus berkembang? Memang harus kita jawab. Sebab bukankah masalah budaya hanya sepersekian saja dari seluruh pranata kehidupan manusia secara keseluruhan.

Soeria Disastra, seorang aktivis Komunitas Sastra Tionghoa- Indonesia dalam salah satu tulisannya di Jendela Newsletter (2002) mengatakan bahwa karya sastra bukan hanya melukis dunia tetapi juga meresapi dan menghayati dunia, bukan hanya mem- buka dunia objektif yang kaya raya tetapi juga mengekspos dunia jiwa yang lembut dan subtil, bukan hanya menjelajah jagat luar tetapi juga merambah jagat dalam, bukan hanya mondar-mandir di dunia luar tetapi juga merambah jagat dalam, bukan hanya mondar-mandir di dunia luas, tetapi juga berjalan sendirian dalam dunia jiwa, bukan hanya berdialog dengan dunia dan mempersilahkan pembaca mencuri dengar. Sastra merupakan gambaran dan sekaligus penghayatan; internalisasi, subjektifi- kasi, dan emosionalisasi dunia. Tidak heran, karena sentuhan rasa dan jiwa, dunia sastra menjadi dunia yang diterangi mata- hari batin, gunung menjadi berwarna, air menjadi bangsa, bunga menjadi bercahaya, perempuan menjadi bergaya.

Pendek kata, dunia sastra adalah dunia yang indah penuh warna penuh nuansa, yang memberi pembacanya pengalaman batin yang menggetarkan jiwa, menggoncangkan rasa, meng- harukan sukma, dan melembutkan citra. Menciptakan dan meng- apresiasikan karya sastra, merupakan pengalaman intelektual dan emosional yang tinggi derajatnya yang akan lebih memanu- siakan manusia. Manusia-manusia Indonesia yang bersastra, yang menciptakan dan mengapresiasi karya-karya sastra, tentu akan membentuk bangsa Indonesia yang lebih berbudaya, lebih manusiawi., dan lebih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tugas sastrawan-sastrawan, para pekerja, dan aktivis sastra selain menciptakan karya-karya sastra dan mengusahakan pener- bitan sastra, yang tidak kurang pentingnya adalah membimbing masyarakat luas mengenal dan berkerabat dengan sastra. Ruang

dan kesempatan dalam media massa cetak dan elektronik yang luas menunggu para pekerja dan aktivis sastra untuk direbut dan dimanfaatkan. Sajian-sajian yang kreatif dan menarik, baik berupa karya-karya sastra maupun karya kritik dan tuntutan sastra dalam media massa itu akan langsung menjangkau ber- bagai kalangan dan berbagai lapisan masyarakat. Dalam hal ini, baik kiranya diutarakan di sini semacam program tele-prosa (ber- upa pembacaan karya prosa pilihan bersama tayangan suasana dan pemandangan yang sangat artistik dan pas dalam televisi dan program pembacaan puisi-puisi pendek beserta pengantar yang menarik serta pembawaan lagu-lagu yang sengaja dicipta- kan berdasarkan teks puisi-puisi yang dibacakan. Contoh pro- gram-program televisi itu bisa kita saksikan dalam siaran beberapa stasiun televisi di Tiongkok. Mengapa kita tidak ber- buat serupa? Masihkah kita peduli dengan dunia sastra Indo- nesia? Mari kita bergerak dan berbuat sesuai kemampuan kita untuk menjaga kehidupan sastra Indonesia! Kita bisa memulainya dari yang populer hingga jenjang filosofis. Keluarga, sekolah, lingkungan, dan buku adalah pintu terdekat ke arah pelestarian kreativitas sastra Indonesia. Hayu atuh!

Ekspresi pertama saya usai tiap membaca karya sastra bagus adalah mengumpat. Lantang-lirihnya umpatan ini bergantung pada kualitas karya tersebut. Semakin bernas semakin keras. Saya tahu ini bukan ekspresi yang baik. Tapi, saya tak pernah punya cara lain untuk meluapkan kegeraman.

Saya masih mengingat beberapa umpatan yang acap ter- lontarkan. “Kampret, kok bisa begini, sih?” atau “Ini benar-benar karya yang kurang ajar,” misalnya. Namun, sebenarnya masih banyak koleksi umpatan yang luput dari ingatan saya. Hanya saja, bila diterjemahkan dengan mudahnya, umpatan itu tak lebih dari kegeraman saya mengetahui seorang manusia di muka bumi ini bisa menulis sastra dengan memukau lagi terang-benderang. Terkecuali golongan nabi, saya kira, semua umat manusia di muka bumi ini punya kesempatan yang sama. Bila seorang ningrat macam Soeharto bisa menjadi presiden, kesempatan sama juga yang berlaku pada Joko Widodo, kendati si Jokowi ini hanya berasal dari keluarga nirningrat. Tentang mewujudkan impian, dalam buku The Secret, Rhonda Byrne pernah merumuskan: ketahuilah, yakinilah, dan terimalah.

Termasuk pula bilamana Putu Wijaya bisa sedemikian edan menulis prosa. Seharusnya generasi sekarang punya kesempatan yang sama untuk menjadi sepertinya, atau bahkan melebihinya. Putu hanyalah seorang anak petani di desa kecil yang luput pen- catatannya dari peta Indonesia. Sebagai sarjana hukum, sebenar- nya ia amat jauh dari kata layak untuk menjadi penulis kaliber dedengkot di kesusastraan Indonesia. Namun, ia menepis agitasi yang layak jadi penulis hanyalah para sarjana sastra. Karena pada kenyataannya, sarjana sastra di negeri ini lebih banyak mengeram

BELAJAR DARI GURU SANG GURU

Dalam dokumen KERLING Antologi Kritik Esai Bahasa dan (Halaman 130-137)