MULTIKULTURALISME
B. Perspektif Multikulturalisme
kebudayaan baru. Pertentangan antara multikulturalisme dan monokulturalisme tampak nyata dari asumsi dasar yang saling berseberangan, yang satu melegitimasi perbedaan sementara yang lainnya meminimalisir perbedaan.47
perbedaan yang diperoleh secara kultural membawa satu tolak ukur autoritas dan diberi bentuk serta distrukturkan karena dilekatkan dalam satu sistem arti dan makna yang diwariskan dan dimiliki secara historis. Multikulturalisme dengan demikian adalah kesadaran mengenai keanekaragaman atau perbedaan yang dilekatkan secara kultural.50
Secara lebih lanjut, Azra, sebagaimana dikutip Lu’lu Nurhusna, menyatakan bahwa multikulturalisme adalah pemahaman tentang realitas multikultur yang lebih dari sebatas pemahaman akan adanya kemajemukan. Akan tetapi ide ini berorientasi pada sebuah penegasan sikap bahwa segala perbedaan yang terjadi memiliki kesamaan kedudukan di ruang publik. Sedangkan nilai-nilai inti yang dikembangkan dalam multikulturalisme Azra adalah kesadaran akan keragaman (plurality), kesetaraan (equality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice), dan nilai-nilai demokrasi (democratic values).51
Menurut Naim dkk, multikulturalisme adalah paham tentang kultur yang beragam, di mana pandangannya bertolak dari tujuh catatan Conrad tentang karakteristik kultur, yaitu: 1) kultur adalah sesuatu yang general dan spesifik sekaligus, 2) kultur adalah sesuatu yang dipelajari, 3) kultur adalah sebuah simbol, 4) kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang alami, 5) kultur adalah sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama yang menjadi atribut bagi individu sebagai anggota dari kelompok masyarakat, 6) kultur adalah sebuah model bukan kumpulan adat-istiadat
50 Bikhu Parekh, Rethinking Multiculturalism: Keberagaman Budaya dan Teori Politik (Yogyakarta: Impulse dan Kanisius, 2008), hlm. 15.
51 Lu’lu Nurhusna, “Multikulturalisme Azyumardi Azra dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam” (Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), hlm. 101.
dan kepercayaan, dan 7) kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif untuk mempertahankan hidup dan melestarikan keturunan.52
Keragaman kultur ini meniscayakan adanya pemahaman, saling pengertian, toleransi dan sejenisnya, agar tercipta suatu kehidupan yang damai dan sejahtera serta terhindar dari konflik berkepanjangan. Multikulturalisme adalah paham yang menekankan kajiannya pada masalah kesenjangan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang ada.
Dengan kata lain, penekanan utama multikulturalisme adalah pada kesetaraan budaya. Multikulturalisme adalah pandangan yang saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan, bukan sekedar toleransi.53
Bertolak dari pernyataan di atas, Brian Fay mengatakan bahwa multikulturalisme merupakan pengakuan adanya perbedaan di antara orang-orang yang beraneka ragam kebudayaan dan subkultur. Multikulturalisme adalah sebuah ideologi dari masyarakat multikultur. Ideologi multikultur sebagai sebuah bentuk aspek yang bersifat mutual dari suatu etnik, yang memberi keleluasaan agar etnik yang lain dapat mengekspresikan diri atas budayanya. Lebih lanjut, ia menekankan ada tiga syarat multikulturalisme, yaitu adanya interaksi (interaction) antar kelompok, keterbukaan (opennes), dan pembelajaran (learning). Dalam multikulturalisme tidak dikenal adanya perlawanan (resistence). Dengan kata lain, multikulturalisme mensyaratkan rasa empati, solidaritas, dan keadilan sosial untuk mewujudkan masyarakat multikultur.
Dalam pengertian ini dituntut sikap keterbukaan,
52 Ngainun Naim dkk., Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi (Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2008), hlm. 125.
53 Soemanto Fatoni, dalam Kompas, 6 September 2009.
menghormati satu sama lain, serta mau belajar dari kelompok yang lain.54
Parekh, sebagaimana dikomentari oleh Azra, membedakan lima bentuk multikulturalisme. Pembagian kelima bentuk multikulturalisme ini tidak bersifat “kedap air” (watertight), sebaliknya, bisa tumpang tindih dalam segi-segi tertentu, yaitu:55
Pertama, “multikulturalisme isolasionis” yang mengacu pada kondisi masyarakat di mana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang sangat minimal satu sama lain. Contoh kelompok ini adalah masyarakat yang ada pada sistem
“millet” di Turki Utsmani atau masyarakat Amish di Amerika Serikat. Kelompok masyarakat Samin di Indonesia juga menganut sistem multikulralisme isolasionis. Kelompok masyarakat ini menerima keberagaman, tetapi pada saat yang sama berusaha mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat lainnya. Penjelasan ini sebagaimana dikutip oleh Zakki Mubarak dalam bukunya, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat.56
Kedua, “multikultaralisme akomodatif”, yakni masyarakat plural yang memiliki kultur dominan, yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultural kaum minoritas. Masyarakat multikultural akomodatif merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada
54 Brian Fay, Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer (Yogyakarta: Jendela, 1998), hlm. 7.
55 Bhikhu Parekh, “National Culture and Multikulturalism", dalam Thompson, Kenneth (ed) Media and Kultural Regulation (Thousand Oaks, CA: Sage Publication, 1997), hlm. 183-185.
56 Zakki Mubarak dkk, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat (Depok:
Penerbit FE UI, 2008).
kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan mereka. Sebaliknya, kaum minoritas tidak menentang kaum kultur dominan.
Multikulturalisme akomodatif ini dapat ditemukan di Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa lainnya. Hal ini juga dijelaskan oleh Alfons dalam ST. Nugroho (2011).57
Ketiga, “multikultaralisme otonomis”, yakni masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan, dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Concern utama kelompok kultural terakhir ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menentang kelompok kultural dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat di mana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra yang sejajar. Jenis multikultaralisme ini didukunng misalnya oleh kelompok Quebecois di Kanada dan kelompok-kelompok muslim imigran di Eropa, yang menuntut untuk bisa menerapkan syari’ah, mendidik anak-anak mereka pada sekolah Islam, dan sebagainya.58
Keempat, “multikultaralisme kritikal” atau
“multikulturalisme interaktif”, yakni masyarakat plural di mana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu concern dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
Kelompok budaya dominan tentu saja cenderung menolak tuntutan ini, dan bahkan berusaha secara paksa untuk
57 Lihat: Perpustakaan Lemhannas RI, dalam http://lib.lemhannas.go.id/public/
media/catalog/0010-011600000000099/swf/3193/files/basic-html/page5.html.
58 Zakki Mubarak dkk, Ibid.
menerapkan budaya dominan mereka dengan mengorbankan budaya kelompok-kelompok minoritas.
Karena itulah kelompok minoritas menentang kelompok kultur dominan, baik secara intelektual maupun politis.
Dengan tujuan menciptakan iklim yang kondusif bagi penciptaan secara bersama-sama sebuah kultur kolektif baru yang egaliter secara genuine. Jenis multikulturlisme ini, sebagai contoh, diperjuangkan oleh masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat, Inggris dan lain-lain.59
Kelima, “multikulturalisme kosmopolitan”, yakni masyarakat yang berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat dan commited kepada budaya tertentu, dan sebaliknya, mereka secara bebas terlibat dalam eksperimen-eksperimen interkultural sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
Pendukung multikultaralisme jenis ini sebagian besar adalah intelektual diasporik dan kelompok-kelompok liberal yang memiliki kecenderungan postmodernist di mana memandang seluruh budaya sebagai resources yang dapat mereka pilih dan ambil secara bebas.60
Menurut Azra, dari klasifikasi Parekh di atas, Indonesia termasuk bentuk multikulturalisme kedua dan keempat. Di Indonesia pada dasarnya terdapat kelompok dominan baik dalam konteks budaya, politik, etnis dan agama; tetapi kelompok dominan tersebut mengakomodir kultur-kultur lain agar bisa mengekspresikan dirinya. Selain itu, di Indonesia juga berlangsung proses interaksi yang cukup intens antara kultur dominan dan kultur-kultur lain yang
59 Bhikhu Parekh, “National Culture and Multikulturalism", dalam Thompson, Kenneth (ed) Media and Kultural Regulation, hlm. 183-185.
60 Ibid.
pada akhirnya akan melahirkan “supra cultur”, yakni kultur nation-state Indonesia.61
Adapun menurut Heywood, kelima bentuk multikulturalisme di atas adalah multikulturalisme deskriptif, yang mendeskripsikan realitas multikultural masyarakat. Selain multikulturalisme deskriptif, menurut Heywood ada pula multikulturalisme normatif, yakni sebuah legitimasi atas keragaman masyarakat yang didasarkan hak setiap kelompok yang berbeda untuk dihargai dan diakui keberadaannya. Multikulturalisme normatif ini membutuhkan peran dan keterlibatan pemerintah secara sadar, terarah, dan terencana berupaya mewujudkan multikulturalisme melalui kebijakan-kebijakannya.62
Dalam konteks Indonesia, multikulturalisme merupakan agenda besar yang tidak saja perlu dan penting tetapi juga merupakan jawaban atas problematika masyarakat Indonesia yang majemuk. Ia memiliki peran yang amat sentral bagi sebuah proses terjadinya integrasi sosial, yang memungkinkan setiap anggota masyarakat yang berbeda memiliki kesanggupan untuk memelihara identitas kelompoknya sekaligus mampu berinteraksi dalam ruang yang sama dengan kesediaan untuk menerima yang lain.
Multikulturalisme adalah sebuah formasi sosial yang membuka jalan dibangunnya ruang-ruang identitas yang beragam dan sekaligus jembatan yang menghubungkan ruang-ruang itu untuk sebuah integrasi. Dalam multikulturalisme, masyarakat tidak berpikir monokultur, tidak eksklusif, tidak separasi dan tidak hanyut dalam isu-isu
“pribumi” dan “pendatang” serta kekerasan antar etnik.
Sebaliknya, masyarakat yang berbeda membangun sikap
61 Azyumardi Azra, “Identitas dan Krisis Budaya…”, hlm. 16.
62 Andrew Heywood, Political Ideologies (Palgrave: McMillan, 2007), hlm. 313.
saling menghormati satu sama lain terhadap perbedaan dan kemajemukan yang ada, agar tercipta perdamaian dan dengan demikian kesejahteraan dapat dinikmati oleh seluruh umat manusia. Dalam istilah agama Islam, multikulturalisme merupakan upaya untuk mewujudkan ajaran yang raḥmatan lil ‘ālamīn.63
Dari seluruh uraian di atas, dapat diambil satu konklusi atau benang merah bahwa multikulturalisme merupakan pemahaman dan sikap menghargai dan mengakui segala bentuk perbedaan yang ada di tengah masyarakat demi terciptanya tatanan kehidupan bersama yang harmonis dan saling menghargai satu sama lain.
63 Muhammad Turhan Yani dkk., “Islam dan Multikulturalisme: Urgensi, Transformasi, dan Implementasi dalam Pendidikan Formal”, Journal of Islamic Education Studies, Vol. 8, No. 1, 2020, hlm. 59-74.