• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pertambahan Jumlah Daun Tanaman Sawi (Brassica Juncea L.)

Berikut grafik 4.5 pertambahan jumlah daun tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) yang diukur setiap 5 hari sekali selama 30 hari yaitu sejak tanaman sawi hijau berusia 3 minggu hingga masa panen :

Berdasarkan grafik 4.5 diatas menunjukan adanya pengaruh pemberian perlakuan pupuk cair sabut kelapa dengan pertambahan jumlah daun sawi hijau (Brassica juncea L.). Dalam setiap pengamatan yang dilakuan terjadi peningkatan jumlah daun tertinggi pada tanggal 23 April

hingga 28 April 2015. Pertambahan daun relatif sama yaitu ≤ 2 daun

dalam setiap pengamatan. Perlakuan paling baik terjadi pada perlakuan 1 dengan penambahan jumlah daun 1 helai lebih banyak dari perlakuan 2 dan 3, sedangkan pada kotrol pertambahan daun selalu sama dalam setiappengamaan yaitu 1 helai. Namun pada akhir pengamatan justru jumlah daun terendah pada perlakuan 3, karena daun-daunya banyak yang terserang hama dan penyakit.

Berdasarkan uji normalitas (Lampiran 9) yang dilakukan menunjukan bahwa nilai uji Kolmogorov - Smirnov Z 0.773 > 0.05, maka Ho diterima. Hal ini berarti data sampel berasal dari populasi berdistribusi normal. Pengujian data dilanjutkan dengan uji homogenitas varians

(Lampiran 9) yang dihasilkan dengan nilai levene statistic 2.440 nilai sig 0.089 > 0,05 pada level probabilitas yang artinya perlakuan dalam pemberian dosis yang berbeda – beda pupuk cair sabut kelapa terhadap tinggi batang tanaman sawi hijau memiliki varians yang sama (homogen). Sehingga dapat dilanjutkan dengan uji ANOVA (Lampiran 10). Berdasarkan pada hasil yang diperoleh pada uji ANOVA, untuk nilai

probabilitas adalah 0.067 > 0.05, dengan demikian hipotesis Ho ditolak. Hal ini menunjukan bahwa perlakuan pemberian pupuk cair sabut kelapa mempengaruhi pertambahan jumlah daun tanaman sawi hijau secara signifikan ( ditolak). Uji Post hoc menggunakan Tukey HSD (Lampiran 10) menunjukkan bahwa data pada mean difference tidak berbeda karena tidak munculnya symbol*, Means difference signifikan pada level 0.05.

Tanaman sawi hijau (Brassica juncea L.) pada perlakuan 3 rata-rata terserang hama ulat Thepa javanica, ulat titik tumbuh, dan penyakit busuk daun. Ulat Thepa javanica merupakan ulat yang menyerang tanaman sawi dengan ciri-ciri daun banyak yang berlubang dengan jarak antar lubang sangat dekat dan menggerombol, ulat ini hanya menyerang tanaman sawi pada perlakuan 3. Ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis Zell) ini menyerang tanaman Sawi pada semua perlakuan termasuk

kontrol. Serangan ulat ini memiliki ciri daun bagian dalam yang terlindungi oleh bagian luar rusak dan kelihatan bekas gigitan, dari luar tanaman masih kelihatan baik tetapi setelah diperiksa ternyata bagian dalamnya sudah rusak. Sedangkan busuk daun lebih banyak menyerang perlakuan 3 dan kontrol, dengan ciri serangan diantara tulang-tulang daun terjadi bercak bersudut berwarna hijau pucat sampai kuning. Pada permukaan bawah daun dapat terbentuk kapang berwarna putih. Bagian daun yang terinfeksi saling berhubungan, lantas berubah warna menjadi cokelat yang membesar. Jika penyakit timbul pada saat tanaman masih kecil maka tanaman akan tumbuh kerdil. Infeksi pada tanaman yang sudah besar menyebabkan banyak daun yang harus dibuang. Penyakit ini dapat berkembang menjadi penyakit pasca panen.

Penyebab serangan hama dan penyakit ini dikarenakan tanah pada lokasi penelitian yang memiliki kadar nitrogen rendah, pH yang terlalu asam, dan kondisi suhu selama penelitian. Melalui pemberian perlakuan pupuk cair sabut kelapa dapat membantu dalam meningkatkan nutrisi pada tanah yang diserap tanaman serta meningkatkan pH tanah. Namun, pemberian pupuk sabut kelapa harus sesuai dengan volume yang tepat, karena pada perlakuan 3 dengan volume 300 ml/l tanaman justru menjadi rentan penyakit dan pertumbuhan tidak optimal. Semakin tinggi pemberian nitrogen (sampai batas optimumnya) maka jumlah klorofil yang terbentuk akan meningkat. Meningkatnya jumlah klorofil mengakibatkan

laju fotosintesis pun akan meningkat sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan maksimum.

Apabila akar mengalami kerusakan fisiologis maka akar tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik yaitu menyerap unsur hara dan air. Sehingga proses fotosintesis dan kegiatan translokasi hasil fotosistesis juga terganggu dan berakibat pada pertumbuhan dan pertambahan jumlah daun pada tanaman sawi. Pernyataan ini didukung oleh Russel (1950) dalam Nathania (2012:81), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan linear antara tekanan osmosis dan hasil. Semakin tinggi tekanan osmosis maka semakin rendah hasil vegetatif tanaman sawi yang diperoleh. Sedangkan pada tanaman sawi kontrol meiliki jumlah daun yang sedikit dikarenakan dengan status kesuburan tanah pada daerah Podosoko, Kecamatan Sawangan dimana kandungan N (nitrogen) total yang sangat rendah (0,02-0,39). Sehingga perlu dilakukan penambahan pupuk untuk meningkatkan kadar nitrogen dalam tanah. Selain itu kondisi tanaman sawi yang sangat sensitif juga harus diperhatikan dalam pemberian dosis pupuk, agar tanaman sawi tidak layu, membusuk, dan mati.

Penyebab lainya adalah kondisi suhu pada lokasi penelitian, suhu yang dikehendaki tanaman sawi untuk apat tumbuh optimal adalah suhu 12-21ºC. Tetapi suhu pada lokasi penelitian rata-rata 30-34ºC pada siang hari dan 23-26ºC pada malam hari. Tentunya dengan kondisi suhu yang demikian sangat tidak sesui dengan suhu yang dikehendaki tanaman sawi untuk tumbuh dengan baik. Suhu pada lokasi penelitian cenderung

panas, sehingga pada siang hari tanaman sawi akan terlihat layu dan kembali segar pada sore hari menjelang malam. Akibat lain yang ditimbulkan dari suhu yang tinggi ini beberapa tepi daun sawi menjadi terbakar, karena dengan suhu lebih dari 24ºC tepi daun sawi akan terbakar (Zulkarnain, 2013:86). Namun, hal ini dapat diminimalisir dengan dilakukan penyiraman secara teratur dan pengaturan drainase yang baik pada lokasi penelitian. Sehingga tanaman sawi pada perlakuan 1 tetap memberikan hasil yang baik.

Tabel 4.5. Pertambahan Jumlah Daun Sawi Hijau

Hari/Tanggal Rata-rata Pertambahan Jumlah Daun Sawi Hijau (Helai) Perlakuan Kontrol P1 P2 P3 Minggu, 13 April 2015 5 4 3,71 5 Sabtu, 18 April 2015 6 5 4,71 4,5 Kamis, 23 April 2015 6,85 6 5,71 6 Selasa, 28 April 2015 8,71 7,28 6,66 8 Minggu, 3 Mei 2015 10 8,14 7,28 7,85 Jumat, 18 Mei 2015 11,14 7,71 7,14 7,28 Rabu, 13 Mei 2015 11 8 7,14 6,86

Berdasarkan tabel 4.5 diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah daun tanaman sawi hijau P1 lebih banyak 1 helai dari rata-rata jumlah daun tanaman P2, dan lebih banyak 2 helai dari rata-rata jumlah

daun tanaman sawi P3 dan kontrol. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertambahan daun paling rendah justru pada P3 dan kontrol. Perlakuan 3 yaitu dengan pemberian volume pupuk organik cair sabut kelapa yang lebih dari 100 ml/l, justru menyebabkan pertambahan jumlah daun menjadi terhambat dan berakibat pula pada terhambatnya proses fotosintesis pada tanaman sawi. Pemberian pupuk cair sabut kelapa dengan volume tinggi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah unsur hara yang mengakibatkan tekanan osmosis disekitar perakaran tanaman lebih tinggi sehingga akar mengalami kekeringan fisiologis yang mengakibatkan penyerapan unsur hara semakin rendah (Nathania, 2012:81). Sehingga semakin tinggi volume pupuk cair sabut kelapa, jumlah dan justru semakin rendah.

C. Berat Basah Tanaman Sawi Hijau Meliputi Berat Batang, Daun,