3.3 Parameter Kinerja Produksi
3.3.2 Pertambahan Panjang Karapas
Grafik lebar karapas rata-rata kepiting bakau dari semua jenis perlakuan menggambarkan peningkatan pertumbuhan panjang dari awal hingga akhir pemeliharaan. Peningkatan panjang rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan C pemberian 2 titik aerasi yaitu berkisar antara 8.0-12.2 cm. Pertumbuhan panjang terendah yaitu kepiting bakau dengan perlakuan D yaitu berkisar antara 8.2-10.4 cm (Gambar 11). 0,0 10,0 20,0 30,0 40,0 50,0 60,0 70,0 80,0 90,0 0 7 14 21 28 35 42 B o b o t Ra ta -Ra ta ( g .e k o r-¹ )
Pemeliharaan hari
ke-A (nol titik aerasi dengan OT awal 3,72 mg/L) B (satu titik aerasi dengan OT awal 4,69 mg/L) C (dua titik aerasi dengan OT awal 5,77 mg/L) D (tiga titik aerasi dengan OT awal 6,31 mg/L)
19
Gambar 11. Pertambahan panjang karapas rata-rata (cm) kepiting bakau Schylla serrata pada setiap perlakuan selama masa pemeliharaan 42 hari
Pembahasan
Penggunaan sistem resirkulasi selama pemeliharaan berlangsung bertujuan untuk menjaga kestabilan kualitas air dan mengurangi pergantian air pada media. Sistem resirkulasi ini pada dasarnya merupakan proses filtrasi yang melewatkan air melalui media berpori. Salah satu parameter kualitas air yang dapat diminimalisir adalah kekeruhan (Salmin 2005). Padatan terlarut dan kekeruhan memiliki korelasi positif, akan tetapi tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Air laut memiliki nilai padatan terlarut yang tinggi tetapi tidak berarti kekeruhannya juga tinggi (Jewlaika et al. 2014). Sistem resirkulasi ini melibatkan beberapa komponen yaitu filter fisik, filter kimia dan filter biologi. Filter fisik yang digunakan berupa kapas filter dan pasir malang. Kapas filter dan pasir malang berperan dalam menyaring padatan tersuspensi dalam air. Sifat pasir malang yang berongga halus dapat menjebak partikel-partikel seperti sisa feses dan pelet, sehingga dapat menyaring kotoran-kotoran tersebut (Nurhidayat et al. 2012). Filter kimia menggunakan batu zeolit. Batu zeolit berperan dalam penyerapan zat beracun seperti amonia dan nitrit. Zeolit merupakan mineral alumunia silikat terhidrat yang memiliki rongga berisi molekul air dan kation-kation bebas yang dapat dipertukarkan (Supriyono et al. 2007). Struktur yang berongga pada zeolit tersebut juga mampu menyerap atau menyaring sejumlah besar molekul yang berukuran lebih kecil atau sesuai dengan rongganya (Erdem dan Karadinar 2004). Filter biologi yang dipakai adalah bioball yang berperan sebagai media tempat pelekatan mikroba. Mikroba yang tumbuh merupakan bakteri nitrifikasi yang berperan dalam mendegradasi amonia nitrogen kedalam bentuk nitrat yang tidak beracun bagi ikan (Dewi dan Masithoh 2013). Kelimpahan dan aktivitas bakteri di sedimen berpengaruh terhadap konsentrasi
0,0 2,0 4,0 6,0 8,0 10,0 12,0 14,0 0 7 14 21 28 35 42 P a n ja n g K a ra p a s R a ta -Ra ta ( c m .e k o r-¹ )
Pemeliharaan hari
ke-A (nol titik aerasi dengan OT awal 3,72 mg/L)
B (satu titik aerasi dengan OT awal 4,69 mg/L) C (dua titik aerasi dengan OT awal 5,77 mg/L) D (tiga titik aerasi dengan OT awal 6,31 mg/L)
20
senyawa toksik yang dapat mempengaruhi derajat kelangsungan hidup dan pertumbuhan biota yang dipelihara (Badjoeri et al. 2010). Beberapa parameter kualitas air juga telah dirancang sesuai dengan kebutuhan optimum untuk menunjang pertumbuhan kepiting bakau. Nilai salinitas sebesar 25 g L-1, nilai pH sebesar 7 dan nilai suhu sebesar 29°C (Hastuti et al. 2013) merupakan parameter kualitas air optimum yang menjadi dasar acuan penelitian ini untuk menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman untuk kepiting bakau.
Parameter kualitas air yang diamati adalah kadar oksigen terlarut (OT). Oksigen terlarut merupakan gas yang sangat penting untuk kelangsungan hidup hewan air (Hickling 1971). Oksigen terlarut dalam suatu perairan diperoleh melalui difusi dari udara ke dalam air, aerasi mekanis, dan fotosintesis tanaman akuatik. Salah satu metode yang sering dipakai untuk meningkatkan kadar oksigen dalam perairan adalah penambahan batu aerasi, kincir air, pipa U serta teknologi ganti air pada wadah pemeliharaan budidaya perikanan. Oksigen terlarut dalam air dapat berkurang akibat adanya respirasi dan pembusukan bahan organik pada dasar perairan. Keberadaan oksigen terlarut pada media pemeliharaan seringkali menjadi faktor pembatas sehingga keberadaannya harus selalu tersedia pada jumlah minimum tertentu. Wedemeyer dan Yasutake (1978) menyatakan bahwa ketersediaan oksigen terlarut sangat penting dalam budidaya intensif, karena bila kekurangan akan mengakibatkan dampak negatif pada kesehatan ikan bahkan kematian. Hal ini dikarenakan oksigen terlarut dibutuhkan oleh ikan dalam proses metabolisme tubuh untuk membantu pembakaran makanan sehingga menghasilkan energi yang selanjutnya digunakan dalam proses pertumbuhan dan pematangan gonad. Kekurangan OT pada media pemeliharaan dapat berdampak terhadap hilangnya nafsu makan pada ikan. Oksigen terlarut juga dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik dalam proses aerobik. Hal tersebut terkait dengan aktifitas bakteri nitrifikasi yang merombak amonia menjadi nitrit yang kemudian akan diubah lagi menjadi nitrat (zat hara) dengan bantuan oksigen sebagai oksidator. Penambahan aerasi dalam budidaya intensif mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya persaingan oksigen (Huisman 1987). Oleh sebab itu pada penelitian ini parameter oksigen terlarut menjadi fokus utama karena perannya sebagai faktor pembatas yang dapat mempengaruhi kinerja produksi dan hormonal biota serta parameter kimia air lainnya.Konsentrasi oksigen terlarut selama 42 hari pemeliharaan pada masing-masing perlakuan menunjukkan nilai yang berbeda. Pada perlakuan A dengan tidak adanya penambahan aerasi dan hanya mengandalkan ganti air dari sistem resirkulasi menunjukkan nilai pada kisaran 3.3-3.9 mg L-1. Pada perlakuan B dengan penambahan satu titik aerasi menunjukkan nilai OT pada kisaran 3.9-4.8 mg L-1. Perlakuan C dengan penambahan dua titik aerasi mempunyai nilai OT tertinggi dari semua perlakuan yaitu berada pada kisaran 5.1-5.7 mg L-1. Pada perlakuan A, B dan C konsentrasi oksigen terlarut secara umum menurun secara stabil hingga akhir masa pemeliharaan (Gambar 5). Proses penurunan oksigen secara stabil ini diakibatkan oleh ukuran S. serrata yang semakin besar dan dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen semakin banyak (Boyd 1982).
Perlakuan D dengan penambahan tiga titik aerasi menunjukkan nilai OT yang cukup fluktuatif pada kisaran 3.5-6.3 mg L-1. Kisaran nilai OT pada perlakuan D terus menurun dari awal pemeliharaan sampai hari ke-28 dan mulai meningkat setelah hari ke-32 sampai akhir masa pemeliharaan (Gambar 5).
21 Penurunan nilai OT diakibatkan oleh banyaknya sisa pakan, buangan hasil metabolisme serta kepiting bakau mati yang menyebabkan banyaknya lapisan lendir pada permukaan air sehingga mengurangi kemampuan difusi oksigen dari udara ke air oleh aerasi. Aktivitas perombakan amonia oleh bakteri menjadi nitrit dan nitrat yang tinggi secara aerob tersebut juga mengkonsumsi OT sehingga menyebabkan turunnya nilai OT. Hal tersebut bisa dilihat dari grafik peningkatan nilai nitrit dari awal pemeliharaan sampai pada hari ke-28 dan kemudian mulai menurun sampai akhir masa pemeliharaan (Lampiran 5). Sedangkan nilai nitrat mengalami kenaikan dari awal sampai akhir masa pemeliharaan. Peningkatan nilai OT dari hari ke-32 sampai akhir masa pemeliharaan diakibatkan sudah menurunnya populasi kepiting pada perlakuan ini yang mengakibatkan semakin rendahnya suplai amonia yang berasal dari sisa pakan dan kotoran biota (Gambar 5). Penurunan nilai OT juga disebabkan oleh buih yang terdapat pada permukaan media. Buih tersebut berasal dari gelembung aerasi yang bercampur lendir dari tubuh kepiting bakau. Lendir tersebut merupakan indikator stress kepiting bakau terhadap kualitas lingkungan yang buruk. Buih yang menutupi permukaan membuat daya larut air semakin kecil sehingga akan menghalangi penyerapan oksigen melalui proses difusi (Boyd 1982). Pemberian tiga titik aerasi juga meningkatkan konsentrasi total suspended solid (TSS) pada media pemeliharaan (Lampiran 5). Perlakuan D mempunyai laju peningkatan TSS paling signifikan yakni berkisar antara 28.9-142.4 mg L-1. Hal ini diakibatkan banyaknya bahan organik yang terdapat di kolom air. Banyaknya bahan organik di perairan dapat mempengaruhi penetrasi cahaya yang masuk, mengurangi kemampuan kepiting dalam menangkap pakan dan padatan tersuspensi nya dapat menyumbat insang. Dari data diatas menunjukkan perlakuan C memberikan suplai OT paling stabil dan terbaik diantara perlakuan lain. Hal tersebut sesuai dengan FAO (2011) menetapkan standar kualitas air untuk memelihara kepiting bakau, dengan kisaran OT optimum lebih dari 5 mg L-1 dan diperkuat oleh KepMen-LH No. 54 Tahun 2004 mengenai kandungan oksigen untuk biota air laut yaitu lebih dari 5 mg L-1. Sedangkan menurut Paital dan Chainy (2012) kisaran OT pada habitat alami S. serrata di perairan India berkisar antara 4-10 mg L-1.
Beberapa parameter kualitas air lainnya seperti pH, suhu, salinitas, alkalinitas, amonia, nitrit, nitrat dan TSS untuk perlakuan A (tidak menggunakan titik aerasi), B (satu titik aerasi) dan C (dua titik aerasi) memiliki kisaran yang masih sesuai dengan kisaran maksimum yang telah ditentukan tetapi untuk perlakuan D (tiga titik aerasi) pada beberapa parameter seperti amonia dan TSS mempunyai nilai paling tinggi diantara perlakuan lain (Tabel 2). Hal ini diakibatkan oleh pengadukan yang kencang oleh tiga titik aerasi tersebut yang menyebabkan pakan rucah melayang di kolom perairan sehingga berpotensi untuk meningkatkan limbah nitrogen dalam perairan yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan.Kinerja produksi dan respon stress S.serrata secara langsung berkaitan erat dengan kualitas air sebagai media tempat pemeliharannya. Perbedaan nilai kualitas air antar perlakuan inilah yang menyebabkan perbedaan nilai kinerja produksi dan respon stress antar perlakuan.
Beberapa paramater respon stres yang diamati adalah kadar kortisol hemolim, kadar glukosa hemolim, total haemocyte count (THC) dan tingkat konsumsi oksigen (TKO). Stres merupakan suatu kondisi ketidaknyamanan non-spesifik yang mengakibatkan dampak yang merugikan antara lain: penurunan
22
imunitas, kegagalan reproduksi, penurunan bobot karkas, hingga kepada kematian hewan (Prodjodihardjo 2002). Stres juga menggambarkan kondisi terganggunya homeostasi hingga berada diluar batas normal serta memerlukan proses-proses pemulihan untuk diperbaiki. Menurut Woodward dan Strange (1987) kondisi stres pada ikan dapat disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah yang terkait langsung pada proses yang terjadi di dalam tubuh ikan seperti tingkat imunitas tubuh dan keseimbangan nutrien. Sedangkan perubahan eksternal yang dapat menimbulkan respon stres diantaranya terjadi akibat perubahan lingkungan, kualitas air, penanganan, dan lain sebagainya yang berasal dari luar tubuh ikan. Kadar kortisol tubuh merupakan parameter primer yang menunjukkan tingkat stres ikan. Tingginya hormon kortisol dapat mempengaruhi resistensi ikan terhadap penyakit. Porchase et al. (2009) menyatakan pada saat ikan mengalami stres, respons fisiologis pertama yang dilakukan untuk menjaga homeostasi adalah dengan mengatur mekanisme fungsi hormonal. Ransangan atau faktor penyebab stres akan diterima oleh ikan melalui kelenjar hyphothalamus yang kemudian berdampak terhadap terjadinya pelepasan hormon kortisol pada jaringan interrenal. Peningkatan kadar kortisol tubuh tersebut berdampak negatif terhadap kondisi fisiologis ikan. Dalam kondisi stres terjadi realokasi energi metabolik aktivitas investasi (seperti pertumbuhan dan reproduksi) menjadi aktivitas untuk memperbaiki homeostasi, seperti respirasi, pergerakan, regulasi hidromineral dan perbaikan jaringan (Wendelaar 1997). Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Barton et al. (1987) yang menyatakan bahwa respons terhadap stres dikontrol oleh sistem endokrin melalui pelepasan hormon kortisol yang dalam jangka panjang dapat berdampak kronis seperti terhambatnya sistem reproduksi, menurunnya laju pertumbuhan, melemahnya sistem kekebalan tubuh, meningkatnya penyakit, hingga terjadinya kematian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan hormon kortisol dari kondisi awal. Peningkatan dengan nilai terendah terdapat pada perlakuan C yaitu sebesar 13.9 nmol L-1. Hal tersebut mengindikasikan bahwa terdapat kondisi homeostasi yang baik sehingga dapat menekan tingkat stres S.serrata. Sedangkan peningkatan kadar kortisol dalam darah tertinggi terdapat pada perlakuan D yaitu sebesar 24 nmol L-1. Tingginya kadar kortisol tersebut mengindikasikan bahwa kepiting bakau mengalami tingkat stres yang tinggi. Tingkat stres tersebut berasal dari mutu kualitas air yang buruk. Hal ini sesuai dengan Adams (1990) yang menyatakan stres merupakan suatu adaptasi terhadap perubahan fisiologis yang dihasilkan dari berbagai stresor lingkungan.
Kadar glukosa darah merupakan parameter sekunder yang menggambarkan respons stres, yaitu respons fisiologis yang terjadi pada saat hewan berusaha mempertahankan kondisi homeostasinya yang secara aktif melakukan penyesuaian terhadap perubahan (Wedemeyer 1996). Salah satu faktor perubahan yang paling mempengaruhi adalah kondisi lingkungan. Kebutuhan energi untuk memperbaiki homeostasi selama stres dipenuhi oleh proses glikogenolisis dan glukoneogenesis yang menghasilkan glukosa. Pasok glukosa ke dalam sel target sangat bergantung pada kinerja insulin. Kinerja insulin sangat dipengaruhi oleh kadar hormon kortisol. Kortisol bekerja untuk menghambat efek insulin dalam membantu penyerapan glukosa dalam darah oleh sel. Hal tersebut menyebabkan kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi pada organisme yang mengalami stres (Watkins 2008). Pada data respon stres menunjukkan bahwa
23 perlakuan C memiliki nilai kadar glukosa paling rendah yaitu sebesar 24.8 mg dL -1. Hal tersebut menunjukkan bahwa S.serrata yang dipelihara pada perlakuan C memiliki tingkatan stres paling rendah dibanding dengan perlakuan lain. Sekresi hormon insulin yang lancar dapat membantu proses penyerapan glukosa dalam darah oleh sel. Hal tersebut didukung juga oleh data kortisol darah pada perlakuan C yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lain. Sedangkan nilai kadar glukosa darah tertinggi terdapat pada perlakuan D sebesar 45.1 mg dL-1. Kualitas air yang buruk adalah faktor yang menyebabkan tingginya kadar glukosa darah pada perlakuan D sehingga menyebabkan biota uji menjadi stres. Stres juga berpengaruh pada jalur metabolik yang menekan sistem imunitas ikan sehingga ikan yang mudah stres rentan terhadap penyakit (Anderson 1999).
Sel hemosit merupakan sel-sel darah yang beredar pada invertebrata yang merupakan efektor imun utama yang melakukan fungsi imunologi beragam termasuk fagositosis, regenerasi molekul sitotoksik ketika dibawah paparan racun dan juga termasuk pemeliharaan homeostasis serta bertanggung jawab dalam berbagai mekanisme perlindungan (Vijayavel 2007). Jumlah sel hemosit dalam tubuh atau Total Haemocyte Count (THC) diyakini mempengaruhi kemampuan organisme untuk bereaksi melawan benda asing dan berbagai respon terhadap infeksi, perubahan lingkungan pada sebagian besar crustacea (Tsing et al. 1989). Faktor lingkungan mendasar seperti suhu, salinitas dan oksigen terlarut sangat mempengaruhi jumlah THC pada beberapa spesies dekapoda krustasea. Salah satu contoh adalah faktor hipoksia sebagai akibat dari konsentrasi oksigen terlarut (OT) yang rendah yaitu sebesar 1 mg L-1 pada pemeliharaan udang P. Stylirostris yang menyebabkan penurunan jumlah THC. Konsisi hipoksia tersebut menyebabkan menjadi stres dan rentan terhadap infeksi Vibrio alginolyticus (Cheng dan Chen 2001). Kelimpahan sel hemosit juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah jenis kelamin, molting, status reproduksi dan nutrisi, ukuran, seks, dan berat badan. Berdasarkan data penelitian dapat dilihat bahwa semua perlakuan mengalami peningkatan jumlah sel hemosit pada akhir masa pemeliharaan. Peningkatan nilai THC tertinggi terdapat pada perlakuan B yaitu dari nilai 2.05 sel/mm3 pada awal pemeliharaan menjadi 8.32 sel/mm3 pada akhir masa pemeliharaan. Sedangkan berturut-turut nilai THC pada akhir pemeliharaan perlakuan A dan C adalah 7.51 sel/mm3 dan 8.13 sel/mm3. Peningkatan nilai THC pada perlakuan B dan C memiliki hasil yang tidak berbeda nyata (p>0,05). Sedangkan perlakuan D mengalami peningkatan nilai THC paling rendah yaitu dari nilai 2.09 sel/mm3 pada awal pemeliharaan menjadi 3.57 sel/mm3 pada akhir pemeliharaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlakuan B dan C memiliki kondisi lingkungan yang baik untuk menunjang pembentukan sistem imun S.serrata dilihat dari banyakya sel-sel hemosit yang diproduksi. Hal ini juga sesuai dengan Cook et al. (2003) yang menjelaskan bahwa terbentuknya sel- sel hemosit memiliki peluang lebih tinggi dalam pengendalian dari serangan patogen baik bakteri maupun virus dan mampu meningkatkan sistem imun.
Tingkat konsumsi oksigen (TKO) merupakan parameter yang menggambarkan laju metabolisme organisme air (Gracia et al. 2006). Semakin rendah nilai TKO mengindikasikan semakin rendah pula aktifitas metabolisme yang terjadi. Hal tersebut berkaitan dengan penggunaan budged energi metabolik, yaitu semakin rendah aktifitas metabolisme maka akan semakin sedikit pula energi yang digunakan untuk proses metabolisme tersebut, sehingga diharapkan
24
budged energi untuk pertumbuhan menjadi lebih banyak. TKO dapat menggambarkan respons stres pada ikan karena peningkatan tingkat konsumsi oksigen terjadi apabila ikan dalam kondisi yang tidak seimbang. Ikan akan melakukan aktifitas bergerak yang lebih aktif sehingga proses respirasi akan semakin tinggi (Li et al. 2007). Bonga (1997) juga menyatakan bahwa kondisi stres akan menyebabkan terjadinya realokasi energi metabolik dari aktivitas investasi (pertumbuhan dan reproduksi) menjadi aktivitas untuk memperbaiki homeostasis, seperti peningkatan respirasi, pergerakan yang lebih aktif, regulasi hidromineral dan perbaikan jaringan. Berdasarkan data diatas perlakuan D memiliki kisaran peningkatan nilai TKO paling tinggi dibandingkan perlakuan lain yaitu berkisar antara 0.50-0.75 mgO2 g-1 jam-1. Sedangkan kisaran peningkatan nilai TKO terendah terdapat pada perlakuan C yaitu sebesar 0.45-0.58 mgO2 g-1 jam-1 (Gambar 6). Hal tersebut menunjukkan bahwa pada perlakuan C memiliki kualitas lingkungan yang stabil dan optimum untuk menunjang kinerja pertumbuhan sehingga S.serrata dapat mengatur konsumsi oksigen untuk kegiatan metabolisme tanpa menggangu aktivitas pertumbuhan dan reproduksi.
Beberapa parameter kinerja produksi yang diamati terkait aktivitas pertumbuhan adalah tingkat kelangsungan hidup (TKH), laju pertumbuhan mutlak (LPM), petumbuhan panjang mutlak (PPM), rasio konversi pakan (RKP) dan koefisien keragaman (KK). Tingkat Kelangsungan Hidup (TKH) adalah salah satu parameter kinerja produksi yang menggambarkan prosentase jumlah ikan hidup pada akhir masa pemeliharaan. TKH dihitung dengan membagi jumlah benih yang hidup pada akhir periode pemeliharaan dengan jumlah benih ikan yang hidup pada awal periode pemeliharaan (Goddard 1996). TKH sangat erat hubungannya dalam menentukan keberhasilan proses produksi akuakultur karena akan menentukan besaran pakan yang dipakai dan biomassa panen yang dihasilkan. Berdasarkan Tabel 2, melalui uji analisis ragam (P>0.05), penambahan jumlah titik aerasi yang berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata antar perlakuan terhadap nilai TKH. Nilai TKH tertinggi terdapat pada perlakuan C dengan penambahan dua titik aerasi yaitu sebesar 63.3%. Hal ini didukung oleh data kualitas air yang cenderung baik dan stabil selama masa pemeliharaan (Tabel 2). Pengadukan yang dihasilkan oleh dua titik aerasi juga tidak mempengaruhi jumlah pakan yang disuplai sehingga nilai tertangkapnya pakan oleh kepiting bakau relatif tinggi dan sisa pakan yang dihasilkan juga sedikit. TKH untuk perlakuan A (tanpa penambahan aerasi) dan B (penambahan satu titik aerasi) berturut-turut adalah 40% dan 53.3 %. Rendahnya nilai TKH pada dua perlakuan tersebut dibandingkan perlakuan C diakibatkan oleh kurangnya nilai oksigen terlarut (OT) yang dihasilkan (Tabel 4). FAO (2011) menetapkan standar kualitas air untuk memelihara kepiting bakau, dengan kisaran OT optimum lebih dari 5 mg.L-1 dan diperkuat oleh KepMen-LH No. 54 Tahun 2004 mengenai kandungan oksigen untuk biota air laut yaitu lebih dari 5 mg L-1. Rendahnya nilai OT tersebut juga berpengaruh terhadap kualitas air yang dihasilkan. Sedangkan nilai TKH terendah terdapat pada perlakuan D dengan penambahan tiga titik aerasi yaitu sebesar 20%. Rendahnya nilai TKH pada perlakuan D terjadi akibat buruknya mutu kualitas air selama masa pemeliharaan yang ditandai dengan tingginya nilai amonia dan nitrit (Tabel 2). Hal tersebut diakibatkan oleh banyaknya sisa pakan, hasil buangan metabolisme serta S.serrata yang mati yang tidak dapat diminimalisir dampaknya oleh sistem resirkulasi. Sisa pakan yang melimpah diakibatkan oleh proses
25 pengadukan pada media yang terlalu kencang. Hal tersebut juga mengakibatkan nilai tertangkapnya pakan oleh kepiting bakau menjadi rendah karena banyaknya pakan yang melayang-layang di kolom air. Hal ini juga ditunjukkan dengan banyaknya sisa pakan yang tidak termakan pada proses penyiponan. Kurangnya pakan yang dapat ditangkap oleh kepiting bakau juga mengakibatkan banyaknya kepiting mati karena nilai kanibalisme meningkat.
Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan ikan dalam bobot dan panjang seiring dengan bertambahnya waktu (Affandi 2002). Huet (1971) menyatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari daya tahan terhadap penyakit dan genetik. Faktor eksternal meliputi faktor yang berkaitan dengan lingkungan tempat hidup serta ketersediaan makanan. Berdasarkan Tabel 3melalui uji analisis ragam (P>0.05), penambahan jumlah titik aerasi yang berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata antar perlakuan terhadap parameter kinerja produksi. Beberapa parameter kinerja produksi terkait pertumbuhan antara lain laju pertumbuhan mutlak (LPM) dan pertumbuhan panjang mutlak (PPM). Kedua parameter diatas mempunyai korelasi positif. Nilai LPM tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 0.83±0.03 g ekor-1 hari-1 diikuti perlakuan B yang mempunyai nilai sebesar 0,66±0,06 g ekor-1 hari-1 dan perlakuan A sebesar 0.52±0.05 g ekor-1 hari-1. Perlakuan D memiliki nilai LPM terendah yaitu 0.44±0.01 g ekor-1 hari-1. Selaras dengan nilai LPM, nilai PPM tertinggi terdapat pada perlakuan C yaitu sebesar 4.2±0.4 cm. Sedangkan perlauan A, B dan D berturut-turut sebesar 2.8±0.3 cm, 2.9±0.2 cm, dan 2.2±0.1 cm.
Dari kedua data kinerja produksi diatas menunjukkan bahwa perlakuan C memberikan hasil yang terbaik. Hal tersebut diakibatkan oleh nilai oksigen terlarut optimum yang terdapat pada media. Oksigen terlarut memiliki peran yang sangat penting terkait dengan proses pembentukan energi. Pada respirasi aerob, pemecahan glukosa untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP memerlukan bantuan oksigen (Salmin 2005). Campbell et al. (2006) menyatakan dalam respirasi aerob oksigen berperan sebagai penerima elektron terakhir untuk menghasilkan H2O (air) dan 38 ATP (energi). Selanjutnya peran oksigen di media juga dapat mempengaruhi parameter kualitas air lainnya. Suplai oksigen yang optimum dapat menciptakan kondisi lingkungan yang nyaman untuk biota. Kondisi lingkungan yang nyaman sangat berpengaruh terhadap belanja energi. Hal tersebut berkaitan dengan besaran energi yang digunakan kepiting bakau untuk maintenance dan adaptasi dengan lingkungan yang akan mempengaruhi besaran energi sisa yang dihasilkan. Energi sisa dari net energy itulah yang akan digunakan untuk proses pertumbuhan dan pematangan gonad (Watanabe 1988). Perlakuan D memiliki nilai terendah pada kedua data kinerja produksi diatas yaitu LPM dan PPM. Hal tersebut dikarenakan terlalu kencangnya pengadukan oleh tiga titik aerasi yang secara langsung menghasilkan banyaknya sisa pakan, hasil buangan dan kepiting bakau yang mati sehingga meningkatkan nilai amonia dan TSS (Tabel 2). Penumpukan bahan organik ini mengakibatkan kompetisi dalam memperoleh oksigen juga semakin ketat antara S.serrata dengan bakteri pengurai. Oksigen juga digunakan oleh bakteri untuk merombak bahan organik tersebut