BAB II PERTANGGUNGJAWABAN NOTARIS TERHADAP AKTA
D. Pertanggungjawaban Werda Notaris terhadap Akta yang
Setiap orang yang mengemban atau memangku jabatan tertentu dalam bidang apapun sebagai pelaksanaan dari suatu struktur negara, pemerintah atau organisasi mempunyai batasan. Ada batasan dari segi wewenang, ada juga dari segi waktu, artinya sampai batas waktu kapan jabatan yang diemban oleh seseorang harus berakhir. Produk dari suatu jabatan, misalnya, surat keputusan yang dibuat dan ditandatangani oleh pemangku suatu jabatan, maka surat keputusan tersebut harus sesuai dengan wewenang yang dimiliki oleh jabatan tersebut dan surat keputusannya akan tetap berlaku (mengikat) meskipun pejabat yang menjabat suatu jabatan sudah tidak menjabat lagi. Oleh karena itu, setiap jabatan apa pun mempunyai batasan waktu pertanggungjawabannya, yaitu sepanjang yang bersangkutan menjabat oleh karena apabila jabatan yang dipangku seseorang telah habis, yang bersangkutan berhenti pula pertanggungjawabannya dalam jabatan yang pernah dipangkunya.
Khusus untuk notaris, notaris pengganti, notaris pengganti khusus, dan pejabat sementara notaris pertanggungjawabannya tersebut mempunyai batas sesuai dengan
tempat dan kedudukan wilayah jabatan. Berdasarkan konsep jabatan seperti tersebut, notaris sebagai suatu jabatan (sehingga aturan hukum mengenai notaris, yaitu UUJN, bukan undang-undang profesi notaris dan bukan undang-undang profesi jabatan notaris) mempunyai batasan dari segi wewenangnya, yaitu sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 UUJN.
Sebagai pejabat, batasan wewenang tersebut adalah ketika masih menjadi pejabat sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Demikian juga dengan Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya dibatasi oleh umur, sehingga Notaris memiliki batas waktu dalam menjalankan tugas jabatannya. Hal ini sesuai dengan Pasal 8 UUJN ayat (1) huruf b, bahwa Notaris berhenti atau diberhentikan dari jabatannya dengan hormat karena telah berumur 65 tahun. Selanjutnya Pasal 8 UUJN ayat (2) menyatakan bahwa ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat diperpanjang sampai berumur 67 tahun dengan mempertimbangkan kesehatan yang bersangkutan.
Namun demikian sesuai dengan ketentuan batas waktu dalam menjalankan tugas jabatannya, tidak dijelaskan mengenai batas waktu pertanggungjawaban notaris terhadap akta yang dibuatnya. Bahkan Pasal 65 UUJN menentukan bahwa: Notaris, Notaris Pengganti, Notaris Pengganti Khusus, dan Pejabat Sementara Notaris bertanggungjawab atas setiap akta yang dibuatnya meskipun Protokol Notaris telah diserahkan dan dipindahkan kepada pihak penyimpan Protokol Notaris.
Memperhatikan ketentuan Pasal 65 UUJN tersebut, maka walaupun notaris sudah berakhir masa jabatannya, namun tetap bertanggungjawab terhadap akta yang dibuatnya. Oleh karena itu terdapat kerancuan mengenai batas pertanggung jawaban Notaris berdasarkan pada Pasal 65 UUJN yakni meskipun semua akta yang dibuat oleh Notaris telah diserahkan atau dipindahkan kepada pihak penyimpan protokol Notaris, walaupun sudah berhenti atau tidak menjabat lagi sebagai Notaris masih harus bertanggung jawab sampai hembusan nafas terakhir. Sehingga yang sesuai dengan batasan waktu pertanggungjawaban, jika Notaris sudah tidak menjabat lagi meskipun yang Notaris tersebut masih hidup tidak dapat dimintai lagi pertanggungjawaban dalam bentuk apapun.Notaris penyimpan Protokol wajib memperlihatkan atau memberikan fotocopy dari minuta akta yang diketahui sesuai dengan aslinya oleh Notaris penyimpan protokol atau oleh Majelis Pengawas Daerah untuk protokol yang telah berumur 25 tahun atau lebih (sesuai dengan Pasal 63 ayat (5) UUJN). Berdasarkan pengertian tersebut tidak sesuai dengan makna bahwa akta Notaris sebagai akta otentik yang mempunyai nilai pembuktian yang sempurna.60
Penyimpanan protokol Notaris oleh Notaris pemegang protokol merupakan suatu upaya untuk menjaga umur yuridis akta Notaris sebagai alat bukti yang sempurna bagi para pihak atau ahli warisnya tentang segala hal yang termuat didalam akta tersebut. Akta Notaris dalam bentuk salinan akan selamanya ada jika disimpan oleh yang bersangkutan dan dalam bentuk minuta juga akan selamanya ada yang
disimpan oleh Notaris sendiri atau oleh Notaris pemegang protokol atau oleh Majelis Pengawas. Notaris meninggal dunia tapi akta Notaris akan tetap ada yang mempunyai umur yuridis dan melebihi umur biologis Notaris sendiri. Dengan demikian pertanggung jawaban Notaris sepanjang masih mempunyai wewenang untuk menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris.
Apabila dikaitkan dengan teori tanggung jawab, bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan oleh Notaris merupakan akibat lebih lanjut dari pelaksanaan Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya, yang merupakan hak dan kewajiban yang diberikan peraturan perundang-undangan dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga tanggung jawab yang digunakan dalam UUJN adalah tanggung jawab berdasarkan kesalahannya, bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Notaris dapat dimintakan pertanggung jawaban atas pelanggaran yang dilakukannya karena sengaja melakukan perbuatan tersebut dan menimbulkan kerugian bagi para pihak.
Prinsip pertanggung jawaban yang dipergunakan adalah pertanggung jawaban berdasarkan kesalahan.Notaris dapat dimintakan pertanggung jawabannya apabila terdapat unsur kesalahan yang dilakukannya. Perlu diadakannya pembuktian terhadap unsur-unsur kesalahan yang dibuat oleh Notaris tersebut, yaitu meliputi:
a. Hari, tanggal, bulan, dan tahun menghadap; b. Waktu (pukul) menghadap;
c. Tanda tangan yang tercantum dalam minuta akta.61
Ketentuan pada Pasal 65 UUJN yang kabur atau tidak menjelaskan batasan waktu pertanggungjawaban Notaris yang telah berhenti menjabat ini menimbulkan implikasi hukum yang merupakan akibat yang tidak langsung karena adanya peraturan perundang-undangan yang tidak jelas dalam menjelaskan batasan waktu pertanggungjawaban Notaris yang telah berhenti menjabat terhadap akta yang pernah dibuat. Akibatnya, Notaris walaupun telah berhenti menjabat tetap dimintai pertanggungjawaban terkait akta yang dibuatnya. Akibat lain dengan adanya ketentuan Pasal 65 UUJN ini, Notaris dalam menjalankan jabatannya harus bekerja dengan hati-hati agar tidak terkena permasalahan suatu saat nanti terhadap akta yang pernah dibuat. Apabila Notaris tidak melaksanakan tugas jabatannya dengan baik, maka Notaris tersebut harus bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi para pihak.
Dampak negatif dengan adanya ketentuan pada Pasal 65 UUJN, bagi Notaris yang sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan jabatannya harus tetap bertanggung jawab jika terjadi permasalahan suatu saat nanti. Sehingga dengan adanya ketentuan ini Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya akan “was- was” atau tidak tenang karena walaupun telah berhenti menjabat tetap bisa terkena masalah suatu saat nanti jika Notaris tidak hati-hati dalam menjalankan tugas dan
61Habib Adjie, Meneropong Khazanah Notaris dan PPAT Indonesia, Citra Aditya Bakti,
jabatannya. Sedangkan dampak negatif bagi para pihak, bahwa para pihak yang hanya menuruti Notaris, akan merugikan dirinya-sendiri suatu saat nanti.
Namun begitu ketentuan pada Pasal 65 UUJN tidak hanya mempunyai dampak negatif saja, melainkan memiliki dampak positif yakni bagi Notaris yaitu Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya mempunyai semangat untuk bekerja dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku dan didasarkan pada peraturan perundang-undangan. Sedangkan dampak positif bagi masyarakat bahwa dengan adanya ketentuan ini masyarakat menjadi terlindungi. Apabila jika didasarkan bahwa pertangungjawaban Notaris melekat sampai Notaris meninggal. Jika Notaris tersebut telah meninggal dan akta tersebut dipermasalahkan oleh para pihak, maka yang akan bertanggung jawab secara perdata dibebankan kepada ahli waris dari Notaris tersebut dan ketentuan yang digunakan oleh para pihak untuk menggugat ahli waris secara perdata yakni perbuatan melawan hukum.62
Jika dikaitkan dengan permasalahan terkait batasan waktu pertanggungjawaban Notaris yang telah berhenti dengan hormat terhadap akta yang pernah dibuat, bahwa apabila Notaris telah meninggal dan akta yang dibuat oleh Notaris tersebut menimbulkan sengketa yang akhirnya Notaris harus bertanggung jawab atas akta tersebut.
62 Agri Fermentia Nugraha, Pertanggungjawaban Notaris yang Berhenti dengan Hormat
(Setelah Berumur 65 Tahun) Terhadap Akta yang Dibuat (Analisis Pasal 65 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris). Naskah Publikasi Jurnal. Program Studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, 2013, hlm. 15-16.
Menurut Agri Fermentia Nugraha63, batasan waktu yang ideal terkait pertanggungjawaban Notaris yang berhenti dengan hormat yakni sebagai berikut: 1) Didasarkan pada Ketentuan Daluwarsa.
a) Terkait tanggung jawab perdata dapat didasarkan pada Pasal 1967 BW bahwa segala tuntutan hukum hapus dengan lewatnya waktu 30 (tiga puluh) tahun. Kemudian jika dikaitkan dengan pertanggungjawaban Notaris yang berhenti dengan hormat (setelah berumur 65 tahun) maka Notaris tidak bertanggung jawab ketika sudah berumur 95 tahun. Hal ini dikarenakan apabila Notaris tersebut berhenti menjabat pada umur 65 tahun, kemudian umur 65 tahun tersebut ditambah dengan lewatnya waktu berdasarkan Pasal 1967 BW yakni 30 tahun. Berdasarkan penambahan tersebut Notaris tidak dapat dimintai pertanggungjawaban setelah berumur 95 tahun.
Menurut Retnowulan Sutantio & Iskandar Oeripkartawinata, dalam buku Ke-4 BW, antara lain diatur tentang daluwarsa, bahwa:64
1. Daluarsa menyebabkan seseorang dibebaskan dari suatu kewajiban atauyang menyebabkan hak menuntut seseorang menjadi gugur, praescriptio(bahasa Latin) danextinctieve verjaring(bahasa Belanda) 2. Daluarsa menyebabkan seseorang memperoleh suatu hak
tertentu.Daluarsa ini mengharuskan adanya itikad baik dari orang yang
63Ibid, hlm. 22-25.
64Retnowulan Sutantio & Iskandar Oeripkartawinata,Hukum Acara Perdata dalam Teori dan
akan memperoleh hak tersebut, usucapio (bahasa Latin) dan acquistieveverjaring(bahasa Belanda).
Selanjutnya C.S.T. Kansil menyatakan bahwa lembaga lewat waktu (daluwarsa) dapat dibedakan sebagai berikut:65
1. Lewat waktu untuk memperoleh hak milik. Dalam hukum perbendaan, seorang bezitter yang jujur atas suatu benda yang tidak bergerak lama kelamaan dapat memperoleh hak milik atas benda tersebut. Apabila ia dapat menunjukkan suatu titel yang sah, maka dengan lewatnya waktu dua puluh tahun lamanya sejak ia mulai menguasai benda tersebut, ia menjadi pemilik yang sah dari benda tersebut.
2. Lewat waktu untuk dibebaskan dari suatu tuntutan. Oleh Undang-undang ditetapkan bahwa dengan lewatnya waktu tiga puluh tahun, setiap orang dibebaskan dari semua penagihan atau tuntutan hukum. Hal ini berarti bila seseorang digugat untuk membayar utang yang sudah lebih dari tiga puluh tahun lamanya, ia dapat menolak gugatan itu dengan hanya mengajukan bahwa ia selama tiga puluh tahun belum pernah menerima tuntutan atau gugatan itu.
Selanjutnya Darwan Prinst menyatakan bahwa daluwarsa (verjaring) atau lewat waktu adalah suatu alat untuk memperoleh sesuatu atau dibebaskan dari sesuatu perikatan dengan lewatnya suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh Undang-undang (Pasal 1946 KUHPerdata). Seseorang
tidaklah dapat memperoleh sesuatu hak karena daluwarsa, bila waktunya belum tiba. Akan tetapi, seseorang dapat melepaskan sesuatu hak yang diperolehnya karena daluwarsa.66
Pasal 1967 KUHPerdata menentukan:“segala tuntutan hukum, baik yang bersifat perbendaan maupun yangbersifat perseorangan, hapus karena daluwarsa dengan lewatnya waktu tiga puluh (30) tahun, sedangkan siapa yang menunjukkan akan adanya daluwarsa itu tidak usah mempertunjukkan suatu alas hak, lagipula tak dapatlah dimajukan terhadapnya suatu tangkisan yang didasarkan kepada itikadnya yang buruk.”
Daluwarsa sebagai alat dibebaskan dari suatu kewajiban, yaitu hapusnya segala hak untuk mengajukan tuntutan hukum, baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat perseorangan setelah lewat waktu 30 (tiga puluh) tahun. Untuk menunjukkan adanya daluwarsa itu tidak usah menunjukkan suatu alas hak atas pemilikannya. Terhadapnya juga tidak dapat diajukan suatu tangkisan yang didasarkan itikadnya yang buruk (Pasal 1967 KUHPerdata).
b) Terkait tanggung jawab pidana dapat didasarkan pada Pasal 78 ayat (1) angka 3 KUH Pidana, bahwa kewenangan menuntut pidana hapus setelah 12 (dua belas) tahun dengan ancaman pidana penjara lebih dari 3 tahun. Maka Notaris tidak dapat dimintai pertanggung jawaban ketika berumur 77 (tujuh puluh tujuh) tahun. Hal ini dikarenakan pasal yang digunakan untuk menuntut
66Darwan Prinst, Strategi Menyusun dan Menangani Gugatan Perdata, PT. Citra Aditya
Notaris adalah Pasal 263, dan 264 KUH Pidana yang dapat dipidana penjara selama-lamanya 6 tahun. Maka berdasarkan penambahan tersebut Notaris tidak dapat dimintai pertanggung jawaban setelah berumur 77 tahun.
2) Pertanggungjawaban Notaris adalah sampai seumur hidup.
Walaupun Notaris tersebut telah berhenti dari jabatannya, Notaris tetap bertanggungjawab seumur hidup terhadap akta yang pernah dibuatnya. Hal ini didasarkan bahwa kehadiran Notaris untuk membuat akta otentik sebagai alat bukti sempurna bagi para pihak. Oleh karenanya Notaris dalam membuat akta harus memenuhi standar prosedur berdasarkan ketentuan perundangan-undangan, sehingga pertanggungjawaban Notaris terhadap akta yang dibuatnya harus melekat seumur hidup pada diri Notaris.
Hasil penelitian Agri Fermentia Nugraha 67 menunjukkan ada narasumber menyatakan bahwa ketentuan mengenai Pasal 65 UUJN sudah jelas terkait batas waktu pertanggungjawaban Notaris karena pertanggungjawaban Notaris ialah sampai Notaris tersebut meninggal. Walaupun di Pasal 65 UUJN tidak menunjukkan batas waktu pertanggungjawaban, Notaris harus tetap bertanggung jawab sampai meninggal terhadap akta yang pernah dibuatnya.
3) Pertanggungjawaban Notaris hanya pada saat masih mengemban jabatannya. Notaris yang telah berhenti dengan hormat, Notaris tidak harus bertanggung jawab terhadap akta yang dibuat. Hal ini didasarkan pada teori tanggung jawab
jabatan, bahwa seseorang harus bertanggung jawab terhadap kesalahannya yang dilakukan terkait kewenangannya. Sehingga seseorang harus bertanggung jawab atas kesalahannya ketika orang tersebut masih menjabat. Namun ketika orang tersebut sudah tidak menjabat lagi, maka orang tersebut tidak harus bertanggung jawab terkait jabatannya yang pernah dipangkunya.
Hasil penelitian Agri Fermentia Nugraha68juga menunjukkan ada narasumber menyatakan bahwa ketentuan Pasal 65 UUJN terkait batasan waktu pertanggungjawaban masih belum jelas. Sebab dalam Pasal 65 UUJN tidak dijelaskan secara tegas, sehingga sampai saat ini Notaris memberikan penafsiran bahwa Notaris bertanggung jawab terhadap akta yang dibuat walaupun telah berhenti menjabat harus bertanggung jawab seumur hidup. Oleh karena belum jelasnya ketentuan Pasal 65 UUJN terkait batas waktu pertanggungjawaban Notaris yang telah berhenti menjabat, maka semestinya Notaris yang telah tidak menjabat lagi harusnya tidak dapat dimintai pertanggung jawaban atas akta yang dibuatnya. Batas waktu tanggung jawab Notaris seharusnya hanya dapat diminta sepanjang Notaris masih berwenang dalam melaksanakan tugas dan jabatannya sebagai seorang Notaris atau terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris yang dilakukan demikian juga sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada Notaris hanya sepanjang memiliki kewenangan melaksanakan tugas Jabatan sebagai Notaris atau sebelum Notaris
tersebut dinyatakan berhenti dengan hormat. Berdasarkan konstruksi tanggung jawab seperti hal tersebut, maka tidak ada lagi Notaris yang diminta tanggung jawab lagi setelah yang bersangkutan berhenti dengan hormat dari jabatannya bahkan jika perlu dibatasi mengenai batasan tanggung jawab seorang Notaris dalam jangka waktu tertentu.
Dengan demikian, berdasarkan uraian tersebut di atas, maka perlu kejelasan dalam UUJN tentang batas waktu pertanggungjawaban notaris terhadap akta yang dibuatnya. Hal ini perlu untuk memperoleh kepastian hukum bagi notaris yang telah berakhir masa jabatannya. Dalam hal ini, sesuai dengan kewenangan jabatan, maka selayaknya batas pertanggungjawaban notaris terhadap akta yang dibuatnya adalah pada saat menjabat sebagai notaris, karena akta yang dibuatnya adalah berdasarkan kewenangan jabatan. Setelah notaris habis masa jabatannya, maka notaris tidak lagi dapat diminta pertanggungjawabannya terhadap akta yang dibuatnya.