• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pertanian Berkelanjutan

Agenda 21 merupakan dokumen komprehensif tentang program aksi pembangunan berkelanjutan abad 21. Brunland menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan pemanfaatan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan yang akan datang dengan tetap memperhatikan keselamatan lingkungan (Custancet and Hiller, 1998).

Dalam penjabaran/pelaksanaannya, konsep pembangunan berkelanjutan ini disesuaikan dengan lokasi spesifik di masing-masing negara/ wilayah. Pembangunan berkelanjutan memuat aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, aspek lingkungan diintegrasikan dalam pembangunan sosial dan ekonomi (Murdiyarso, 2003). Di sektor pertanian, pertanian berkelanjutan diwujudkan melalui revitalisasi pertanian, karena sektor pertanian merupakan penggerak perkonomian masyarakat.

Kebijakan pembangunan pertanian mengacu pada triple track strategy. Tiga pilar strategi yang menjadi acuan dalam revitalisasi pertanian, yaitu pemenuhan ketahanan pangan, peningkatan sumber daya manusia dan peningkatan kesejahteraan petani. Berbagai upaya untuk mencapai keberhasilan pembangunan pertanian telah dilakukan, antara lain ditujukan untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat berupa sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan secara berkelanjutan. Kebutuhan pangan dapat dirinci menjadi kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Salah satu upaya untuk pemenuhan kebutuhan vitamin dan mineral adalah melalui pengembangan komoditas buah-buahan, seperti pengembangan sentra-sentra produksi jeruk yang berkelanjutan, yang berupa kawasan-kawasan sentra yang memenuhi skala ekonomi.

Dalam pembangunan kawasan sentra produksi jeruk berkelanjutan, pengembangan jeruk diarahkan pada lahan-lahan yang sesuai secara agroklimat sehingga secara ekologi usahatani jeruk dalam jangka panjangnya tidak menimbulkan kerusakan ekologi, akan tetapi secara ekonomi hasil produknya dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Usahatani jeruk yang dilakukan tersebut, secara sosial dapat diterima oleh masyarakat pengembang jeruk di wilayah pengembangan.

Dalam rangka usahatani jeruk berkelanjutan, perlu dilakukan upaya-upaya mengoptimalkan penggunaan agro-input, namun demikian efisiensi usahatani ini tetap dapat memberikan hasil dengan produktivitas yang cukup tinggi. Efisiensi usahatani jeruk dapat dilakukan dengan penerapan usahatani jeruk yang ramah lingkungan dengan penerapan norma budidaya yang benar atau Good Agricultural Practices (GAP) yang meliputi antara pemupukan berimbang, penerapan prinsip PHT, serta upaya-upaya mulai dari pra sampai pascapanen lainnya.

Reijintjes et al. (1999) mengemukakan bahwa sistem pertanian berkelanjutan adalah sistem pertanian yang menggunakan masukan luar yang rendah, yang hanya melengkapi unsur yang kurang dalam agroekosistem, yang dikenal dengan istilah Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA). LEISA mengacu antara lain pada optimalisasi dan pemanfaatan masukan luar yang diperlukan untuk melengkapi unsur-unsur yang kurang dalam agroekosistem dan meningkatkan sumberdaya biologi, fisik dan manusia, dengan perhatian utama diberikan pada mekanisme daur ulang dan minimalisasi kerusakan lingkungan. Metode LEISA tidak berusaha memaksimalkan produksi dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang. Untuk dapat berkelanjutan, suatu sistem usahatani harus menghasilkan suatu tingkat produktivitas dan kebutuhan sosial petani dalam batas-batas keamanan tertentu dan tanpa penurunan sumberdaya dalam jangka panjang.

Perlu diperhatikan bahwa pada usahatani jeruk, produksi dipengaruhi oleh ketersediaan air serta nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman seperti unsur Carbon (C), Oksigen (O) dan hidrogen (H) yang merupakan bagian terbesar dari tubuh tanaman atau sebanyak 98% bagian dari berat kering tanaman. Disamping itu ada 12 unsur lainnya yaitu unsur yang dibutuhkan dalam jumlah banyak (unsur makro) yaitu N, P, K, Mg, Ca dan S, serta unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (unsur mikro) yaitu Mn, Cu, Zn, B, Fe dan Mo (Davies dan Albrigo, 1998).

Dalam kenyataannya, berbagai unsur makro dan mikro tersedia di alam sesuai dengan jenis dan kondisi tanah yang dibutuhkan oleh pertumbuhan tanaman jeruk. Unsur yang diserap oleh tanaman dalam jumlah yang banyak, ialah Kalium (K) dan

Natrium (N). Oleh karena itu perlu dilakukan penambahan dalam bentuk pemupukan. Namun ada unsur yang mudah terikat oleh unsur lain sehingga tidak tersedia bagi tanaman seperti Magnesium (Mg), dan ada pula yang mudah terbawa air ke dalam tanah (leaching). Sebanyak 40–50% dari unsur N tidak tersedia bagai tanaman karena mengalami perlindian (leaching), terkonversi kedalam unsur lain atau denitrifikasi (konversi unsur nitra menjadi N2) (Davies dan Albrigo, 1998). Kekurangan unsur hara akan menyebabkan defisiensi dan berakibat gangguan terhadap perkembangan tanaman dan produksi.

Unsur hara yang diperlukan untuk tanaman jeruk dilakukan melalui tindakan pemupukan, baik pupuk organik maupun pupuk an-organik. Menurut Djoemaijah tahun 1992 pedoman pemupukan yang telah digunakan dalam pengembangnan dan penelitian Balai Penelitian Jeruk dan Hortikultura Subtropik adalah seperti disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Dosis pupuk organik dan an-organik untuk tanaman jeruk sesuai dengan umur tanaman

Umur (thn) Jenis Pupuk Urea (g/phn) ZA (g/phn) TSP (g/phn) ZK (g/phn) Dolomit (g/phn) Pukan (kg/phn) 1 100 200 25 100 200 20 2 200 400 50 200 400 40 3 300 600 75 300 600 60 4 400 800 100 400 800 80 5 500 1000 125 500 1000 100 6 600 1200 150 600 1200 120 7 700 1400 175 700 1400 140 8 800 1600 200 800 1600 160 9 900 1800 225 800 1800 180 ≥ 10 1000 2000 250 1000 2000 200

Sumber. Direktorat Tanaman Buah, 2002.

Ket.: N (Urea & ZA) I : setelah pemberian pupuk kandang ½ dosis

II : 1,5 – 2 bulan setelah pemberian Nl, ¼ dosis

III : 1,5 – 2 bulan setelah pemberian Nll, ¼ dosis

P (TSP) diberikan seluruhnya bersamaan dengan pemupukan Nl

K (ZK) I : diberikan bersama pemupukan Nl, ½ dosis

Kecukupan unsur hara tanaman dapat diketahui dari analisis kandungan unsur hara pada daun. Menurut Jones et al. (1991) dalam Davies dan Albrigo (1998). kandungan unsur hara makro N, P, K dan Mg, serta unsur hara mikro B dan Zn untuk tanaman jeruk jenis mandarin (keprok) atau tangerin (Siam) yang diambil dari daun yang muda yang telah berkembang sempurna namun masih dalam pertumbuhan sebanyak 30 daun adalah seperti disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan unsur hara makro dan mikro pada daun jeruk jenis Mandarin (Keprok) atau Tangerin (Siam)

Unsur Rendah/ Cukup Tinggi

Makro (%) N <3 3 -3,40 > 3,40 P 0,11-0,14 0,15-0,25 >0,25 K 0,47-0,89 0,90-1,10 >1,10 Mg 0,10-0,16 0,17-0,44 >0,44 Mikro ppm B 20-30 31-100 >100 Zn <5 5-29 >29 Sumber : Jones et al. 1991.

Pemberian unsur hara berupa pemupukan, baik jenis, dosis maupun waktunya tergantung dari kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan. Hal tersebut dilakukan dalam rangka efisiensi. Dengan demikian, pemupukan merupakan upaya penyediaan unsur hara tanaman dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pada saat yang tepat sehingga perlindian/ leaching dapat diminimalkan. yang pada gilirannya akan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan.

Pencemaran lingkungan pertanian umumnya berupa logam-logam berat yang berasal dari dampak pemupukan. Selain itu, pencemaran lingkungan dapat pula disebabkan karena penggunaan pestisida yang tidak bijaksana/ tidak sesuai dosis anjuran serta terlalu berlebihan atau overdosis untuk pengendalian OPT (Biever et al. 1994). Pada pertanian berkelanjutan untuk mengendaliakan OPT perlu penerapan

prinsip-prinsip Pengelolaan Hama Terpadu atau PHT (Habazar Yaherwandi, 2006), sehingga diharapkan keberadaan OPT pada tanaman dalam jumlah yang tidak merusak secara fisik dan ekonomi dengan lebih memberi peran kepada pengendali hayati seperti parasitoid, preator dan entomophatogen (Hare et al. 1999; Tarumingkeng, 1994). Keuntungan pemanfaatan pengendali hayati melalui pengendalian hayati ialah tidak berbahaya bagi manusia, tanaman, ternak, hewan yang dilindungi, serangga berguna/musuh alami dan lingkungan dan secara ekonomi lebih menguntungkan dibanding penggunaan pestisida (Wilson and Huffaker, 1976). Dalam jangka panjang, dalam rangka mewujudkan pertanian berkelanjutan diperlukan upaya penambahan populasi pengendali hayati/musuh alami di alam, yang spesifik jenisnya sesuai dengan OPT yang dikendalikan. Penelitian-penelitian secara parsial terkait dengan PHT telah dilakukan, namun perlu dikenali lebih lanjut interaksi dan pola hubungan antara OPT dan musuh alaminya, serta kemampuan musuh alami dalam mengendalikan OPT dalam rangka menentukan strategi pengendalian hayati yang efektif. Kajian tersebut dapat digunakan untuk menentukan berapa banyak populasi musuh alami yang harus dilepas di alam serta kapan waktu pelepasan yang tepat untuk mengendalikan jenis OPT yang menyerang yang disebut dengan metoda innundative release (Iswari, 1996). Namun demikian, pada metode inundative realise ini diperlukan pelepasan populasi pengendali hayati dalam jumlah yang cukup banyak yang berperan sebagai bio-pestisida (Huffaker et al. 1977; DeBach and Rosen, 1991), sehingga diperlukan upaya perbanyakan musuh alami tersebut secara massal. Disamping innundative release, untuk mengendalikan OPT yang dimaksudkan agar dalam jangka panjang tercapai keseimbangan alami antara OPT dan musuh alaminya pada tingkat kepadatan populasi OPT yang tidak merusak/ tidak menyebabkan kerugian ekonomi, perlu dilakukan pelepasan musuh alami secara periodik melalui metode innoculativerelease. (Iswari, 1996).

Melalui penerapan PHT diharapkan buah yang dihasilkan memiliki mutu yang baik dan aman dikonsumsi, menjamin keselamatan pekerja serta terjaganya lingkungan jangka panjang. Untuk pengendalian penyakit CVPD pada tanaman jeruk telah dikembangkan paket teknologi yang dikenal dengan Pengelolaan Terpadu

Kebun Jeruk Sehat atau PTKJS (Supriyanto et al. 2003a). Cara-cara budidaya yang baik dan benar untuk mencapai target produksi dan mutu yang tinggi, serta terjaganya keselamatan lingkungan jangka panjang telah dituangkan dalam penerapan norma budidaya yang benar atau Good Agricultural Practices (GAP).

Era globalisasi mengisyaratkan penerapan mutu dan standardisasi produk yang diproduksi melalui usahatani yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, sejalan dengan usahatani jeruk berkelanjutan, GAP perlu diterapkan. Di lapang, GAP diimplementasikan melalui penerapan Standard Operational Procedur (SOP) spesifik lokasi (Direktorat Tanaman Buah, 2005a). Berbagai prinsip perlu diimplementasikan dalam usahatani jeruk berkelanjutan sehingga diharapkan secara sosial merupakan usahatani yang dapat diterima oleh masyarakat, secara ekonomi menguntungkan dan secara ekologi tidak merusak lingkungan.