• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

4. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Fakultas Keperawatan USU, selanjutnya mengirim surat permohonan ke Dinas Kesehatan kota Medan dan selanjutnya kepada Kepala Puskesms Medan Johor. Peneliti melakukan penelitian setelah mendapat persetujuan.

Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan etik dalam pengumpulan data yaitu: peneliti menjelaskan maksud, tujuan dan prosedur penelitian kepada responden. Apabila responden bersedia untuk diteliti maka terlebih dahulu responden harus menandatangani lembar persetujuan (informed consent) lalu mengisi pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di kuesioer. Namun jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati haknya dan responden diberi kebebasan untuk memilih apakah bersedia mengisi kuesioner atau menolaknya. Peneliti tidak mencantumkan nama responden dalam lembar kuesioner yang diisi oleh responden demi menjaga kerahasiaan responden. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu untuk menjamin kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden (Nursalam, 2003).

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk kuesioner yang diadopsi dan dimodifikasi oleh peneliti dengan mengacu kepada tinjauan pustaka. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari 3 bagian yaitu Kuesioner Data Demografi (KDD), Kuesioner Kualitas Tidur (KKT), Kuesioner Faktor-Faktor Gangguan Tidur (KFGT).

5.1. Kuesioner Data Demografi (KDD)

Kuesioner Data Demografi digunakan untuk mengkaji data demografi pasien yang meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan agama, status perkawinan, pekerjaan, penghasilan per bulan.

5.2. Kuesioner Kualitas Tidur (KKT)

Kuesioner Kualitas Tidur yang digunakan adalah berupa pertanyaan untuk mengidentifikasi kualitas tidur pasien yang meliputi lamanya waktu tidur pada malam hari, waktu yang diperlukan untuk memulai tidur, frekuensi terbangun pada malam hari dan kepulasan tidur. Kuesioner ini diadopsi dari The Sleep Quality Questionaires (SQQ) (Karota-Bukit, 2003).

5.3. Kuesioner Faktor-Faktor Gangguan Tidur (KFGT)

Kuesioner Faktor-Faktor Gangguan Tidur berisi beberapa pertanyaan yang dibagi dalam dua komponen faktor utama yang mengganggu tidur pasien, yaitu faktor fisik dan lingkungan. Kuesioner ini terdiri dari 10 item, yaitu 6 item untuk faktor fisik, dan 4 item faktor ligkungan. Nilai 1 adalah tidak ada gangguan tidur, nilai 2 adalah gangguan tidur ringan, nilai 3 adalah gangguan tidur sedang, nilai 4 adalah gangguan tidur berat.

6. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa prosedur yang dilaksanakan dalam pengumpulan data yaitu peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan izin kepada bagian

pendidikan Fakultas Keperawatan USU dan kepada lokasi penelitian yaitu Puskesmas Medan Johor.

Peneliti menjelaskan pada calon responden tentang tujuan, manfaat dan pengisian kuesioner, responden yang bersedia diminta menandatangani informed consent (surat persetujuan). Responden diminta untuk mengisi kuesioner yang mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Peneliti tetap mendampingi responden selama mengisi kuesioner.

7. Analisa Data

Semua data yang telah terkumpul dianalisa melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah editing yaitu memeriksa kelengkapan data dan memastikan bahwa semua pilihan dalam kuesioner telah diisi sesuai dengan petunjuk. Tahap kedua adalah coding yaitu memberi angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah analisa data pada waktu melakukan tabulasi analisa data. Selanjutnya pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi menggunakan analisa deskriptif yang disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi dan persentase.

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil

Pada bab ini diuraikan hasil penelitian mengenai kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Maret 2011 sampai Juni minggu pertama 2011 dan jumlah seluruh responden dalam penelitian ini sebanyak 35 orang. Berikut ini dijabarkan deskripsi dan persentase karakteristik responden, kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi.

1.1.Deskripsi Karakteristik Responden

Pada tabel 2 ditampilkan deskripsi karakteristik responden yang mencakup usia, jenis kelamin, suku, pendidikan, agama, status perkawinan, pekerjaan, penghasilan perbulan, lokasi tempat tinggal, dan jumlah teman sekamar. Data yang diperoleh menunjukkan responden berada pada kelompok usia 41 – 54 tahun (66%) dan 20-40 tahun (34%), mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (77%) dan suku Batak (40%). Latar belakang pendidikan mayoritas tamat SMA (43%), responden beragama Islam (80%) dan dengan status perkawinan menikah (80%). Pekerjaan mayoritas responden adalah sebagai ibu rumah tangga (54%) dan 60% menyatakan bahwa penghasilannya <Rp 600.000,-. Selain itu kebanyakan responden berlokasi tempat tinggal di pemukiman rumah penduduk yang padat (80%) dan mayoritas responden menyatakan memiliki teman sekamar 1-2 orang (63%).

Tabel 2. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi (N=35) Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%) Usia 20-40 tahun 41-54 tahun Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Suku Batak Jawa Minang Melayu Cina Nias Pendidikan SD SMP SMA Perguruan Tinggi Agama Islam Kristen Budha Status Perkawinan Menikah Janda Pekerjaan

Ibu rumah tangga

Pegawai swasta/ Wiraswasta Buruh

Penghasilan per bulan < Rp 600.000,00 Rp 600.000,00 – Rp 1.000.000,00 > Rp 1.000.000,00 12 23 27 8 14 13 3 2 2 1 10 7 15 3 28 6 1 28 7 19 9 7 21 9 5 34 66 77 23 40 37 8 6 6 3 29 20 43 8 80 17 3 80 20 54 26 20 60 26 14

Tabel 2. (Lanjutan)

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%) Lokasi tempat tinggal

Pemukiman rumah penduduk yang padat Di pinggir jalan umum/ jalan raya

Jumlah teman sekamar Sendiri 1-2 orang 3-4 orang 28 7 2 22 11 80 20 6 63 31

1.2.Deskripsi Responden Berdasarkan Kualitas Tidur

Pada tabel 3 ditampilkan distribusi frekuensi dan persentase deskripsi responden berdasarkan kualitas tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Hasil penelitian mengenai kualitas tidur menunjukkan bahwa terdapat 37% responden yang menderita hipertensi menyatakan bahwa mereka memiliki total jam tidur selama 5-6 jam, 37% responden yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan waktu 31-60 menit untuk mulai tertidur, 60% responden yang menyatakan bahwa frekuensi terbangun mereka ketika tidur di malam hari sekitar 1-2 kali. Selain itu, ada 37% responden yang menyatakan bahwa mereka merasa sedikit mengantuk ketika responden bangun tidur di pagi hari, 28% responden yang menyatakan bahwa mereka tidur dengan sangat nyenyak di malam hari, 54% responden yang menyatakan bahwa perasaan segar yang mereka rasakan di pagi hari hanya sedang-sedang saja, dan terdapat 46% reponden yang merasa sedikit lemah atau lelah saat melakukan aktivitas mereka di pagi hari.

Tabel 3. Distribusi frekuensi dan persentase kualitas tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor (N=35)

Parameter Tidur Frekuensi Persentase (%) Total jam tidur di malam hari

< 5 jam 5 – 6 jam 6 – 7 jam > 7 jam

Waktu yang dibutuhkan untuk tertidur > 60 menit 31 – 60 menit 16-30 menit < 15 menit Frekuensi terbangun 3 – 4 kali 1 – 2 kali

Perasaan saat bangun pagi Sangat mengantuk

Mengantuk

Sedikit mengantuk Segar

Kenyenyakan tidur di malam hari Sebentar-bentar terbangun

Tidur dan kemudian terbangun Tidur tetapi tidak nyenyak Tidur sangat nyenyak

Perasaan segar saat bangun di pagi hari Sangat segar

Sedang Cukup segar Tidak sama sekali

Perasaan saat beraktivitas di pagi hari Sangat lemah atau sangat lelah

Lemah atau lelah Sedikit lemah atau lelah

Tidak lemah atau lelah sama sekali

5 13 10 7 8 13 6 8 14 21 2 12 13 8 9 8 8 10 7 19 2 7 5 5 16 9 14 37 29 20 23 37 17 23 40 60 6 34 37 23 26 23 23 28 20 54 6 20 14 14 46 26

1.3.Deskripsi Responden Berdasarkan Faktor-Faktor Gangguan Tidur pada Penderita Hipertensi

Tabel 4 menunjukkan hasil penelitian tentang faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor, yaitu terdapat 86% responden yang pernah mengalami pusing ketika tekanan darah meningkat dan 37% di antaranya menyatakan bahwa pusing menyebabkan gangguan tidur ringan dan 37% juga responden yang menyatakan bahwa pusing menyebabkan gangguan tidur sedang. Mayoritas responden pernah mengalami rasa tidak nyaman (83%) saat tekanan darah meningkat dan 52% di antaranya menyatakan bahwa rasa tidak nyaman menyebabkan gangguan tidur ringan. Ada 37% responden yang pernah mengalami sulit bernafas saat tekanan darahnya tinggi dan 38% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur ringan. Terdapat 60% responden yang pernah mengalami sukar tidur saat tekanan darahnya tinggi dan 43% di antaranya menyatakan bahwa mereka mengalami gangguan tidur ringan. Persentase responden yang pernah mengalami mudah lelah saat tekanan darahnya tinggi 80% dan 32% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur sedang.

Selain itu, ada juga faktor lingkungan yang dapat menyebabkan gangguan tidur dimana didapati hasilnya sebanyak 57% responden pernah mengalami gangguan tidur akibat suara bising dari keluarga dan 35% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur ringan. Tidur dengan sorot lampu ruangan yang terlalu terang dialami oleh 43% responden dan 47% di antaranya tidak mengalami gangguan tidur. Sebanyak 27 orang (77%) responden yang menyatakan pernah tidur di ruangan dengan suhu yang telalu panas dan 33% di antaranya mengalami gangguan tidur sedang.

Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase responden berdasarkan pengalaman dan tingkat gangguan tidur pada penderita hipertensi berdasarkan pengalaman (N=35)

Faktor Gangguan Tidur

Pengalaman Tingkat Gangguan Tidur

Ya n (%) Tidak n (%) Tdk ada ggn n (%) Ggn ringan n (%) Ggn sedang n (%) Ggn berat n (%) Faktor-faktor fisik Pusing

Rasa tidak nyaman Sulit bernafas Sukar tidur Mudah lelah Faktor lingkungan

Suara bising dari keluarga Sorot lampu ruangan yang terlalu terang Suhu ruangan terlalu panas 30 (86) 29 (83) 13 (37) 21 (60) 28 (80) 20 (57) 15 (43) 27 (77) 5 (14) 6 (17) 22 (63) 14 (40) 7 (20) 15 (43) 20 (57) 8 (23) 4 (13) 1 (3) 3 (23) 3 (14) 7 (25) 6 (30) 7 (47) 4 (15) 11 (37) 15 (52) 5 (38) 9 (43) 8 (29) 7 (35) 4 (27) 7 (26) 11 (37) 8 (28) 4 (31) 6 (29) 9 (32) 3 (15) 2 (13) 9 (33) 4 (13) 5 (17) 1 (8) 3 (14) 4 (14) 4 (20) 2 (13) 7 (26) 2. Pembahasan 2.1.Karakteristik Responden

Data hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mayoritas berusia 41-54 tahun (66%). Secara teori, usia merupakan faktor resiko hipertensi dimana semakin bertambahnya usia semakin besar resiko terkena hipertensi, terutam sistolik (Dalimartha dkk, 2008) dan responden mayoritas berjenis kelamin wanita (77%), hal ini berbeda dengan yang diungkapkan Dalimartha dkk (2008) bahwa hipertensi lebih mudah menyerang kaum lelaki daripada perempuan. Hal ini mungkin dikarenakan hanya sedikit lelaki yang menyadari bahwa ia menderita hipertensi seperti yang telah dilaporkan oleh August (1999).

Terdapat 60% responden mempunyai penghasilan dibawah Rp 600.000, hal ini berkaitan dengan pekerjaan responden yang umumnya sebagai ibu rumah tangga (54%) dan 20% sebagai buruh dimana umumnya penadapatan . Mayoritas responden memiliki status perkawinan menikah, dimana hal ini berkaitan dengan jumlah teman sekamar responden dimana ada 63% responden yang memiliki teman sekamar 1-2 orang dan ada 31% responden yang memiliki teman sekamar 3-4 orang. Dalam hal ini, ada responden yang menyatakan bahwa mereka memiliki balita yang juga tidur dengan responden dan menjadi salah satu faktor responden terbangun ketika balita menangis saat tidur di malam hari.

2.2.Kualitas Tidur

Tidur merupakan proses yang sangat diperlukan untuk penghematan energi, tak ada satu pun mahluk hidup yang dapat bertahan dalam keadaan stres terus menerus, dan tidur merupakan periode tanpa aktivitas sehingga tubuh terhindar dari tuntutan sehari-hari. Selain periode istirahat, selanjutnya tidur pun merupakan periode pemulihan (Bastaman, 1988). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya waktu tidur mayoritas responden pada malam hari adalah 5-6 jam (37%). Hal ini menyatakan bahwa respoden tidak mendapatkan tidur yang cukup sebagaimana yang tertera dalam referensi terdahulu tentang kebutuhan tidur orang dewasa adalah 7-8 jam dalam sehari (Patlak, 2005).

Waktu yang dibutuhkan mayoritas responden untuk dapat tertidur adalah 31-60 menit (37%). Hasil penelitian ini berbeda dengan kondisi yang normal yaitu waktu yang dibutuhkan untuk mulai tertidur adalah <20 menit (Schachter, 2008).

Hal ini sesuai dengan pernyataan Mansoor (2002) bahwa penderita hipertensi memiliki waktu yang lebih lama untuk mulai tertidur.

Mayoritas responden terbangun 1-2 kali (60%) sedangkan 40%-nya terbangun 3-4 kali. Hal ini dimungkinkan terjadi karena berbagai faktor seperti yang telah dinyatakan oleh Potter & Perry (2005) bahwa seseorang dapat terbangun karena adanya berbagai faktor, baik itu faktor fisik, lingkungan maupun psikologi. Hasil penelitian ini menunjukkan ada 37% reponden yang mengalami pusing, selain itu ada juga yang terganggu diakibatkan rasa tidak nyaman (52%), suhu yang panas (33%), dll.

Sebagian besar responden menyatakan merasa sedikit lemah/ lelah saat beraktivitas di pagi hari (46%), hal ini dapat disebabkan karena total waktu kebutuhan tidur yang tidak tercukupi. Bastaman (1988) menyatakan bahwa seseorang yang tidak mendapatkan tidur yang cukup akan merasa kelelahan saat beraktivitas keesokannya.

2.3.Faktor-faktor Gangguan Tidur 2.3.1. Faktor-faktor Fisik

Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa ada 30 orang (86%) responden yang mengalami pusing karena tekanan darahnya meningkat dan dari 30 orang tersebut terdapat 37% responden yang mengalami gangguan tidur ringan dan 37% responden yang mengalami gangguan tidur sedang yang diakibatkan oleh pusing saat tekanan darah meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Albertie (2006) yang menyatakan bahwa pusing akan menyebabkan gangguan tidur dan apabila pusing tidak diatasi dan mengakibatkan pusing semakin parah maka akan semakin

meningkat juga tingkat gangguan tidurnya. Selain itu Rains (2006) juga menambahkan bahwa pusing dapat menyebabkan seseorang terbangun dari tidurnya sehingga total jam tidur menjadi berkurang.

Responden mayoritas pernah mengalami rasa tidak nyaman ketika tekanan darah meningkat (83%) dan 52% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur ringan. Berdasarkan penelitian Lee et al (2008), rasa tidak nyaman merupakan salah satu faktor terjadinya gangguan tidur dimana seseorang akan merasa gelisah dan sulit untuk mendapatkan tidur yang nyenyak. Potter & Perry (2005) juga menyatakan hal yang serupa yaitu ketidaknyamanan fisik merupakan penyebab utama kesulitan untuk tidur atau sering terbangun pada malam hari.

Kesulitan bernafas hanya pernah dialami oleh 13 orang responden (37%) dan 38% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur ringan. Menurut Boynton (2003), kesulitan bernafas dapat menyebabkan seseorang sering terbangun dari tidurnya di malam hari. Japardi (2002) menambahkan, kadang-kadang ada kesulitan untuk jatuh tertidur lagi ketika sudah terbangun akibat kesulitan bernafas dan ini dapat menyebabkan nyeri kepala dan perasaan tidak enak ketika bangun di pagi hari.

Sebanyak 60% responden pernah mengalami kesukaran tidur saat tekanan darahnya meningkat dan 43% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur rigan. Martin (2000) menyatakan bahwa kesulitan tidur dapat menyebabkan berbagai gangguan tidur dan ia juga menambahkan bahwa orang yang kesulitan tidur biasanya tidak mendapatkan tidur yang cukup sehingga akan mempengaruhi aktivitasnya di pagi hari.

Selain itu, terdapat 80% responden menyatakan pernah mengalami mudah lelah ketika tekanan darah meningkat dan 32% menyatakan mengalami gangguan tidur sedang karena faktor mudah lelah. Hal ini sesuai dengan Shapiro et al (1993) yang menyatakan bahwa kelelahan dapat menyebabkan gangguan tidur, dimana biasanya seseorang yang kelelahan akan merasa seolah-olah mereka bangun ketika tidur dan biasanya tidak mendapatkan tidur yang dalam.

2.3.2. Faktor-faktor Lingkungan

Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, di antaranya adalah suara bising dari keluarga, sorot lampu ruangan yang terlalu terang dan suhu ruangan yang terlalu panas (Potter & Perry, 2005). Pada penelitian ini didapati ada 57% responden yang pernah berada pada lingkungan yang terkadang menimbulkan suara bising dan 35% di antaranya mengalami gangguan tidur ringan. Menurut Hanning (2009), kebisingan dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur. WHO (2004) juga menyatakan hal yang sama namun WHO menambahkan bahwa sebagian besar responden tidak mengeluhkan kurang tidur tetapi memiliki tidur yang non-restoratif, mengalami kelelahan dan atau sakit kepalapada saat bangun pagi dan kantuk yang berlebihan di siang hari.

Sorot lampu ruangan yang terlalu terang pernah dirasakan oleh 15 orang responden (43%) dan mayoritas di antaranya (47%) tidak mengalami gangguan tidur. Hasil ini tidak sesuai dengan Lee (1997) yang menyatakan bahwa sorot lampu yang terlalu terang dapat menyebabkan gangguan tidur dan dapat menghambat sekresi melatonin pada tubuh. Hal ini mungkin dikarenakan

responden tidak menyadari bahwa sebenarnya telah terjadi pergeseran sirkadian, dimana jadwal tidur maju secara bertahap (Sack et al, 2007).

Mayoritas responden (77%) pernah tidur dengan suhu ruangan yang terlalu panas dan 33% di antaranya menyatakan mengalami gangguan tidur sedang. Hasil ini sesuai dengan Potter & Perry (2005) ruangan yang terlalu panas/ terlalu dingin seringkali menyebabkan seseorang gelisah. Keadaan ini akan mengganggu tidur seseorang. Lee (1997) juga menyatakan hal serupa, bahwa seseorang akan mengalami gangguan tidur apabila tidur di ruangan yang terlalu panas ataupun terlalu dingin.

BAB 6 PENUTUP 1. Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap 35 orang responden penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Medan Johor diperoleh bahwa mayoritas responden adalah wanita (77%) dan mayoritas tergolong pada usia dewasa madya (66%) dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (54%) dengan pengahasilan <Rp 600.000,00. Mayoritas responden tamatan SMA (43%) dengan status perkawinan menikah (80%), berlokasi tempat tinggal di pemukiman rumah penduduk yang padat (80%) dan mayoritas memiliki teman sekamar 1-2 orang (63%).

Secara keseluruhan, mayoritas responden tidak dapat tidur dengan baik yang dapat dilihat dari total waktu tidur pada malam hari 5-6 jam (37%), lama waktu yang dibutuhkan untuk tertidur 31-60 menit (37%) dan frekuensi terbangun 1-2 kali (60%).

Faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi dapat terjadi karena faktor fisik di antaranya adalah pusing (367%) pada tingkat gangguan ringan dan 37% pada tingkat gangguan sedang, rasa tidak nyaman (52%) pada tingkat gangguan ringan, sulit bernafas (38%) pada tingkat gangguan ringan, sukar tidur (43%) pada tingkat gangguan ringan dan mudah lelah (32%) pada tingkat gangguan sedang. Selain itu ada juga faktor lingkungan yang dapat mengganggu tidur di antaranya adalah suara bising dari keluarga (35%) dengan tingkat gangguan ringan dan suhu ruangan yang terlalu panas (33%) dengan tingkat gangguan sedang.

2. Rekomendasi

2.1. Rekomendasi bagi Penelitian Keperawatan

Penelitian ini hanya dilakukan pada 35 orang responden penderita hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Medan Johor. Untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan judul penelitian ini sebaiknya mempunyai sampel yang lebih banyak yang mewakili dari beberapa Wilayah Kerja Puskesmas. Di samping itu perlu diperhatikan apakah gejala klinis dari penderita hipertensi yang menyebabkan tidurnya terganggu sebelum diidentifikasi tingkat gangguannya dan juga perlu diidentifikasi skala tiap-tiap bagian dari faktor gangguan tidur yang dialami oleh penderita hipertensi seperti faktor fisik yaitu pusing, rasa tidak nyaman, sulit bernafas, sukar tidur, dan mudah lelah serta faktor lingkungan yaitu suara/ kebisingan, sorot lampu ruangan yang terlalu terang, dan suhu ruangan yang terlalu panas. Selain itu, peneliti juga menyarankan untuk menambahkan pertanyaan terbuka pada kuesioner faktor-faktor gangguan tidur untuk mengetahui adanya faktor lain yang menyebabkann gangguan tidur selain gejala fisik penyakit tertentu maupun lingkungan.

2.2. Rekomendasi bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi baru bagi pendidikan keperawatan tentang gambaran kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi sehingga perawat-perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif kepada penderita hipertensi, terkhusus mengenai tidurnya.

2.3. Rekomendasi bagi Praktek Keperawatan

Sebaiknya peran perawat lebih dioptimalkan dalam memberikan intervensi yang tepat melalui pendidikan kesehatan tentang kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi.

2.4. Rekomendasi bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelayanan kesehatan untuk memberikan promosi kesehatan tentang kualitas tidur dan faktor-faktor gangguan tidur pada penderita hipertensi dan bagaimana cara mendapatkan kualitas tidur yang baik terkhusus ditujukan kepada lansia.

DAFTAR PUSTAKA

Alberti, A. (2006). Headache and Sleep. Sleep Laboratory, Neurologic Clinic of Perugia, Via E. Dal Pozzo, Perugia, Italy.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, Ed. Rev. Jakarta: Rineka Cipta.

August, P. (1999). Hypertension in Men. Joan and Sanford Weill Medical College of Cornell University, New York.

2011.

Baker, K. (2005). Hypertension & its Pharmacological Management. Harvard MIT Division of Health Sciences and Technology.

diakses 20 Oktober 2010.

Bastaman, T. K. (1988). Arti Tidur dalam Kehidupan Sehari-hari. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Juni 2011.

Boynton, L. (2003). Respiratory Care. Disclaimer: The material contained herein is provided for informational purposes only, and should not be construed as medical or legal advice on any subject matter.

Bustan, M. N. (2007). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta.

Choppra, D. (2003). Tidur Nyenyak, Mengapa Tidak? Ucapkan Selamat Tinggal pada Insomnia. Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Cohen, Jerome, D. (2009). Hypertension Epidemiology and Economic Burden: Refining Risk Assesment To Lower Costs. Department of Internal Medicine (Cardiology), St. Louis Universityn School of Medicine.

Deshinta. (2009). Hubungan Kualitas Tidur dengan Tekanan Darah pada Remaja Usia 15-17 Tahun di SMA Negeri 1 Tanjung Morawa.

diakses 20 September 2010.

Johanna, Christa & Jachens. (2004). Sleep Disturbances & Healthy Sleep. The Association of Waldorf Schools of North America.

Dalimartha, Setiawan dkk. (2008). Care Your Self Hipertensi. Jakarta: Penebar Plus+.

Federal Bureau of Prisons-Clinical Pratice Guidelines. (2004). Hypertension. 2010.

Ganong, W. F. (1998). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 17. Jakarta: EGC. Guyton, A. C. and Hall, J. E. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9.

Jakarta: EGC.

Hanning, C. (2009). Sleep Disturbance and Wind Turbine Noise on Behalf of Stop Swinford Wind Farm Action Group (SSWFAG). Juni 2011.

Harsono. (1996). Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University. Hidayat, A. A. (2004). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: salemba

Medika.

Hidayat, A. A. (2009). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.

Japardi, I. (2002). Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara. USU Digital Library.

Karota-Bukit. (2003). Sleep Quality and Factors Interfering with Sleep Among Hospitalized Elderly in Medical Units, Medan Indonesia. Master of Nursing Science Thesis in Adult Nursing. Prince of Songkla University, Thailand.

Lee, C. Y. et al. (2008). Older Patients’ Experiences of Sleep in the Hospital: Disruptions and Remedies. Haven of Hope Hospital and The Nethersole School of Nursing, The Chinese University of Hong Kong, Shatin, N.T., Hong Kong. The Open Sleep Journal. diakses 14 Juni 2011.

Lee, K. A. (1997). An Overview of Sleep and Common Sleep Problems. ANNA Journal Volume 24.

Mansoor, G. A. et al. (2000). Poor Sleep Quality among Hypertensive Patients May cause a Nondipper Circadian Blood Pressure Profile. American

Journal of Hypertension.

diakses 1 November 2010.

Mansoor, G. A. (2002). Sleep Actigraphy in Hypertensive Patients with The 'Non-dipper' Blood Pressure Profile. Journal of Human Hypertension. Juni 2011.

Mardjono, M. (2008). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.

Martin, J. (2000). Assessment and Treatment of Sleep Disturbance in Older Adults. University of California San Diego and San Diego Veterans

Dokumen terkait