• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DASAR PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP PUTUSAN

5. Pertimbangan Hakim

Hakim yang mengadili perkara ini dalam putusannya mempertimbangkan yang pokoknya menerangkan sebagai berikut:37

Berdasarkan uraian pertimbangan tersebut dapatlah diketahui bahwa tunjangan TPAPD untuk Triwulan I dan II TA 2005 telah dicairkan, di mana Terdakwa menjadi Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan hanya sampai tanggal 25 April 2005, dan juga dari fakta hukum tersebut terbukti Amrin Tambunan telah mempergunakan dana TPAPD sebesar Rp 1.590.944.500,- (satu milyar lima ratus sembilan puluh juta sembilan ratus empat puluh empat ribu lima ratus rupiah) untuk keperluannya sendiri, hal ini bertentangan dengan keterangannya dipersidangan perkara ini, dan Penuntut Umum juga tidak dapat membuktikan keterlibatan Terdakwa dalam penggunaan dana TPAPD yang telah dicairkan tanggal 6 Januari 2005 ke Kas Amrin Tambunan ;

       37

1. Selain ketentuan dalam peraturan perundang-undangan secara formil, Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama juga tidak menemukan perbuatan-perbuatan yang dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat yang dilakukan oleh Terdakwa dalam perkara ini, dan hal tersebut juga tidak terbukti dari pembuktian yang diajukan oleh Penuntut Umum dipersidangan ;

2. Berdasarkan rangkaian pertimbangan tersebut Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama berpendapat bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi ;

3. Unsur kedua Dakwaan Primair tidak terbukti dan terpenuhi, maka unsur-unsur yang lain tidak perlu dipertimbangkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam Dakwaan Primair dan oleh karena itu Terdakwa harus dibebaskan dari Dakwaan Primair tersebut;

4. Dakwaan Primair tidak terbukti maka akan dipertimbangkan Dakwaan Subsidiair, yakni Terdakwa telah didakwa melakukan perbuatan yang melanggar Pasal 3 jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana yang menurut perumusan deliknya mengandung unsur-unsur sebagai berikut :

a. Setiap orang ;

b. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi ;

c. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan ;

d. dapat merugikan keuangan negara, atau perekonomian negara ;

e. Orang yang melakukan, menyuruh melakukan, atau turutserta melakukan ;

5. Ad. 1. Unsur pertama : ‘Setiap orang’ ;

unsur “setiap orang” yang dimaksudkan dalam Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001 ini adalah sama dengan pengertian Unsur Setiap Orang yang terdapat dalam Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001, yang mana unsur tersebut telah dipertimbangkan dalam mempertimbangkan Dakwaan Primair dan telah dinyatakan bahwa yang dimaksud setiap orang di sini adalah terdakwa Rahudman Harahap, oleh karenanya tidak perlu diuraikan lagi dalam pertimbangan di sini ; Ad. 2. Unsur kedua : ‘Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi’ ;

Istilah “dengan tujuan” dalam perumusan Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 ini mengandung pengertian sebagai niat, kehendak atau maksud, sehingga makna dari unsur kedua ini adalah kehendak untuk menguntungkan diri sendiri, menguntungkan orang lain, atau menguntungkan suatu korporasi ; 6. Dalam konteks perkara tindak pidana korupsi sebagaimana didakwakan

kepada Terdakwa in casu, pelaksanaan niat, kehendak atau maksud untuk menguntungkan diri sendiri, menguntungkan orang lain, atau menguntungkan suatu korporasi tersebut, haruslah dilakukan secara aktif,

yang bermakna adanya ‘kesengajaan’, dengan kata lain untuk dapatnya dinyatakan terbukti unsur kedua dalam Dakwaan Subsidair Penuntut Umum ini, haruslah ada keuntungan pada diri Terdakwa, atau ada orang lain yang diuntungkan, atau ada suatu korporasi yang diuntungkan, hal ini sebagai konsekuensi dari pelaksanaan niat, kehendak atau maksud menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi sebagaimana dimaksud dalam pasal Dakwaan Subsidair Penuntut Umum a quo ;

7. Pengertian ‘menguntungkan’ adalah memperoleh untung atau keuntungan dan tidak harus dilihat dari bertambahnya kekayaan atau harta benda terdakwa secara signifikan atau berlebihan, tetapi cukup dengan bertambahnya sedikit saja kekayaan atau harta benda terdakwa atau orang lain atau suatu korporasi, sudah dapat diartikan menguntungkan, bahkan fasilitas yang bersifat non finansialpun dapat diartikan dan dikategorikan sebagai pengertian menguntungkan tersebut, dan dalam kaitannya dengan unsur kedua ini maka “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” cukup dinilai dari kenyataan yang terjadi dan dihubungkan dengan perilaku Terdakwa sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya, karena jabatan atau kedudukannya ;

8. Dipertimbangkan apakah terdakwa Rahudman Harahap yang diajukan ke persidangan dalam perkara ini, sendiri, orang lain atau suatu korporasi ; 9. Terlebih dahulu akan dikemukakan bahwa dakwaan yang diajukan

oleh Penuntut Umum terhadap Terdakwa dalam perkara in casu, berkaitan erat dengan dakwaan terhadap Amrin Tambunan yang telah

diadili dan perkaranya telah berkekuatan hukum tetap sebagaimana diuraikan di atas, oleh karenanya dalam memeriksa dan mengadili perkara ini Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama akan menjadikan perkara Amrin Tambunan tersebut sebagai dasar rujukan pertimbangan ;

10. Surat Dakwaannya yang diajukan kepada Terdakwa dalam perkara ini, Penuntut Umum mempersalahkan perbuatan- perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa bersama Amrin Tambunan, paling tidak atas hal-hal sebagai berikut :

a. Terdakwa selaku Pengguna Anggaran mengajukan permohonan pencairan dana TPAPD sebelum APBD TA 2005 disahkan;

b. Permohonan tersebut tidak didasarkan pada adanya permohonan dari Bagian Pemdes selaku yang membidangi penyaluran dana TPAPD c. Dana TPAPD Triwulan I yang telah diterima Amrin Tambunan selaku

Pemegang Kas Setda tidak diserahkan kepada Kabag Pemdes atau Perangkat Desa

11. Dipertimbangkan apakah perbuatan Terdakwa mengajukan permohonan pencairan dana TPAPD sebelum APBD TA 2005 berlaku ;

12. Dasar Penuntut Umum menyatakan perbuatan Terdakwa tersebut salah adalah atas dasar ketentuan yang terdapat dalam Pasal 49 ayat (1) Kepmendagri No.29 Tahun 2002 yang berbunyi ‘Pengeluaran Kas yang mengakibatkan beban APBD, tidak dapat dilakukan sebelum Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD disahkan dan ditempatkan dalam Lembaran Daerah’, namun dalam

Surat Dakwaannya Penuntut Umum tidak mencantumkan ketentuan dalam ayat (2) dari Pasal 49 aquo, yakni yang berbunyi ‘Pengeluaran Kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk belanja pegawai yang formasinya telah ditetapkan”. 

13. Memperhatikan kedua ayat tersebut, timbul pertanyaan : ‘apakah dana TPAPD merupakan belanja pegawai yang formasinya telah ditetapkan ataukah bukan ?’ ; 

14. Dalam Kepmendagri No.29 Tahun 2002 tidak dijelaskanapa yang dimaksud sebagai ‘belanja pegawai yang formasinya telah ditetapkan’, namun menurut pendapat ahli Hasiholan Pasaribu, S.E., MPKP. yang adalah Direktur Perencanaan Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, yang dulunya adalah Direktur Administrasi Anggaran Daerah Kementerian Dalam Negeri yang ikut membidani lahirnya Kepmendagri No.29 tahun 2002, dikatakan bahwa tunjangan TPAPD merupakan belanja pegawai yang berhak diterima oleh para Aparatur Pemerintahan Desa yang telah ditetapkan oleh Kepala Desa untuk menerima tunjangan dimaksud dan besaran tunjangan tersebut sudah ditentukan oleh Bupati yang berhak diterima oleh para Aparatur Pemerintahan Desa setiap bulannya, di mana untuk Kabupaten Tapanuli Selatan pada TA 2005 telah ditetapkan besaran tunjangan kepada masing-masing Aparatur Pemerintahan 21 Juni 2005 ; 

15. Selain itu, karena pengertiaan ‘belanja pegawai sebagai rujukan pemahaman terhadap pengertian belanja pegawai tersebut, dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 38 ayat (1) Permendagri No.13 Tahun 2006 disebutkan bahwa ‘Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan’, selanjutnya ayat (2) nya menyatakan bahwa ‘Uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam belanja pegawai’ ; 

16. Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya berpendapat bahwa tunjangan TPAPD termasuk dalam Bantuan Keuangan, dan jika dilihat pengertian ‘bantuan keuangan’ dalam Pasal 47 ayat (1) Permendagri No.13 Tahun 2006 disebutkan ‘Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf g digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah Iainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah Iainnya dalam rangka pemerataan dan/ atau peningkatan

kemampuan keuangan’, sehingga bantuan keuangan tersebut merupakan bantuan secara kelembagaan dan bersifat institusi, sedangkan tunjangan TPAPD adalah tunjangan yang telah ditetapkan besaran dan peruntukannya yang berhak diterima oleh orang perorangan yang sudah ditetapkan sebelumnya ; Tingkat Pertama berpendapat bahwa tunjangan TPAPD merupakan belanja pegawai yang dapat dikeluarkan oleh Pengguna Anggaran walaupun Rancangan Perda tentang APBD belum disahkan dan ditempatkan dalam Lembaran Daerah ; 

17. Selanjutnya akan dipertimbangkan apakah permohonan pencairan tunjangan TPAPD oleh Pemegang Kas Amrin Tambunan yang diketahui oleh Terdakwa tersebut harus didahului dengan permintaan pencairan dari Bagian Pemdes ;  

18. Pasal 51 ayat (1) Kepmendagri No.29 Tahun 2002 menyebutkan bahwa ‘Untuk melaksanakan pengeluaran kas, Pengguna Anggaran mengajukan SPP kepada pejabat yang melaksanakan fungsi perbendaharaan’, sehingga jika dipahami ketentuan tersebut maka untuk mengajukan permohonan pengeluaran kas, tidak harus didahului dengan permintaan dari Bagian Pemdes, karena hal itu merupakan kewenangan Pengguna Anggaran ; 

19. Berdasarkan uraian tersebut maka pengajuan SPP-PK terhadap dana TPAPD Triwulan I dan II TA 2005 yang ditandatangani oleh Amrin Tambunan selaku Pemegang Kas dan diketahui oleh Terdakwa selaku Pengguna Anggaran tertanggal 6 Januari 2005 dan 13 April 2005, adalah hak Terdakwa dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan ; 

20. Selanjutnya akan dipertimbangkan apakah dana TPAPD I yang telah dicairkan atas permohonan Amrin Tambunan dan diketahui Terdakwa tanggal 6 Januari 2005 tersebut harus langsung disalurkan kepada Bagian Pemdes ;  

21. Tidak ada ketentuan yang mewajibkan dana TPAPD yang dikeluarkan dengan SPP-PK tersebut harus langsung diserahkan kepada Bagian Pemdes, karena selaku Pengguna Anggaran, Terdakwa berhak mengatur ketentuan yang berlaku ; 

22. Berdasarkan uraian pertimbangan tersebut maka tidak ada ketentuan formil dalam peraturan perundang-undangan sebagaimana disebutkan Penuntut Umum dalam Surat Dakwaannya yang dilanggar oleh Terdakwa,

dan quod non ada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan

tersebut yang terlanggar, hal itu merupakan pelanggaran administrasi dan bukan sertamerta juga merupakan pelanggaran pidana, karena

ketentuan-ketentuan a quo tidak mencantumkan ancaman pidana apabila ketentuan-ketentuan itu dilanggar ; 

23. Dalam Surat Tuntutannya Penuntut Umum menyatakan Terdakwa bersama-sama Amrin Tambunan telah tidak menyalurkan dana TPAPD Triwulan I TA 2005 kepada para Aparatur Pemerintah Desa yang berhak menerimanya dan telah digunakan untuk kepentingan pribadi Terdakwa dan Amrin Tambunan ;  

24. Ahli Hasiholan Pasaribu dan Zudan Arif Fakrullah mengajukan pendapatnya bahwa telah terjadi perubahan paradigma tentang penatausahaan keuangan daerah setelah terbitnya Undang-undang Pemerintahan Daerah disertai dengan aturan-aturan pelaksanaannya, sehingga dalam paradigma yang baru tersebut dikenal dengan Pertanggungjawaban Dalam Batas Kewenangan, artinya seseorang hanya akan dimintai pertanggungjawaban sebatas pada kewenangan yang dimiliki saja, dan dalam kaitan tersebut apakah beralasan Penuntut Umum mendakwa Terdakwa telah bersama-sama Amrin Tambunan mempergunakan dana TPAPD Triwulan I TA 2005 untuk kepentingan pribadinya ; selaku Pemegang Kas Setda tanggal 6 Januari 2005, menjadi kewenangan Amrin Tambunan untuk menyimpan dan menata usahakannya, dan Amrin Tambunan bertanggung jawab secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya

kepada Bendahara Umum Daerah, bukan kepada Terdakwa, hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 53 ayat (1) Undang-undang No.1Tahun 2004 ;  

25. Amrin Tambunan mempunyai kewenangan terhadap penyimpanan, penatausahaan dan pengelolaan kas Setda, maka tanggungjawab terhadap dana-dana yang berada dalam kas Setda tersebut berada di tangan Amrin Tambunan selaku Pemegang Kas Setda ; 

26. Persidangan Amrin Tambunan menerangkan bahwa Terdakwa telah menggunakan dana TPAPD yang telah dicairkan dan disimpan di Kas Setda, namun keterangan Amrin Tambunan tersebut tidak disertai dan didukung dengan bukti lainnya, dan justru jika keterangan Amrin Tambunan tersebut dihubungkan dengan yang tertuang dalam Putusan No.553/Pid.Sus/2010/ PN.Psp. hal tersebut Nampak berbeda, karena dalam putusan itu disebutkan fakta hukum antara lain sebagai berikut : 

a. TPAPD TA 2005 yang tidak disalurkan oleh Amrin Tambunan sebesar Rp1.590.944.500,- (satu milyar lima puluh juta sembilan ratus empat puluh empat ribu lima ratus rupiah) dipergunakan oleh Terdakwa untuk keperluannya sendiri ; 

b. TPAPD yang dicairkan Pemegang Kas Daerah Tahun 2005 : Triwulan I dan II sebesar Rp2.977.695.000,- (dua milyar sembilan

ratus tujuh puluh tujuh sembilan puluh lima ribu rupiah), Triwulan III sebesar Rp1.488.847.500,- (satu milyar empat ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah), dan Tiwulan IV sebesar Rp1.488.847.500,- (satu milyar empat ratus delapan puluh delapan juta delapan ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah)  

c. Dipersidangan Terdakwa telah menyerahkan uang pengganti kerugian Negara sebesar Rp1.590.944.500,- (satu milyar lima ratus sembilan puluh juta sembilan ratus empat puluh empat ribu lima ratus rupiah) ; 

d. Pada saat Terdakwa menyerahkan uang pengganti kerugian Negara, Terdakwa mengakui bahwa dipakai oleh Terdakwa sendiri ;  

27. Uraian pertimbangan tersebut dapatlah diketahui bahwa tunjangan TPAPD untuk Triwulan I dan II TA 2005 telah dicairkan, di mana Terdakwa menjadi Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan hanya sampai tanggal 25 April 2005, dan juga dari fakta hukum tersebut terbukti Amrin Tambunan telah mempergunakan dana TPAPD sebesar Rp 1.590.944.500,- (satu milyar lima ratus sembilan puluh juta sembilan ratus empat puluh empat ribu lima ratus rupiah) untuk keperluannya sendiri, hal ini bertentangan dengan keterangannya dipersidangan perkara ini, dan Penuntut Umum juga tidak dapat membukikan keterlibatan Terdakwa

dalam penggunaan dana TPAPD yang telah dicairkan tanggal 6 Januari 2005 ke Kas Amrin Tambunan ; 

28. Selain ketentuan dalam peraturan perundang-undangan secara formil, Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama juga tidak menemukan perbuatan-perbuatan yang dianggap tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma-norma kehidupan sosial dalam masyarakat yang dilakukan oleh Terdakwa dalam perkara ini, dan hal tersebut juga tidak terbukti dari pembuktian yang diajukan oleh Penuntut Umum dipersidangan ; 

29. Pertimbangan Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama berpendapat bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan melawan hukum memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi ; 

30. Unsur kedua Dakwaan Primair tidak terbukti dan terpenuhi, maka unsur-unsur yang lain tidak perlu dipertimbangkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam Dakwaan Primair dan oleh karena itu Terdakwa harus dibebaskan dari Dakwaan Primair tersebut ; 

31. Dakwaan Primair tidak terbukti maka akan dipertimbangkan Dakwaan Subsidiair, yakni Terdakwa telah didakwa melakukan perbuatan yang melanggar Pasal 3 jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana

telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana yang menurut perumusan deliknya mengandung unsur-unsur sebagai berikut :  

a. Setiap orang ; 

b. Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi ; 

c. kewenangan, kesempatan, atau sarana yang adapadanya karena jabatan atau kedudukan ; 

d. Dapat merugikan keuangan negara, atau perekonomian negara ;  e. Orang yang melakukan, menyuruh melakukan, atau turutserta

melakukan; 

32. Ad. 1. Unsur pertama : ‘Setiap orang’ ;

Menimbang, bahwa unsur “setiap orang” yang dimaksudkan dalam Pasal 3UU No.31 Tahun 1999 jo. UU No.20 Tahun 2001 ini adalah sama denganpengertian Unsur Setiap Orang yang terdapat dalam Pasal 2 UU No.31 Tahun1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001, yang mana unsur tersebut telah dipertimbangkan dalam mempertimbangkan Dakwaan Primair dan telah dinyatakan bahwa yang oleh karenanya tidak perlu diuraikan lagi dalam pertimbangan di sini ;

33. Ad. 2. Unsur kedua : ‘Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi ;Menimbang, bahwa istilah “dengan tujuan” dalam perumusan Pasal 3 UU No.31 Tahun 1999 ini mengandung pengertian sebagai niat, kehendak atau maksud, sehingga makna dari unsur kedua ini adalah kehendak untuk menguntungkan diri sendiri, menguntungkan orang lain, atau menguntungkan suatu korporasi ; 

34.Dalam konteks perkara tindak pidana korupsi sebagaimana didakwakan kepada Terdakwa in casu, pelaksanaan niat, kehendak atau maksud untuk menguntungkan diri sendiri, menguntungkan orang lain, atau menguntungkan suatu korporasi tersebut, haruslah dilakukan secara aktif, yang bermakna adanya ‘kesengajaan’, dengan kata lain, untuk dapatnya dinyatakan terbukti unsur kedua dalam Dakwaan Subsidair Penuntut Umum ini, haruslah ada keuntungan pada diri Terdakwa, atau ada orang lain yang diuntungkan, atau ada suatu korporasi yang diuntungkan, hal ini sebagai konsekuensi dari pelaksanaan niat, kehendak atau maksud menguntungkan diri sendiri, orang lain, atau korporasi sebagaimana dimaksud dalam pasal Dakwaan Subsidair Penuntut Umum a quo ; 

35.Pengertian ‘menguntungkan’ adalah memperoleh untung atau keuntungan dan tidak harus dilihat dari bertambahnya kekayaan atau harta benda terdakwa secara signifikan atau berlebihan, tetapi cukup dengan bertambahnya sedikit saja kekayaan atau harta benda terdakwa atau orang

lain atau suatu korporasi, sudah dapat diartikan menguntungkan, bahkan fasilitas yang menguntungkan tersebut, dan dalam kaitannya dengan unsur kedua ini maka “menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi” cukup dinilai dari kenyataan yang terjadi dan dihubungkan dengan perilaku Terdakwa sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya, karena jabatan atau kedudukannya ;  

36.Dipertimbangkan, apakah Terdakwa Rahudman Harahap tersebut mempunyai kehendak yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri, atau menguntungkan orang lain, atau menguntungkan suatu korporasi ;  

37.Sebagaimana telah dipertimbangkan dalam pertimbangan Dakwaan Primair di atas bahwa Terdakwa tidak terbukti melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga apabila Terdakwa ikut menandatangani Formulir SPP-PK dan daftar Perincian Pengguna Anggaran Belanja tertanggal 6Januari 2005, hal tersebut karena Terdakwa selaku Pengguna Anggaran yang harus mengetahui aliran pengeluaran anggaran dalam SKPD-nya, dan pembubuhan tandatangan itu karena sudah ditentukan dalam form Lampiran XXIV Kepmendagri No.29 Tahun 2002 tersebut, sehingga apabila dikaitkan dengan pengertian ‘dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi’ tersebut di atas, maka tidak ada niat atau kehendak Terdakwa untuk

menguntungkan Amrin Tambunan karena apa yang dilakukan Amrin Tambunan memang sudah tupoksinya dan apabila Amrin Tambunan tidak melakukan tupoksinya menyalurkan anggaran kepada Bagian Pemdes, maka Amrin Tambunan harus mempertangunggajawabkannya dalam batas kewenanganya ;

38.Rangkaian pertimbangan tersebut Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama berpendapat bahwa Terdakwa tidak terbukti menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu korporasi ;

39.Unsur kedua Dakwaan Subsidair tidak terbukti dan terpenuhi, maka unsur-unsur yang lain tidak perlu dipertimbangkan lagi dan Terdakwa harus dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam Dakwaan Subsidair dan oleh karena itu Terdakwa harus dibebaskan dari Dakwaan Subsidair tersebut ;

40.Dakwaan Subsidair tidak terbukti makaakan dipertimbangkan Dakwaan Lebih Subsidiair, yakni Terdakwa telah didakwa melakukan perbuatan yang melanggar Pasal 9 jo. Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana yang menurut perumusan deliknya mengandung unsur- unsur sebagai berikut :

a. Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri ;

b. Yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu ;

c. Dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi ;

d. Orang yang melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan ;

41. Terdakwa adalah Walikota Medan dan antara tanggal 20 Juli 2001 sampai dengan tanggal 25 April 2005 Terdakwa menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan berdasarkan SK Bupati Tapanuli Selatan No.821.22/209/K/2001 tanggal 20 Juli 2001 ;

42. Dalam perkara ini Terdakwa diajukan ke Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Medan karena didakwa atas perbuatan Terdakwa yang dilakukan pada saat menjabat selaku Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan, sehingga Terdakwa memenuhi sebagai pegawai negeri;

43. Sebagaimana diuraikan di atas, Terdakwa adalah Sekda Kabupaten Tapanuli Selatan berdasarkan SK Bupati Tapanuli Selatan No.821.22/209/K/2001 tanggal 20 Juli 2001 yang masa tugasnya hingga tanggal25 April 2005 ;

44. Tupoksi Terdakwa selaku Sekda antara lain membantu Bupati menyelenggarakan pemerintahan secara umum dan mengkoordinasikan seluruh tugas dinas, sedangkan tanggungjawab Terdakwa adalah sebagai Penanggungjawab administrasi dan keuangan di Setda Kabupaten Tapanuli Selatan ;

45. Berdasarkan fakta hukum tersebut dikaitkan dengan pengertian pegawai negeri di atas, maka Pengadilan Tipikor Tingkat Pertama berpendapat unsur ini telah terpenuhi dan terbukti;

46. Istilah ‘dengan sengaja ’ dapat diartikan sebagai melakukan suatu perbuatan dengan sadar, perbuatan yang dikehendaki, diinsyafi, disadari, dan dipahami akan akibat dari perbuatannya itu ;

47. Dipertimbangkan apakah Terdakwa telah dengansadar memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi dalam proses pengajuan permohonan pencairan dana TPAPD TA2005 Triwulan I dan II yang diajukan pada tanggal 6 Januari 2005 dan tanggal 13April 2005 ; Kabupaten Tapanuli Selatan mempunyai tupoksi antara lain membantu Bupati menyelenggarakan pemerintahan secara umum dan mengkoordinasikan seluruh tugas dinas, sedangkan tanggungjawab Terdakwa adalah sebagai Penanggungjawab administrasi dan keuangan di Setda Kabupaten Tapanuli Selatan ;

48. Keterangan saksi-saksi yang merupakan pejabat- pejabat di lingkungan Setda Kabupaten Tapanuli Selatan yang berkaitan dengan proses pencairan dana TPAPD yang diajukan dipersidangan dalam perkara ini, maupun dari barang-barang bukti surat dalam perkara ini, tidak satupun yang menerangkan adanya pemalsuan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses pencairan dana TPAPD yang ikut

Dokumen terkait