• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENDAPATAN

4.1. Pendapatan Kabupaten Pangkep

4.1.1. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pangkep 78

Data memperlihatkan bahwa PDRB Kabupaten Pangkep mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Tabel 4.1). PDRB yang berjumlah Rp. 1.035.680.000,- pada tahun 1999 mengalami kenaikan secara gradual dan di tahun 2003 berhasil mencapai angka Rp. 1.667.700.000,-. Kenyataan ini merupakan refleksi dari meningkatnya kondisi perekonomian (makro) kabupaten ini. Meskipun secara nominal pendapatan Kabupaten Pangkep meningkat setiap tahun, peningkatan yang terjadi berfluktuasi, dengan yang tertinggi (21,54 persen) terjadi antara tahun 1998-1999. Sebaliknya, peningkatan pendapatan terendah dialami oleh kabupaten ini pada tahun 2002-2003, dengan hanya 5,62 pesen lebih tinggi daripada tahun 2002. Sejalan dengan fluktuasi peningkatan jumlahnya, sumbangan PDRB Kabupaten Pangkep terhadap PDRB Propinsi Sulawesi Selatan juga berfluktuasi setiap tahun selama periode 1999-2003. Kontribusi paling rendah terjadi pada tahun 2003 (sebesar 4,14 persen), setelah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berjumlah 4,32 persen.

Tabel 4.1

PDRB Kabupaten Pangkep Atas Harga Berlaku, 19990-2003 Tahun PDRB (milyar rupiah) Persentase Pertumbuhan Persentase terhadap PDRB Propinsi Sulsel 1999 1.035,68 21,54 4,30 2000 1.214,30 17,25 4,37 2001 1.379,88 13,64 4,30 2002 1.579,01 14,43 4,32 2003 1.667,70 5,64 4,14 Rata-rata 14,50 4,29

4.1.2. Sektor Ekonomi: sumbangannya terhadap PDRB dan pertumbuhannya

Pembahasan mengenai pendapatan daerah pada sub-bagian ini didasarkan pada keadaan PDRB per sektor ekonomi, terutama sektor yang berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Kabupaten Pangkep. Jika dibedakan berdasarkan sektor ekonomi sumbangan terbesar terhadap PDRB Kabupaten Pangkep berasal dari sektor industri pengolahan. Dengan memasukkan kegiatan ekonomi PT Semen Tonasa dalam perhitungan PDRB, sumbangan sektor industri pengolahan mencapai lebih dari 40 persen jumlah PDRB Kabupaten Pangkep sejak tahun 1999 (Tabel 4.2). Berdasarkan data pada tabel tersebut tampak bahwa sektor pertanian berada pada urutan kedua penyumbang terbesar bagi PDRB Kabupaten Pangkep. Perbedaan sumbangan antara sektor industri pengolahan dengan sektor pertanian terlihat cukup mencolok, dimana sumbangan sektor pertanian sebesar kurang dari separuh sumbangan sektor industri pengolahan setiap tahun. Selanjutnya, sumbangan sektor-sektor lain tidak mencapai 10 persen dari total PDRB. Sumbangan sektor listrik, gas dan air terhadap PDRB kabupaten bahkan kurang dari 1 persen.

Meskipun sektor industri pengolahan memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Kabupaten Pangkep, kenyataan ini tidak berarti bahwa sektor ini memberikan nilai ekonomi paling besar terhadap penduduk daerah ini. Manfaat sektor ini lebih banyak dinikmati oleh pemerintah pusat mengingat sumbangan terbesar terhadap sektor industri pengolahan berasal dari kegiatan PT Semen Tonasa (Bappeda & BPS Kabupaten Pangkep, 2004). Mengingat kegiatan industri ini melibatkan bahan tambang yang izin eksploitasinya merupakan kewenangan pemerintah pusat, maka sebagian keuntungan yang dihasilkannya menjadi pendapatan negara yang harus diserahkan kepada pemerintah pusat. Kabupaten Pangkep juga menerima pendapatan dari industri tersebut, dengan jumlah yang sesuai dengan ketentuan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang berlaku. Pendapatan dari sektor industri pengolahan ini kemudian menjadi salah satu sumber dana bagi pembangunan daerah Kabupaten Pangkep. Bertolak dari kenyataan ini, dapat dikatakan bahwa manfaat dari sektor industri pengolahan tidak dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, misalnya melalui pendapatan dari pekerjaan-pekerjaan di sektor ini. Penyerapan tenaga kerja di sektor industri yang hanya sebesar 7,21 persen, sementara di lain pihak sektor pertanian mampu menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja (Bappeda dan BPS Kabupaten Pangkep, 2004) memperkuat kenyataan bahwa sektor industri pengolahan bukan pemberi manfaat terbesar bagi perekonomi di tingkat masyarakat.

Tabel 4.2

Distribusi PDRB Kabupaten Pangkep Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku, 1999-2003 (dengan Semen Tonasa)

Lapangan Usaha 1999 2000 2001 2002 2003 Pertanian 24,76 23,14 21,50 20,04 19,29 Pertambangan dan penggalian 5,46 5,76 6,77 7,58 8,28 Industri pengolahan 48,32 49,62 48,26 48,38 47,10

Listrik, gas dan air 0,47 0,46 0,45 0,44 0,46

Bangunan/konstruksi 3,07 3,26 3,15 3,17 3,95

Perdagangan, hotel dan restoran

5,32 5,10 5,32 5,43 5,25

Angkutan dan komunikasi 4,60 4,36 4,57 4,36 4,43

Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan

1,73 2,31 2,58 2,70 2,94

Jasa-jasa 6,26 5,98 7,39 7,91 8,30

Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: Bappeda & BPS Kabupaten Pangkep, 2004

Besarnya sumbangan sektor-sektor ekonomi terhadap PDRB Kabupaten Pangkep mengalami perubahan jika nilai ekonomi yang berasal dari kegiatan PT Semen Tonasa tidak dimasukkan dalam perhitungan. Industri pengolahan tidak lagi menjadi sektor yang dominan dalam memberi kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Pangkep, sejalan dengan meningkatnya proporsi sumbangan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Selama tahun 2000-2002 sumbangan terbesar terhadap PDRB berasal dari sektor pertanian (lihat Tabel 4.3). Meskipun pada tahun 1999 dan 2002 sektor pertanian berada di bawah industri pengolahan, perbedaan proporsi sumbangan diantara keduanya terlihat tidak mencolok. Selanjutnya, hal menarik yang ditemui setelah dikeluarkannya sumbangan PT Semen Tonasa terhadap PDRB kabupaten ini adalah meningkatnya persentase sumbangan sektor jasa-jasa. Jika dengan Semen Tonasa sektor ini menyumbang kurang dari 10 persen terhadap PDRB Kabupaten Pangkep, setelah industri tersebut dikeluarkan sumbangan sektor jasa mencapai lebih dari 10 persen, terutama selama tiga tahun terakhir penghitungan. Selanjutnya, persentase sumbangan sektor-sektor lain tidak mengalami perubahan yang berarti.

Tabel 4.3

Distribusi PDRB Kabupaten Pangkep Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku, 1999-2003 (tanpa Semen Tonasa)

Lapangan Usaha 1999 2000 2001 2002 2003 Pertanian 32,06 33,01 29,96 28,42 26,54 Pertambangan dan penggalian 7,07 8,22 9,44 10,75 11,40 Industri pengolahan 33,09 28,11 27,88 26,79 27,20

Listrik, gas dan air 0,61 0,66 0,63 0,62 0,64

Bangunan/konstruksi 3,98 4,66 4,39 4,49 5,44

Perdagangan, hotel dan restoran 6,89 7,28 7,42 7,70 7,23 Angkutan dan komunikasi 5,96 6,23 6,36 6,18 6,09 Keuangan, persewaan

dan jasa perusahaan

2,23 3,30 3,60 3,83 4,05

Jasa-jasa 8,11 8,53 10,31 11,22 11,42

Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: Bappeda & BPS Kabupaten Pangkep, 2004

Dengan mengeluarkan PT Semen Tonasa yang merupakan sektor industri berskala nasional tersebut, dalam arti pengurusan perizinan dan pengelolaan keuntungannya melibatkan kewenangan pemerintah pusat, struktur ekonomi Kabupaten Pangkep mencerminkan tipikal perekonomian daerah agraris. Sektor pertanian masih merupakan tumpuan utama perekonomian masyarakat. Meskipun secara makro sektor ini sering berada pada posisi kedua dalam urutan penyumbang terhadap PDRB, dalam tataran mikro (di tingkat masyarakat) sektor pertanian memberi manfaat ekonomi terbesar. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, misalnya, sektor ini menampung tenaga kerja terbesar, sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa masyarakat mendapat manfaat secara langsung dari sektor ini karena sebagian besar dari mereka memperoleh pendapatan dari kegiatan-kegiatan di sektor pertanian. Dengan kata lain, sektor pertanian masih menjadi sumber pendapatan yang dominan bagi masyarakat.

Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Pangkep bervariasi sepanjang waktu. Selama periode 1999-2003 pertumbuhan rata-rata tertinggi dialami oleh sektor pertambangan, diikuti oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor industri pengolahan

(Tabel 4.4). Sektor yang mengalami rata-rata pertumbuhan terendah sepanjang periode tersebut adalah sektor pertanian. Pada tahun 2001 dan 2002 pertumbuhan sektor ini bahkan mencapai titik terendah, dengan masing-masing sebesar -0,37 persen dan -2,91 persen secara berturut-turut. Mengingat sektor pertanian merupakan gabungan dari beberapa sub-sektor (pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan pertanian lainnya), maka penurunan ini terjadi akibat menurunnya pendapatan dari masing-masing sub-sektor tersebut. Pada sub-sektor perikanan, misalnya, produksi perikanan tangkap mengalami penurunan dari 11.357,3 ton pada tahun 2000 menjadi 10.598,0 ton pada tahun 2001 serta 7.050,0 ton pada tahun 2002 (Bappeda dan BPS Kabupaten Pangkep, 2005). Produksi padi sawah juga mengalami penurunan, yaitu dari 123.230 ton pada tahun 2000 menjadi 114.618 ton dan 111.264 ton pada tahun 2001 dan 2002 secara berturut-turut. Berkurangnya hasil produksi secara langsung berakibat pada penurunan pendapatan dari penjualan hasil produksi tersebut.

Tabel 4.4

Pertumbuhan Riil Setiap Sektor Ekonomi Kabupaten Pangkep, 1999-2003 (%)

Sektor Ekonomi 1999 2000 2001 2002 2003

Rata-rata Pertanian 3,25 2,39 -0,37 -2,91 1,84 0,84 Pertambangan dan penggalian 19,62 3,07 17,77 14,51 8,64 12,72 Industri pengolahan 11,03 6,78 4,56 9,60 5,07 7,41 Listrik, gas dan air 3,57 4,04 3,27 7,39 9,30 5,51

Bangunan/konstruksi -7,63 3,15 0,96 9,94 25,57 6,40

Perdagangan, hotel dan restoran

3,33 4,35 6,12 7,36 5,51 5,33 Angkutan dan komunikasi 3,97 5,79 1,07 3,58 8,11 4,50 Keuangan, persewaan dan

jasa perusahaan

-9,04 34,01 7,77 4,80 13,62 10,23

Jasa-jasa 1,51 0,42 15,60 5,30 9,11 6,39

PDRB 5,86 5,03 4,67 5,53 6,01 5,42

Tingginya rata-rata pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian kemungkinan terjadi akibat semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang ini. Seperti telah dikemukakan pada Bab II, Kabupaten Pangkep mempunyai kekayaan potensi sumberdaya tambang, seperti marmer, yang jika dieksplorasi menjadi sumber pendapatan bagi daerah ini. Sejalan dengan semangat otonomi daerah, dimana kewenangan yang lebih besar diberikan kepada daerah untuk melaksanakan pembangunan maka peluang untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi potensial, termasuk sektor pertambangan, di kabupaten ini menjadi lebih terbuka. Hal ini terlihat dari bertambahnya jumlah perusahaan/usaha industri dari 2.216 unit pada tahun 2000 menjadi 2.292 unit di tahun 2004 (Bappeda dan BPS Kabupaten Pangkep, 2005). Diantara perusahaan tersebut terdapat pula perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan.