• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan gambaran

Dalam dokumen Rheumatoid Arthritis (Halaman 27-34)

radiologis

Perubahan gambar radiologis yang khas bagi RA pada pemeriksaan sinar-x, tangan posterior atau pergelangan tangan yang harus menunjukan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi (perubahan osteoarthritis saja tidak memenuhi persyaratan)

- Manivestasi Klinis Artritis Reumatoid

Walaupun gejala AR dapat timbul berupa serangan poliartritis akut yang berkembang

cepat dalam beberapa hari, pada umumnya gejala penyakit berkembang secara perlahan dalam

masa beberapa minggu. Dalam keadaan dini, AR dapat bermanifestasi sebagai palindromic

rheumatism, yaitu timbulnya gejala monoartritis yang hilang timbul yang berlangsung antara 3

sampai 5 hari dan diselingi dengan masa remisi sempurna sebelum bermanifestasi sebagai AR

28 yaitu gejala poliartritis yang melibatkan 4 persendian atau kurang. Kedua gambaran klinis

seperti ini seringkali menyebabkan kesukaran dalam menegakkan diagnosis AR dalam masa

dini.

- Manivestasi Artikular

Manifestasi artikular ini dapat dibagi menjadi 2 kategori :

1. Gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversibel.

2. Gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel.

Adalah sangat penting untuk membedakan kedua hal ini karena penatalaksanaan kedua

kelainan tersebut sangat berbeda. Sinovitis merupakan kelainan yang umumnya bersifat

reversibel dan dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non-surgikal

lainnya. Pada fihak lain kerusakan struktur persendian akibat kerusakan rawan sendi atau erosi

tulang periartikular merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan

modifikasi mekanik atau pembedahan rekonstruktif.

Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari. Kekakuan

pada pagi hari merupakan gejala yang selalu dijumpai pada AR aktif. Berbeda dengan rasa kaku

yang dapat dialami oleh pasien osteoartritis atau kadang-kadang oleh orang normal, kaku pagi

hari pada AR berlangsung lebih lama, yang pada umumnya lebih dari 1 jam. Lamanya kaku pagi

hari pada AR agaknya berhubungan dengan lamanya imobilisasi pada saat pasien sedang tidur

serta beratnya inflamasi. Gejala kaku pagi hari akan menghilang jika remisi dapat tercapai.

Faktor lain penyebab kaku pagi hari adalah inflamasi akibat sinovitis. Inflamasi akan

menyebabkan terjadinya imobilisasi persendian yang jika berlangsung lama akan mengurang

29 Otot dan tendon yang berdekatan dengan persendian yang mengalami peradangan

cenderung untuk mengalami spasme dan pemendekan. Fenomen ini terutama jelas terlihat

pada otot intrinsik tangan yang berjalan sepanjang persendian metacarpophalangeal, (MCP)

dan otot peroneus anterior yang berjalan sepanjang persendian talonavikularis pada arkus

pedis.

Deformitas persendian pada AR dapat terjadi akibat beberapa mekanisme yang

berhubungan dengan terjadinya sinovitis dan pembentukan pannus. Sinovitis akan

menyebabkan kerusakan rawan sendi dan erosi tulang periartikular sehingga menyebabkan

terbentuknya permukaan sendi yang tidak rata. Jika kerusakan rawan sendi terjadi pada daerah

yang luas dan imobilisasi berlangsung lama, akan terjadi fusi tulang-tulang yang membentuk

persendian. Lebih jauh pannus yang menginvasi jaringan kolagen serta proteoglikan rawan

sendi dan tulang dapat menghancurkan struktur persendian sehingga terjadi ankilosis.

Ligamen yang dalam keadaan normal berfungsi untuk mempertahankan kedudukan

persendian yang stabil dapat pula menjadi lemah akibat sinovitis yang menetap atau

pembentukan pannus yang memiliki kemampuan melarutkan kolagen tendon, ligamen atau

rawan sendi. Gangguan stabilitas dapat jelas terlihat pada subluksasio persendian MCP akibat

terjadinya perubahan arah gaya tarik tendon sepanjang aksis rotasi sehingga menyebabkan

terbentuknya deviasi ulnar yang khas dan AR.21

Walaupun peran sinovitis dalam menyebabkan deformitas persendian berlaku bagi

30 Vertebra Servikalis

Walaupun AR jarang melibatkan segmen vertebralis lainnya, vertebra servikalis

merupakan segmen yang sering terlibat pada AR. Proses inflamasi ini melibatkan persendian

diartrodial yang tidak tampak atau teraba oleh pemeriksaan. Gejala dini AR pada Vertebra

servikalis umumnya bermanifestasi sebagai kekakuan pada seluruh segmen leher disertai

dengan berkurangnya lingkup gerak sendi secara menyeluruh.21 Tenosinovitis ligamen transversum C1 yang mempertahankan kedudukan prosesus odontoid C2 dapat menyebabkan timbulnya gangguan stabilitas C1- C2. Mielopati dapat timbul akibat terjadinya erosi prosesus odontoin yang menyebabkan pengenduran dan ruptura ligamen sehingga menimbulkan

penekanan pada medulla spinalis. Gangguan stabilitas sendi akibat peradangan dan kerusakan

pada permukaan sendi apofiseal dan pengenduran ligamen juga dapat menyebabkan terjadinya

subluksasio yang sering dijumpai pada C4-C5 atau C5 -C6. Gelang Bahu

Peradangan pada gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu. Karena

dalam aktivitas sehari-hari gerakan bahu tidak memerlukan lingkup gerak yang luas, umumnya

pada keadaan dini pasien tidak merasa terganggu dengan keterbatasan tersebu. Walaupun

demikian, tanpa latihan pencegahan akan mudah terjadi kekakuan gelang bahu yang berat yang

disebut sebagai frozen shoulder syndrome.

Siku

Karena terletak superfisial, sinovitis artikulasio kubiti dapat dengan mudah teraba oleh

31 gejala neuropati tekanan. Gejala ini bermanifestasi sebagai parestesia jari 4 dan 5 akan

kelemahan otot fleksor jari 5.

Tangan

Berlainan dengan persendian distal interphalangeal (DIP) yang relatif jarang dijumpai,

keterlibatan persendian pergelangan tangan, MCP dan PIP hampir selalu dijumpai pada AR.

Gambaran swan neck deformities akibat fleksi kontraktur MCP, heperekstensi PIP dan fleksi DIP

serta boutonniere akibat fleksi PIP dan hiperekstensi DIP dapat terjadi akibat kontraktur otot

serta tendon fleksor dan interoseus merupakan deformitas patognomonik yang banyak

dijumpai pada AR

Selain gejala yang berhubungan dengan sinovitis, pada AR juga dapat dijumpai nyeri atau

disfungsi persendian akibat penekana nervus medianus yang terperangkap dalam rongga

karpalis yang mengalami sinovitis sehingga menyebabkan gejala carpal tunnel syndrome.

Walaupun jarang, nervus ulnaris yang berjalan dalam kanal Guyon dapat pula mengalami

penekanan dengan mekanisme yang sama.

AR dapat pula menyebabkan terjadinya tenosinovitis akibat pembentukan nodul

reumatoid sepanjang sarung tendon yang dapat menghambat gerakan tendon dalam

sarungnya. Tenosinovitis pada AR dapat menyebabkan terjadinya erosi tendon dan

mengakibatkan terjadinya ruptur tendon yang terlibat.

Panggul

Karena sendi panggul terletak jauh di dalam pelvis, kelainan sendi panggul akibat AR

32 mungkin hanya dapat terlihat sebagai keterbatasan gerak yang tidak jelas atau gangguan ringan

pada kegiatan tertentu seperti saat mengenakan sepatu. Walaupun demikian, jika destruksi

rawan sendi telah terjadi, gejala gangguan sendi panggul akan berkembang lebih cepat

dibandingkan gangguan pada persendian lainnya.

Lutut

Penebalan sinovial dan efusi lutut umumnya mudah dideteksi pada pemeriksaan. Herniasi

kapsul sendi kearah posterior dapat menyebabkan terbentuknya kista Baker. 10 Kaki dan Pergelangan Kaki

Keterlibatan persendian MTP, talonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran

yang khas AR. Karena persendian kaki dan pergelangan kaki merupakan struktur yang

menyangga berat badan, keterlibatan ini akan menimbulkan disfungsi dan rasa nyeri yang lebih

berat dibandingkan dengan keterlibatan ekstremitas atas. Peradangan pada sendi

talonavikularis akan menyebabkan spasme otot yang berdekatan sehingga menimbulkan

deformitas berupa pronasio dan eversio kaki yang khas pada AR. Walaupun jarang, nervue

tibialis posterior dapat pula mengalami penekanan akibat sinovitis pada rongga tarsalis (tarsal

tunnel) yang dapat menimbulkan gejala parestesia pada telapak kaki. 10 - Manifestasi ekstraartikular

Walaupun artritis merupakan manifestasi klinis utama, tetapi AR merupakan penyakit

sistemik sehingga banyak penderita juga mempunyai manifestasi ekstraartikular. Manifestasi

ekstraartikular pada umumnya didapatkan pada penderita yang mempunyai titer faktor

reumatoid (RF) serum tinggi. Nodul reumatoid merupakan manifestasi kulit yang paling sering

33 ditemukan di daerah ulna, olekranon. Nodul reumatoid hanya ditemukan pada penderita AR

dengan faktor reumatoid (sering titernya tinggi) dan mungkin dikelirukan dengan tofus gout,

kista ganglion, tendon xanthoma atau nodul yang berhubungan dengan demam reumatik,

lepra, MCTD, atau multicentric reticulohisyiocytosis. Manifestasi paru juga bisa di dapatkan,

tetapi beberapa perubahan patologik hanya ditemukan saat otopsi. Beberapa manifestasi

ekstraartikular seperti vaskulitis dan felty syndrome jarang ditemui, tetapi sering memerlukan

terapi spesifik. Manifestasi ekstraartikular AR dirangkum dalam tabel.

Tabel 2. Manifestasi ekstraartikular AR

Sistem organ Manifestasi

Konstitusional Demam, anoreksia, kelalahan, kelamahan,

limfadenopati.

Kulit Nodul reumatoid, accelerated rheumatoid

nodulosis, rheumatoid vasculitis, pyoderma

gangrenosum.

Mata Scleritis,episcleritis, keratoconjuncitivs

Kardiovaskular Pericarditis, efusi perikardial, edokarditis, valvulitis.

Paru-paru Pleuritis, efusi pleura, interstitial fibrosis, nodul reumatoid pada paru.

Hematologi Anemia penyakit kronik, trombositosis,

eosinofilia, syndrome felty

Gastrointestinal Xerostomia

Neurologi Entrapment neuropathy, myelopathy

Ginjal Amyloidosis, renal tubular acidosis,

interstital nephritis.

34 Penatalaksanaan 7, 12, 14, 19, 20

Dalam dokumen Rheumatoid Arthritis (Halaman 27-34)

Dokumen terkait