• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PENYELESAIAN SENGKETA WARIS ADAT PADA

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelaksanaan

1. Perubahan Masyarakat yang Mempengaruhi Hukum

Perubahan-perubahan yang kini berlangsung (sejak tahun 1961) dalam hal waris, sebenarnya merupakan kelanjutan dari prosesde-sakralisasi adat yang pernah terjadi pada masa yang lalu yaitu perempuan-perempuan Batak tidak lagi menerima

126Hasil wawancara dengan B. Hutagaol, Ketua Adat Batak Toba di kecamatan Medan Baru,

putusan waris secara hukum adat. Persamaan hak kini diperjuangkan sendiri oleh para perempuan melalui upayanya mendapatkan keadilan dalam hal waris. Pemerintah Indonesia melalui berbagai vonis pengadilan sebenarnya sudah mengakomodasi perjuangan perempuan Batak untuk mewujudkan keadilan. Banyaknya putusan- putusan yurisprudensi Mahkamah Agung yang dikeluarkan merupakan bukti upaya pemerintah mewujudnyatakan persamaan hak dan kedudukan antara anak laki-laki dan perempuan, putusan-putusan tersebut antara lain:

a. Yurisprudensi Mahkamah Agung No.136/K/SIP/1967, tanggal 31 Januari 1968, bahwa Mahkamah Agung telah membenarkan putusan Pengadilan Tinggi yang mempergunakan hukum adat Batak “Holong Ate” atas pembagian harta warisan di daerah Padang Sidempuan. Lembaga “Holong Ate” telah memberikan bagian warisan kepada anak perempuan lebih banyak atas pertimbangan kemajuan kedudukan dan hak perempuan di tanah Batak. Dalam putusan ini Mahkamah Agung juga mengatakan bahwa putusan tersebut tidak bertentangan dengan hukum dan karenanya menolak permohonan kasasi. Di sini Mahkamah Agung telah menunjukkan sikapnya bahwa sistem ataupun prinsip-prinsip yang dianut oleh masyarakat Batak Toba harus mulai lebih terbuka sesuai dengan hukum yang hidup di tengah masyarakat.

b. Yurisprudensi Mahkamah Agung No.415/K/SIP/1970, tanggal 30 Juni 1971, bahwa Mahkamah Agung di dalam pertimbangannya memperkuat kembali dengan mengatakan bahwa hukum adat di daerah Tapanuli juga telah berkembang ke arah pemberian hak yang sama kepada anak perempuan seperti anak laki-laki.

c. Yurisprudensi Mahkamah Agung No.284/K/SIP/1975, tanggal 2 November 1976, menyebutkan istri dan anak perempuan adalah ahli waris menurut hukum adat waris baru. Hukum adat waris baru menunjukkan pertumbuhan hukum adat ke arah persamaan hak antara anak laki-laki dan perempuan. d. dan masih banyak lagi putusan-putusan yang menguatkan persamaan hak

waris antara anak perempuan dan laki-laki.

Upaya hakim mewujudkan persamaan hak waris bagi perempuan dengan mengabaikan substansi hukum adat, menciptakan yurisprudensi, yang mengacu pada UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 berkaitan dengan harta bersama, dan merumuskan

putusan yang baru, dapat dipandang sebagai proses de-sakralisasi terhadap adat Batak juga.127

Hal ini juga didukung oleh Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 yang menganut sistem kekeluargaan parental yang memberikan kedudukan sejajar antara perempuan terhadap laki-laki, yang telah mengatur keseimbangan hak dan kedudukan antara suami dan istri dalam masyarakat yakni:

1. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat.

2. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum. 3. Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Peranan kaum wanita sejak dahulu sudah dapat terlihat di dalam masyarakat baik dalam lapangan keagamaan, lapangan ekenomi, pertanian, perdagangan, dan juga banyak wanita yang dengan gagah berani telah menunjukkan jiwa kepahlawanannya. Demikian pula dalam hal perundingan-perundingan adat, sering sekali suara seorang perempuan justru menentukan, atau paling tidak mempengaruhi keputusannya, baik dalam hal perkara perdata maupun dalam perkara pidana. Akan tetapi walau bagaimana pun masalah tinggi rendahnya kedudukan seorang wanita dalam pergaulan di masyarakat, dapatlah kiranya dilihat dari peranan yang dipegangnya di dalam masyarakat. Selain itu sistem sosial suatu masyarakat juga sangat menentukan sejauhmana wanita diberi kesempatan untuk melaksanakan peranannya. Berkaitan dengan hal di atas hendaknya masalah status hak dan

127Hasil wawancara dengan Serliwaty, Hakim Pengadilan Negeri Medan, pada tanggal 5 Juni

kewajiban seorang wanita tidak terlepas dari masyarakat, adat istiadat, dan norma- norma yang berlaku di dalam sistem sosialnya.

Selanjutnya dalam Seminar Hukum Nasional pada tahun 1963 yang menghasilkan “Dasar-dasar dan Azas-azas tata hukum” disimpulkan bahwa:

“Hakim membimbing perkembangan hukum tidak tertulis melalui yurisprudensi ke arah keseragaman hukum yang seluas-luasnya dan dalam bidang hukum keluarga ke arah sistem parental”.

Hasil seminar tersebut di atas dipertegas lagi dalam Seminar Hukum Adat di Yogyakarta pada tahun 1975 tentang keputusan mengenai hukum adat dalam yurisprudensi yang menyimpulkan:

“Hendaklah hukum adat kekeluargaan dan kewarisan lebih dikembangkan ke arah hukum yang bersifat parental yang memberikan kedudukan sederajat antara laki-laki dan perempuan”.

Artinya, yaitu anak laki-laki dan anak perempuan sama-sama berhak atas harta warisan, dengan bagian anak perempuan sama dengan bagian anak laki-laki. Dari uraian di atas, kita dapat disimpulkan beberapa faktor yang menyebabkan perubahan identitas di Kecamatan Medan Baru adalah :

Pertama ialah perubahan kultural, yang terjadi dalam masyarakat Batak Toba karena pertemuannya dengan kultur dari luar. Unsur-unsur tertentu dari kultur lain - Hindu, Budha, Kekristenan, kolonisasi dan nasionalisme - diterima dan disesuaikan dengan dengan masyarakat Batak Toba sedemikian sehingga unsur-unsur itu menjadi

bagian dari identitas orang Batak Toba sendiri. Pada waktu yang sama mereka menggunakan hal itu sebagai sarana untuk maju.128

Semua pengaruh dari luar ini ikut serta menentukan identitas orang Batak Toba di Kecamatan Medan Baru, pengaruh-pengaruh luar dan perkembangan dari dalam maka masyarakat Batak Toba mempunyai ciri khas, yaitumarga, huta, dalihan natolu,danadat. Marga membentuk suatu kesatuan berdasarkan garis keturunan laki- laki. Huta merupakan kelompok masyarakat dalam komunikasi kecil berdasarkan marga. Dalihan natolu adalah relasi kekeluargaan berdasarkan perkawinan. Ketiga unsur ini membentuk struktur masyarakat Batak Toba. Dan adat merupakan pengungkapan kultur mereka.129

Kedua, orang Batak Toba di Kecamatan Medan Baru masuk ke dalam situasi kultural yang pluralis dan heterogen. Migrasi ini mengakibatkan perubahan identitas pada orang Batak Toba Kecamatan Medan Baru. Mereka berpindah dari kampung mereka di pedalaman Sumatera Utara dan hidup di Medan, di mana situasi kehidupan sama sekali baru untuk mereka. Mereka meninggalkan daerah asal mereka yang mono-kultur (Batak-Toba) dan lingkungan kampung tradisional lalu masuk ke dalam lingkungan metropolis dan masyarakat pluralis baik etnis maupun kulturnya. Mereka beralih dari masyarakat agraris di kampung kepada masyarakat industri di kota Medan. Di kampung komunitas mereka adalah paling banyak Batak tetapi di Medan

128Hasil wawancara dengan Mopul B.S, Camat di Kecamatan Medan Baru, pada tanggal 5

Mei 2014, pukul 10.00 WIB

129Hasil Wawancara dengan Jan Peter Sitanggang, Ketua Adat Suku Batak Toba di

mereka menjadi kelompok minoritas dan harus menyesuaikan diri dengan kultur kota dimana semua kelompok etnis lain yang ada di sana.130

Ketiga, di Kecamatan Medan Baru orang Batak Toba mempunyai jenis lingkungan kegiatan yang lebih banyak dibandingkan dengan kampung halaman. Kehidupan kota menawarkan jauh lebih banyak lingkungan kegiatan daripada di kampung. Di kampung orang Batak Toba hanya ada lingkungan kegiatan dalam keluarga dan itu berdasarkan keturunan marga, komunitas huta dan hubungan perkawinan(dalihan natolu).131Pada umumnya setiap orang saling mengenal, karena anggota komunitasnya sedikit dan mereka terikat satu sama lain karena hubungan darah atau perkawinan. Sedangkan di Kecamatan Medan Baru terutama selain lingkungan kerabat berlaku relasi pribadi seperti lingkungan kerja, organisasi, perkumpulan marga, dan lain-lain. Luasnya dan banyaknya jenis lingkungan kegiatan seseorang tergantung dari banyaknya kegiatan pribadi.132

Keempat masyarakat Batak Toba di Kecamatan Medan Baru adalah masyarakat yang kultur pluralis, di mana tidak ada kultur yang dominan.133 Tiap kelompok memperkuat identitas etnisnya dengan sebanyak mungkin terlibat dalam kegiatan kultur sendiri dan hanya sedikit berkontak dengan kelompok etnis lain.

130Hasil wawancara dengan Mopul B.S, Camat di Kecamatan Medan Baru, pada tanggal 5

Mei 2014, pukul 10.00 WIB

131Hasil Wawancara dengan Jan Peter Sitanggang, Ketua Adat Suku Batak Toba di

Kecamatan Medan Baru, tanggal 14 Mei 2014, pukul 14.00 WIB

132Hasil wawancara dengan Mopul B.S, Camat di Kecamatan Medan Baru, pada tanggal 5

Mei 2014, pukul 10.00 WIB

Orang Batak Toba di Medan memperkuat identitas etnis mereka melalui famili, perkumpulan marga, ritus adat dan agama.

Kelima, dalam hal ini perubahan posisi wanita karena mereka menyesuaikan diri dengan situasi kota, mengenal arus modernisasi yang memperlakukan hak laki- laki dan wanita sama maka kaum wanita Batak Toba berusaha untuk menuntut hak mereka melalui hukum negara melawan hukum waris adat, hal ini didukung juga dengan lahirnya yurisprudensi sesuai dengan nilai-nilai yang hdup dalam masyarakat.134

Apabila orang Batak Toba yang sukses di Medan kembali menghidupkan tradisi lama tentang penghormatan nenek moyang, bukan terutama untuk mempertahankan adat kebiasaan lama tetapi untuk memperkuat 'image' mereka sekarang ini. Dengan itu mereka menunjukkan diri sebagai migran yang sukses dan menegaskan kehormatan orang Batak Toba baik di Medan maupun di kampung halaman.

Dokumen terkait