“Mengubah sesuatu tidak selalu meng- gantikannya dengan yang lain ”
Kenapa Perlu Perubahan?
Indonesia merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak diinginkan oleh beragam wisatawan dari berbagai belahan dunia. Berdasarkan data BPS (2013:111), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat dari ± 6,3 juta wisatawan pada tahun 2009 menjadi ± 8 juta wisata- wan pada tahun 2012. OECD (2012:375) juga mencatat pertum- buhan wisatawan domestik yang bermalam di hotel sebesar 234 juta orang pada tahun 2010 atau tumbuh sekitar 14.71 % dari tahun 2006. Untuk periode 2004-2010, PDB dari industri pari- wisata meningkat sekitar 120 persen atau sekitar 196.18 triliun pada tahun 2010 (Ditjen PDP 2012:44).
Perkembangan pariwisata memang memberikan dampak positif pada perekonomian secara makro, namun juga seringkali ditemui dampak sosial dan ekologis yang cenderung bersifat negatif. Ditjen PDP (2012:104) mengakui bahwa pariwisata belum memberikan dampak yang cukup signifikan pada masya- rakat. Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Wood (2002:7) bahwa pertumbuhan pariwisata dapat memberikan ancaman signifikan pada budaya dan biodiversitas.
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
58
Pergeseran paradigma pariwisata massal ke pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) merupakan bentuk respon terhadap dampak negatif tersebut. Mowforth dan Munt (1998:3- 5) menjelaskan pergeseran tersebut dalam 3 isu utama, yaitu pembangunan yang tidak merata dan tidak adil, hubungan kekuasaan, dan globalisasi.
Dalam konteks permasalahan tersebut, Indonesia seharusnya mengubah paradigma pembangunan kepariwisata- annya. Namun jika kita memperhatikan Rencana Induk Pem- bangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) tahun 2010- 2025, perubahan yang diinginkan belum terelaborasi secara baik. Ekowisata sebagai konsep ramah lingkungan belum mendapatkan perhatian yang memadai. Kita perlu mendeliniasi kekuatan dan peluang pengembangannya untuk menghadapi ancaman dan kelemahan dalam penyelenggaraan pariwisata nasional.
Kekuatan dan Peluang Ekowisata
Keunggulan komparatif dan kompetitif objek dan daya tarik wisata (ODTW) merupakan kekuatan terbesar Indonesia dalam pengembangan wisata pada umumnya dan ekowisata pada khususnya. Indonesia kaya dengan atraksi alam dan budaya karena tingginya keanekaragaman hayati dan keragaman lanskap, selain itu, menurut Henderson (2009:201), Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17,000 pulau. Daya tarik wisata buatan juga sangat banyak, yang sebagian besar merupakan warisan-warisan bersejarah.
Industri pariwisata Indonesia juga berkembang dengan baik. Operator wisata tumbuh cukup pesat baik berskala lokal,
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
59
nasional, maupun internasional. Beberapa operator wisata ternyata memiliki kepedulian terhadap konservasi kawasan. Contohnya, menurut Steenbergen (2013:208), operator wisata menyelam di Raja Ampat Papua mampu menempatkan diri sebagai pembela masyarakat lokal melawan kegiatan illegal fishing dan pengrusakan habitat.
Kecenderungan peningkatan jumlah wisatawan domestik sangat potensial dalam peningkatan pendapatan bagi usaha wisata, termasuk optimalisasi manfaat bagi konservasi dan masyarakat lokal. Menurut Fajarwati (2012) dalam Hengky (2013:123), industri pariwisata Indonesia mencapai 123 juta wisatawan pada tahun 2011 dan jumlah transaksinya mencapai sekitar 16.35 milyar USD (Faried 2011 dalam Hengky 2013:123).
Tingginya minat wisatawan mancanegara terhadap ODTW yang dimiliki Indonesia merupakan peluang yang perlu ditangkap oleh pelaku wisata nasional dan lokal. Penyebaran paket-paket wisata di berbagai media informasi merupakan salah satu upaya promosi wisata yang penting dimanfaatkan. Media informasi yang paling diminati oleh wisatawan mancanegara adalah internet sebesar 68.71% dan leaflet/brosur sebesar 43.33% responden (PES 2012 dalam Ditjen PDP 2012:50) dikuti oleh TV sebesar 18.15% dan buku sebesar 15.77 persen.
Kelemahan dan Ancaman bagi Ekowisata
RIPPARNAS 2010-2025 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2011 belum mampu mengedepankan ekowisata sebagai paradigma kepariwisataan di Indonesia. Hengky (2013:126) telah menyarankan pemerintah
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
60
untuk mendukung pariwisata berkelanjutan seperti wisata ka- wasan sakral Mbah Kyai Talka and Keramat Tukmudal di Jawa, serta
Adam (1997:318) yang mendorong pemerintah untuk mening- katkan kapasitas masyarakat Tana Toraja dalam pengembangan wisata etnik. Hengky (2011:88-89) juga menilai tidak adanya peran pemerintah dalam menjaga kawasan wisata pantai Anyer dari pembangunan berbagai hotel yang dinilai merusak nilai kawasan itu sendiri.
Infrastruktur wisata Indonesia juga sering menjadi kelemahan utama dalam mendorong pengembangan ekowisata. Contohnya, Kuffel (1993:18) menyoroti kelemahan Pemerintah Batam sebagai destinasi wisata pada waktu dulu akibat kurang mampu menyediakan air bersih. Henderson (2009:206) juga menyebutkan bahwa sistem transportasi yang efisien sangat fundamental bagi keberhasilan pengembangan destinasi wisata secara berkelanjutan dan Indonesia dianggap kurangan memiliki biaya untuk investasi pengembangan transportasi publik.
Persepsi yang tidak seragam terhadap ekowisata sebagai konsep pariwisata ramah lingkungan dapat menjadi penghambat pengembangan ekowisata itu sendiri. Meskipun Hakim et al. (2011:91) telah menghitung nilai ekonomi ekowisata di Rawapening, namun prakteknya seringkali kurang sesuai dengan prinsip-prinsip ekowisata itu sendiri. Buktinya, Walpole dan Goodwin (2001:160) telah mengemukakan adanya ketidakadilan distribusi ekonomi di Kawasan Taman Nasional Komodo.
Ancaman kerusakan ODTW alami juga dapat meng- hambat pengembangan ekowisata. Dari sisi sumber daya hutan saja, menurut Kemenhut (2012:20), tutupan hutan primer Indonesia diperkirakan hanya tinggal 46.5 juta ha dari sekitar
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
61
130 juta ha luas kawasan hutan di Indonesia. Perilaku negatif wisatawan juga dapat mengancam keberlanjutan ekowisata seperti perilaku wisata seks yang tidak sesuai dengan norma- norma lokal sebagaimana diulas oleh William et al. (2008:77- 97) dan Demartoto (2013:93-102). Perilaku negatif juga seringkali diperlihatkan oleh pengelola kawasan dan masyarakat itu sendiri.
Analisis SWOT untuk Strategi Ekowisata
Berdasarkan faktor pendorong dan penghambat pengembangan ekowisata di Indonesia seperti diulas di atas, maka Tabel 1 menyajikan pilihan alternatif strategi yang dapat diambil. Pilihan-pilihan tersebut disesuaikan dengan konsep dan prinsip ekowisata itu sendiri. Strategi-strategi dirumuskan dengan mengkombinasikan kekuatan dan peluang dengan kelemahan dan ancaman.
Berdasarkan analisis SWOT tersebut di atas, kita menawarkan 8 strategi yang harus dijalankan. Strategi-strategi tersebut adalah: (1) Pengembangan ekowisata partisipatif, (2) Mendorong kebijakan dan politik keberpihakan, (3) Penerapan ecolabelling dan ecocertification secara konsisten, (4) Penguatan nilai-nilai dan partisipasi lokal, (5) Pemasaran ekowisata terintegrasi, (6) Metamorfosis mass tourism dan jenis wisata lainnya menjadi berkonsep ekowisata, (7) Kampanye ekowisata bertanggung jawab, dan (8) Evaluasi bersama dan transparan.
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
62
Tabel 8.1. Analisis SWOT Pengembangan Ekowisata
Faktor Penghambat Faktor Pendorong Kelemahan (Weaknesses) 1. Kurangnya dukungan kebijakan 2. Infrastruktur buruk 3. Pengetahuan terhadap ekowisata lemah Ancaman (Threats) 1.Kerusakan ODTW 2.Budaya konsumtif 3.Perilaku negatif Kekuatan (Strengths) 1. Potensi ODTW (alam, budaya, dan buatan) tinggi 2. Banyaknya operator Wisata 3. Wisatawan domestik yang banyak STRATEGI S-W 1.Pengembangan ekowisata partisipatif 2.Mendorong
kebijakan dan politik keberpihakan STRATEGI S-T 1.Penerapan ecolabelling dan ecocertification secara konsisten 2.Penguatan nilai-
nilai dan partisipasi lokal Peluang (Opportunities) 1. Minat Wisatawan mancanegara tinggi 2. Perkembangan media
3. Banyak event inter- nasional STRATEGI O-W 1.Pemasaran ekowisata terintegrasi 2.Metamorfosis mass
tourism dan jenis wisata lainnya menjadi berkonsep ekowisata STRATEGI O-T 1.Kampanye ekowisata bertanggung jawab 2.Evaluasi bersama dan transparan Kesimpulan
Komitmen politik yang kuat untuk mendorong ekowisata sangat diperlukan dalam mengubah paradigma kepariwisataan nasional. Perubahan tersebut harus disesuaikan dengan kompo- nen prinsip ekowisata itu sendiri. Menurut Wood (2002:10),
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
63
komponen ekowisata itu adalah: (1) kontribusi terhadap kon- servasi biodiversitas, (2) keberlanjutan kesejahteraan masyara- kat lokal, (3) mencakup interpretasi/pengalaman pembelajaran, (4) melibatkan tindakan bertanggung jawab dari wisatawan dan industri pariwisata, (5) berkembangnya usaha skala kecil, (6) menggunakan sumber daya baru dan terbarukan, dan (7) fokus pada partisipasi masyarakat, kepemilikan, dan kesempatan usa- ha, khususnya bagi masyarakat pedesaan. Strategi-strategi yang dikembangkan berdasarkan analisis SWOT merupakan repre- sentasi dari kombinasi komponen ekowisata tersebut.
Daftar Pustaka
Adams KM. 1997. Ethnic tourism and the renegotiation of tradition in Tana Toraja (Sulawesi, Indonesia). Ethnology. 36(4):309-319.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia: Agustus 2013. Jakarta. Badan Pusat Statistik.
Demartoto A. 2013. The existence and the effect of sex tourism habitus in Bandungan, Central Java, Indonesia. Asian Social Science. 9(15):93-102.
[Ditjen PDP] Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata. 2012. Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata (PDP) 2012-2014. Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekono- mi Kreatif.
Hakim AR, Subanti S, dan Tambunan M. 2011. Economic valuation of nature-based tourism object in Rawapening,
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
64
Indonesia: An application of travel cost and contingent valuation method. Journal of Sustainable Development. 4(2):91-101.
Henderson J. 2009. Transport and tourism destination development: An Indonesian perspective. Tourism and Hospitality Research. 9(3):199–208.
Hengky SH. 2011. Improving coastal tourism business compe- titiveness: Using ecotourism’s concept to explore to po- tential of coastal tourism business Pandeglang and Serang Districts, Banten, West Java, Indonesia. International Journal of Business and Social Science. 2(11): 87-90. Hengky SH. 2013. Envisaged the potential of sustainable
sacred tourism in Java Indonesia. International Journal of Business and Social Science. 4(12):123-127.
[Kemenhut] Kementerian Kehutanan. 2012. Statistik Kehu- tanan Indonesia. Jakarta. Kemenhut.
Kuffel C. 1993. Indonesia: Batam turns attention to tourism. Asian Business. 29(2):18.
Mowforth M dan Munt I. 1998. Tourism and Sustainability: New Tourism in the Third World. London. Routledge. [OECD] Organization for Economic Cooperation and
Development. 2012. Tourism Trends and Policies. Paris. OECD.
Steenbergen DJ. 2013. The role of tourism in addressing illegal fishing: The case of a dive operator in Indonesia. Contem- porary Southeast Asia. 35(2):188-214.
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana
65
Walpole MJ dan Goodwin HJ. 2001. Local attitudes towards conservation and tourism around Komodo National Park, Indonesia. Environmental Conservation. 28 (2):160– 166.
Williams S, Lyons L, dan Ford M.. 2008. It's about bang for your buck, bro: Singaporean men's online conversations about sex in Batam, Indonesia Asian Studies Review. 32(1):77-97.
Wood ME. 2002. Ecotourism: Principles, Practices, and Poli- cies for Sustainability. Paris. United Nation Environment Programme.
Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan: Dimulai dari Konsep Sederhana