HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis dan Pengujian Hipotesis 1.Analisis Shift Share
4.2.2. Perubahan PDRB Menurut Harga Konstan Kabupaten Gresik
Pendekatan pengembangan wilayah dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan pola dan struktur ruang nasional melalui pendekatan kawasan strategik (Witoelar, 2000; Kuncoro, 2002). Kawasan strategik atau kawasan andalan merupakan kawasan yang ditetapkan sebagai penggerak perekonomian
wilayah (prime mover) yang memiliki kriteria sebagai kawasan yang cepat
tumbuh dibandingkan daerah lainnya dalam suatu provinsi, memiliki sektor unggulan dan memiliki keterkaitan ekonomi dengan daerah sekitar (Kuncoro, 2002 : 216). Beriktu adalah gambaran PDRB kabupaten Gresik.
Tabel 4.1. Perubahan PDRB Menurut Harga Konstan Kabupaten Gresik Tahun 2006-2007 Berdasarkan Urutan Tertinggi
JAWA TIMUR GRESIK Δ Gresik
No SEKTOR 2006 2007 2006 2007 2007-2006 1 Pertanian Rp. 48,486,277.60 Rp.47,924,973.38 Rp.1,236,419.19 Rp.1,253,646.39 Rp.17,227.20 2 Pertambangan dan Penggalian Rp.5,455,159.57 Rp. 6,024,793.19 Rp.480,571.38 Rp.483,363.67 Rp.2,792.29 3 Industri Pengolahan Rp.72,786,972.17 Rp.76,163,917.97 Rp.6,003,889.76 Rp.6,355,143.71 Rp.351,253.95 4 Listrik, Gas dan Air Bersih Rp.4,610,041.67 Rp.5,154,634.88 Rp. 612,002.60 Rp.667,009.13 Rp.55,006.53 5 Konstruksi Rp.9,030,294.53 Rp.913,600.65 Rp.6.02 Rp.5.79 Rp.(0.23) 6 Perdagangan, Hotel, Restaurant Rp.81,715,963.35 Rp.88,570,614.49 Rp.21.59 Rp.22.89 Rp.1.30 7 Pengangkutan dan Komunikasi Rp.15,504,939.79 Rp.16,710,214.85 Rp.2.98 Rp.3.13 Rp.0.15 8 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Rp.13,611,228.97 Rp.14,763,619.88 Rp.3.27 Rp.3.11 Rp. (0.16) 9 Jasa-Jasa Rp. 22,048,439.04 Rp.2,334,381,462.00 Rp.1.98 Rp.2.00 Rp. 0.02 JUMLAH Rp.273,249,316.69 Rp.2,590,607,831.29 Rp 8,332,918.77 Rp 8,759,199.82 Rp.426,281.05 Sumber : BPS, 2009
Berdasarkan data tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa, perubahan perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Gresik, diketahui
60
bahwa dari analisis sektoral diketahui untuk tahun 2006-2007, perkembangan PDRB terbesar selama periode tahun 2006-2007 adalah pada sektor perdagangan, hotel dan restauran Gresik yang paling rendah ada di sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar Rp.81,715,963.35.
Sedangkan perkembangan PDRB di kabupaten Gresik yang paling rendah ada pada sektor Listrik, gas dan air bersih yaitu Rp.4,610,041.67, atau mengalami
penurunan sebesar Rp.77,105,921.68 dibanding perkembangan PDRB kabupaten
tahun sebelumnya.
Tabel 4.2. Perubahan PDRB Menurut Harga Konstan Kabupaten Gresik Tahun 2006-2007 Berdasarkan Perkembangan (%)
GRESIK No SEKTOR 2006 2007 Δ 2007-2006 % 1 Pertanian Rp.1,236,419.19 Rp.1,253,646.39 Rp.17,227.20 1.01 2 Pertambangan dan Penggalian Rp. 480,571.38 Rp.483,363.67 Rp.2,792.29 1.01 3 Industri Pengolahan Rp.6,003,889.76 Rp 6,355,143.71 Rp.351,253.95 1.06
4 Listrik, Gas dan Air Bersih Rp.612,002.60 Rp. 667,009.13 Rp.55,006.53 1.09
5 Konstruksi Rp. 6.02 Rp. 5.79 Rp. (0.23) 0.96 6 Perdagangan, Hotel, Restaurant Rp.21.59 Rp.2.89 Rp.1.30 1.06 7 Pengangkutan dan Komunikasi Rp.2.98 Rp.3.13 Rp.0.15 1.05 8
Keuangan, Persewaan dan
Jasa Perusahaan Rp.3.27 Rp.3.11 Rp.(0.16) 0.95
9 Jasa-Jasa Rp.1.98 Rp.2.00 Rp. 0.02 1.01 JUMLAH Rp. 8,332,918.77 Rp.8,759,199.82 Rp.426,281.05
Sumber: BPS,2009.
Berdasarkan data tabel di atas, maka dapat diketahui bahwa, perubahan perkembangan PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Gresik, diketahui bahwa dari analisis sektoral untuk tahun 2006-2007 dapat diketahui, perkembangan PDRB terbesar selama periode tahun 2006-2007 adalah pada sektor perdagangan, hotel dan restauran Gresik sebesar 10,6% yang paling rendah
61
Teknik analisis dibagi menjadi 3 komponen utama, yaitu bangsa regional, pergeseran proposional dan pengeseran yang berbeda, maka persamaan (1) dapat diperluas menjadi:
+ Q ………. (2)
PRij = ……… (3)
Dimana
Yt = PDRB Kabupaten periode tahun t
Yo = PDRB Kabupaten pada periode tahun dasar
Qi = PDRB Kabupaten sektor i pada tahun t
Qio = PDRB Kabupaten sektor i pada tahun dasar
Qijt = PDRB kecamatan pada tahun t
Qijt = PDRB kecamatan pada tahun dasar
Dari hasil perhitungan tersebut dapat diartikan bahwa bila :
1) PR < ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung
mendorong pertumbuhan kabupaten.
2) PR > ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung akan
menghambat pertumbuhan kabupaten.
Selanjutnya berikut akan dikemukakan hasil analisis shift share per kecamatan di Kabupaten Gresik, dalam bentuk tabulasi adalah sebagai berikut:
62
Tabel 4.3. Perhitungan Nasional Share Kabupaten Gresik
Δ Gresik 2007-2006 No
SEKTOR Perhitungan Nasional
Share Hasil
1 Pertanian Rp. (694,008,545,455.17) Rp.17,227.20 -
2 Pertambangan dan Penggalian Rp.273,749,134,286.42 Rp. 2,792.29 +
3 Industri Pengolahan Rp. 20,274,804,304,805.20 Rp. 351,253.95 +
4 Listrik, Gas dan Air Bersih Rp.333,291,848,459.75 Rp. 55,006.53 +
5 Konstruksi Rp.(48,862,503.18) Rp. (0.23) -
6 Perdagangan, Hotel, Restaurant Rp.147,991,896.52 Rp.1.30 +
7 Pengangkutan dan Komunikasi Rp. 3,591,716.70 Rp. 0.15 -
8
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan Rp 3,768,315.01 Rp.(0.16) -
9 Jasa-Jasa Rp. 4,578,419,383.48 Rp. 0.02 -
JUMLAH Rp.20,192,521,650,904.70 Rp 426,281.05 Sumber: BPS,2009. data diolah
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan metode analisis shift share
diketahui bahwa dari sembilan sektoral Daerah kabupaten Gresik, diketahui kontribusi PDRB dari tiap sektoral yang mendorong pertumbuhan ekonomi di Daerah Tingkat II kabupaten Gresik terdapat, untuk lebih jelasnya akan dikemukakan datanya adalah sebagai berikut:
1. Sektor Pertanian memiliki nilai PR < ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di
daerah tersebut cenderung mendorong pertumbuhan kabupaten, dimana
diketahui nilai P.R: (694,008,545,455.17) < ∆Q 17,227.20. Sektor ini
merupakan faktor yang menunjang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
2. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki nilai PR < ∆Qtij maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.R: 273,749,134,286.42 >
∆Q 2,792.29. untuk. Sektor ini merupakan faktor yang menunjang
63
3. Sektor industri pengolahan memiliki nilai PR < ∆Qtij maka pertumbuhan
produksi di daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten,
dimana diketahui nilai P.R: 20,274,804,304,805.20 > ∆Q Rp. 351,253.95.
untuk. Sektor ini merupakan faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
4. Sektor listrik, gas dan air bersih memiliki nilai PR < ∆Qtij maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.R:333,291,848,459.75 >
∆Q 55,006.53 untuk. Sektor ini merupakan faktor yang menghambat
pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
5. Sektor konstruksi memiliki nilai PR < ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di
daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana
diketahui nilai P.R: (48,862,503.18) > ∆Q (0.23), untuk. Sektor ini
merupakan faktor yang menunjang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
6. Sektor perdagangan, hotel dan restauran memiliki nilai PR < ∆Qtij maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.R:147,991,896.52 >∆Q
1.30, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
7. Sektor pengankutan dan komunikasi memiliki nilai PR < ∆Qtij maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
64
untuk. Sektor ini merupakan faktor yang menunjang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dan komunikasi memiliki
nilai PR < ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung
menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.R:
3,768,315.01 > ∆Q 0,02, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang
menunjang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
9. Sektor jasa-jasa memiliki nilai PR < ∆Qtij maka pertumbuhan produksi di
daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana
diketahui nilai P.R: 4,578,419,383.48 > ∆Q 0,02, untuk. Sektor ini
merupakan faktor yang menunjang pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik.
Bagaimanapun juga sektor pertanian, konstruksi, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta jasa-jasa menjadi penyumbang value added yang terbesar, karena sektor tersebut merupakan sektor yang potensial dalam pengembangan Kabupaten Gresik. Pada kondisi normal, sektor indutri tumbuh secara lebih cepat dibanding pertanian, namun dalam kondisi tertentu sektor industri terkontraksi juga jauh lebih cepat dibanding penurunan sektor pertanian. Dalam hal ini, juga terjadi pergeseran struktur terbalik, seakan struktur ekonomi kembali kepada struktur lima tahun yang lalu. Pergeseran struktur ekonomi terus terjadi sejak tahun 1993 ke tahun 1997 naik tahun 1998 dan selanjutnya mengalami penurunan hingga tahun 2007, khususnya dari kelompok sektor primer ke kelompok sektor sekunder begitu juga kondisi
65
sektor sekunder begitu juga kondisi Jawa Timur. Sektor primer pada tahun 2003 mengalami penurunan hingga tahun 2007.
Tabel 4.3. Perhitungan Proportional Share Kabupaten Gresik
No SEKTOR Proportional Share Hasil
1 Pertanian Rp 694,006,747,731.76 +
2 Pertambangan dan Penggalian Rp (273,749,045,224.18) +
3 Industri Pengolahan Rp (20,274,806,931,749.20) +
4 Listrik, Gas dan Air Bersih Rp (333,291,915,869.14) +
5 Konstruksi Rp 40,745,803.28 +
6 Perdagangan, Hotel, Restaurant Rp (141,137,266.97) +
7 Pengangkutan dan Komunikasi Rp (2,386,444.62) +
8
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan Rp (2,615,927.37) +
9 Jasa-Jasa Rp (2,266,086,362.50) +
JUMLAH Rp (20,190,212,625,308.90) Sumber: data diolah
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan metode analisis shift share
dengan propotional share diketahui bahwa dari sembilan sektoral Daerah
kabupaten Gresik, diketahui kontribusi PDRB dari tiap sektoral yang mendorong pertumbuhan ekonomi di Daerah Tingkat II kabupaten Gresik terdapat, untuk lebih jelasnya akan dikemukakan datanya adalah sebagai berikut:
1. Sektor Pertanian memiliki nilai PS > 0 maka pertumbuhan produksi di daerah
tersebut cenderung mendorong pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui
nilai P.S 694,006,747,731.76 > 0. Sektor ini merupakan pertumbuhannnya
relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi, sektor ini memiliki nilai
propotinal share yang tinggi diantara sektor yang lain.
2. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki nilai PS < 0 maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
66
untuk. Sektor ini merupakan faktor yang pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi
3. Sektor industri pengolahan memiliki nilai PS < 0 maka pertumbuhan produksi
di daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana
diketahui nilai P.S: (20,274,806,931,749.20) < 0. untuk. Sektor ini
pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi.
4. Sektor listrik, gas dan air bersih memiliki nilai PS < 0 maka pertumbuhan
produksi di daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten,
dimana diketahui nilai P.S: (333,291,915,869.14) < 0 untuk. Sektor ini
merupakan faktor pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi
5. Sektor konstruksi memiliki nilai PS > 0 maka pertumbuhan produksi di daerah
tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui
nilai PS: 40,745,803.28 > 0, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang
pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi
6. Sektor perdagangan, hotel dan restauran memiliki nilai PS < 0 maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat
pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.S: (141,137,266.97) < 0,
untuk. Sektor ini merupakan faktor yang pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi
7. Sektor pengankutan dan komunikasi memiliki nilai PS < 0 maka pertumbuhan
67
dimana diketahui nilai P.S: (2,386,444.62) < 0, untuk. Sektor ini merupakan
faktor yang pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dan komunikasi memiliki
nilai PS < 0 maka pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui nilai P.S:
(2,615,927.37) < 0, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang pertumbuhannnya
relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi.
9. Sektor jasa-jasa memiliki nilai P.S < 0 maka pertumbuhan produksi di daerah
tersebut cenderung menghambat pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui
nilai P.S: (2,266,086,362.50) < 0, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang
pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi.
Tabel 4.4. Perhitungan Differensial Share Kabupaten Gresik
No
SEKTOR
Differensial Share Hasil
1 Pertanian Rp 694,008,562,682.37 +
2 Pertambangan dan Penggalian Rp (273,749,131,494.13) +
3 Industri Pengolahan Rp (20,274,803,953,551.30) +
4 Listrik, Gas dan Air Bersih Rp (333,291,793,453.22) +
5 Konstruksi Rp 48,862,502.95 +
6 Perdagangan, Hotel, Restaurant Rp (147,991,895.22) +
7 Pengangkutan dan Komunikasi Rp (3,591,716.55) +
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan Rp (3,768,315.17) -
9 Jasa-Jasa Rp (4,578,419,383.46) +
JUMLAH Rp (20,192,521,224,623.70) Sumber :BPS,2009, data diolah
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan metode analisis shift share
dengan differensial share diketahui bahwa dari sembilan sektoral Daerah
kabupaten Gresik, diketahui kontribusi PDRB dari tiap sektoral yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat daripada sektor lainnya di Daerah Tingkat II
68
kabupaten Gresik terdapat, untuk lebih jelasnya akan dikemukakan datanya adalah sebagai berikut:
1. Sektor Pertanian memiliki nilai DS < 0 maka pertumbuhan produksi di daerah
tersebut cenderung mendorong pertumbuhan kabupaten, dimana diketahui
nilai P.R:694,006,747,731.76> 0. Sektor ini pertumbuhannnya relatif cepat
dibandingkan sektor yang lain.
2. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki nilai DS < 0 maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung mendorong pertumbuhan
kabupaten, dimana diketahui nilai DS: (273,749,131,494.13) < 0. untuk. Sektor
ini merupakan faktor yang pertumbuhannnya relatif lebih cepat.
3. Sektor industri pengolahan memiliki nilai DS < 0 maka pertumbuhan produksi
di daerah tersebut cenderung menunjang pertumbuhan kabupaten, dimana
diketahui nilaiDS: (20,274,803,953,551.30) < 0. untuk. Sektor ini
pertumbuhannnya relatif lebih cepat dibandingkan sektoral lainnya di kabupaten Gresik
4. Sektor listrik, gas dan air bersih memiliki nilai DS < 0 maka pertumbuhan
produksi di daerah tersebut cenderung menunjang pertumbuhan kabupaten,
dimana diketahui nilai DS: (333,291,793,453.22) < 0 untuk. Sektor ini
pertumbuhannnya relatif lebih cepat dibandingkan sektoral lainnya di kabupaten Gresik
5. Sektor konstruksi memiliki nilai DS > 0 maka pertumbuhan produksi di
69
diketahui nilai DS: 48,862,502.95 > 0, untuk. Sektor ini pertumbuhannnya
relatif lebih cepat dibandingkan sektoral lainnya di kabupaten Gresik.
6. Sektor perdagangan, hotel dan restauran memiliki nilai DS < 0 maka
pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut cenderung menunjang pertumbuhan
ekonomi kabupaten Gresik, dimana diketahui nilai DS:(147,991,895.22) < 0,
untuk. Sektor ini pertumbuhannnya relatif lebih cepat dibandingkan sektoral lainnya di kabupaten Gresik.
7. Sektor pengangkutan dan komunikasi memiliki nilai DS > 0 maka
pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menunjang pertumbuhan
ekonomi kabupaten Gresik dimana diketahui nilai DS: (2,386,444.62) < 0,
untuk. Sektor ini pertumbuhannnya relatif lebih cepat dibandingkan sektoral lainnya di kabupaten Gresik.
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan dan komunikasi memiliki
nilai DS > 0 maka pertumbuhan produksi di daerah tersebut cenderung menunjang pertumbuhan ekonomi kabupaten Gresik, dimana diketahui nilai
DS: (3,768,315.17) < 0, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang
pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi.
9. Sektor jasa-jasa memiliki nilai DS < 0 maka pertumbuhan produksi di daerah
tersebut cenderung menunjang pertumbuhan kabupaten Gresik, dimana diketahui nilai DS: (2,266,086,362.50) < 0, untuk. Sektor ini merupakan faktor yang pertumbuhannnya relatif lebih lambat tingkat ekonomi di propinsi.
70
4.4. Pembahasan
Dari hasil analisis yang dilakukan bahwa dari kesembilan sektoral pada kabupaten Gresik adalah sebagai berikut:
1). Diduga ada beberapa sektor ekonomi kabupaten Gresik pada yang mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik. Dari uraian yang telah di analisis bahwa dari kesembilan sektor tersebut kesemuanya mendorong semua sektor ekonomi di Kabupaten Gresik
2). Diduga ada beberapa sektor ekonomi pada kabupaten Gresik yang
menghambat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik. Dari uraian yang telah di analisis bahwa dari kesembilan sektor tersebut kesemuanya tidak ada sektor yang menghambat pertumbuahan ekonomi di Kabupaten Gresik.
3). Diduga sektor industri pengolahan merupakan sektor yang dominan
mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik. Dari uraian yang telah di analisis bahwa dari kesembilan sektor tersebut terdapat sektoral yang memiliki pengaruh dominan terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik yaitu, sektor listrik, gas dan air bersih, kemudian sektor industri dan sektor pertambangan dan penggalian.
71
BAB V