Proses perumusan Arah Pengembangan Sektor Sanitasi Kota sebenarnya dimulai sejak penyusunan visi dan misi sanitasi kota, penetapan tujuan dan sasaran yang memberikan
kisi-kisi penetapan sistem sanitasi dan zona sanitasi (CA-05), serta penetapan tingkat layanan (CA-06). Selanjutnya, setelah Pokja berhasil merumuskan isu-isu strategis dan kemungkinan hambatan, mereka dapat merumuskan arah pengembangan sektor sanitasi di
Tabel-6.41:
Cakupan Pelayanan Sistem Onsite
No Kecamatan
Jumlah PS Sanitasi Sistem Onsite
Pengumpulan Pengolahan
Jamban
Keluarga MCK Lainnya
Septik
Tank Cubluk Lainnya
1. 2. dst
Tabel-6.42:
Cakupan Pelayanan Air Limbah Komunitas Berbasis Masyarakat
No Lokasi/Tempat Sistem Dibangun Tahun Cakupan Pelayanan Kondisi MCk++ IPAL Komunal
Tabel-6.43:
Cakupan Pelayanan Air Limbah Sistem Offsite
No Nama IPAL Sistem Dibangun
Tahun
Kondisi
KOTA SERANG BELUM MEMILIKI PELAYANAN AIRLIMBAH SISTEM OFFSITE
Tabel-6.44:
Parameter Teknis Wilayah
No Uraian Besaran Keterangan
1. Jumlah Penduduk ….…jiwa
Tingkat Kepadatan
- Sangat Tinggi (> 400 jiwa/ha) …….ha
- Tinggi (300-400 jiwa/ha) …….ha
- Sedang (200-300 jiwa/ha) …….ha
- Rendah (< 200 jiwa/ha) …….ha
2. Tipe Bangunan Rumah Tangga
- Permanen ….% KK atau
…..unit
- Semi Permanen ….% KK atau
…..unit
- Tidak Permanen ….% KK atau
…..unit 3. Badan Air - Nama Sungai - Peruntukan - Tidak Permanen - Debit …….liter/detik
- Kualitas …….BOD Mg/liter
…….COD Mg/liter
-A. Pendanaan
Biaya pengelolaan air limbah oleh Dinas Cipta Karya selama ini dibiayai dari dana APBD. Restribusi pelayanan air limbah di Kota Serang untuk masing-masing klasifikasi WC adalah sebagai berikut:
WC klasifikasi A sebesar Rp. ……../tangki
WC klasifikasi B sebesar Rp. ………/tangki
...dst
Pembayaran restribusi dilakukan secara tunai pada saat setelah mendapatkan pelayanan. Hasil penarikan restribusi tersebut disampaikan ke Bendahara Dinas ... untuk selanjutnya disetorkan ke Rekening Pemerintah Kabupaten/Kota... Biaya operasi dan pemeliharaan yang dibelanjakan selama ini terdiri dari biaya BBM, biaya servis dan onderdil kendaraan, serta biaya personil.
B. Kelembagaan
Secara struktural, instansi yang menangani masalah pengelolaan air limbah di Kota Serang adalah Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan, dan Dinas Kesehatan.
Tugas pokok Dinas/Badan... adalah ... Untuk melaksanakan tugasnya, Dinas/Badan ... membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam pengelolaan air limbah Kabupaten/Kota... saat ini didukung oleh ... personel terdiri dari ... orang PNS dan ... PNS dan PHL / Lapangan.
C. Peraturan Perundangan
Peraturan perundangan yang ada di Kabupaten/Kota ... yang terkait dengan pengelolaan air limbah adalah sebagai berikut:
1. Peraturan Daerah/Bupati/Walikota Nomor... Tahun ... tentang ... 2. Peraturan Daerah/Bupati/Walikota Nomor... Tahun ... tentang ... 3. ...dst
Peran serta masyarkat dan swasta dalam pengelolaan air limbah di Kota Serang ditunjukan dengan kesediaan dalam membayar retribusi dalam hal:
1. Penyedotan tinja, sebesar Rp. ...
2. Kecleng pemakaian MCK++ hasil kegiatan SANIMAS dan SLBM sebesar Rp. ...
3. ...
1. Permasalahan dan Tantangan
Permasalahan pengelolaan air limbah yang dihadapi oleh Pemerintah Kota Serang dari aspek teknis dan non teknis seperti tertuang pada table berikut.
Tabel-6.45:
Permasalahan Pengelolaan Air Limbah Yang Dihadapi
No Aspek Pengelolaan Air
Limbah Permasalahan Yang Dihadapi Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan
I Aspek Teknis Belum memiliki
sistem pengelolaan air limbah (SPAL) terpusat yang dilengkapi IPAL Menyusun rencana teknis SPAL Kota Serang A. Kelembagaan
- Bentuk Organisasi Dinas
- Tata Laksana (Tupoksi, SOP dll)
- Kualitas dan Kuantitas SDM Tidak memadai B. Perundangan Terkait Sektor Air
Limbah (Perda, Pergub, Perbub/Perwali, dst)
Baru sebatas retribusi
C. Pembiayaan Kurangnyaanggaran
- Sumber-sumber Pembiayaan APBD Kota, APBN
- Restribusi Retribusi
D. Peran Serta Masyarakat dan Swasta
Sebatas membayar retribusi
II Aspek Teknis
No Aspek Pengelolaan Air Limbah Permasalahan Yang Dihadapi Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Sedang Dilakukan - MCK Terbatasnya lahan - Jamban Keluarga/Cubluk/Septik Tank Jamban keluarga tidak dilengkapi tangki septic
- Septik Tank Komunal Terbatasan lahan
- PS Sanitasi Berbasis Masyarakat
Terbatasan lahan
- Truk Tinja Terbatas
- IPLT Kondisi rusak
B. Sistem Off Site Sanitatioan
- Sambungan Rumah Belum ada
- Sistem Jaringan Pengumpul Belum ada
- Sistem Sanitasi Berbasis Masyarakat
Terbatasan lahan
- IPAL Belulm ada
Sedangkan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan air limbah di Kota Serang meliputi:
1. Tantangan Internal
Sistem pengelolaan air limbah di Kota Serang belum terbangun secara terpusat. Hal ini masih dalam proses perencanaan dan pengkajian kelayakannya.
Keterbatasan lahan untuk pembangunan sistem pengelolaan air limbah secara onsite.
Banyak timbulnya penyakit karena kurangnya pengelolaan air limbah
Pemanfaatan saluran drainase sebagai tangki septic limbah rumah tangga dan industry
Tingginya pencemaran air akibat limbah domestic dan industry. 2. Tantangan Eksternal
Target RPJMN bebas pembuangan tinja secara terbuka di tahun 2014
Target MDGs 7c terlayaninya 50% masyarakat yang belum mendapatkan akses air limbah sampai tahun 2015
Untuk mendukung program dan kegiatan pengelolaan air limbah di Kota Serang, kriteria kesiapan daerah yang sudah ada dan yang akan dilaksanakan meliputi:
1. Dokumen Review Rencana Teknis SPAL Kota Serang dilaksanakan pada tahun 2013 2. Dokumen DED sesuai arahan Rencana Teknis SPAL dilaksanakan mulai tahun 2014 3. Penyediaan lahan untuk sarana prasarana pengelolaan air limbah dilaksanakan mulai
tahun 2014
4. Ketersediaan Dana Daerah untuk Urusan Bersama (DDUB) disiapkan jumlahnya sesuai dengan arahan dalam DED
3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Air Limbah
Kebutuhan komponen pengelolaan air limbah adalah secara teknis dan non teknis baik sistem setempat individual, komunal maupun terpusat skala kota, serta memperlihatkan arahan struktur pengembangan prasarana kota yang telah disepakati. Sedangkan analisis yang terkait dengan kebutuhan air limbah adalah analisis sistem pengelolaan air limbah (on site dan off site), analisis jaringan perpipan air limbah untuk sistem terpusat, analisis kualitas dan tingkat pelayanan serta analisis ekonomi. Hasil analisis kebutuhan dituangkan dalam table-6.46 berikut ini.
Tabel-6.46:
Analisis Kebutuhan dan Target Pencapaian Pengelolaan Air Limbah
No Uraian Kondisi Eksistin g Kebutuhan Ket 201 4 201 5 201 6 201 7 201 8
I Aspek Non Teknik
A. Peraturan Terkait Sektor Air Limbah
- Ketersediaan Peraturan Bidang Air Limbah (Perda, Pergub, Perbub/Perwali, dsb) Perda No. 5 Thn 2011 Perwalk ot no. 88 Thn 2011 B. Kelembagaan
No Uraian Kondisi Eksistin g Kebutuhan Ket 201 4 201 5 201 6 201 7 201 8 - Bentuk Organisasi
- Ketersediaan Tata Laksana (Tupoksi, SOP, dll)
- Kualitas dan Kuantitas SDM C. Pembiayaan
- Sumber Pembiayaan
- Tarif Retribusi
- Realisasi Penarikan Retribusi (% terhadap target)
D. Peran Serta Masyarakat dan Swasta
(sudah ada/belum ada/bentuk kontribusi, dll)
II Aspek Teknis A. Sistem Setempat
- Ketersediaan dan Kondisi IPLT
- Kapasitas IPLT
- Tingkat Cakupan Pelayanan IPLT
- Ketersediaan dan Kondisi Truk Tinja
- Biaya O & P
- Kualitas Efluen IPLT (BOD dan COD)
- Ketersediaan Sistem Pengelolaan Air Limbah Skala
Kecil/Kawasan/Komunitas B. Sistem Terpusat (off site)
- Ketersediaan dan Kondisi IPAL
No Uraian Kondisi Eksistin g Kebutuhan Ket 201 4 201 5 201 6 201 7 201 8
- Tingkat Cakupan Pelayanan IPAL
- Biaya O & P
- Kualitas Efluen IPAL (BOD dan COD)
d. PERSAMPAHAN
1. Isu Strategis Pengembangan Persampahan
Isu-isu strategis dan permasalahan dalam pengelolaan persampahan di Indonesia antara lain:
1. Kapasitas Pengelolaan Sampah Kapasitas pengelolaan sampah erat kaitannya dengan: a. Makin besarnya timbulan sampah berupa peningkatan laju timbulan sampah
perkotaan antara 2-4% per tahun.
Dengan bertambahnya penduduk, pertumbuhan industri dan peningkatan konsumsi masyarakat dibarengi peningkatan laju timbulan sampah.
b. Rendahnya kualitas dan tingkat pengelolaan persampahan.
Rendahnya kualitas pengelolaan persampahan terutama pengelolaan TPA memicu berbagai protes masyarakat. Di sisi lain rendahnya tingkat pengelolaan sampah mengakibatkan masyarakat yang tidak mendapat layanan membuang sampah sembarangan atau membakar sampah di tempat terbuka.
c. Keterbatasan Lahan TPA
Keterbatasan lahan TPA merupakan masalah terutama di kota-kota besar dan kota metropolitan. Fenomena keterbatasan lahan TPA memunculkan kebutuhan pengelolaan TPA Regional namun banyak terkendala dengan banyak faktor kepentingan dan rigiditas otonomi daerah.
2. Kemampuan Kelembagaan
Masih terjadinya fungsi ganda lembaga pengelola sampah sebagai regulator sekaligus operator pengelolaan serta belum memadainya SDM (secara kualitas dan kuantitas) menjadi masalah dalam pelayanan persampahan.
Kemampuan pendanaan terutama berkaitan dengan rendahnya alokasi pendanaan dari pemerintah daerah yang merupakan akibat dari rendahnya skala prioritas penanganan pengelolaan sampah. Selain itu adalah rendahnya dana penarikan retribusi pelayanan sampah sehingga biaya pengelolaan sampah menjadi beban APBD. Permasalahan pendanaan secara keseluruhan berdampak pada buruknya kualitas penanganan sampah. 2. Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sampah dan belum dikembangkan secara sistematis potensi masyarakat dalam melakukan sebagian sistem pengelolaan sampah, serta rendahnya minat pihak swasta berinvestasi di bidang persampahan karena belum adanya iklim kondusif membuat pengelolaan sampah sulit untuk ditingkatkan.
3. Peraturan perundangan dan Lemahnya Penegakan Hukum
Lemahnya penegakan hukum terkait pelanggaran dalam pengelolaan sampah dan kurangnya pendidikan masyarakat dengan PHBS sejak dini juga menjadi kendala dalam penanganan sampah.
Sedangkan isu-isu strategis dalam pengelolaan persampahan di Kota Serang meliputi:
Perlu segera ditingkatkan sistem TPA dari semi contolled dumping menjadi Sanitary
Landfilll. Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 mengenai pengelolaan persampahan
telah mensyaratkan bahwa TPA Open Dumping harus ditutup pada tahun 2013. Terkait dengan hal itu maka kota Serang perlu untuk segera meningkatkan sistem TPA dari
Semi controlled landfill menjadi Sanitary Landfill.
Masih belum optimalnya kegiatan 3R baik yang berskala kota maupun berbasis rumah tangga dan kegiatan usaha/jasa sehingga belum dapat mengurangi secara berarti volume sampah yang perlu dibuang ke TPA.
Berdasarkan paradigma pengelolaan persampahan baru maka diharapkan sampah yang perlu diangkut ke TPA adalah seminimal mungkin. Untuk mencapai hal tersebut, kegiatan 3R (Reduce, Reuse And Recylce) digalakkan.
Rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyimpan sampah pada tempatnya, dan tidak membuang sampah ke sungai/saluran drainase.
2. Kondisi Eksisting Pengembangan Persampahan
A. Aspek Teknis
- Sitem Setempat (On Site System)
Sitem Setempat (On Site System) merupakan sistem pengolahan limbah dimana fasilitas instalasi pengolahan berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki dapat berupa ;
septic tank
cubluk
plengsengan
Dari tempat penampungan tersebut, kemudian yang dilanjutkan pengangkutan dengan mobil tanki tinja dengan pengolahan lumpur tinja di IPLT. (Lihat Gambar 2.1 DSS
On Site System)
G
Gaammbbaarr22..11
D
DiiaaggrraammSSiisstteemmSSaanniittaassiiOOnnSSiittee
- Sistem Terpusat (Off Site System)
Sistem Terpusat (Off Site System) merupakan sistem suatu pengolahan air limbah dengan menggunakan suatu jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk selanjutnya diolah. Pengolahan dimaksudkan untuk mengkondisikan air limbah agar siap untuk diolah pada pengolahan tahap selanjutnya(Lihat Gambar 2.2 DSS Off Site System) , yaitu :
Pengolahan primer, dimaksudkan untuk memisahkan secara fisik partikel tersuspensi (SS) sehingga beban pada unit pengolahan selanjutnya dapat dikurangi, prosesnya menggunakan system pengendapan dan pengapungan.
Pengolahan sekunder, pada tahap ini akan terjadi proses penguraian (secara biologis atau biokimia dengan bantuan mikroorganisma) dan menguraikan zat-zat organic, perosesnya menggunakan lumpur aktif, cakram biologis, trikling filter,
extended aeration, dan oxidation pond.
G
Gaammbbaarr22..22
D
DiiaaggrraammSSiisstteemmSSaanniittaassiiOOffffSSiittee
Gambaran pengelolaan limbah cair di Kota Serang dapat dilihat pada Tabel 2.1, Tabel 2.2
dan Gambar 2.3
Tabel 2.1
Pembuangan Limbah di Kota Serang Tahun 2010
No URAIAN JUMLAH/VOLUME KETERANGAN
1 Jumlah Timbulan Tinja/Black Water - Pengguna Tangki Septic dan Umum
(Rumah)
43.961 unit Persentasi yang memiliki tangki septik 38,4% dari
No URAIAN JUMLAH/VOLUME KETERANGAN
total Penduduk yang memiliki tangki septik
- Standar timbulanTinja/Org/Hr 0,2-0,3 lt/hr/org 1 m3 = 1000 lt Peraturan Menteri PU
No.14/PRT/M/2010 - Jumlah Timbulan (m3) 171,72 m3/org/hr
2 Jumlah Timbulan Grey Water
- Standar timbulan Org/Hr 80% Peraturan Menteri
PU
No.14/PRT/M/2010 Pemakaian air yang akan terbuang - Jumlah Timbulan (m3) 27.475,68 Kebutuhan air 0,06
m3/org/hr 3 Jumlah Tinja terangkut
- Mobil tinja Milik Pemerintah (unit) Pemda Kota Serang belum Memiliki Armada
Jumlah Mobil tinja (unit) Kapasitas tangki (m3) Jumlah Rit / 1 hari
- Mobil Tinja Milik Swasta PT JBS dan CV Royal masing-masing 3 unit
PT JBS dan CV Royal masing-masing 3 unit Jumlah Mobil tinja (unit) 6 Unit
Kapasitas tangki (m3) 5 m3 dan 6 m3 Jumlah Rit / 1 hari 3 – 4 rit / hari 4 Kapasitas IPLT
- Dibangun (tahun) - Tidak Memiliki
- Umur Pakai (tahun) - - Kapasitas terpasang (m3) - - Kapasitas terpakai (m3) - 5 Kapasitas IPAL
No URAIAN JUMLAH/VOLUME KETERANGAN
- Dibangun (tahun) - Tidak Memiliki
- Umur Pakai (tahun) - - Kapasitas terpasang (m3) - - Kapasitas terpakai (m3) -
Sumber : Dinas PU Bidang KebersihanKota Serang
Tabel 2.2
Teknis Pembuangan Limbah di Kota Serang Tahun 2010
No URAIAN JUMLAH/VOLUME KETERANGAN
1 ON SITE SYSTEM