KEPALA DINAS
II.2.3 Perumusan Indikator dan Tolok Ukur dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Karena evaluasi yang dilakukan tergolong evaluasi semu (pseudo evoluation), maka indikator-indikator evaluasi sepenuhnya ditetapkan berdasarkan pendapat para ahli dan dokumen kebijakan mengenai pengendalian pemanfaatan ruang. Pendapat para ahli dan dokumen kebijakan yang digunakan untuk memenuhi indikator dan dirumuskan dalam penelitian ini untuk mengetahui sebab-sebab ketidakefektifan Dinas Tata Kota didalam melakukan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan konservasi di Kota Cimahi.
Dalam Kepmendagri No. 8 Tahun 1998 dijelaskan bahwa pengendalian merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang yang dilakukan dalam bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi.
Dalam pasal 16 No. 8 Tahun 1998 tentang penyelenggaraan penataan ruang di daerah diselenggarakan dengan cara :
(1) Melaporkan pelaksanaan pemanfaatan ruang (2) Memantau perubahan pemanfaatan ruang
(3) Mengevaluasi konsistensi pelaksanaan rencana tata ruang
(4) Pemberian sanksi hukum atas penyelenggaraan terhadap pemanfaatan ruang.
Kegiatan pengawasan merupakan salah satu bentuk usaha atau kegiatan untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang. Kegiatan pengawasan dimaksudkan untuk mengikuti dan mendata perkembangan pelaksanaan pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh semua pihak, sehingga apa bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang dari rencana yang telah ditetapkan, dapat diketahui dan dilakukan upaya penyelesaiannya.
Dalam pasal 17 No.8 Tahun 1998 kegiatan pengawasan diselenggarakan dengan cara :
1. Pelaksanaan pengawasan terhadap pemanfaatan ruang dilakukan melalui kegiatan pelaporan, pemantauan dan evaluasi.
2. Hasil pengawasan pemanfaatan ruang berupa temuan penyimpangan.
3. Kepala Daerah wajib menyiapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk pemeriksaan dan penyidikan atas penyimpangan terhadap pemanfaatan ruang.
4. Gubernur menyiapkan langkah-langkah tindakan pemeriksaan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), berdasarkan hasil evaluasi penyimpangan melalui peninjauan lapangan pada lokasi secara koordinatif dan terpadu.
5. Bupati/Walikotamadya menyiapkan langkah-langkah tindak lanjut untuk pemeriksaan dan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), berdasarkan hasil evaluasi penyimpangan dan melalui peninjauan lapangan pada lokasi secara koordinatif dan terpadu serta masukan dari Gubernur.
Penertiban merupakan salah satu bentuk mewujudkan rencana tata ruang, dalam pasal 18 No.8 Tahun 1998 kegiatan penertiban diselenggarakan dengan cara :
a. Penertiban pemanfaatan ruang diwilayah Kabupaten/Kotamadya Dati II dilakukan melalui penertiban langsung dan penertiban tidak langsung.
b. Penertiban langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan melalui pemberian sanksi administrasi, sanksi pidana, dan sanksi perdata. c. Penertiban tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan
melalui antara lain :
• Pengenaan kebijakan pajak/retribusi
• Pembatasan pengadaan prasarana dan sarana • Penolakan pemberian perijinan pebangunan
Menurut (Ibrahim, 1998) prosedur pengendalian dalam pemanfaatan ruang terdiri dari :
1. Mekanisme perijinan yang disesuaikan dengan jenis perijinan yang berlaku di Daerah Tingkat II.
2. Menyiapkan dan menerima laporan secara obyektif mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang.
3. Pemantauan perkembangan fisik pemanfaatan ruang yang sesuai dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
4. Menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang di kaitkan dengan kondisi rencana tata ruang yang ada.
5. Memberikan sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Dalam penelitan ini menggunakan UU No. 24 Tahun 1992 mengenai penataan ruang sebagai salah satu sumber kajian untuk melakukan perumusan indikator. Dalam UU No. 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang prosedur pengendalian pemanfaatan ruang terdiri dari :
1. Perijinan terhadap pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah.
2. Memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
3. Mengamati, mengawasi, dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 4. Menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang
5. Pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selain UU No. 24 Tahun 1992 tentang penataan ruang, didalam perda No. 32 tentang RTRW Kota Cimahi menjelaskan prosedur pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri dari :
1. Setiap orang atau badan hukum yang melakukan pemafaatan ruang harus mendapat ijin dari walikota atau pejabat yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Menyampaikan laporan kepada walikota tentang hasil kualitas ruang baik yang sesuai dengan rencana maupun yang tidak.
3. Survei kondisi pemanfaatan lahan pemeriksaan bangunan lingkungan dan melakukan kompilasi atas perubahan kualitas tata ruang yang tidak sesuai dengan ruang.
4. Mengadakan evaluasi hasil kegiatan kemajuan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana.
5. Pengenaan sanksi yang terdiri atas sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana, apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Dari berbagai pendapat para ahli dan dokumen kebijakan mengenai pengendalian pemanfaatan ruang ini, maka ditetapkan beberapa indikator. Indikator yang dipilih yaitu indikator yang mempunyai kesamaan dan mempunyai dasar yang kuat. Untuk lebih rinci mengenai proses penetapan indikator dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilihat pada Tabel II.6 dan hasil indikator yang telah ditetapkan dapat dilihat pada Tabel II.7.
Tabel II. 6 Proses Penetapan Indikator dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
UU 24/92 Permendagri No. 8/98 Perda Kota Cimahi No. 32/2003 Syahrul Ibrahim
1. Perijinan terhadap pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh pemerintah atau pemerintah daerah. Penyelenggaraan perijinan pemanfaatan ruang dilaksanakan
oleh instansi yang berwenang di bidang perijinan.
2. Setiap orang atau badan hukum yang
melakukan pemafaatan ruang harus mendapat ijin dari walikota atau Pejabat yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perijinan 3. Mekanisme perijinan disesuaikan dengan jenis perijinan yang berlaku di Daerah Tingkat II. 3. Memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan
ruang baik yang sesuai maupun yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Menyampaikan laporan kepada Walikota tentang hasil kualitas ruang baik yang sesuai dengan rencana maupun yang tidak.
Pelaporan
UU 24/92 Permendagri No. 8/98 Perda Kota Cimahi No. 32/2003 Syahrul Ibrahim
pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah
Kabupaten/Kotamadya di lakukan oleh Bappeda Tingkat II 5. Menyiapkan dan menerima laporan secara obyektif mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang. Pemantauan 6. Mengamati, mengawasi, dan Memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Pemantauan dalam rangka pengawasan terhadap pemanfaatan
ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya, dilakukan
oleh Dinas Teknis Dati II melalui pengamatan dan pemeriksaan lapangan
Survey kondisi pemanfaatan lahan pemeriksaan bangunan lingkungan dan melakukan kompilasi atas perubahan kualitas tata ruang yang tidak sesuai dengan ruang.
Pemantauan
perkembangan fisik pemanfaatan ruang yang sesuai dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang. 7. Menilai perkembangan
kegiatan pemanfaatan ruang
Mengadakan evaluasi hasil kegiatan kemajuan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana.
Menilai kemajuan kegiatan
pemanfaatan ruang di kaitkan dengan kondisi rencana tata ruang yang ada.
Evaluasi
8. Evaluasi dalam rangka pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah
UU 24/92 Permendagri No. 8/98 Perda Kota Cimahi No. 32/2003 Syahrul Ibrahim
Kabupaten/Kotamadya,
dilakukan oleh Bappeda Tingkat II
9. Pengenaan sanksi sesuai dengan Peraturan perundang-undangan yang berlaku. Memberikan sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Penertiban 10. Penertiban pemanfaatan ruang
diwilayah
Kabupaten/Kotamadya Dati II dilakukan melalui penertiban langsung dan penertiban tidak langsung.
Pengenaan sanksi yang terdiri atas sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana, apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Tabel II. 7 Penetapan Indikator dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang Indikator 1 2 3 4 Kesimpulan Indikator yang di gunakan 1. Perijinan terhadap pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Penyelenggaraan perijinan pemanfaatan ruang dilaksanakan oleh instansi yang berwenang di bidang perijinan. 9 9 X X Pelaksanaan perijinan sesuai dengan mekanisme perijinan yang telah ditentukan.
2. Setiap orang atau badan hukum yang melakukan
pemafaatan ruang harus mendapat ijin dari walikota atau Pejabat yang ditunjuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. X X 9 X Perijinan 3. Penerima ijin wajib melaksanakan ketentuan dalam perijinan. Mekanisme perijinan disesuaikan dengan jenis perijinan yang berlaku di Daerah Tingkat II.
Indikator 1 2 3 4 Kesimpulan Indikator yang di gunakan 4. Memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang Menyampaikan laporan kepada Walikota tentang hasil kualitas ruang baik yang sesuai dengan rencana maupun yang tidak.
Memberi informasi Secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang 9 X 9 X Memberikan informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang 5. Pelaporan dalam rangka pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotam adya di lakukan oleh Bappeda Tingkat II X 9 X X Pelaporan 6. Menyiapkan dan menerima laporan secara obyektif mengenai X X X 9 Menyiapkan dan menerima laporan secara obyektif mengenai
Indikator 1 2 3 4 Kesimpulan Indikator yang di gunakan pelaksanaan pemanfaatan ruang. pelaksanaan pemanfaatan ruang. Pemantauan 7. Mengamati, mengawasi, dan Memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang Pemantauan dalam rangka pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya, dilakukan oleh Dinas Teknis Dati II melalui pengamatan dan pemeriksaan lapangan Survey kondisi pemanfaatan lahan pemeriksaan bangunan lingkungan dan melakukan kompilasi atas perubahan kualitas tata ruang yang tidak sesuai dengan ruang. Mengamati, mengawasi, dan Memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang Pemanta uan perkemb angan fisik pemanfa atan ruang yang sesuai dan tidak sesuai dengan rencana tata ruang. 9 9 9 9 Mengamati dan Memeriksa perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Evaluasi 8. Menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang Mengadakan evaluasi hasil kegiatan kemajuan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana. Menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang Menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang di kaitkan 9 X 9 9 Menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang di kaitkan dengan
Indikator 1 2 3 4 Kesimpulan Indikator yang di gunakan dengan kondisi rencana tata ruang yang ada.
kondisi rencana tata ruang yang ada 9. Evaluasi dalam rangka pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotam adya, dilakukan oleh Bappeda Tingkat II X 9 X X Penertiban 10. Pengenaan sanksi sesuai dengan Peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi, baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Memberikan sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Pengenaan sanksi yang terdiri atas sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana, apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruang 9 X 9 9 Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Indikator 1 2 3 4 Kesimpulan Indikator yang di gunakan 11. Penertiban pemanfaatan ruang diwilayah Kabupaten/Kotama dya Dati II dilakukan melalui penertiban langsung dan penertiban tidak langsung. X 9 X X
Sumber : Hasil Analisis2007 Keterangan : 1. UU No.24/92,
2. Permendagri No.8/98,
3. Perda Kota Cimahi No.32/2003, 4. Syahrul Ibrahim.
Dari perumusan pendapat para tenaga ahli dan dokumen-dokumen kebijakan maka dihasilkan indikator. Selain indikator ditetapkan pula sub indikator dan tolok ukur yang merupakan tahapan-tahapan kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang yang harus dilakukan Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi yang disesuaikan dengan peraturan daerah di Kota Cimahi. Adapun proses penetapan sub indikator dan tolok ukur diturunkan dari beberapa pendapat para ahli dan dokumen kebijakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang yang kemudian disesuaikan dengan peraturan daerah di Kota Cimahi, berikut akan dijelaskan proses penetapan sub indikator dan tolok ukur yang digunakan dalam studi ini.
1. Perijinan
Sub indikator mekanisme perijinan dilakukan sesuai dengan jenis perijinan yang berlaku di Daerah Tingkat II diturunkan dari pendapat Syahrul Ibrahim yang dituangkan dalam Jurnal PWK Vol.9, No.2/Mei 1998. Sedangkan toluk ukur memberikan rekomendasi surat Ijin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) dan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) diturunkan dari Keputusan Walikota Cimahi No. 060/Kep. 46 – Ortala/2003 yang dituangkan dalam uraian tugas jabatan struktural Dinas Tata Kota (DTK).
2. Pelaporan
Sub indikator penyampaian laporan kepada Walikota tentang hasil kualitas ruang baik yang sesuai dengan rencana maupun yang tidak, diturunkan dari Peraturan Daerah No. 32 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cimahi. Syahrul Ibrahim dalam Jurnal PWK Vol.9, No.2/Mei 1998 menyebutkan salah satu mekanisme pelaporan dalam pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan dengan cara menyampaikan laporan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan kepada instansi terkait setiap bulan dan menyiapkan laporan bulanan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan daerah kepada Bupati/Walikota.
Tolok ukur menerima laporan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai dengan peraturan daerah dari Kepala Desa/Lurah dan menerima laporan bulanan tentang
Keputusan Presiden No. 114 Tahun 1999 Tentang : Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur.
3. Pemantauan
Sub indikator mengamati perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang serta memeriksa perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai, diturunkan dari UU Penataan Ruang No. 24/1992. Tolok ukur kegiatan pemantauan dilakukan dengan pemetaan terhadap KDB perumahan yang tidak sesuai dengan ketentuan KDB yang telah ditetapkan dan juga melakukan peninjauan dengan lapangan secara langsung terhadap perumahan yang KDB tidak sesuai aturan KDB yang telah ditetapkan, diturunkan dari Keputusan Walikota Cimahi No. 060/Kep. 46 – Ortala/2003 yang dituangkan dalam uraian tugas jabatan struktural Dinas Tata Kota Cimahi.
4. Evaluasi
Sub indikator evaluasi pegendalian pemanfaatan ruang yaitu dengan menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang diturunkan dari Peraturan daerah No. 32 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cimahi. Sedangkan tolok ukur kegiatan evaluasi proses pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan dengan pembahasan atau rapat pengambil keputusan untuk penertiban diturunkan dari Keputusan Walikota Cimahi No. 060/Kep. 46 – Ortala/2003 yang dituangkan dalam uraian tugas jabatan struktural Dinas Tata Kota Cimahi.
5. Penertiban
Peraturan daerah No. 32 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Cimahi menyebutkan pengenaan sanksi yang terdiri atas sanksi administrasi, sanksi perdata, dan sanksi pidana, apabila pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Keputusan Walikota Cimahi No. 060/Kep. 46 – Ortala/2003 yang dituangkan dalam uraian tugas jabatan struktural Dinas Tata Kota Cimahi menyebutkan proses kegiatan penertiban dilakukan dengan memberikan surat
teguran 1 (satu), memberikan surat teguran 2 (dua) dan memberikan surat teguran 3 (tiga).
Proses penetapan indikator dan tolok ukur ini diyakini benar karena merupakan rumusan dari beberapa pendapat para ahli dan dokumen kebijakan dalam bidang kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang. Oleh karena itu kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang akan efektif apabila keseluruhan prosesnya dilakukan secara efektif. Sehingga outputnya adalah, pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif. Berikut adalah kriteria dan indikator evaluasi yang merupakan hasil perumusan dari beberapa ahli dan kebijakan dalam pengendalian pemanfaatan ruang.
Untuk lebih jelasnya mengenai proses penetapan tolok ukur dalam studi ini dapat dilihat pada Tabel II.8.
Tabel II. 8 Kriteria, Indikator dan Tolok Ukur Dinas Tata Kota (DTK) dalam Prosedur Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Kriteria Indikator Sub Indikator Tolok Ukur
Memberikan Ijin Perencanaan yang telah
ditentukan. Melaksanakan proses
pemberian IPPT (Ijin Peruntukan
Penggunaan Tanah)
sesuai aturan. Memberikan Rekomendasi
Perencanaan yang telah ditentukan.
Mengesahkan gambar bangunan yang sesuai dengan KDB yang telah ditentukan.
Perijinan Pelaksanaan
perijinan sesuai dengan mekanisme perijinan yang telah ditentukan.
Melaksanakan proses IMB (Ijin Mendirikan Bangunan) sesuai aturan
Memberikan rekomendasi perijinan bagi bangunan yang sesuai dengan KDB yang telah ditentukan..
Pen g efektifan Pelaporan Memberikan informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang Memberikan informasi mengenai KDB yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.
Menyampaikan laporan kepada Walikota tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan daerah setiap bulan.
Kriteria Indikator Sub Indikator Tolok Ukur
Menyampaikan laporan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai
peraturan kepada instansi terkait setiap bulan.
Menerima laporan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan daerah dari Kepala Desa/Lurah . Menerima laporan secara obyektif mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang. Menerima laporan bulanan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan daerah dari Camat. Menyiapkan dan menerima laporan secara obyektif mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang. Menyiapkan laporan secara obyektif mengenai pelaksanaan pemanfaatan ruang. Menyiapkan laporan bulanan tentang KDB perumahan yang tidak sesuai peraturan daerah kepada Bupati/Walikota Mengamati perubahan
kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Melakukan pemetaan terhadap KDB perumahan yang tidak sesuai dengan ketentuan KDB yang telah ditetapkan.
Pemantauan Mengamati dan
Memeriksa
perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang Tidak sesuai dengan rencana tata ruang
Memeriksa perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Melakukan peninjauan lapangan secara langsung terhadap perumahan yang KDB tidak sesuai dengan aturan KDB yang telah ditetapkan. Evaluasi Menilai perkembangan kegiatan pemanfaatan ruang di kaitkan dengan kondisi rencana tata ruang yang ada
Menilai temuan penyimpangan dalam pemanfaatan ruang.
Melakukan pembahasan atau rapat pengambil keputusan untuk penertiban
Memberikan surat teguran 1 (satu)
Memberikan surat teguran 2 (dua)
Penertiban Pengenaan sanksi
dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengenaan sanksi administrasi terhadap pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang. Memberikan surat teguran 3 (tiga)
Indikator yang telah dirumuskan ini menjadi penilai terpenuhi tidaknya prosedur kerja Dinas Tata Kota (DTK) dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Dari penjabaran diatas disebutkan bahwa pengendalian pemanfaatan akan berjalan efektif apabila keseluruhan prosesya dilakukan. Proses pelaksanaan tugas dan fungsi Dinas Tata Kota (DTK) ini sudah dijabarkan dalam indikator-indikator evaluasi, sehingga penilaian keseluruhan baru dinyatakan efektif jika 100% indikatornya terpenuhi, dan memenuhi keseluruhan dari indikator yang telah ditentukan.
II.3 Gambaran Umum Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi
Pembentukan Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi tertuang dalam peraturan daerah No.2 Tahun 2003 tentang struktur organisasi. Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi. Dinas Tata Kota (DTK) mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan kebijakan opersional di bidang tata ruang, tata bangunan, prasarana perkotaan dan bina marga serta melaksanakan urusan ketatausahaan dinas.
Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas sebagaimana maksud diatas, Dinas Tata Kota mempunyai fungsi :
• Perumusan dan pelaksanaan kebijkan teknis opersional di bidang tata ruang
• Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis operasional di bidang tata bangunan
• Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis operasional di bidang prasarana perkotaan
• Perumusan dan pelaksanaan kebijakan teknis operasional di bidang bina marga
Untuk menjalankan tugas dan fungsinya Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi mempunyai struktur organisasi yang teridiri dari :
I. Kepala Dinas a. Bagian Tata Usaha
b. Subag Program Dan Pelaporan c. Subag Umum dan Kepegawaian
e. Bidang Tata Ruang
• Seksi Perencanaan Tata Ruang
• Seksi Pemanfaatan Dan Pengendalian Tata Ruang f. Bidang Tata Bangunan
• Seksi Perencanaan Teknis Tata Bangunan • Seksi Pelaksanaan Teknis Bangunan • Seksi Pengawasan dan Pengendalian g. Bidang Prasarana Perkotaan
• Seksi Perencanaan Teknis Prasarana Perkotaan • Seksi Pelaksanaan Pembangunan Prasarana Perkotaan • Seksi Pengawasan Dan Pengendalian Prasarana Perkotaan h. Bidang Bina Marga
• Seksi Perencanaan Teknis Bina Marga • Seksi Peralatan dan Pemeliharaan
• Seksi Pengawasan dan Pengendalian Bina Marga i. UPTD
j. Kelompok Jabatan Fungsioanal
Untuk lebih jelasnya mengenai struktural dapat dilihat pada gambar III.1. Berikut uraian tugas Struktural Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi yaitu :
1. Kepala Dinas
a. Menyusun rencana strategis Dinas berdasarkan Rencana Strategis Daerah.
b. Mengkoordinasikan Kegiatan sektoral maupun sektoral di bidang tata ruang, tata bangunan, prasarana perkotaan dan bina marga berdasarkan kebijakan walikota.
c. Menyelenggarakan pembinaan dan pengawasan dalam hal operasional di bidang kebakaran, pemakaman, bina marga dan perkotaan.
d. Menyelenggarakan pembinaan dalam pengelolaan teknis administrasi ketatausahaan yang meliputi : program, umum, kepegawaian, keuangan dan perlengkapan.
2. Kepala Bagian Tata Usaha
a. Menyusun program kerja pengendalian dan evaluasi program kerja bagian tata usaha.
b. Menyelenggarakan pengelolaan teknis admnistrasi, umum, kepegawaian, program, keuangan dan perlengkapan.
c. Menyelenggarakan kegiatan penetapan rancangan kebijakan pengelolaan umum, kepegawaian, program, keuangan dan Menyusun dan menyiapkan rencana anggaran dinas.
d. Menyelenggarakan pembinaan dan memelihara seluruh kegiatan kelembagaan dan ketatalaksanaan di lingkungan dinas serta usaha pengembangannya.
e. Memberikan saran pertimbangan kepada kepala dinas dalam rangka menetapkan kebijakan dibidang tugasnya.
f. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasa. 3. Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan
a. Menyusun Visi, Misi, Renstra, Propeda, Rapeteda Dinas;
b. Membuat Program Tahunan Jangka Pendek, Jangka Menengah dan Jangka Panjang.
c. Melaksanakan dan menyiapkan usulan anggaran tahunan Dinas. d. Monitoring, mengendalikan dan mengevaluasi pelaksanaan
program Dinas.
e. Inventarisasi dan analisa laporan dari tiap-tiap Bidang.
f. Menyiapkan dan menyusun laporan bulanan, triwulan dan tahunan. g. Melaksanakan koordinasi dengan unit isntansi terkait.
h. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. i. perlengkapan.
Gambar II. 1 Struktur Organisasi Dinas Tata Kota (DTK) Kota Cimahi KEPALA DINAS
Ir. Herdadi Pagih, MT
BAGIAN TATA USAHA H. Eddy Wahyudi, SH
SUBAG PROGRAM DAN PELAPORAN Ir. Dudi Dofarudin Hakim
SUBAG UMUM DAN KEPEGAWAIAN
Rita Suharyati
SUBAG KEUANGAN DAN PERLENGKAPAN Aan Rusdana, Bsc BIDANG BINA MARGA Ir. Achyar SEKSI PERALATAN PERBEKALAN DAN PEMELIHARAAN
Ir. Agus Safari SEKSI PERALATAN, PERBEKALAN DAN PEMELIHARAAN
Ir. Yandi Tubagus