• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perumusan Masalah

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 9-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah gambaran prestasi matematika siswa Indonesia berdasarkan data TIMSS tahun 2011 dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah?

2. Bagaimanakah struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika?

3. Bagiamanakah struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat)?

4. Bagaimana pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Untuk mengetahui gambaran prestasi siswa dan bagaimana bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah.

2. Untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

3. Untuk mengetahui struktur model teoritis di level sekolah yang dapat menjelaskan sikap terhadap matematika (attmath) dan efficacy terhadap matematika (effmat).

4. Untuk mengetahui pengaruh variabel di level sekolah terhadap prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan/menambah informasi bagi kepentingan

penyusunan kebijakan dalam rangka meningkatkan prestasi murid di bidang matematika. Selain itu

juga bisa menjadi sumbangan bagi pengembangan model teoritis tentang prestasi belajar siswa di

Indonesia. Jika kita dapat mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi prestasi siswa dalam

Matematika baik pada tingkat siswa dan atau tingkat sekolah, maka kita dapat menyesuaikan

kebijakan pendidikan baik dalam hal teknis pendidikan maupun aspek manajemen, seperti alokasi

anggaran, sistem organisasi, dsb. Dari sisi teknis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat pula

untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan kurikulum matematika di Indonesia.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 4

Bab II

Model Untuk Prestasi Belajar

2.1. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Prestasi Siswa

Fokus dari penelitian ini adalah untuk menemukan atau sekurangnya mengidentifikasi variabel-variabel yang menjadi determinan dari prestasi belajar dalam bidang Matematika, khususnya pada anak Indonesia yang berada di kelas 8. Tentu saja secara umum prestasi belajar bergantung kepada banyak hal baik yang sangat situasional dan kasuistik (sakit gigi waktu ujian, dsb.), maupun yang bersifat lebih sistematik (seperti kurang minat, guru tak kompeten, kurikulum tak relevan, dsb.).

Tentu saja yang akan dibahas di sini adalah hal-hal atau variabel yang sistematik.

Pada tingkat internal siswa (personal variables), terdapat beberapa teori psikologi tentang hal yang memengaruhi tinggi rendahnya prestasi atau performance seseorang, salah satunya yang terkenal adalah teori atribusi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Heider (1958), di mana melalui pendekatan teori atribusi ia mengajukan rumusan matematis untuk “performance”, yaitu :

Konsep ini akhirnya menjadi sangat populer setelah seringkali dikutip oleh ahli-ahli lainnya ketika mereka membicarakan tentang “performance”, seperti misalnya oleh Anderson dan Butzin (1974), Maier (1965), O’Shaughnessy (1971), Lawler dan Porter (1967), Oliver (1974), dan Vroom (1964). Seperti terlihat pada rumusan di atas, menurut teori ini prestasi atau “performance” adalah hasil interaksi antara motivasi dengan abiliti. Dengan demikian, orang yang tinggi motivasinya tetapi memiliki abiliti yang rendah akan menghasilkan “performance” yang rendah. Begitu pula halnya dengan orang yang sebenarnya berabiliti tinggi tetapi rendah motivasinya. Atas dasar ini Vroom (1964) menyarankan agar karyawan yang akan di “training” haruslah orang yang bermotivasi tinggi, tiga kelompok variabel yang memengaruhi bukan hanya prestasi tetapi juga aspek perkembangan afektif dan behavioral siswa, yaitu:

1. Variabel personal seperti prestasi sebelumnya, umur, motivasi, self concept, dsb 2. Variabel instruksional seperti intensitas dan kualitas serta metode pengajaran, dan

3. Variabel lingkungan (environmental) yang terkait dengan keadaan di rumah, kondisi guru, kelas, dan sekolah, teman belajar, media belajar, dsb.

Secara lebih spesifik lagi, Walberg (1992) mereview 8000 penelitian tentang pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap prestasi belajar khususnya Matematika dan IPA, dan ia menemukan bahwa ketiga kelompok variabel tersebutlah yang secara konsisten terbukti menunjukkan pengaruh serta memiliki nilai prediksi tinggi terhadap prestasi belajar. Wilkin, Zembilas, dan Travers (2002) yang melakukan penelitian serupa dengan menggunakan data TIMSS, juga menggunakan pendekatan yang sama, yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel determinan dari prestasi belajar itu ke dalam 3 kelompok yaitu student personal variables, instructional, dan environmental. Oleh sebab itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan yang sama yaitu dengan mengelompokkan variabel-variabel yang diteorikan sebagai determinan dari

Performance = Motivation x Ability (disingkat: P = M x A)

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 5 prestasi belajar tersebut. Namun pengelompokan yang dimaksud dibagi pada dua kelompok yaitu level siswa dan level sekolah.

Dalam hal kelompok variabel manakah yang lebih dominan dalam memengaruhi prestasi belajar, terdapat hasil penelitian yang kesimpulannya berbeda-beda. Larry Sutter (2000), misalnya, mengutip hasil penelitian James Coleman yang terkenal di tahun 1960an di mana kesimpulannya adalah mengatakan bahwa ... “student performance was determined more by family background than by school characteristics”. Namun demikian, dalam studinya yang membandingkan prestasi matematika dan IPA secara internasional dengan menggunakan data TIMSS, Sutter (2000) menyimpulkan bahwa perbedaan prestasi belajar antar negara lebih banyak ditentukan oleh variabel-variabel kurikuler dan pengajaran. Ia juga mengutip kesimpulan penelitian Gustafsson dan Undheim (1996) yang mengatakan bahwa .. “ that results of international-level studies might be accounted for by differences in curriculum rather than intellectual differences among students”. Sebaliknya Heyneman (1997) menemukan yang sebaliknya yaitu student personal variable yang lebih menentukan, terutama sekali motivasi/ spirit belajar. Berikut adalah kutipan tulisannya (Heyneman, 1997):

“What differentiates American children from other children in the world – and the explanation of poor performance among minorities and the poor – is the American public policy toward children.

“In general, children in the United States are provided with too much opportunity and too few obligations; too much choice and too few responsibilities.” In addition, “U.S. school children are influenced by a common assumption that curriculum has to be entertaining”,……

…. “It isn’t poverty which drives scores of U.S. students down,” I said, “or race, or even minority status, but rather impoverish spirit”. …..

….” It is the general lack of a desire to learn and this, in turn, is affected by public policy.

…...” (page 29).

Selanjutnya penelitian mengenai pengaruh variabel-variabel psikologis siswa biasanya lebih banyak dilakukan secara tersendiri di mana pengaruh variabel psikologi tertentu diteliti. Dalam hal ini, yang secara konsisten ditemukan pengaruhnya terhadap prestasi belajar antara lain adalah “self efficacy” (misalnya Ramdass and Zimmerman (2008). Sedangkan variabel yang umumnya tak berpengaruh terhadap prestasi adalah sikap terhadap mata pelajaran. Reiss (2009) menemukan ada enam “personality needs” yang erat kaitannya dengan “low achievement in school” yaitu “high need for acceptance”, “low need for cognition”, “lack of ambition”, “low need for order”, “low need for honor”, dan “high need for vengeance”. Variabel lingkungan belajar yang ditemukan berpengaruh misalnya adanya standard kelulusan (Cavanagh, 2009; Mc Neil, 2009). Penguasaan guru terhadap materi pelajaran misalnya, ditemukan lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa dari pada penguasaan metode mengajar (Telese, 2005; Viadero, 2009). Penelitian yang lainnya (Moon and Lee, 2009) tentang predictors dari prestasi anak di sekolah, menemukan bahwa yang signifikan pengaruhnya adalah “family factors especially parent education level and income”, “parent-child home activity”, dan “parental psychological well-being”. Selanjutnya, ia menemukan bahwa “parent school involvement” tak berkaitan dengan prestasi anaknya di sekolah.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa prestasi yang dihasilkan oleh siswa bukanlah hasil dari sebuah faktor, melainkan hasil dari berbagai faktor yang saling terkait satu sama lainnya.

Secara umum prestasi siswa dalam bidang matematika dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal siswa serta interaksi dari keduanya. Dalam penelitian ini, faktor yang dianggap memiliki pengaruh terhadap prestasi siswa di bidang matematika ditetapkan berdasarkan data yang diperoleh dari level siswa berupa angket siswa dan level sekolah berupa angket guru dan angket kepala sekolah.

Dari angket siswa diperoleh informasi mengenai faktor internal dari level siswa yang diduga

memengaruhi prestasi siswa, yaitu self efficacy siswa, attitude siswa terhadap matematika, attitude

siswa terhadap sekolah, sikap siswa terhadap guru, pentingnya matematika, orang tua peduli, dan

tindakan bully yang dialami siswa. Sedangkan faktor eksternal dari level sekolah yang didapatkan

dari angket guru adalah siswa aktif belajar, good teaching practice, efficacy guru, hambatan guru

dalam mengajar, penggunaan komputer dalam mengajar, interaksi antar sesama guru, sikap terhadap

profesi, dan lama mengajar. Sedangkan dari angket sekolah, faktor yang diduga memberikan

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 6 pengaruh kepada prestasi siswa adalah kepemimpinan sekolah, sosial ekonomi sekolah, dan sumber daya yang dimiliki sekolah.

2.2. Pendekatan Multi Level Untuk Prestasi Belajar

Berdasarkan pada ketersediaan data, diteorikan bahwa ada tujuh variabel dari level siswa, dan tiga belas variabel dari level sekolah terdiri dari sepuluh variabel guru dan tiga variabel sekolah (seperti yang telah diidentifikasi dari kuesioner TIMSS di atas) yang mempunyai pengaruh terhadap tinggi rendahnya prestasi siswa, baik yang berupa pengaruh secara langsung maupun tidak langsung dan interaksinya. Adapun model teoretis yang disusun berdasarkan ketersediaan data dan akan digunakan sebagai landasan bagi pengembangan model dalam penelitian ini adalah seperti pada gambar berikut ini:

WITHIN

BETWEEN

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 7 Gambar 2.1. Model Prestasi Belajar pada Level Siswa dan Level Sekolah

Tentu saja sangat banyak model yang dapat diteorikan berdasarkan pada variable-variabel pada gambar di atas, tetapi penulis akan memulai analisis dengan landasan teoretis ini. Deskripsi dari gambar di atas adalah sebagai berikut. Pada model within, prestasi matematika (Ach_Mat) dipengaruhi secara langsung oleh dua variabel yaitu self efficacy (effmath) dan attitude siswa terhadap matematika (attmath). Variabel-variabel yang lain juga memiliki pengaruh terhadap prestasi matematika, tetapi tidak secara langsung, yaitu melalui self efficacy dan attitude (sikap terhadap matematika). Self efficacy dipengaruhi oleh sikap terhadap matematika (attmat). Sikap terhadap matematika dipengaruhi sikap siswa terhadap guru (ssguru), pentingnya matematika (import), kepedulian orang tua (otpeduli), dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain (bully). Sikap siswa terhadap guru dan sikap siswa terhadap sekolah dipengaruhi oleh kepedulian orang tua dan tindak kekerasan yang dilakukan siswa lain.

Selanjutnya pada model between, variabel level sekolah diukur melalui tiga belas variabel dari kuesioner guru dan kepala sekolah. Ketiga belas variabel tersebut adalah dari kuesioner guru meliputi: siswa aktif belajar (sab), good teaching practice (gtp), efficacy guru (effguru), penggunaan sumber daya sekolah (useres), penggunaan komputer dalam mengajar oleh guru (usecomp), hambatan yang dialami guru, lama mengajar guru (exp), sikap terhadap profesi (attprof), dan pendidikan guru (pend). Variabel level sekolah yang bersumber dari dari kuesioner kepala sekolah adalah sosial ekonomi siswa di sekolah (sosek_s), sumber daya yang dimiliki sekolah (sresourc), dan kepemimpinan di sekolah (leader),.

Varaibel level sekolah tersebut diteorikan sebagai berikut. Sosial ekonomi sekolah diteorikan

memengaruhi sumber daya sekolah, penggunaan komputer, hambatan guru dalam mengajar, interaksi

antar guru. Selain itu sosial ekonomi sekolah juga memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap

prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Kepemimpinan sekolah

memengaruhi efficacy guru, good teaching practice dan juga memengaruhi prestasi siswa. Selain itu

kepemimpinan sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan

memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel lama mengajar guru diteorikan

memengaruhi siswa aktif belajar dan interaksi antar guru. Variabel sikap terhadap profesi

memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Variabel pendidikan memengaruhi efficacy

guru dan intaraksi antar guru.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 8 Pada variabel sumber daya sekolah diteorikan memengaruhi penggunaan sumber daya sekolah, penggunaan komputer dalam mengajar, good teaching practice, dan memengaruhi prestasi. Selain itu, sumber daya sekolah juga diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Interaksi antar sesama guru memengaruhi efficacy guru. Variabel penggunaan komputer dan hambatan guru memengaruhi good teaching practice dan efficacy guru. Selain itu, hambatan guru juga diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar, dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Variabel efficacy guru diteorikan memengaruhi good teaching practice dan siswa aktif belajar. Selain itu, efficacy guru juga diteorikan memengaruhi prestasi dan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Untuk variabel good teaching practice diteorikan memengaruhi siswa aktif belajar dan prestasi serta memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi. Sedangkan variabel siswa aktif belajar diteorikan memengaruhi pengaruh attitude siswa terhadap prestasi dan memengaruhi pengaruh efficacy siswa terhadap prestasi.

Dalam penyusunan model prestasi belajar ini, semua variabel baik pada level siswa maupun

sekolah akan dilihat pengaruhnya baik langsung maupun tidak langsung serta interaksi yang didapat

dari kedua level tersebut terhadap prestasi matematika.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 9

Bab III

Metode Penelitian

3.1. Sampel Penelitian

Penelitian ini didasarkan pada data TIMSS tahun 2011. Berdasarkan data TIMSS tersebut, diketahui bahwa subyek penelitian adalah siswa berusia 13 tahun yang bersekolah di SMP dan MTs pada tahun 2011 berjumlah 5795 siswa. Sedangkan untuk sampel guru terdapat 170 orang dan sampel sekolah sebanyak 153 sekolah. Teknik dan prosedur penentuan sampel dan pengambilan data dapat dilihat pada laporan teknis TIMSS tahun yang bersangkutan, di mana teknik random sampling yang pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh siswa, kusioner guru yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang diisi oleh guru, dan kuesioner sekolah yang berisi pertanyaan atau pernyataan yang knowing terdiri dari kemampuan melakukan recall, recognize, compute, retrieve, measure, dan classify/order. Aspek applying terdiri dari kemampuan melakukan select, represent, model, implement, dan solve routine problem. Sedangkan aspek reasoning meliputi kemampuan melakukan analyze, generalize, sinthesize/integrate, justify, dan solve non-routine problem.

Pada penelitian ini skor tes tes kemampuan/prestasi matematika yang digunakan adalah prestasi matematika secara umum, tidak pada masing-masing konten atau aspek.

3.2.2. Angket/Kuesioner

Angket/Kuesioner bertujuan untuk mengumpulkan data dari variabel yang terkait dengan prestasi belajar, baik itu tentang siswa dan keluarganya yang termasuk dalam level siswa dan angket guru dan kepala sekolah yang termasuk dalam level sekolah. Angket/ kuesioner yang diisi oleh siswa maupun guru dan kepala sekolah dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak. Dalam penelitian ini hanya variabel-variabel yang signifikan saja pada saat dilakukan analisis SEM yang terpakai, yang selanjutnya akan dianalisis dengan multi level. Kuesioner tersebut adalah:

a. Kuesioner Siswa

Angket/kuesioner yang diisi oleh siswa dikelompokkan ke dalam beberapa hal atau konstrak.

Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 10

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 11

Angket/kuesioner yang diisi oleh guru dan kepala sekolah juga dikelompokkan ke dalam

beberapa hal atau konstrak. Variabel-variabel tersebut dan indikatornya dapat dilihat pada tabel

berikut ini:

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 12

NO VARIABEL KETERANGAN INDIKATOR

 Share Learning

 Visits

 Work Together

9 SAB Siswa aktif belajar  Ask Students\Explain How To Solve

 Ask Students\Memorize Rules

 Ask Students\Work With Guidance

 Ask Students\Work In Whole Class

 Ask Students\Explain Their Answers 10 GTP Good teaching practice  Summarizing

 Relate To Students Lives

 Elicit Reasons

 Encourage Students

 Praise Students

 Bring Interesting Material 11 SRESOURC Sumber daya sekolah  Total Number Computers

12 SOSEK_S Sosial ekonomi siswa  Students Background\Economic Disadva 13 LEADER Kepemimpinan di

sekolah  Vision Or Goals

 Developing Goals

 Orderly Atmosphere

 Clear Rules

 Addressing Behavior

 Initiating Projects

 Professional Development

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 13 3.3. Uji Validitas Konstruk

Pengujian validitas konstruk dilakukan dengan cara menguji hipotesis yang menyatakan bahwa semua item mengukur satu hal saja yaitu konstruk yang didefinisikan. Dalam hal ini, metode statistika yang dikenal sebagai Confirmatory Factor Analysis (CFA) dapat digunakan. Ada dua langkah yang perlu dilakukan dalam rangka analisis ini: (1) menguji hipotesis apakah suatu model uni-dimensional (semua item merupakan indikator bagi satu faktor yang hendak diukur) sesuai (fit) dengan data yang dihasilkan, dan (2) jika terbukti memang model uni-dimensional yang fit dengan data, maka dilakukan uji hipotesis apakah masing-masing item signifikan dalam menghasilkan informasi tentang faktor yang diukur. Hipotesis yang pertama dapat diuji dengan 

2

test apakah ada perbedaan yang signifikan antara model dan data, sedangkan hipotesis yang kedua dapat diuji misalnya dengan

t test  terhadap masing-masing koefisien muatan faktor, apakah signifikan lebih besar dari nol.

Sebelum dilakukan uji validitas, peneliti memeriksa kembali item dan pilihan skor yang tersedia. Bila ada item yang pernyataannnya berbentuk unfavorable maka skornya disesuaikan. Dalam penelitian ini, analisis faktor konfirmatorik (CFA) ini dilakukan terhadap variabel yang memiliki lebih dari tiga butir-butir pernyataan. Dalam penelitian ini, uji CFA menggunakan software Lisrel versi 8.8 (Joreskog danSorbom, 2006).

3.4. Teknik Analisis Data

Tujuan penelitian ini selain untuk mengetahui gambaran prestasi siswa bila dikaitkan dengan variabel pada level siswa dan level sekolah, dan yang utama adalah untuk mengetahui struktur model teoretis di level siswa yang dapat menjelaskan prestasi siswa Indonesia dalam bidang matematika, diperoleh variabel-variabel yang signifikan pengaruhnya terhadap variabel lainnya. untuk memperoleh variabel yang pengaruhnya signifikan terhadap variabel lainnya serta interaksinya peneliti menggunakan model persamaan struktural dengan latent variabel. Kedua, setelah dilakukan uji model persamaan dan diperoleh variabel yang signifikan pengaruhnya, peneliti melakukan analisis dengan menggunakan analsiis multi level. Variabel di level siswa dikelompokkan sebagai model within dan variabel di level sekolah sebagai model between.

Pada model within akan diketahui variabel apa saja yang memiliki pengaruh langsung terhadap prestasi siswa, dan pengaruh tersebut apakah dipengaruhi oleh variabel-variabel yang berada dalam model between.

Dalam penelitian ini, baik analisis persamaan struktural dengan latent variabel maupun analisis

multi level akan menggunakan software MPLUS (Muthen, 2012).

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 14

Bab IV Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan deskrispsi tentang responden penelitian yang meliputi siswa, guru, dan sekolah. Selain itu, akan diuraikan tentang temuan-temuan yang didapat dalam penelitian mengenai prestasi matematika berdasarkan pengaruh variabel level siswa maupun level sekolah dan interaksinya. Yang pertama akan disajikan adalah gambaran deskriptif tentang responden dan tentang prestasi matematika, beberapa contoh prestasi siswa dikaitkan dengan variabel yang lain. Kemudian akan disajikan hasil temuan dari analisis multi level.

4.1. Deskripsi Responden

Responden dalam penelitian ini didasarkan pada data yang ada dalam laporan TIMSS tahun 2011. Responden terdiri dari siswa SLTP kelas delapan, guru , dan sekolah. Berikut ini gambaran responden penelitian.

4.1.1. Deskripsi Siswa

Berdasarkan data TIMSS tahun 2011, siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 5795 siswa. Deskripsi siswa yang akan ditampilkan berikut ini adalah tentang jenis kelamin, tahun kelahiran/usia, jumlah buku yang dimiliki di rumah, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendidikan ayah, tingkat pendidikan yang ingin dicapai siswa, waktu yang diluangkan siswa untuk mengerjakan PR di rumah.

a. Jenis Kelamin

Dari jumlah sampel sebanyak 5795 orang, bila dilihat dari jenis kelamin dapat dinformasikan sebagai berikut:

Gambar 4.1. Responden Siswa Berdasarkan Jenis Kelamin 48,7 %

51,3 %

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 15 Pada gambar di atas dapat diinformasikan bahwa berdasarkan jenis kelamin, responden dalam penelitian ini tidak jauh berbeda antara sampel laki-laki dengan perempuan. Responden laki-laki berjumlah 48,7 %, sedangkan perempuan sedikit lebih banyak yaitu berjumlah 51,3 %.

b. Tahun Kelahiran Siswa

Meskipun seluruh sampel penelitian adalah siswa SMP/MTs kelas delapan, namun responden penelitian memiliki tahun kelahiran yang berbeda, sehingga usia siswa pun berbeda-beda. Berikut ini gambaran responden berdasarkan tahun kelahiran.

Gambar 4.2. Responden Siswa Berdasarkan Tahun Kelahiran

Berdasarkan gambar di atas dapat diinformasikan bahwa rentang tahun kelahiran responden adalah antara tahun 1993 sampai 2001. Tahun kelahiran responden yang dominan adalah tahun 1997 sebanyak 3063 siswa atau 52,9% yang berarti berusia 14 tahun. Berikutnya adalah responden yang lahir tahun 1996 sebanyak 1879 siswa atau 32,4% yang berarti berusia 15 tahun. Responden yang tertua adalah responden yang lahir tahun 1993 yang berarti berusia 18 tahun dengan jumlah sebanyak 13 siswa atau 0,2 %, sedangkan responden termuda lahir tahun 2001 sebanyak 9 siswa atau 0,2 %.

Perbedaan usia berdasarkan data di atas mungkin disebabkan oleh usia yang berbeda saat

memasuki jenjang sekolah dasar maupun menengah di kalangan siswa atau siswa tinggal kelas saat di

sekolah dasar atau menengah.

Final Report Determinants Of Learning Outcomes - TIMSS 2011 16 c. Jumlah Kepemilikan Buku di Rumah

Deskripsi berikut ini berkaitan dengan pertanyaan “kira-kira berapa jumlah buku yang ada di rumahmu? (tidak termasuk majalah, surat kabar/koran atau buku-buku sekolahmu)”. Gambaran kepemilikan buku dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.3. Responden Siswa Berdasarkan Kepemilikan Buku di Rumah

Berdasarkan informasi di atas, sebagian besar siswa (52,7 %) memiliki buku antara 11 sampai

Berdasarkan informasi di atas, sebagian besar siswa (52,7 %) memiliki buku antara 11 sampai

Dalam dokumen Kata Pengantar. Jakarta, 5 Desember 2012 (Halaman 9-0)