• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Hasil Perencanaan Produksi Agregat

4.5.1. Perumusan Model Pemrograman Linier

Perumusan pemrograman linier dalam penelitian ini didasarkan oleh model yang dijelaskan oleh Kusuma (2004), namun disesuaikan dengan keadaan perusahaan.

a. Fungsi Tujuan

Tujuan masalah ini adalah meminimumkan biaya total satu tahun dengan periode triwulan. Total biaya dalam konteks ini adalah jumlah biaya keseluruhan permintaan palet selama satu tahun yang dihitung dengan periode triwulan. Sehingga biaya total C dituliskan sebagai berikut : 4 Min C = ∑ ( 36.500M1t + 30.780M2t + 12.500Nt + 1000Ot + 3000Pt ) t = 1 keterangan : C : Total biaya (Rp)

t : periode waktu (triwulan)

M1t : Jumlah Palet ekspor yang dipoduksi pada periode t (unit)

M2t : Jumlah Palet lokal yang dipoduksi pada periode t (unit)

Nt : Jumlah pemakaian jam kerja variabel periode t (jam)

Ot : Jumlah persediaan produk jadi pada periode t (unit)

Pt : Jumlah subkontrak palet pada periode t (unit) b. Variabel Keputusan

Lima variabel keputusan yang digunakan pada penelitian ini adalah jumlah palet ekspor, jumlah palet lokal, jam tenaga kerja, jumlah persediaan produk jadi dan jumlah subkontrak. Jumlah ini dilambangkan sebagai berikut :

M1t = jumlah palet ekspor pada triwulan ke-t

M2t = jumlah palet lokal pada triwulan ke-t

Nt = jumlah jam tenaga kerja pada triwulan ke-t

Ot = jumlah persediaan produk jadi pada triwulan ke-t

Perhitungan Koefisien Fungsi Tujuan pada Model LP : 1. Biaya produksi palet ekspor

Biaya produksi palet ekspor berbeda dengan palet lokal. Pembebanan biaya pada Palet ekspor sebesar Rp 36.500,- per-unit Rincian biaya untuk memproduksi satu unit palet adalah :

a. Biaya tenaga kerja tak langsung = Rp 1.780,- b. Bahan baku: 25 dm3 x Rp 800,-/ dm3 = Rp 20.000,- c. Biaya overhead variabel = Rp 9.000,- d. Biaya Perlakuan Heat Treatment = Rp 5.720,-

Total biaya Rp 36.500,-

Koefisien dari variabel palet ekspor (M1t) adalah Rp. 36.500,- per-unit

M1

2. Biaya produksi palet lokal

Pembebanan biaya untuk Palet lokal lebih rendah dari pada Palet ekspor karena Palet lokal tidak melalui proses Heat Treatment, pembebanannya sebesar Rp 30.780,- per-unit. dengan rincian biaya yaitu :

a. Biaya tenaga kerja tak langsung = Rp 1780,- b. Bahan baku: 25 dm3 x Rp 800,-/ dm3 = Rp 20.500,- c. Biaya overhead variabel = Rp 9.000,-

Total biaya Rp 30.780,-

Koefisien dari variabel palet lokal (M2t) adalah Rp 30.780,- per-unit M2

3. Biaya tenaga kerja

Tenaga kerja yang dijadikan variabel keputusan adalah tenaga kerja borongan dan harian. Perubahan penggunaan tenaga kerja berbanding lurus dengan jumlah unit yang diproduksi. Biaya untuk tenaga kerja per-jam adalah Rp 12.500,-. Rinciannya sebagai berikut :

a. Tenaga kerja borongan = Rp 9.375,- b. Harian atau finishing (Rp/jam)

Rp 200.000 / bulan : 64 jam / bulan

= Rp 3.125,-

Total biaya Rp 12.500,- Koefisien dari variabel tenaga kerja (Nt) adalah Rp.12.500,- per-jam N

44

4. Biaya persediaan produk jadi

Biaya persediaan produk jadi per-unit dihitung berdasarkan perkiraan oleh pihak perusahaan dikarenakan tidak adanya rincian tertulis. Biaya ini terdiri dari biaya penyimpanan, biaya pemesanan dan biaya setup dengan perkiraan biaya sebesar 0,5 persen dari total rata-rata pengeluaran tiga bulan terakhir dibagi 25 persen dari rata-rata permintaan pelanggan pada tiga bulan terakhir yaitu ((0,5 % x Rp 182.984.374,-) / (25 % x 3.655 unit)) = 1001,28 / Rp 1000,-. Koefisien dari variabel jumlah persedian produk jadi (O) adalah Rp. 1.000,- per- unit Ot

5. Biaya subkontrak

Biaya subkontrak dihitung berdasarkan biaya rata-rata per-unit jika perusahaan membeli palet dari luar perusahaan. Subkontrak dilakukan jika memang perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan dan menjaga loyalitas patner bisnis. Biaya subkontrak terdiri dari : pembelian palet maksimal biaya palet lokal yaitu Rp 30.780,- serta ongkos transportasi dan finishing Rp 3.000,-. Karena jumlah palet subkontrak sudah termasuk kedalam jumlah palet ekspor dan palet lokal maka biaya yang dimasukan hanya biaya transportasi dan finishing sebesar Rp 3.000,- per-unit. Koefisien dari variabel Subkontrak (Pt)

adalah Rp 3.000,- per-unit P.

c. Sistem kendala 1. Jumlah produksi

Jumlah produksi kemasan kayu sama dengan jumlah permintaan pelanggan yang diperoleh dari hasil prediksi permintaan. Kendala jumlah produksi adalah jumlah produksi Palet ekspor dan Palet lokal harus lebih besar atau sama dengan prediksi permintaan pelanggan. dapat dirumuskan menjadi :

M1 + M2 > Prediksi permintaan pelanggan triwulan ke-t

Jumlah produksi dibagi menjadi dua tipe palet yaitu palet ekspor dan palet lokal namun peramalan dilakukan secara keseluruhan. Perusahaan menetapkan kebijakan bahwa palet ekspor setidaknya harus

diproduksi 75 persen dari keseluruhan total produksi pertriwulan. Kebijakan ini didasarkan atas rata-rata perbandingan permintaan palet ekspor dan palet lokal tahun lalu yaitu sekitar 75 : 25 dan target keuntungan yang diperoleh dari palet ekspor.

M1t > 75 % (M1t + M2t) = M1t > 0,75 (M1t + M2t)

= M1t > 0,75M1t + 0,75M2t

= M1t > 0,75M1t + 0,75M2t

= 0,25M1t - 0,75M2t > 0

2. Kapasitas jam kerja

Batas minimal dihitung dengan cara jumlah jam kerja setidaknya harus sama dengan atau lebih dari jumlah pemakaian untuk memproduksi keseluruhan palet pada periode t. Perumusannya adalah sebagai berikut :

Nt > 0,78M1t + 0,78M2t = Nt - 0,78M1t + 0,78M2t > 0

Koefisien pada kendala jam TK diperoleh dari unit yang dihasilkan per-hari (15 unit x 17 orang = 255 unit) dibagi jumlah jam TK borongan dan jam harian untuk palet ekspor / palet lokal.

Maka koefisien 0,78M1t diperoleh dari :

((8 jam x 17 orang) + (8 jam x 8 orang)) jam = 0.78 jam/unit 255 unit

Kapasitas jam tenaga kerja yang tersedia berbeda-beda setiap triwulan tergantung pada jumlah hari libur nasional. Namun pada kasus PT APP diasumsikan bahwa 72 hari kerja pertriwulan. Jumlah jam kerja untuk borongan dan harian pada hari Senin sampai Sabtu adalah 8 jam, kecuali untuk hari jumat adalah 4 jam. Maka jumlah jam kerja rata-rata tenaga kerja pada PT APP per triwulan per orang 528 jam. Kapasitas jam kerja adalah jam kerja borongan ditambah jam kerja harian dan jam kerja subkontrak.

Maka kapasitas jam kerja dapat dirumuskan sebagai berikut :

Kapasitas jam kerja = (528 jam per-orang x 17 orang) + (528 jam per- orang x 8 orang) + jam kerja subkontrak pada periode t = 13.200 jam pertriwulan + jam kerja subkontrak pada periode t.

46

3. Kapasitas gudang produk jadi

PT APP memiliki tiga gudang penyimpanan produk jadi dengan kapasitas masing-masing 1000 unit, sehingga total kapasitas penyimpanan seluruhnya adalah 3000 unit per bulan. Karena periode yang digunakan adalah triwulan maka persamaan kendala dengan menggunakan kapasitas gudang yang tersedia adalah dengan membagi tiga persediaan produk jadi selama satu triwulan.

Kendala dapat dirumuskan menjadi : 0,33Ot < 3000

4. Tingkat persediaan produk jadi

Tingkat persedian produk jadi didasarkan atas adanya penyimpanan sementara produk jadi sebelum dikirim ke pelanggan. Perusahaan menetapkan kebijakan persediaan sebesar 25 persen dari permintaan pelanggan pada periode t.

Kendala ini dirumuskan :

Ot > 25 % (M1t + M2t) = Ot > 0,25 (M1t + M2t)

= Ot > 0,25M1t + 0,25M2t

= Ot - 0,25M1t - 0,25M2t > 0

5. Tingkat subkontrak

Perusahaan menetapkan kebijakan atau perkiraan minimal subkontrak sebesar 10 persen dari jumlah prediksi permintaan pelanggan pada periode t jika permintaan pelanggan kurang dari 18.000 unit pertriwulan, hal ini bertujuan untuk menjaga loyalitas terhadap mitra bisnis / subkontrak dan 30 persen jika permintaan berada pada selang 18.001 unit < 23.000 unit serta 50 persen jika permintaan berada pada selang 23.001.000 unit < 32.000 unit pertriwulan dan seterusnya. Perkiraan sebesar 50 persen ini merupakan perkiraan maksimal perusahaan karena pertimbangan perkiraan ini jarang sekali terjadi dan kemungkinan tidak akan terjadi satu atau dua tahun kedepan.

a) Perumusan kendala untuk perkiraan subkontrak 10 persen jika M1t +

M2t < 18.000 unit pertriwulan adalah :

Pt > 10 % (M1t + M2t) = Pt > 0,1 (M1t + M2t)

b) Perumusan kendala untuk perkiraan subkontrak 30 persen jika 18.001 unit < M1t + M2t < 23.000 unit pertriwulan adalah :

Pt > 30 % (M1t + M2t) = Pt > 0,3 (M1t + M2t)

= Pt > 0,3M1t + 0,3M2t

= Pt - 0,3M1t - 0,3M2t > 0, dst.

6. Kapasitas produksi mesin

Kapasitas produksi mesin dihitung berdasarkan kapasitas maksimal mesin berproduksi dalam satuan kubik, dimana penggunaan kubik perunit adalah 0,025 m3 / 25 dm3. Perhitungannya sebagai berikut:

Kapasitas maksimal = (5,6 m3 x 72 hari = 403,2 m3) + ((% subkontrak x permintaan pelanggan pada periode t) x 0,025 m3 perunit).

Maka kendala ini dapat dirumuskan (dalam dm3) : a) Kapasitas mesin untuk subkontrak10 persen :

25M1t + 25M2t < 403.200 + ((10 % (M1t + M2t) x 25 dm3 )

b) Kapasitas mesin untuk subkontrak 30 persen :

25M1t + 25M2t < 403.200 + ((30 % (M1t + M2t) x 25 dm3 ) d. Perbandingan Hasil Aktual dengan Hasil Optimal

Pengolahan data yang diperoleh dilakukan dengan software Lindo dan untuk melihat keabsahan atau terwakilinya sistem yang ada diperusahaan. Maka model ini diuji validitasnya dengan membandingkan performance-nya dengan data masa lalu yang tersedia yaitu triwulan terakhir. Hasil Validasi dari model ini dapat dilihat pada Lampiran 7.

Hasil dari pengolahan diperoleh perbedaan biaya (efisiensi biaya) setelah dipotong pajak dan setoran ke bank yaitu pada triwulan ke-2 tahun 2007 adalah Rp 14.016.451,00 (Rp 548.953.123,00 (aktual) – (Rp 497.436.672,00 (optimal) + Rp 37.500.000,00)). Model dikatakan valid jika dengan kondisi input yang serupa, dapat menghasilkan kembali performance seperti masa lampau. Adanya efisiensi biaya pada penerapan model ini menjadikan indikator bahwa dengan model ini diharapkan perusahaan akan berproduksi secara efisien terutama dilihat dari segi biaya.

48

Dokumen terkait