DALAM MENGATASI EKONOMI KELUARGA
2. Perumusan Rencana Program
Bertolak dari rumusan berbagai masalah, penyebab, dampak, serta kebutuhan dan potensi, juga pemecahan masalah, seperti yang tercantum pada tabel 11, maka perlu adanya suatu perumusan rencana program yang merupakan kelanjutan dari solusi masalah.
Berdasarkan tujuan pencapaian yang telah dirumuskan, rancangan program dalam kerangka optimalisasi peran kelembagaan pemuda menemukan arah yang lebih determinatif. Sejumlah ide bermunculan, mulai dari yang berkesan terlampau dangkal, hingga yang amat kreatif. Namun, itu semua perlu dikonstruk lebih lanjut, dengan mempertimbangkan masalah yang dihadapi dan telah dirumuskan, tujuan dan berbagai konteks dalam peningkatan peran ekonomi kelembagaan pemuda. Ini mengingat rencana program yang disusun seharusnya bersifat aplikatif, namun tetap mempertimbangkan konseptual yang mendalam. Sejumlah rencana program yang dapat dikonstruk berdasarkan hasil FGD, dan berbagai ide yang terhimpun antara lain :
a. Program Optimalisasi Peran Kelembagaan Pemuda dalam Peningkatan Ekonomi dengan Pendirian Laboratorium Bisnis.
Secara kongkrit, program ini adalah pembentukan Laboratorium Bisnis bagi berbagai kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat. Laboratorium Bisnis ini akan merefleksikan seluruh atmosfir dunia usaha yang aktual, sehingga format yang dipilih adalah sebuah Unit Usaha yang Berbadan Hukum. Dengan pertimbangan modal awal yang terbatas, Unit Usaha ini akan memilih format Persekutuan Komanditer (CV.).
Badan Hukum berbentuk koperasi sengaja tidak menjadi alternatif pilihan, karena dipandang kurang dapat merefleksikan serta mewadahi realitas dunia bisnis. Koperasi dipandang kurang memiliki daya untuk mendidik para pemuda ini, karena bias yang terlanjur berkembang di masyarakat umum bahwa koperasi adalah unit usaha yang terlampau dilindungi dan diberi banyak fasilitas, padahal, justru unit ini mestilah menjadi wahana didik di mana para pemuda diperkenalkan dengan berbagai bentuk persaingan, intrik, beragam skema bisnis, skema perjanjian dan berbagai realitas bisnis yang niscaya ditemui dalam menjalankan suatu bisnis yang sehat.
Program ini dapat dikatakan merupakan perwujudan dari strategi creating dalam teori pengembangan kapasitas kelembagaan pada perspektif kapital sosial. Unit yang dibentuk ini diharapkan menjadi suatu inkubator bagi lahirnya para wirausahawan muda di daerah ini. Dengan memilih format Badan Hukum yang sama dengan realitas bisnis, diharapkan entitas ini dapat mengenyam berbagai pengalaman dari dinamika jejaring dunia bisnis yang sangat keras. Dari format ini, para pemuda dapat belajar tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kewirausahaan:
1) Membangun bisnis dari nol.
Jejaring sosial di Kelurahan Cibabat diharapkan membantu, bukan dalam bentuk fasilitas. Justru mereka membutuhkan suatu pengalaman nyata tentang bagaimana terjun dan berkecimpung di realitas nyata. Para pihak terkait lebih diharapkan memberikan bimbingan dan wawasan, dan memberikan peluang yang cukup bagi unit ini untuk menemukan kompetensi inti yang dapat dikembangkan sehingga dapat membangun daya saing.
2) Membangun dan menjalin relasi.
Para pihak yang terlibat dapat membuka akses awal dari jejaring yang belum terakses. Berangkat dari sini, para pemuda akan dapat mempelajari berbagai konvensi yang berlaku dalam pergaulan bisnis dan mengambil manfaat.
3) Mempelajari aktifitas marketing.
Unit Bisnis ini akan mencari kesempatan untuk terjun dalam kompetisi merebut proyek di Pemerintahan Daerah, dan mempelajari berbagai manuver yang perlu dikuasai. Dan pengalaman yang didapat dari upaya semacam ini akan meningkatkan ketrampilan dalam memperoleh proyek dari institusi dan sektor swasta yang memilik persyaratan lebih ketat.
4) Mencari akses permodalan.
Alasan klasik kurangnya modal dalam memulai usaha adalah refleksi dari belum terbangunnya jiwa kewirausahaan yang baik. Justru dari kebutuhan permodalan, kreatifitas dituntut untuk berkembang dan menjajagi berbagai akses modal, baik lembaga finansial perbankan, nonbank, mau pun personal. Disini akan didapat keterampilan yang amat berharga untuk mengakses berbagai lembaga keuangan, dan memahami teknik perbankan dan manajemen finansial.
5) Mempelajari berbagai skema perjanjian bisnis dan administrasi.
Dengan terjun langsung, Unit Bisnis ini akan menuntut para aktivis mengakrabi berbagai skema perjanjian bisnis. Dalam hal ini pun, mereka dapat memperoleh pemahaman yang berharga tentang administrasi bisnis.
6) Mengenal berbagai intrik dan manuver bisnis.
Realitas bisnis yang penuh dengan intrik dan manipulasi yang terkadang terlihat rumit serta terkesan kotor bagi para pemuda yang rata-rata masih memelihara idealisme dan menjunjung tinggi kejujuran, tentulah akan membuat para aktivis muda yang mengikuti kegiatan ini cukup mengagetkan. Namun, pengetahuan mengenai banyak sisi kelam dunia bisnis secara praktis justru akan membuka wawasan dan memberikan mereka kesempatan untuk mencari ide-ide kreatif yang berguna untuk membangun tatanan baru dunia usaha yang sesuai dengan idealisme yang mereka pelihara.
Inti dari semua itu adalah membangun dan memanfaatkan modal sosial serta jejaring sosial yang eksis di Kelurahan Cibabat, melalui pengembangan kelembagaan. Meski pun dalam konteks bisnis, namun
ketrampilan yang dibangun tentunya juga akan membangun ketrampilan kewirausahaan sosial pula. Ini mengingat sosial entrepreneurship dan business entrepreneurship adalah jenis kepakaran yang dapat dikategorikan identik, dan hanya berbeda bila dilihat dari aras etik yang melandasinya ( Bornstein, 2006).
Secara pragmatis, program ini memiliki daya tawar yang kuat bila diperhadapkan dengan pihak Pemerintah Daerah. Karena, bila program ini berhasil diimplementasikan, lembaga pemuda akan memiliki kemungkinan untuk memiliki kesanggupan berswadaya dan swadana. Dengan demikian, pemerintah akan beroleh keuntungan, apalagi bila pihak Pemerintah Daerah mengkonfersikan dana pembinaan pemuda kepada pemberian kesempatan bagi unit usaha ini untuk terjun dalam pengelolaan proyek-proyek di Kantor Pemerintahan Daerah. Fasilitas semacam ini sangat cocok untuk menjadi batu loncatan pertama bagi Unit Bisnis yang masih prematur untuk memperoleh pengalaman yang sangat berguna dalam pengelolaan usaha. Dengan demikian, resiko kegagalan dalam pengelolaan proyek tersebut, atau bahkan keuntungan yang dapat diperolehnya merupakan hasil perhitungan konversi dari anggaran pembinaan kelembagaan pemuda yang cukup besar.
b. Program Pembentukan Forum Bersama Kelembagaan Pemuda.
Forum ini dirancang untuk mengelola aspirasi berbagai lembaga kepemudaan di Kelurahan Cibabat, yang diharapkan dapat mewadahi berbagai aktifitas yang menjurus pada persiapan dan pematangan konsep. Ini merupakan perwujudan dari strategi bridging dalam teori pengembangan kapasitas kelembagaan pada perspektif Kapital Sosial.
Program ini sangat mungkin akan mengalami hambatan, karena sekat-sekat struktural yang telah mapan akan mewarnai setiap dialog. Namun, krusialitas permasalahan ekonomi sangat mungkin untuk menghadirkan atmosfir yang memungkinkan hadirnya kesadaran akan adanya kepentingan bersama, dan arti penting pembentukan forum.
Kehadiran pihak netral yang berfungsi sebagai pendamping dalam forum ini pun dirasakan perlu. Pendamping ini disamping harus dapat
diterima oleh semua pihak, ia pun mesti memiliki kompetensi yang cukup untuk memberikan masukan-masukan dalam konteks manajerial, dan wawasan bisnis. Jadi, dalam hal ini pihak swasta dianggap pendamping yang cocok.
Forum ini akan mencari format konseptual, struktural dan implementasi dari Laboratorium Bisnis yang dibangun. Berbagai hal yang menjadi urgensinya antara lain merumuskan masalah kepemilikan dari saham, yang berujung pada proporsi pembagian tanggung jawab, resiko, maupun hasil keuntungan, memecahkan masalah struktur organisasi, merumuskan aturan main dan menyusun anggaran dasar, serta merumuskan kerangka pelaksanaan program dan penanggung jawab atau pelaksana program.