HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Surat Utang
4.1.4. Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia
PT. Akasha Wira International Tbk (ADES) yang bergerak di bidang usaha produksi dan distribusi AMDK serta Kosmetika. Selama tahun 2013, Perseroan mengoperasikan 2 pabrik, 1 (satu) pabrik untuk memproduksi produk AMDK di Cibinong dan 1 (satu) pabrik untuk memproduksi produk kosmetika di Kawasan Industri Pulogadung. Di tahun 2013 divisi AMDK Perseroan membukukan penjualan pendapatan masing-masing masing sebesar Rp 214 milyar untuk AMDK dan sedangkan divisi Kosmetika Rp 288 milyar untuk segmen kosmetika, dengan dan menghasilkan total Laba Bersih secara keseluruhan sebesar Rp 55,6 milyar.
PT. Polychem Indonesia Tbk. merupakan satu-satunya produsen Mono-Etilena Glikol (MEG), Di-Mono-Etilena Glikol (DEG), Tri-Mono-Etilena Glikol (TEG) dan berbagai produk Etoksilat (EOX) di Indonesia. Selama tahun 2013, penjualan produk-produk EG mencapai USD 224 juta. Penjualan produk EG ini mewakili 44.4% dari total penjualan konsolidasi perseroan di tahun 2013. Dari segi nilai,
77 % penjualan EG perseroan berasal dari pasar dalam negeri dan 23 % sisanya dari ekspor ke negara-negara di Asia dan Amerika Utara. Pada tahun 2013, permintaan MEG di Asia diprediksikan jauh melebihi kapasitas produksinya dan masa depan industri MEG, terutama di Asia, dalam jangka panjang masih sangat menjanjikan. Pada tahun 2013, perseroan memproduksi 48.000 ton berbagai macam produk etoksilat dan dijual ke industri surfaktan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Potensi pasar produk etoksilat perseroan adalah sangat besar, baik di pasar lokal maupun ekspor. Oleh karena itu perseroan telah meningkatkan kapasitas produksi etoksilatnya menjadi lebih dari 80.000 ton per tahun dimulai pada awal kuartal tiga tahun 2013.
Di tengah kondisi cukup berat, PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) mampu melewati tahun 2013 dengan pencapaian yang baik. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk berhasil mempertahankan posisi perusahaan sebagai market leader pada produk mie kering dan bihun kering dengan berbagai produknya, juga sebagai market leader pada produk snack dan mie instan dengan produk merek Taro dan Mie Kremez. Perusahaan mencatatkan perolehan dari penjualan bersih yang mencapai Rp 4.056 miliyar pada 2013 naik dari periode 2012 sebesar Rp 2.747 miliyar. Laba bersih mencapai Rp 310.394 juta pada 2013 naik dari periode 2012 yang senilai Rp 211.197 juta. Pencapaian ini meningkat dan mendekati target yang telah ditetapkan. Inovasi dan strategi telah dijalankan di tiga bisnis utama PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk, yaitu Divisi Makanan (TPS Food), Divisi Beras (TPS Rice) dan Divisi Kelapa Sawit (TPS PalmOil). Sepanjang 2013 PT. Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk tetap fokus terhadap ekspansi pasar
melalui berbagai upaya perluasan jaringan distribusi dan terbukti menjadi penggerak dan pendorong pertumbuhan perusahaan.
PT. Alaska Industrindo Tbk (ALKA), kinerja penjualan perusahaan secara konsolidasian di tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012 mengalami kenaikan sebesar 31,39% dimana 2012 sebesar Rp 836.887.167.929,- dan 2013 menjadi Rp 1.099.620.270.442. Penjualan pada Entitas Anak yang bergerak dalam industri aluminium ekstrusi mengalami peningkatan nilai penjualan dari Rp 84.856.881.293,- ditahun 2012 menjadi Rp 88.491.891.981,- ditahun 2013 atau meningkat sebesar 4,28%. Penjualan pada Entitas Anak yang bergerak dalam bidang perdagangan bahan baku aluminium mengalami kenaikan dari US$
79.850.317,12 di tahun 2012 menjadi US$ 95.726.620,03 di tahun 2013 atau meningkat sebesar 19,88%.
PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI), ditengah ketidakpastian perekonomian dunia yang masih membayangi, perusahaan berhasil meraih kinerja yang baik di tahun 2013. ALMI mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp 2,87 triliun, dengan kuantitas sebanyak 98.965 ton. Kendati jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan nilai dan kuantitas penjualan pada tahun sebelumnya, perolehan keuntungan ALMI justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. ALMI membukukan laba kotor sebesar Rp 173,4 milyar meningkat 47% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan marjin kotor sebesar 6,0%.
Sedangkan laba periode berjalan dicatat sebesar Rp 26,1 milyar atau setara marjin laba bersih sebesar 0,9%, meningkat 87% dari laba periode berjalan tahun sebelumnya. Jumlah laba komprehensif di tahun 2013 juga meningkat signifikan
menjadi sebesar Rp 75,6 milyar terutama karena adanya selisih kurs penjabaran laporan keuangan.
Pada PT. Asahimas Flat Glass Tbk, (AMFG) sepanjang tahun 2013 banyak hal-hal yang cukup mempengaruhi usaha, ditengah kondisi ekonomi global yang masih belum pulih, dari dalam negeri juga terjadi beberapa kenaikan biaya yang cukup besar yang berpengaruh terhadap operasional Perseroan. Namun demikian Perseroan tetap berhasil menangkap peluang yang ada sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan penjualan dan laba bruto dibanding tahun 2012. Pada tahun 2013 Perseroan mencatatkan rekor penjualan baru untuk kaca lembaran dan kaca otomotif, dimana Perseroan mencatat nilai penjualan bersih sebesar Rp 3,22 triliun atau meningkat 13% dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu sebesar Rp 2,86 triliun. Angka penjualan tersebut melampaui target yang dicanangkan oleh Perseroan pada awal tahun 2013 sebesar 7%. Pencapaian ini khususnya didapat dari penjualan domestik Perseroan yang telah melewati target yang ditetapkan.
Pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang cukup baik diikuti dengan peningkatan penjualan domestik dari Rp 1,9 triliun di tahun 2012 menjadi Rp 2,16 triliun di tahun 2013 atau mengalami peningkatan sebesar 13%. Penjualan ekspor juga mengalami peningkatan dari Rp 958 miliar ditahun 2012 menjadi Rp 1,06 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 11% yang terutama berasal dari menguatnya nilai tukar mata uang USD terhadap Rupiah pada semester kedua tahun 2013.
PT. Argo PantesTbk, (ARGO) pada tahun 2013 berhasil membuka beberapa pasar baru, menurunkan biaya pada semua unit usaha, meningkatkan
kualitas produk,memelihara mesin untuk memperbaiki kinerja operasional perusahaan. Perseroan mencatat adanya kenaikan penjualan sebesar 32% dari Rp 1,001 Trilyun ditahun 2012 menjadi Rp 1,327 Trilyun ditahun 2013, suatu kenaikan yang cukup tinggi. Walaupun masih terjadi kerugian, rugi kotor Perseroan menurun drastis sebesar Rp 101 Milyar dari rugi kotor Rp 103,9 Milyar pada tahun 2012 menjadi rugi kotor Rp 2,9 Milyar tahun 2013. Pada tahun 2013 produksi kain Greige mengalami peningkatan yang drastis sebesar 27% dari 22 juta yard tahun 2012 menjadi 27,9 juta yard tahun 2013. Sedangkan produksi kain jadi juga meningkat 23% dari 19,4 juta yard tahun 2012 menjadi 23,9 juta yard tahun 2013.
Sejarah Astra Internasional (ASII) berawal pada tahun 1957 di Jakarta.
Astra memulai bisnisnya sebagai sebuah perusahaan perdagangan umum dengan nama PT Astra International Inc. Pada tahun 1990, dilakukan perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk. Dampak krisis keuangan global turut dirasakan Astra di tahun 2013. Merosotnya harga komoditas telah meredam laju pertumbuhan kinerja keuangan grup agribisnis serta bisnis alat berat dan pertambangan, sementara depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mengakibatkan kenaikan harga bahan baku, komponen dan produk completely built-up (CBU) bagi kegiatan Grup otomotif. Bisnis jasa keuangan mengalami penurunan marjin usaha seiring peningkatan suku bunga oleh Bank Indonesia serta penurunan tingkat likuiditas yang mendominasi pasar keuangan global yang terjadi pada semester kedua.
PT. Astra Auto Part Tbk (AUTO), pada tahun 2013 berhasil meningkatkan pendapatan (revenue) sebesar 29,3% dari Rp 8,3 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 10,7 triliun. Perseroan mencatat laba bersih (net income) Rp 1,01 triliun atau turun 4,5% dibandingkan tahun 2012 yang mencapai Rp 1,05 triliun. Astra Otoparts terus mengembangkan usaha baik secara organic maupun anorganik.
Tahun 2013, Perseroan membangun sejumlah pabrik baru guna meningkatkan kapasitas produksi dari pabrik yang sudah ada, seperti pembangunan pabrik baru PT Toyoda Gosei Safety Systems Indonesia yang memproduksi setir mobil dan airbag, pembangunan pabrik Evoluzione Tyres di Subang yang akan memproduksi ban sepeda motor, pabrik TD Automotive Compressor Indonesia yang memproduksi kompresor untuk AC mobil di Cibitung, dan pabrik Velasto Indonesia yang memproduksi komponen berbahan dasar karet di Purwakarta, serta pabrik PT Astra Juoku Indonesia di Karawang yang memproduksi lampu mobil.
Perusahaan juga melakukan kerja sama dengan MetalArt Corporation, Jepang untuk pendirian pabrik yang akan memproduksi forging parts untuk pasar OEM mobil. Aksi korporasi penting yang juga dilakukan pada tahun 2013 adalah pembelian 51% saham PT Pakoakuina, yang memproduksi wheel rim, untuk memperkuat lini bisnis komponen otomotif.
PT Budi Starch & Sweetener Tbk (d/h PT Budi Acid Jaya Tbk) (Perusahaan) merupakan salah satu Perusahaan yang bernaung di bawah kelompok usaha Sungai Budi Group (SBG). SBG didirikan di Lampung pada tahun 1947, hanya beberapa saat setelah Indonesia merdeka. PT Budi Starch &
Sweetener Tbk (dahulu PT Budi Acid Jaya Tbk) (Perusahaan) berhasil
membukukan peningkatan laba kotor dan laba usaha yang sangat fantastis yaitu masing-masing sebesar 51% dan 79%. Hal ini didukung oleh berlimpahnya panen singkong pada tahun 2013. Seiring dengan peningkatan penjualan tapioka, penjualan divisi sweetener juga meningkat sebesar 21% yaitu dari Rp 678 miliar pada tahun 2012 menjadi Rp 823 miliar pada tahun 2013. Hal ini semua memberikan kontribusi bagi peningkatan penjualan konsolidasi yaitu dari Rp 2,29 triliun pada tahun 2012 menjadi Rp 2,57 triliun pada tahun 2013. Realisasi penjualan tahun 2013 juga telah melampaui target penjualan yang ditetapkan semula yaitu sebesar Rp 2,5 triliun. Peningkatan volume produksi juga meningkatkan laba kotor sebesar Rp 104,2 miliar yaitu dari Rp 203,5 miliar pada tahun 2012 menjadi Rp 307,7 miliar pada tahun 2013. Laba usaha juga meningkat yaitu sebesar Rp 68,8 miliar atau dari Rp 87,3 miliar pada tahun 2012 menjadi Rp 156,1 miliar pada tahun 2013.
PT. Citra Turbindo Tbk, didirikan pada tanggal 23 Agustus 1983 dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Utilisasi produksi untuk tahun 2013 hanya mencapai sekitar 62% dari kapasitas terpasang. Namun demikian selama tahun 2013 terjadi peningkatan jumlah produksi untuk produk dengan nilai tambah yang tinggi yaitu Pipa CRA (Corrosion Resistant Alloy) yang digunakan khusus untuk sumur gas dengan kondisi yang ekstrim dan peningkatan permintaan pipa premium untuk sumur dengan temperatur dan tekanan yang tinggi. Untuk tahun buku 2013 Perseroan telah mencapai target penjualan sebesar AS$ 244,17 juta dimana anggaran yang dirancangkan adalah AS$ 205 juta dengan demikian target tahun buku 2013 telah melebihi 19,11% dari anggaran.
PT. Delta Djakarta Tbk memproduksi bir Pilsner dan Stout berkualitas terbaik yang dijual di pasar domestik Indonesia, dengan merek dagang Anker Beer, Anker Stout, Carlsberg, San Miguel Pale Pilsen, San Mig Light dan Kuda Putih. Sodaku, produk minuman non-alkohol juga diproduksi dan didistribusikan di dalam negeri. Laba bersih komprehensif PT Delta di tahun 2013 mencapai Rp 270 milyar, 27% lebih tinggi disbanding Rp 213 milyar yang dibukukan di tahun 2012. Dengan memperluas jaringan distribusi dan selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat akan produk, maka volume penjualan domestik juga bertumbuh dua digit. Program ekspansi PT Delta yang diimplementasikan di tahun 2012 dan 2013 mulai membuahkan hasil, dimana volume penjualan bertumbuh 14%. Hal ini didukung program-program pendongkrak penjualan dan aktivasi, merek yang mendorong loyalitas dan kesadaran konsumen terhadap merek-merek Perusahaan.
PT. Eterindo Wahanatama Tbk bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit terpadu serta berbagai produk yang dihasilkannya (PT MPK dan PT MBS) serta energi terbarukan terpadu-Biodiesel berbasis minyak sawit (CPO), pelopor dan salah satuprodusen Biodiesel terkemuka di Indonesia sejak 2005 (PT AG).
Total produksi Biodiesel 2013 sebesar 90.882 MT meningkat 43,2% dari tahun sebelumnya sebesar 63.458 MT. Demikian pula penjualan Biodiesel meningkat sebanyak 39,2% dari 62.693 MT pada tahun 2012 menjadi 87.255 MT pada tahun 2013. Penjualan Biodiesel tersebut berkontribusi sebesar 70,6% terhadap pendapatan yaitu Rp 851,9 miliar meningkat sebesar 33,5% dari Rp 638,1 miliar
tahun lalu. Sedangkan perdagangan kimia berkontribusi sebesar 29,2% terhadap pendapatan yaitu Rp 352,3 miliar.
PT. Fajar Surya Wisesa Tbk (yang juga dikenal dengan Fajar Paper) didirikan pada bulan Juni 1987. Fajar Paper adalah produsen kertas kemasan terkemuka di Indonesia. Fajar Paper memproduksi dan menjual kertas kemasan baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor. Pada tahun 2013 penjualan domestik memberikan kontribusi sekitar 86% terhadap total penjualan sementara penjualan ekspor 14%. Fajar Paper menguasai sekitar 30% pangsa pasar industry containerboard di Indonesia. Perusahaan sebagai produsen produk kertas kemasan bermutu sekaligus ikut meningkatkan efisiensi kerja di masa mendatang dengan manajemen bahan baku dan energi yang lebih baik. Tidak hanya karena setiap produk Fajar Paper memulai siklusnya dari kertas daur ulang namun juga karena seluruh mesin kertas Perusahaan dioperasikan dengan pembangkit tenaga listrik milik sendiri.
PT. Gudang Garam Tbk Perseroan membukukan peningkatan penjualan atau pendapatan usaha pada tahun 2013 sebesar 13,1% dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 55,4 triliun, dan laba bersih naik 7,7% menjadi Rp 4,4 triliun, atau setara Rp 2.250 per saham. Dividen senilai Rp 1,5 triliun atau Rp 800 per lembar saham telah dibayarkan kepada para pemegang saham di bulan Agustus 2013 dari laba tahun 2012. Marjin laba kotor Perseroan berhasil ditingkatkan dengan kenaikan volume penjualan serta penetapan strategi harga yang efektif. Dilihat dari nilai rata-rata bergerak, biaya bahan baku masih terbilang tinggi, naik 14,2%, disebabkan oleh harga cengkeh yang tetap tinggi
serta kenaikan volume penjualan kami. Meskipun kelangkaan cengkeh yang terjadi di tahun 2011-2012 telah berlalu, pasokan cengkeh di tahun 2013 masih terbatas dengan harga yang mencapai titik tinggi senilai Rp 180.000 per kg. Hasil panen tembakau tahun lalu sesuai perkiraan. Beban usaha yang meningkat lebih dari sepertiga mencerminkan peningkatan aktivitas pemasaran yang dilakukan untuk peluncuran tiga produk di tahun 2013.
PT. Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk, Jumlah penjualan bersih konsolidasi mencapai Rp 75,0 triliun, atau 12,6% lebih tinggi dari Rp 66,6 triliun yang dicapai di tahun 2012. Penjualan rokok di Indonesia menyumbangkan 99,8% dari penjualan bersih konsolidasi Sampoerna. Kinerja yang baik pada bisnis rokok di Indonesia ini didorong terutama oleh peningkatan volume penjualan menjadi 111,3 miliar batang dari 107,7 miliar batang di tahun 2012, serta kenaikan harga jual selama tahun 2013. Sampoerna kembali memimpin pangsa pasar industri rokok pada tahun 2013 dengan pangsa pasar sebesar 36,1%.
Marlboro menyumbangkan 14,5% dan 13,8% dari jumlah volume penjualan rokok dan nilai penjualan bersih di Indonesia. Sampoerna A masih menjadi penyumbang terbesar terhadap portofolio SKM Sampoerna dengan mencatat jumlah volume penjualan sebesar 44,4 miliar batang, atau 6,0% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sampoerna A menyumbangkan masing-masing 39,9% dan 43,0% dari jumlah volume dan nilai bersih penjualan rokok Sampoerna di Indonesia dibandingkan 38,9% dan 41,2% pada tahun 2012. U Mild adalah penyumbang kedua terbesar terhadap portofolio SKM Sampoerna dengan
peningkatan volume penjualan dan penjualan bersih yang signifikan, masing-masing sebesar 35,6% dan 52,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
PT. Sumi Indo Kabel Tbk Di tahun fiskal 2013 Perusahaan telah melanjutkan aktivitas yang dinamakan “Penyempurnaan SEQCDD”. SEQCDD berarti Keselamatan, Lingkungan, Mutu, Harga, Penyerahan dan Pengembangan.
Secara khusus, dalam arti “S” Keselamatan, nol-kecelakaan tercapai 1.001 hari, ini merupakan catatan terbaik selama 32 tahun Perusahaan beroperasi. “E”
aktivitas lingkungan mempunyai dampak bagi aktivitas CSR Perusahaan yang dianugerahi penghargaan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia untuk Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) untuk periode 2012 – 2013 dengan peringkat BIRU, dan “QCDD” aktivitas membantu Perusahaan dalam mendapatkan kepuasan sebagai pemasok kabel yang baik dari pelanggan. Di tahun fiskal 2014 permintaan untuk pasar ekspor diperkirakan tetap datar, tetapi persaingan biaya akan lebih keras dan lebih keras. Untuk dalam negeri, permintaan seharusnya tetap kuat, dan mudah-mudahan setelah Pemilu Presiden kita dapat mulai kembali banyak proyek infrastruktur. Selain itu, kami baru saja memulai bisnis baru Kawat Otomobil, dan bisnis sekmen baru ini memberikan Perusahaan tidak hanya keuntungan yang stabil dalam fiscal 2014 tetapi juga sistem produksi yang sangat baik dan komprehensif, yang membawa Perusahaan lebih kompetitif di Industri kabel & kawat secara permanen.
PT. Indofarma Tbk merusapakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di industri farmasi yang berkomitmen terhadap ketersediaan,
keterjangkauan dan pemerataan obat generik. Di tahun 2013, geliat industri farmasi sendiri semakin meningkat. Berdasarkan data dari IMS Health MAT 3Q 2013 mengalami pertumbuhan sebesar 13,7% di mana pasar obat generik tumbuh sebesar 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara total, nilai penjualan di tahun 2013 lebih baik dari tahun sebelumnya yaitu mencapai Rp 1,337 triliun; naik 16% dibanding tahun 2012 karena adanya peningkatan penjualan di sektor tender (33,73%) dan penjualan di sector reguler (10,92%).
Selain itu, Perusahaan tetap dapat menjaga ketersediaan produk, harga yang kompetitif, dan penyebaran obat-obatan ke seluruh wilayah Indonesia. Hingga akhir tahun 2013, Indofarma tercatat memiliki kapasitas produksi hingga 6,5 miliar tablet. Saat ini, Indofarma telah memproduksi sebanyak hampir 200 jenis obat yang terdiri dari beberapa kategori produk, yaitu Obat Generik Berlogo (OGB), Over The Counter (OTC), obat generik bermerek, dan lain-lain.
PT Indal Aluminium Industry Tbk (Perseroan) didirikan pada tahun 1971.
PT Indal Aluminium Industry Tbk (Perseroan) adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan aluminium, terutama produk ekstrusion. Kegiatan produksi Perseroan adalah mengolah bahan baku aluminium ingot menjadi aluminium ekstrusion profil yang banyak digunakan dalam industri konstruksi, peralatan rumah tangga, komponen elektronik/otomotif, dan sebagainya, dengan tujuan pemasaran domestik maupun ekspor. Pada akhir tahun 2013, kapasitas terpasang produksi bruto PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) per tahun telah mencapai 24 ribu ton aluminium ekstrusion standar, dari sekitar 18 ribu ton di awal tahun. Dari sisi penjualan, INAI mengalami pertumbuhan dari 10,5 ribu ton
barang jadi (aluminium extrusion finished goods) di tahun 2012 menjadi 11,7 ribu ton di tahun 2013. Dengan kata lain pencapaian tersebut berhasil melewati 10%
target pertumbuhan yang ditetapkan manajemen. Demikian pula dengan pertumbuhan pendapatan dari Rp 582,65 miliar di tahun 2012 menjadi Rp 640,70 miliar, atau merupakan kenaikan sebesar 9,96%. Komposisi penjualan tersebut merupakan kontribusi dari sektor penjualan produk manufaktur sebesar Rp 402,29 miliar, sektor jasa konstruksi Rp 231,09 miliar dan lain-lainnya Rp 7,33 miliar.
Bagi Indofood (INDF), tahun 2013 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi Indofood, dimana tingkat persaingan semakin ketat dan lemahnya harga minyak kelapa sawit menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Beban biaya meningkat dikarenakan melemahnya nilai tukar Rupiah dan naiknya biaya utilitas, serta kenaikan upah yang tinggi. Perseroan mencapai target penjualannya di tahun 2013, dengan mencatatkan pertumbuhan penjualan neto sebesar 15% yang didorong oleh pertumbuhan double-digit Grup CBP, Bogasari dan Distribusi, serta dikonsolidasikannya CMFC (sejak bulan September). Harga berbagai komoditas utama yang melemah, telah mempengaruhi kinerja Grup Agribisnis. Dengan demikian Indofood tidak dapat mencapai target laba usaha di tahun 2013. Laba usaha turun 2,3% terutama karena lebih rendahnya laba usaha yang dicapai oleh Grup CBP dan Agribisnis akibat naiknya gaji, upah dan imbalan kerja karyawan seiring dengan penambahan karyawan dan naiknya upah minimum, kenaikan beban bahan baku dan utilitas didorong oleh depresiasi nilai tukar Rupiah, serta lebih rendahnya harga jual ratarata dari Grup Agribisnis.
Kinerja Indofarma (INDR) pada tahun 2013 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diketahui dari tercapainya volume penjualan tertinggi yang pernah dicapai meningkat sebesar 16% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang disebabkan oleh penambahan kapasitas yang ada di Indonesia dan Uzbekistan. Selain itu, penjualan ekspor US$ 447 juta pada tahun 2013 yang mewakili 59% dari total penjualan. Berlanjutnya kinerja ekspor yang kuat dari Perusahaan, diakui oleh Pemerintah Indonesia dan kembali diberikan gelar kehormatan tertinggi di bidang ekspor, ”Penghargaan Primaniyarta 2013” untuk
”Kinerja Ekspor Luar biasa”.
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) didirikan di Republik Indonesia dalam kerangka Undang-undang Penanaman Modal Asing No. 1 tahun 1967.
Penjualan bersih konsolidasian Perseroan mengalami peningkatan dari US$
2.518,1 juta pada tahun 2012 menjadi US$ 2.651,5 juta pada tahun 2013 atau naik sebesar 5,3%. Laba usaha konsolidasian mengalami peningkatan dari US$ 69,6 juta pada tahun 2012 menjadi US$ 173,5 juta pada tahun 2013 atau naik sebesar 149,3%. Laba bersih konsolidasian Perseroan mengalami peningkatan dari US$
49,7 juta pada tahun menjadi US$ 221,2 juta pada tahun 2013 atau meningkat sebesar 345,1%.
PT Indopoly Swakarsa Industry Tbk. (IPOL) (“Indopoly” atau
“Perseroan”) yang berdiri sejak tahun 1995 dan selama hampir dua dekade telah dikenal sebagai salah satu produsen premium flexible packaging yang terkemuka di Asia Tenggara. Operasi produksi Indopoly tersebar di tiga lokasi, yaitu satu
pabrik yang terletak di Indonesia dan sisanya berlokasi di Cina. Total kapasitas produksi terpasang Perseroan adalah 100.000 ton per tahun.
PT Prasidha Aneka Niaga Tbk didirikan dengan Akta Pendirian nomor 7 pada tanggal 16 April 1974, semula bernama PT Aneka Bumi Asih dan berkedudukan di Jakarta. Kegiatan dan bidang usaha yang kini dijalankan Perseroan, utamanya adalah Pengolahan dan Perdagangan Karet Remah, Kopi Bubuk dan Instan serta Kopi Biji. Pada tahun 2013 Perseroan mengalami penurunan total aset sebesar Rp 778.792.848,- (0,11%) dari Rp 682.611.125.989,- di tahun 2012 menjadi Rp 681.832.333.141,-, namun aset lancar Perseroan mengalami kenaikan sebesar Rp 837.932.089,- (0,22%) dari Rp 380.247.694.632,- di tahun 2012 menjadi Rp 381.085.626.721,-, yang mana jumlah tersebut masih wajar karena sepanjang tahun 2013 Perseroan menjalankan operasinya dan terjadi transaksi – transaksi yang menyebabkan penurunan dan kenaikan dari total aset dan aset lancar Perseroan. Aset tetap Perseroan mengalami penurunan sebesar Rp 7.406.611.040,- (2,62%) dari Rp 283.052.836.745,- di tahun 2012 menjadi Rp 275.646.225.705,- terutama disebabkan adanya penyusutan aset tetap yang terjadi sepanjang tahun 2013.
PT. Asia Pacific Fibers Tbk (dahulu PT Polysindo Eka Perkasa Tbk = POLY), didirikan sejak tahun 1984, merupakan salah satu perusahaan penghasil polyester terkemuka di Indonesia. Kinerja PT. Asia Pacific Fibers Tbk (Perseroan) sepanjang tahun 2013 sangat terpengaruh oleh faktor-faktor tersebut yang menyebabkan penurunan keuntungan yang signifikan. EBITDA tahun ini menurun menjadi US$ 9.57 juta dari total penjualan US$ 565 juta. Namun
demikian, Perseroan mampu untuk mengoperasikan pabriknya baik yang di Karawang maupun di Kendal pada kapasitas optimal sepanjang tahun terutama didukung oleh permintaan pasar domestik yang berkesinambungan dengan basis pelanggannya yang kuat. Perseroan meningkatkan pasokannya atas produk-produk PSF dan PFY miliknyake pasar domestik yang melayani lebih dari 200
demikian, Perseroan mampu untuk mengoperasikan pabriknya baik yang di Karawang maupun di Kendal pada kapasitas optimal sepanjang tahun terutama didukung oleh permintaan pasar domestik yang berkesinambungan dengan basis pelanggannya yang kuat. Perseroan meningkatkan pasokannya atas produk-produk PSF dan PFY miliknyake pasar domestik yang melayani lebih dari 200