BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis Data
4.2.1.1 Pesan
Dalam sebuah keluarga pasti terjadi komunikasi antara suami dengan istri, ayah dengan anak, ibu dengan anak dan anak dengan anak. Dengan seringnya berkomunikasi antara anggota keluarga satu dengan yang lain dapat mempererat tali kekeluargaan sehingga menjadi keluarga yang harmonis.
Di dalam sebuah keluarga tentunya orang tua selalu mengontrol kegiatan anak – anaknya. Orang tua selalu bertanya apa saja kegiatan yang dilakukan anak
di luar rumah agar dapat dipantau untuk tidak melakukan hal – hal negative. Tidak cukup dengan itu saja, orang tua juga harus melakukan pendekatan kepada anak agar anak tersebut merasa nyaman dengan orang tuanya sehingga anak mau menceritakan keluh kesahnya. Dan tidak lupa orang tua tetap member petuah – petuah kepada anak – anaknya agar tidak melakukan hal – hal yang negative.
Di bawah ini terdapat pernyataan dari orang tua mengenai pesan – pesan yang disampaikan kepada anak – anak mereka,
A. Keluarga Gagal
Keluarga gagal disini dapat ditafsirkan jika dalam hubungan keluarga tidak adanya kebahagiaan serta keluarga tersebut sedang bermasalah. Seperti keluarga tersebut tidak bahagia, membawa maksud keluarga menjadi kucau dan kocar - kacir. Terdapat banyak masalah atau krisis rumah tangga hingga menyebabkan anggota keluarga tidak tenteram. Keluarga bermasalah adalah keluarga yang mempunyai krisis yang meruncing di dalam rumah tangga akibat daripada masalah keluarga. Krisis-krisis ini kemudiannya telah mengakibatkan timbul berbagai keadaan negatif dalam perhubungan keluarga tersebut. Seterusnya, keadaan negative ini boleh mencetuskan suasana kelam kabut dan tidak terurus dalam sesebuah keluarga. Dan beberapa masalah keluarga seperti: Penceraian, Penjagaan Anak - anak, Penderaan Kanak-kanak, Keganasan rumahtangga, Keluarga Tunggal, Ibu bapa bekerja sepenuh masa dan Konflik keluarga.(msgsabah.blogspot.com/2009/04/institusi-keluarga.html).
Informan pada keluarga gagal memberi pesan tentang perilaku seks kepada anaknya yang disampaikan pada penulis. Pembicaraan tentang resiko seks
berkaitan dengan kenakalan remaja yang dilakukan remaja – remaja pada zaman sekarang ini, seperti yang diutarakan dalam teks berikut ini :
Informan 1 (Ibu)
“…Kadang – kadang aku bilang gini: kalau kuliah itu, kuliah yang bener, jangan dibuat main. Terkadang sembrono, terkadang aku gini: kuliah sih boleh aja kuliah tapi harus punya pegangan yang lain. Kuliah kan belum tentu bekerja sama suaminya nggak boleh. Apa ya.. kursus desain, ato bahasa inggris…”
(Interview : Sabtu, 1 januari 2011 pukul 20.00 WIB)
Ibu dari informan pertama ini sebenarnya mempunyai kekhawatiran terhadap remaja putrinya. Dia terus member petuah seperti itu supaya remaja putrinya tidak membolos dan selalu hura – hura di luar sana. Si ibu tahu apa yang selalu dilakukan remaja – remaja jaman sekarang yang sering bolos sekolah dan melakukan kegiatan yang tidak penting di luar sekolah.
Informan 2 (Ibu)
“…Ya sangat dekat karena selalu bersama – sama kan…” (Interview : Minggu, 2 januari 2011 pukul 17.00 WIB)
Informan 2 (Remaja)
“…Diomelin. Kalo uda gede diomelin kan sama aja nyakitin hati kita sendiri kok kitanya ya tega sampai dimarahi orang tua…”
(Interview : Minggu, 2 januari 2011 pukul 17.00 WIB)
Dari pernyataan informan kedua ini kedekatan ibu dengan remaja putrinya tidak ada kerengan. Ibu berusaha tahu aktivitas remaja putrid diluar rumah. Apabila remaja putri pergi – pergi selalu pamit kepada orang tua. Orang tua dari informan kedua ini berusaha dekat dengan anak – anaknya agar dapat memantau apa saja yang dilakukan di luar. Apabila remaja putri ini melakukan kesalahan pasti ditegur namun dia merasa bersalah karena sudah tega membuat hati orang
tuanya jengkel. Dalam keluarga kedua ini anggota keluarga berusaha saling mengerti kondisi satu sama lain agar tidak terjadi keluarga yang tidak harmonis.
Informan 3 (Ibu)
“…Ya pernah mbak, paling ya dinasihati saja, boleh pacaran tapi jangan terlalu yang berlebihan gitu aja sih…”
(Interview : Selasa, 4 januari 2011 pukul 19.00 WIB) Informan 3 (Ayah)
“…O.. ya tentu mbak, soalnya anak saya ini selalu saya peringati hal seperti itu. Kayak hubungan bebas, seks itu bukannya saya nggak mau memperkenalkan tapi saya Cuma ingatkan saja anak saya jangan sampai terjerumus kayak anak yang nggak bener itu…”
(Interview : Selasa, 4 januari 2011 pukul 19.00 WIB)
Pada keluarga ketiga ini hubungan antara orang tua dan anak sangat harmonis. Remaja putra sering bercerita tentang semua hal kepada orang tuanya, lebih – lebih pada ibunya. Remaja putra ini sangat menghormati kedua orang tuanya. Dalam mendidik anak, orang tua dari informan ketiga ini tidak pernah melakukan kekerasan karena tidak ingin anaknya ada rasa dendam dan benci. Orang tua informan ketiga ini sering mengingatkan remaja putranya untuk tidak melakukan hal – hal negative.
Informan 4 (Ayah)
“…Ya nggak ada hukumannya mbak, Cuma dinasihati dan diarahkan untuk yang lebih baik. Gitu aja…”
(Interview : Rabu, 5 januari 2011 pukul 07.00 WIB)
Informan 4 (Ibu)
“…Kalo itu sih saya nggak terlalu khawatir mbak karena dulu kan Aryo pernah dimasukan pondok pesantren, tentu saja dia sudah mengenyam bagaimana dan diarahkan pendidikan sisi agamanya kan mungkin sudah diarahkan kan mbak? Jadi ya saya Cuma bilang
jangan merusak masa depanmu,kan kamu masih muda dan masa depan pun masih panjang. Jadi ya saya Cuma bilang itu aja mbak…”
(Interview : Rabu, 5 januari 2011 pukul 07.00 WIB)
Pada keluarga keempat ini sebenarnya orang tua tidak terlalu memperhatikan remaja putranya karena orang tuanya sibuk dengan kerjaannya masing – masing. Untuk member nasihat saja jarang, komunikasi antar keluarga pun jarang dilakukan sampai remaja putra tidak merasakan kasih saying dan perhatian dari orang tua. Karena remaja putra ini pernah dimasukan ke pondok pesantren maka orang tuanya menganggap remeh dan jarang untuk member arahan kepada anaknya. Dianggap anaknya pasti sudah mengerti tentang norma – norma agama sehingga tidak perlu untuk mengarahkan kembali.
Informan 5(Ibu)
“…Kalo mengenai seks, awal mula aku utamakan ke anak itu agama, trus mental. Agama mungkin aku beda agama ya sama Hendy, saya islam Hendy Kristen. Aku bersyukur karena antara agamaku dan agamanya Hendy tidak ada saling cres, mana salah mana yang benar. Jadi untuk seks itu sendiri aku lebih menghubungkan dengan agama sehingga dia lebih bisa menerima. Trus resiko seumpama dia melanggar, resikonya seperti ini dan dia harus mempertanggung jawabkan atas apa yang dia lakukan baik itu sama pasangannya atau paling utama dia harus tanggung jawab sama Tuhannya kan. Nah disitu saya selalu kasih pengertian seperti itu. Seks dini yang mungkin banyak dilakukan oleh anak – anak di luaran sana. Kalo untuk saya pribadi, saya nggak akan pernah kawatir anak saya melakukan hal seperti itu karena saya percaya bahwa dia cukup bekal…”
(Interview : Rabu, 5 januari 2011 pukul 17.00 WIB)
Pada keluarga kelima ini anak dibesarkan dalam keluarga yang broken home. Ibu membesarkan anak seorang diri namun anak – anaknya dapat menghormati orang tuanya. Tidak ada kerengganggan pada hubungan ibu dan anak, bahkan hubungan mereka seperti sahabat. Petuah – petuah yang diberikan kepada anak tidak luput pengertian mengenai agama walaupun mereka beda
agama. Ibu selalu memberi tahu akibat jika anak melakukan suatu hal. Jadi ibu ini tidak pernah khawatir anaknya melakukan kesalahan karena ibu sudah merasa cukup untuk member bekal.
Informan 6 (Ayah)
“…Nggak ada. Ya ntik anaknya uda gede, ntik tahu sendiri…”
“…Karena dia udah tahu lingkungan disini kayak apa. Dia sendiri kan uda tahu ini bagus, ini jelek. Dia kan uda tahu sendiri…”
(Interview : Rabu, 5 januari 2011 pukul 17.00 WIB)
Pada keluarga keenam ini orang tua hanya terdiri dari ayah saja karena si ibu telah meninggal. Ayah dari keluarga keenam ini sangat kaku sehingga tidak bisa dekat dengan anaknya. Komunikasi jarang terjadi antara ayah dan anak sehingga anaknya pun lebih suka berbagi cerita dengan temannya dibandingkan dengan ayahnya sendiri. Ayah membiarkan anaknya berkembang sendiri dengan melihat lingkungan sekitar. Bagi dia, pasti anak tahu mana yang baik dan mana yang buruk.
B. Keluarga Berhasil
Keluarga berhasil ini diibaratkan keluarga yang harmonis dan keluarga yang bisa memberikan saling pengertian antara masing – masing anggota keluarganya. Persoalan pokok dalam menghuraikan maksud keluarga bahagia ialah konsep bahagia. Ia adalah satu ungkapan yang manis tetapi sukar menentukan bagaimana ianya boleh dicapai. Terdapat berbagai tanggapan sama ada secara betul maupun secara salah tentang persoalan bahagia, baik dalam konteks kehidupan peribadi mahupun dalam kehidupan kelompok sosial seperti keluarga, kumpulan, masyarakat dan sebagainya. Kebahagian adalah nikmat yang
dirasa dalam sanubari seseorang. Kebahagian tercapai apabila seseorang mengalami kesenangan, Gembira, Mempunyai objektif dan tujuan hidup yang jelas, Optimistik, Merasa selesai dan Merasa nikmat dengan setiap yang ada.
Secara ringkasnya, kebahagian adalah perasaan yang terpancar dari lubuk hati dan bukan sesuatu yang dipaksa atau disogok dari luar. Ia bukan terletak pada kekayaan, kuasa, kedudukan dan apa saja yang bersifat kebendeaan. Sebaliknya, ia adalah sesuatu yang maknawi, dapat dirasai tetapi tidak dapat diukur atau disukat. (http://msgsabah.blogspot.com/2009/04/institusi-keluarga.html).
Informan pada keluarga berhasil memberi pesan tentang perilaku seks kepada anaknya yang disampaikan pada penulis. Pembicaraan tentang resiko seks berkaitan dengan kenakalan remaja yang dilakukan remaja – remaja pada zaman sekarang ini, seperti yang diutarakan dalam teks berikut ini :
Informan 7 (Ibu)
“…Mesti saya kasih arahan, kalo bermain sama temen tu hati – hati. Kalo kamu dikasih gini tu kamu harus tahu, waspada. Jaman sekarang aja kalo dikasih minum tu bisa gini – gini. Trus kalo sama temen hati – hati, kan keliatan temenmu yang nakal sama yang nggak nakal. Nanti kalau kamu kesini akhirnya bisa gini…”
(Interview : Kamis, 6 januari 2011 pukul 09.00 WIB)
Dari pernyataan informan ketujuh ini kedekatan ibu dengan remaja putrinya tidak ada kerengan. Ibu berusaha tahu aktivitas remaja putri diluar rumah. Apabila remaja putri pergi – pergi selalu pamit kepada orang tua. Orang tua dari informan ketujuh ini berusaha dekat dengan anak – anaknya agar dapat memantau apa saja yang dilakukan di luar. Hubungan ibu dengan remaja putrid di sini seperti teman. Jadi apapun yang terjadi dengan remaja putrid ini si ibu tahu.
Informan 8 (Ibu)
“…Pernah sih.. pokoknya saya ngajari anak tu hati – hati bergaul dengan anak wanita. Jangan sampai melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, itu anak saya dua – duanya saya ajari gitu…”
(Interview : Minggu, 9 januari 2011 pukul 09.00 WIB)
Keluarga kedelapan sama seperti keluarga ketujuh, antara ibu dan anak tidak ada kerenggangan. Komunikasi yang terjadi dalam keluarga ini lancer sehingga tampak harmonis walaupun si ayah sudah meninggal. Petuah yang diberikan ibu ke anaknya juga hamper sama dengan dengan keluarga ketujuh.
Informan 9 (Ibu)
“…Kadang tante kasih tahu, kalo pacaran jangan terlalu ya terlalu ini gitu, yang wajar aja…”
(Interview : Minggu, 9 januari 2011 pukul 14.00 WIB)
Keluarga kesembilan juga sama dengan keluarga ketujuh dan kedelapan, tidak ada kerenggangan mengenai hubungan anak dengan orang tua. Remaja putri ini selalu hormat dan patuh kepada orang tua walau diberi kebebasan. Kebebasan yang diberikan kepada remaja putrid ini tetap untuk mematuhi norma – norma yang ada. Orang tua selalu member petuah untuk menghindari hal negative dan jika berpacaran yang wajar – wajar saja.
Informan 10 (Ayah)
“…pasti adalah nasihat tentang agama agar tidak jadi anak yang nakal gitu aja…”
(Interview : Sabtu, 15 januari 2011 pukul 17.00 WIB)
Dalam keluarga kesepuluh ini remaja putra tinggal bersama ayahnya saja karena ibunya telah lama menghilang. Dengan kondisi keluarga yang tidak lengkap, namun remaja putra ini tetap mematuhi ayahnya dan tidak berbuat hal
negative. Sesibuk – sibuknya ayahnya tetap saja si ayah member nasihat agar remaja putranya tidak salah jalan dengan mengaitkan suatu perbuatan dengan agama.
Informan 11 (Ibu)
“…Kamu boleh berteman Gilang, tapi ya gitu pilih – pilih temen. Kalo temen ngrokok ya tolong dijauhi, temen itu banyak yang ngajak jelek, nggak mungkin temen tu ngajak baik. Seribu Cuma satu yang ngajak baik…”
(Interview : Sabtu, 15 januari 2011 pukul 18.00 WIB)
Keluarga kesebelas ini sama dengan kelurga ke Sembilan. Orang tua masih lengkap dan tidak ada kerenggangan antara orang tua dan anak. Orang tua menganggap anak remaja putranya ini lebih seperti teman agar dia mau mengkritik orang tuanya apabila terjadi kesalahan. Remaja putra ini lebih dekat dengan ibunya sehingga yang sering member petuah adalah ibunya.
Informan 12 (Ibu)
“…Yang saya beri ke ine ya itu kalau deket sama temen laki – laki, jangan sampai temen laki – laki jaman sekarang sukanya merayu aja, ya biasanya untuk menikah ndak tahunya sudah kejerumus ke situ, Laki – laki jaman sekarang sukanya pembohong. Ke barang – barang yang berbahayalah jadinya jaman sekarang anak laki sudah kena gitu sampai dia hamil atau apa, bukan untuk mencintai akhirnya untuk menjauhi. Soalnya ingin tahu aja sekarang makanya saya sering kasih tahu, sering saya peringati jangan sampai kamu dirayu sama laki – laki gitu lho.. namanya orang laki kalau merayu, orang perempuan jadi lebih lemah dari pada orang laki. Makanya jangan sampai dia berbuat begitu saya bilang gitu. Kalau sudah berbuat gitu seterusnya untuk masa depannya kamu mengenang sampai kamu hamil lebih dulu, barang – barang yang tidak berguna harus sudah harus ati – ati…”
(Interview : Minggu, 16 januari 2011 pukul 12.00 WIB) Keluarga kedua belas ini sama seperti keluarga ketujuh. Seorang ibu yang baru ditinggalkan suaminya dan berusaha membesarkan anak seorang diri.
Kedekatan antara anak dan ibu tidak ada masalah. Setiap hari ibu ini tidak lupa untuk meluangkan waktu member nasihat kepada remaja putrinya agar tidak melakukan hal – hal negative khususnya hubungan seks pra nikah.