• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Kajian Studi Literatur

Berdasarkan hasil pencarian literatur yang bersumber pada search engine berupa Google Scholar, SpingerLink, ScienceDirect, CambridgeCore, dan PubMed, didapatkan sebanyak 3.250 literatur berdasarkan kata kunci yang telah ditetapkan peneliti. Proses pengumpulan literatur dilakukan dengan cara melakukan pemilihan berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh peneliti sehingga didapatkan literatur terpilih sebanyak 10 literatur. Proses pencarian berdasarkan search engine yang terpercaya dengan rincian seperti Google Scholar (n=1), SpingerLink (n=2), ScienceDirect (n=2), CambridgeCore (n=1), dan PubMed (n=4).

Berdasarkan tahapan dalam pencarian literatur dari search engine berupa Google Scholar, SpingerLink, ScienceDirect, CambridgeCore, dan PubMed, didapatkan hasil temuan literatur yang dianalisis akan disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

29 No

Pengarang-Tahun Judul Jurnal Nama Jurnal Bahasa Jurnal

Tujuan

Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian 1. Lucina

Rodrigues da Cunha Colombo Tiveron, Isabela Rios da Silva, Marcos Vinicius da Silva, Alberto Borges Peixoto, Denise

Bertulucci Rocha Rodrigues, Virmondes Rodrigues Jr.

2018.

High in Situ MRNA Levels of IL-22, TFG-B, and ARG-1 in Keloid Scars

Journal of Immunobiolog y

Inggris Untuk menganalisis ekspresi in situ mRNA dari transformasi faktor

pertumbuhan beta (TGF-B), faktor

pertumbuhan fibroblast (FGF),

interleukin 33 (IL-33), interleukin 22 (IL-22), arginase 1 (ARG-1),

1. Menganalisis 98 biopsi yang diperoleh dari 53 pasien keloid dan 45 pasien dengan bekas luka normal. Biopsi dilakukan di Klinik Rawat Jalan Universitas Federal Triangulo Mineiro (UFTM), Brazil. Pasien dengan bekas luka hipertropik atau bekas luka second-intention healing tidak

Patomekanisme:

1. Ekspresi TGF-B, IL-22, dan ARG-1 secara

signifikan lebih besar pada keloid

dibandingkan dengan bekas luka normal.

2. Adapun IL-33 ARG-2, dan VIP-R1,

meskipun jumlah salinan mRNA yang ditemukan pada keloid lebih tinggi, namun

30 arginase 2

(ARG-2), (iNOS), peptida vasoaktif intestinal (VIP), reseptor peptida

vasoaktif intestinal (VIP-R1), takikinin (TAC), dan reseptor takikinin (TAC-R1) pada keloid dan bekas luka normal.

termasuk. Pasien dengan penyakit imunosupresif, autoimun, dan defisiensi imun sistemik juga dikecualikan.

2. Ekspresi mRNA kuantitatif dari TGF-B, FGF, IL-33, IL-22, ARG-1, ARG-2, iNOS, VIP, and VIP-R1 dianalisis

menggunakan PCR sewaktu, dengan menggunakan cDNA dari fragmen kulit

perbedaan ini tidak signifikan.

3. Selain itu, level mRNA FGF, iNOS, VIP, TAC, dan TAC-R1 tidak

terdeteksi kadar dalam sampel.

Tatalaksana:

4. Hampir 90%

pasien dengan lesi keloid aktif diobati dengan kortikoid intralesional sebelum eksisi bedah dan profilaksis setelah operasi.

31 keloid dan kontrol

bekas luka.

3. Analisis statistik menggunakan software

StatView, dengan asumsi normalitas variabel

kuantitatif yang diuji

menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov dan uji non parametrik menggunakan uji Mann-Whitney.

Prognosis:

5. Hampir 90%

dari sampel jaringan menunjukkan deposit triamcinolone pra operasi.

2. Reham Mohamed, Abosaleh Abosaleh

The Outcome of Postperative Radiation Therapy

Journal of The Egyptian National

Inggris Menyajikan pengalaman peneliti menggunakan

1. Pasien dengan keloid pada telinga berulang dan telah dirawat

Patomekanisme:

1. Enam puluh tujuh persen kasus

32 Elwadi, Reham

Al-Gendi, Safa Al-Mohsen, Shabeer Wani, Ahmed Wafa.

2022

Following Plastic Surgical Resection of Recurrent Ear Keloid: a Single Institution Experience

Cancer Institute

eksisi bedah dengan PORT (postoperative radiotherapy) untuk

pengobatan keloid pada telinga yang berulang. Juga, mempelajari variabel yang berbeda terutama dosis dan ukuran keloid yang mempengaruhi tingkat

rekurensi.

Komplikasi akibat

dengan reseksi bedah dan PORT (postoperative radiotherapy) dari tahun 2006-2021 di rumah sakit secara

retrospektif.

2. 55 pasien dengan keloid di telinga dari 83 kasus yang menerima radioterapi setelah eksisi bedah termasuk kriteria inklusi dalam penelitian ini.

3. Terapi radiasi menggunakan terapi sinar

berkembang menjadi reaksi kulit akut G1 dan hanya 9%

kasus berkembang menjadi reaksi akut G2.

Tatalaksana:

2. 49 pasien mengalami bebas dari kekambuhan lokal dengan tingkat

rekurensi bebas 2 tahun (2y-RFR) 88 ± 5%.

Regimen dosis yang digunakan

33 radioterapi

juga

dilaporkan dan dinilai.

elektron atau sinar x-ray ortovoltage.

Regimen diberikan dosis yang berbeda-beda, termasuk 13 Gy/1 fx, 8 Gy/1 fx, 10 Gy/2 fx, 15 Gy/3 fx, dan regimen fraksional lainnya. Pasien ditindak lanjuti dengan dengan radiasi setiap 3-6 bulan, dengan median 35 bulan.

Tingkat pengulangan bebas (RFR), efek

berbeda tidak mempengaruhi RFR secara signifikan dengan nilai p = 0,44.

3. Pasien dengan ukuran keloid

>2 cm,

menerima dosis 13 Gy/1fx menunjukkan RFR 2 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang menerima 8 Gy/1fx dengan nilai p = 0.05.

34 samping, dan

faktor prognostik dinilai.

4. Analisis statistik menggunakan uji Kaplan Meier untuk

memperikaran tingkat rekurensi-bebas. Tes log-rank digunakan untuk

membandingkan tingkat rekurensi antar kelompok.

4. Terapi orthovoltage menunjukkan RFR 2 tahun yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan berkas elektron; 92 ± 4%

dibandingkan dengan 72 ± 14%.

Prognosis:

5. Dosis yang lebih tinggi

digunakan untuk keloid dengan ukuran >2cm secara

35 signifikan

meningkatkan RFR.

3. Weiqian Jiang, Lingli Guo, Huan Wu, Jun Ying, Zheng Yang, Baohua Wei, Feng Pan, Yan Han. 2020

Use

Smartphone for Imaging, Modelling, and Evaluation of Keloids

Journal of The International Society for Burn Injuries

Inggris Menggunakan smartphone untuk membentuk model tiga dimensi pada keloid yang kemudian secara kuantitatif menstimulasik an dan

mengevaluasi jaringan keloid.

Pencitraan menggunakan

1. Penelitian ini mempelajari 33 lesi pada 28 pasien yang dirawat di Departemen Bedah Plastik, Pusat Medis Pertama, Rumah Sakit Umum PLA Cina, dari

Februari 2019 hingga Mei 2019.

2. Kaliper Vernier (GuangLu) digunakan untuk mengukur

Patomekanisme:

-

Tatalaksana:

1. Pasien wanita 26 tahun dengan keloid di dada diukur sebelum dan 18 hari sesudah injeksi triamcinolone acetonide 40 mg. Volume keloid menurun dari 1,1 menjadi 0,5 mL (dengan metode water flooding,

36 smartphone

memungkinka n evaluasi keloid dengan lebih nyaman, yang dapat memfasilitasi tindak lanjut jarak jauh jangka panjang dan akurat.

diameter terpanjang dan alat ultrasound genggam (Sonostar) digunakan untuk mengukur

ketebalan. Sebuah bahan kesan elastometrik (HuGe) digunakan untuk mencetak setiap keloid.

3. Foto keloid diambil menggunakan Huawei atau iPhone smartphone dengan setiap

volume menurun dari 1,3 menjadi 0,6 mL). Luas permukaan menurun menjadi 5,47 menjadi 4,38 cm2. Ketebalan maksimal menurun dari 3.9 menjadi 2,2 mm (dengan metode ultrasonik, ketebalan menurun dari 4,5 menjadi 2,5 mm). Lebar maksimum tidak

37 sudut set foto

skitar 15 derajat.

Sekitar 20 foto dikumpulkan untuk setiap lesi yang kemudian akan dibuat hasil model 3Dnya.

Perangkat lunak analisis bekas luka (CaiJing

Technology) digunakan untuk mengeksplorasi model yang menghasilkan diameter terpanjang, ketebalan dan volume.

berubah dari 36,6 mm

(dengan metode Caliper, lebar menurun dari 37,2 menjadi 36,6 mm).

2. Hasil uji reabilitas untuk pengukuran diameter, ketebalan, dan volume terpanjang menunjukkan data yang sangat mirip dengan semua nilai p >

0,05, kesalahan sistematis

38 4. IBM SPSS

Statistic versi 23 digunakan untuk membandingkan pengukuran manual dengan dua set data smartphone dalam diameter

terpanjang, ketebalan, dan volume dari keloid.

dengan

demikian kecil dan konsisten.

3. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa data keloid

berdiameter dan volume

terpanjang yang diperoleh menggunakan smartphone adalah konsisten dengan data ketebalannya sangat mirip.

Prognosis:

-

39 4. Fathia M.

Khattab, MD., Mai A. Samir, MD. 2019

Correlation Between Serum IL-37 Levels with Keloid Severity

Journal of Cosmetic Dermatology

Inggris Untuk

mengevaluasi korelasi antara tingkat serum IL-37 dan tingkat keparahan keloid.

1. Penelitian ini menggunakan studi analitik cross-sectional yang melibatkan 32 pasien keloid dengan rentang usia antara 20-49 tahun. Lesi didiagnosis sebagai keloid berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Penelitian dilakukan dari bulan Februari 2018 hingga Februari 2019.

Pasien dengan

Patomekanisme:

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi negatif

ditemukan antara serum IL-37 dan tingkat keparahan keloid (p = 0.0001, r = -0.737) dan tingkat serum IL-37 terendah pada subjek penelitian ini dalam derajat berat, yaitu 32,34 ± 2,61 ng/mL.

40 autoimun,

penyakit hati, ginjal, gangguan hormonal, dan penyakit sistemik, seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, tuberkulosis dan malignansi

dikecualikan pada penelitian ini.

Selanjutnya, pasien yang menerima terapi konvensional (triamcinolone, injeksi acetonide, kortikosteroid topikal,

2. Ada hubungan yang tidak signifikan antara kadar serum IL-37 dengan usia (p = 0.201, r = -0,232) atau durasi (p = 0.505, r = -0,122).

Tatalaksana:

-

Prognosis:

3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar IL-37 yang lebih rendah terkait dengan tingkat keparahan

41 cryosurgery,

radiasi, laser, terapi kompresi, interferon dan occlusive

dressings) untuk pengobatan keloid selama 2 bulan sebelum penetilitan dilaksanakan dikecualikan.

2. Pada semua subjek penelitian, penilaian tingkat keparahan keloid dilakukan dengan menggunakan Japan Scar

keloid yang lebih tinggi.

Selain itu, kadar IL-37 pada pasien keloid tidak berkorelasi dengan jenis kelamin, usia, durasi lesi, dan riwayat kelurga.

42 Workshop Scar

Scale (JSW).

3. Sampel darah diambil dari setiap pasien untuk mengukur serum IL-37.

4. Hasil penelitian akan dianalisis secara statistik menggunakan tes korelasi Spearman untuk mendeteksi hubungan antara kadar serum IL-37 dan tingkat

keparahan keloid 5. Song Ke-Xin,

Liu Shu, Zhang Ming-zi, Liang

Hyperbaric Oxygen Therapy

Journal of Zhejiang University

Inggris Untuk menyelidiki apakah HBOT

1. Studi klinis dilakukan antara bulan Januari

Patomekanisme:

1. Hasil evaluasi imunohistokimi

43 Wei-zhong, Liu

Hao, Dong Xin-hang, Wang You-bin, Wang Xiao-jun.

2018

Improves the Effect of Keloid Surgery and

Radiotherapy by Reducing the Reccurence Rate

Science B (Biomedicine

&

Biotechnology)

(Hyperbaric Oxygen Therapy) andjuktif mengurangi tingkat rekurensi keloid yang tinggi setelah operasi eksisi dan

radioterapi.

2012 sampai bulan November 2016 setelah

disetujuinya protokol bedah oleh Dewan Pengkajian Kelembagaan Rumah Sakit Pendidikan Peking Union Medical College, Beijing, China.

2. Sebanyak 240 pasien dibagi secara acak menjadi dua kelompok.

A. Kelompok 1, pasien (O grup)

a menunjukkan bahwa faktor-faktor inflamasi (IL-6, HIF-1 alpha, TNF-alpha, NF-kB, dan VEGF) menunjukkan ekspresi yang lebih tinggi pada kelompok K dibandingkan kelompok O dengan

perbedaan yang signifikan (p<0.001).

Tatalaksana:

2. Sebanyak 134 pasien

44 menerima

HBOT setelah eksisi bedah dan radioterapi.

B. Kelompok 2, pasien dengan perawatan eksisi bedah dan radioterapi (K grup).

3. Jaringan parut dari pasien rekurensi dikumpulkan setelah operasi kedua. Pewarnaan hematoxylin dan eosin (H&E) digunakan untuk mengamati morfologi keloid.

kelompok O, 33 laki-laki dan 101 perempuan dengan kisaran usia antara 16 sampai 52 tahun (rata-rata 26,10

± 0,58 tahun) menerima HBOT setelah eksisi bedah dan radioterapi.

Sebanyak 106 pasien

kelompok K, 32 laki-laki dan 74 perempuan dengan kisaran usia antara 17 sampai 58 tahun

45 Faktor inflamasi

tertentu (IL-6, HIF-1 alpha, Talpha, NF-kB, dan VEGF) diukur

menggunakan pewarnaan imunohistokimia.

4. Data akan diolah menggunakan t-test dan tes chi-square

menggunakan SPSS versi 22.0.

(rata-rata 28,6 ± 0,92 tahun) menerima eksisi bedah dan radioterapi tanpa HBOT.

Prognosis:

3. Pada kelompok O (134 pasien), 119 pasien sembuh total, 7 sembuh

sebagian, dan 8 menunjukkan kekambuhan keloid (tingkat efikasi 94,03%, tingkat

rekurensi 5,97%). Pada

46 kelompok K (106 pasien), 80 pasien sembuh total, 11 sembuh sebagian, dan 15 menunjukkan kekambuhan keloid (tingkat efikasi 85,85%, tingkat

rekurensi 14,15

%).

4. Skor skala bekas luka Vancouver pada bagian yang sembuh total ditambah keloid berulang pada kelompok O lebih rendah

47 dibandingkan pada kelompok K (p<0,05).

Rekurensi keloid lebih serius pada kelompok K daripada kelompok O.

5. HBOT secara efektif

mengurangi tingkat kekambuhan keloid setelah eksisi bedah dan radioterapi.

6. Lee Young In, MD., Kim Jihee, MD.,

Combined Therapeutic Strategies for

American Society for

Inggris Untuk

mengevaluasi kombinasi

1. Penelitian ini menggunakan studi retrospektif

Patomekanisme:

-

Tatalaksana:

48 Yang Chae

Eun, MD., Hong Jong Won, MD, PhD., Lee Won Jai, MD, PhD., Lee Ju Hee, MD., PhD.

2019

Keloid Treatment

Dermatologic Surgery

terapi yang aman dan efektif untuk pengobatan keloid

menggunakan laser

fraksional, kryoterapi, dan kortikosteroid intralesional.

yang melibatkan 35 pasien yang menerima terapi kombinasi keloid (12 pria dan 23 wanita) di Klinik Dermatologi peneliti antara Maret 2016 sampai Maret 2017.

2. Setiap pasien menjalani perawatan menggunakan laser kaca erbrium fraksional 1,550 nm, diikuti oleh laser

karbondioksida

1. Total skor VSS menunjukkan peningkatan yang signifikan setelah

pemberian terapi kombinasi selama rata-rata jumlah sesi pengobatan 5 sesi (p<0.0001).

Setiap

subkategori VSS (pigmentasi, vaskularisasi, kelenturan, dan tinggi) juga menunjukkan peningkatan yang signifikan

49 fraksional 10,600

nm. Perawatan laser segera diikuti dengan pemberian krioterapi dangkal dan injeksi

triamcinolon intralesional.

Perawatan ini diberikan oleh seorang dokter kulit

berpengalaman.

3. Efektifitas terapeutik dinilai menggunakan skor Vancouver Scar Scale (VSS) dan 7 poin skor

dibandingkan dengan skor evaluasi awal.

Subkategori tinggi (63,6%) dan kelenturan (53,8%) bahkan memiliki

respons tercepat terhadap

pengobatan dibandingkan dengan subkategori lainnya.

2. Berdasarkan skor PSA, pada kunjungan awal, 69% pasien (24 dari 35 pasien)

50 penilaian diri

pasien.

4. Data hasil penelitian dianalisis

menggunakan tes wilconox single-rank dengan SPSS versi 20.0 (SPSS Inc., Chicago, IL)

melaporkan gatal, nyeri menusuk, dan keterbatasan gerak karena bekas luka keloid. Selama periode rata-rata 1,5 bulan, 26%

pasien (9 dari 35 pasien)

melaporkan perbaikan

sempurna hingga sangat baik (90%-100%

peningkatan dari basal line) pada gejala,

sedangkan 28%

51 melaporkan peningkatan nyata (75%

perbaikan dari basal line) pada bekas luka keloidnya.

Khususnya, 6 pasien

melaporkan berkurangnya rasa gatal, nyeri, dan keterbatasan gerak segera setelah satu sesi pengobatan.

3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi kombinasi

52 menggunakan laser fraksional, cryotherapy, dan injeksi TA intralesional berpotensi lebih aman dan efektif dengan onset respon yang lebih cepat bila dibandingkan dengan monoterapi.

Prognosis:

4. Dua puluh pasien dari 35 pasien

melanjutkan tindak lanjut selama 12 bulan

53 setelah

penghentian terapi kombinasi.

Hasilnya hanya satu pasien dari 20 pasien (5%) yang

melaporkan kekambuhan lesi keloid dalam 12 bulan.

7. Grace C.

Limandjaja, Leonarda J. van den Broek, Taco Waajiman, Melanie

Breetveld, Stan

Reconstructed Human Keloid Models Show Heterogeneity within Keloids Scars

Archives of Dermatological Research

Inggris Untuk mengkaji kemungkinan heterogenitas di dalam keloid dan keterlibatan berbagai

1. Penelitian ini menggunakan kulit normal yang diperoleh dari pasien yang menjalani operasi kontur tubuh untuk

Patomekanisme:

1. Cd-Kscar menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah lapisan keratinosit

54 Monstrey, Rik

J. Scheper, Frank B.

Niessen, Susan Gibbs. 2018

region di dalam dan di sekitar bekas luka keloid dalam segi patogenesis, dengan menggunakan model bekas luka keloid in vitro untuk menguji terapi baru.

menghilangkan kelebihan kulit dan bekas luka keloid diperoleh dari pasien yang menjalani penghapusan bekas luka melalui eksisi dan dipilih oleh ahli bekas luka

berpengalaman (ahli bedah plastik). Semua bekas luka keloid yang digunakan setidaknya berusia 1 tahun dan telah matur (kecuali

epidermal dibandingkan dengan kulit normal, dengan kecenderungan serupa terjadi pada Cs-Kscar (p = 0,0792).

2. Model kulit dibuat dari keloid dengan tiga region yang berbeda

menunjukkan pengurangan luas permukaan dan peningkatan kontraksi tidak signifikan dibandingkan

55 satu donor keloid:

6 bulan) 2. Model kulit in

vitro dibuat dari keratinosit dan fibroblas dari kulit normal yang diambil dari region yang berbeda dan kulit bekas luka keloid yang diambil di perifer, central dan dekat sekitar daerah kulit normal. Selain itu, fibroblas diisolasi dari daerah superficial-central dan

profunda-dengan kulit normal.

3. Hanya ada sedikit jumlah alpha-SMA pada kulit normal, sNskin, dan P-Kscar. Tetapi kadar alpha-SMA positif jelas ada di Cs-Kscar dan khususnya Cd-Kscar.

4. Sekresi HGF menurun secara signifikan pada Cd-Kscar dibandingkan dengan Nskin.

56 central keloid dan

dikombinasikan dengan keratinosit pusat.

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara model keloid yang berbeda, sNskin dan Nskin diamati untuk sitokin inflamasi

lainnya: CCL20, CCL27, CXCL8, IL-6, IL-18, CXCL1, CCL2 dan CCL5.

Tatalaksana:

-

Prognosis:

-

57 8. Archit

Aggarwal, MBBS., Banavase C.

Ravikumar, MBBS, MD., K. Nirvanappa Vinay, MBBS, MD., Sonia Raghukumar, MBBS., D. P.

Yashovardhana , MBBS. 2018

A Comparative Study of

Various Modalities in the Treatment of Keloids

International Journal of Dermatology

Inggris Untuk

membandingka n berbagai pilihan pengobatan yang ada dan yang lebih terbaru dan untuk mencari pengobatan yang idela terhadap keloid yang aman dan efektif.

1. Menggunakan studi komparatif acak yang dilakukan di Departemen Dermatologi, Hassan Instute of Medical Science, dari bulan

November 2014 sampai Bulan Juli 2016. Jumlah sampel ditentukan menggunakan perangkat lunak G-power sehingga didapatkan 100 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria

Patomekanisme:

-

Tatalaksana:

1. Tingkat rata-rata efek samping yang dialami pasien adalah 50% (8 dari 16 pasien) pada kelompok 1, 43,75% (7 dari 16 pasien) pada kelompok 2, 26,66% (4 dari 15 pasien) pada kelompok 3, 52,94% (9 dari 17 pasien) pada kelompok 4, dan 60% (9 dari 15

58 eksklusi dalam

penelitian. Pasien terdiagnosis keloid secara klinis dengan kelompok usia antara 18 sampai 50 tahun juga termasuk ke dalam penelitian ini.

2. Sampel penelitian dibagi ke dalam 5 kelompok dengan teknik

pengambilan simple random sampling dan berdasarkan tanggal dan waktu kunjungan

pasien) pada kelompok 5 (p<0,001).

2. Atropi dan perubahan pigmen terlihat pada pasien kelompok 1, 2, dan 5 dengan kelompok 2 menunjukkan efek samping yang lebih sedikit secara signifikan dibandingkan dengan dua lainnya (p<0,001).

Telangiectasia

59 pertama di

departemen rawat jalan peneliti.

3. Sebelum

penelitian dimulai, dilakukan

pemberian local test dose sebanyak 0.05 ml obat yang digunakan dalam penelitian ini.

Follow up

dilakukan setiap 3 minggu.

A. Kelompok 1 menggunakan injeksi

triamcinolon asetonida 40 mg/ml yang

terlihat hanya pada kelompok 1 dan urtikaria hanya terlihat pada satu pasien dari kelompok 3.

Ulserari dan infeksi sekunder terlihat pada kelompok 4 dan 5, dengan 6/17 (35,29%) pasien dan 4/16 (25%

pasien). Pada kelompok 4 dan 5 infeksi

sekunder berkembang dengan

60 disuntikkan ke

dalam lesi hingga

kedalaman 3-7 mm, yang diulang pada interval 3 minggu dengan maksimal 8 kali

penyuntikan.

B. Kelompok 2 menggunakan injeksi

hyaluronidase 1500 IU/ml yang diencerkan dengan 1 ml air steril dan

keluarnya nanah (p<0,001).

3. Kombinasi triamcinolone acetonide intralesional dengan hyaluronidase lebih baik daripada

kombinasi terapi lainnya pada penelitian ini dari segi keamanan dan efek samping yang paling sedikit.

Prognosis:

61 dicampur

dengan injeksi triamcinolon asetonida 40 mg/mL dengan rasio 1:1.

C. Kelompok 3 menggunakan intralesional verapamil hydrochloride 2.5 mg/mL.

D. Kelompok 4 menggunakan intralesional radiofrekuensi dengan

menggunakan sumber

frekuensi radio

4. 12 dari 16 pasien (75%) di

kelompok 1 mencapai kesembuhan total. 11 dari 16 pasien (68,75%) di kelompok 2 mengalami kesembuhan sempurna, tidak ada pasien yang sembuh total dari kelompok 3.

2 dari 17 pasien (11,76%) di kelompok 4 mengalami kesembuhan sempurna. Dan

62 berupa Ellmann

Surgitron Standar (Ellmann International, New York, USA).

Frekuensi radio yang digunakan dengan

kekuatan daya rendah sampai medium (1-5).

Tindakan ini diberikan setiap tindak lanjut alternatif (sekali dalam 6 minggu) selama 4 kali

12 dari 16 pasien (75%) dalam kelompk 5 mengalami kesembuhan sempurna dalam periode

penelitian (p<0,001).

63 atau sampai

lesi rata.

E. Kelompok 5 menggunakan kombinasi dari intralesional radiofrekuensi dan

intralesional triamcinolone acetonide 40 mg/mL.

Pemberian diulang sekali dalam 6

minggu dengan maksimal dosis 4 kali

pemberian atau

64 sampai lesi

menjadi rata.

4. Foto klinis

diambil pada awal penelitian dan setiap kunjungan lanjutan sebelum memberikan perawatan.Pada setiap tindak lanjut, pasien dinilai untuk hasil pengobatan (tinggi luka, skor VS, skor VAP, skor VAD) dan apakah terdapat efek samping pengobatan.

65 5. Data dianalisis

menggunakan uji statistik chi-square untuk

membandingkan tingkat

kesembuhan dan efek samping obat di antara berbagai kelompok.

9. X.J. Zhu, W.Z.

Li, H. Li, C.Q.

Fu, J. Liu. 2017

Association of Interleukin-6 Gene

Polymorphism s and

Circulating Levels with Keloids Scar in a Chinese Han Population

Genetics and Molecular Research

Inggris Untuk

mengeksploras i pengaruh polimorfisme gen IL-6 terhadap perkembangan bekas luka keloid pada

1. Metode pada penelitian ini menggunakan case control study. Pasien keloid sebanyak 224 dengan rentang usia 18-55 tahun yang

direkrut dari

Patomekanisme:

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

polimorfisme IL-6 -174 tidak berhubungan dengan risiko terjadinya keloid.

66 populasi Han

China.

pasien rawat jalan di Departemen Dermatologi, di Rumah Sakit Zhangjiagang First People’s dan Rumah Sakit Taixing People’s.

Pasien yang menderita keloid karena gangguan kulit, bekas luka hipertropik, sindrom atau kelainan genetik atau kromosom dikecualikan dari penelitian ini.

Diagnosis klinis keloid

2. Peningkatan risiko keloid secara signifikan pada genotipe GG ketika genotipe

homozigot IL6 -572 CC

digunakan sebagai kelompok kontrol (GG vs CC: OR = 2,097, 95% Cl = 1,002, p = 0.025).

3. Ketika alel IL-6 -572 C

digunakan sebagai kelompok

67 dikonfirmasi oleh

setidaknya dua dokter kulit berpengalaman.

Subjek kontrol terdiri dari 246 individu sehat normal tanpa keloid, gangguan sistemik,

gangguan autoimun, dan tidak memiliki riwayat keloid pada keluarga.

2. Darah vena dikumpulkan dari setiap peserta dan DNA genomik diisolasi dengan

kontrol, alel G ditemukan terkait dengan risiko keloid secara signifikan (G vs C: OR = 1,317, 95% Cl = 1,002-1,730, p = 0,048).

4. Terjadi peningkatan yang nyata pada kadar serum IL-6 pada pasien dengan genotipe GG jika

dibandingkan dengan pasien keloid yang

68 QIAamp DNA

Blood Mini Kit.

Analisis

polimorfisme gen IL-6 pada -174 G/C dan -572 G/C dilakukan melalui PCR yang diikuti oleh restriksi fragmen panjang polimorfisme assays (PCR-RFLP).

3. Tingkat serum IL-6 diukur

menggunakan enzim-linked immunosorbent assay (ELISA).

Dalam penelitian

memiliki genotipe CC.

5. Ekspresi gen reporter yang didorong oleh promotor alel IL-6 -572 G kira-kira 1,55 kali lipat lebih tinggi

dibandingkan yang didorong oleh alel IL6 -572 C (1,85 ± 0,19 vs 1,20 ± 0,13, p<0.05).

6. Polimorfisme gen IL-6

berkaitan dengan bekas luka

69 ini digunakan IL-1

untuk

menginduksi ekspresi IL-6.

4. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 12.0 (SPSS Inc., Chicago, IL, USA). Analisis Hardy-Weinberg dilakukan

menggunakan uji chi-square.

Perbedaan

frekuensi genotipe dan alel antara pasien keloid dan kontrol dievaluasi menggunakan uji

keloid pada populasi Han Cina Tenggara.

Tatalaksana:

-

Prognosis:

-

70 chi-square atau uji

fisher exact.

Analisis regresi logistik dilakukan untuk menentukan hubungan antara polimorfisme gen IL-6 dengan keloid.

10 .

Misbah Ahmad, Habib Ahmad, Muhammad Rauf Khattak, Kamran Ali Shah, Nabila Javed, Syed Jawad Ali Shah, Wajeeha Shaheen,

Postoperative Single Versus Multiple Fractions High-Dose Rate Iridium-192 Surface Mould

Brachytherapy for Keloid Treatment: A

Journal of Radiotherapy in Practice

Inggris Untuk melaporkan pengalaman peneliti dengan menggunakan dosis tinggi Iridium-192 sebagai treatmen Brachytherapy dari bekas luka

1. Penelitian dilakukan dari Januari 2012 sampai April 2015 dengan total 51 pasien dengan 65 lesi keloid yang menjalani post operatif iridium-192 HDR permukaan luka

Patomekanisme:

-

Tatalaksana:

1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa regimen dosis 10 Gy (BED10=20 Gy) dalam satu fraksi memiliki hasil yang sebanding

71 Kehkashan

Mansoor. 2017

Comparative Study

keloid setelah pembedahan, menggunakan regimen perawatan radiasi yang berbeda dan untuk menetapkan protokol perawatan yang paling nyaman dan efektif tanpa kompromi pada hasil perawatan.

dengan

brachyterapi di Institut

Radioterapi dan Kedokteran Nuklir (IRNUM),

Peshawar, KPK, Pakistan. Dari 51 pasien, disajikan dengan dua lesi dan satu dengan tiga lesi. Terdapat 18 pasien pria (9-30 tahun dengan median 28 tahun) dan 33 pasien wanita (12-60 tahun dengan median 22 tahun).

dengan regimen dosis 15 Gy dalam tiga fraksi atau 18 Gy dalam tiga fraksi. Oleh karena itu, regimen dosis 10 Gy dalam satu fraksi dianggap sebagai regimen dosis yang paling nyaman dan hemat biaya untuk perawatan bekas lukas keloid.

2. Gejala eritema dan pruritus grade-1 diamati

Dokumen terkait