BAB IV. USULAN PROGRAM PASTORAL ORANG SAKIT YANG
G. Petunjuk Pelaksanaan Program
Dalam usulan program ini, ada 1 contoh konsep program pastoral orang sakit. Pada program ini, model yang digunakan yakni model katekese. Kegiatan yang ada di dalam model ini dapat disesuaikan ke dalam tingkat usia pasien yang akan di dampingi, misalnya model Sunday shool untuk usia anak-anak dan model
Shared Christian Praxis (SCP) untuk usia remaja dan dewasa. Di dalam usulan
program ini, akan dibuat dalam 4 kali pertemuan di dalam 1 bulan. Pertemuan akan dilaksanakan 2 minggu sekali dengan koordinasi dari Yayasan Kanker Indonesia cabang Yogyakarta.
Pelaksanaan program ini disesuaikan dengan dinamika peserta. Program ini dibuat secara umum dan berisikan beberapakomponen di antaranya, tema dan tujuan umum, tema dan tujuan khusus, judul pertemuan dan tujuan peremuan, materi, sarana, dan suber bahan yang juga sudah terdapat di dalamnya.
Pelaksanaan kegiatan ini berlangsung lebih kurang 90 menit dan tempat yang digunakan sebagai tempat pertemuan adalah rumah pasien yang tentu akan bergilir di setiap pertemuannya. Hal ini dipilih, karena selain program ini ditujukan untuk mewujudkan semangat saling mendorong satu dengan yang lain, juga diperhatikan dampak kunjungan pada pasien dan keluarga.
Sebelum masuk pada program, baik jika melihat konsep Sunday School dan Shared Christian Praxis (SCP) yang nanti akan digunakan sebagai metode dalam program pastoral orang sakit bagi pasien kanker pasca kemoterapi ini.
1. Sunday School
Melalui buku yang ditulis oleh E. Kubler-Ross yang berjudul On Death
and Dying sebagaimana dikutib oleh Dr. P. Go., O. Carm (1984: 72-76) dapat
membantu petugas pastoral atau pendamping untuk semakin mengenal dan menyadari bahwa pasien tidak hanya membutuhkan perawatan secara fisik belaka, melainkan kebutuhan sosial, emosional, intelektual, dan kebutuhan spiritual atau religius juga harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini juga harus disesuaikan berdasarkan kondisi di masing-masing usia. Pada bagian ini akan difokuskan kepada taraf usia anak-anak.
Masa anak-anak meruapakan masa yang memiliki rentang kehidupan yang panjang. Pada masa ini, individu relatif tidak berdaya dan tergantung pada orang lain (Hurlock, 2002: 108). Masa anak-anak lekat dengan amarah yang meledak-ledak, memiliki tingkat kecemburuan yang tinggi, daya ingin tahu yang besar, aktif, dan lain sebagainya. Inilah yang nantina mendasari usulan model pendampingan pasien kanker pasca kemoterapi untuk usia anak-anak.
Bentuk usulan proram pendampingan pasien kanker pasca kemoterapiuntuk usia anak-anak adalah Sunday school atau sekolah Minggu. Menurut Triono Budi Sutopo (1993: 58) istilah Sekolah Minggu atau Sunday school adalah suatu wadah kegiatan pewartaan Kabar Gembira bagi anak-anak
yang umumnya sudah dipermandikan atau dibaptis. Tujuan dari Sunday school atau sekolah minggu ini sebagaimana dikutib oleh Alfons Sene (Sene, 1976:32) adalah:
Mempersiapkan situasi lingkungan hidup beriman yang baik bagi anak- anak yang sedang berkembang; meningkatkan dan memperdalam pengetahuan agama yang diarahkan kepada penghayatan iman yang nyata sesuai dengan perkembanganya dalam usia tertentu; meningkatkan serta memperdalam penghayatan anak terhadap liturgi; meningkatkan semangat ksatria, menghargai pribadi dan orang lain; memupuk harga diri yang sehat dan wajar, kritis dalam menanggapi sesuatu serta menilai tinggi hak hidup setiap makhluk; mencari dan meningkatkan bakat atau keterampilan dari anak, sehingga membantu anak untuk semakin beriman dewasa.
Tujuan yang dirumuskan oleh Alfons Sene mengenai Sunday School ini menjadi gambaran tujuan pendampingan pasien kanker untuk usia anak-anak. Tidak semua tujuan ini berhubungan dengan kebutuhan pasien. Namun yang ditekankan di sini adalah pasien dapat meningkatkan semangat ksatria, menghargai pribadi dan orang lain; memupuk harga diri yang sehat dan wajar, kritis dalam menanggapi sesuatu serta menilai tinggi hak hidup setiap makhluk; mencari dan meningkatkan bakat atau keterampilan dari anak, sehingga membantu anak untuk semakin beriman dewasa.
Melihat bahwa kondisi pasien juga terbatas maka kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan juga tidak banyak menguras tenaga, karena yang menjadi pokok perhatian adalah pasien dapat melalui dan menerima situasi saat ini sebagai berkat melalui kebiatan Sunday school.
2. Shared Christian Praxis (SCP)
Berdasarkan gagasan E. Kubler-Ross yang termuat dalam bukunya On
Death and Dying sebagaimana dikutib oleh Dr. P. Go., O. Carm (1984: 72-76)
dapat membantu petugas pastoral atau pendamping untuk semakin mengenal dan menyadari bahwa pasien tidak hanya membutuhkan perawatan secara fisik belaka, melainkan kebutuhan sosial, emosional, intelektual, dan kebutuhan spiritual atau religius juga harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini juga harus disesuaikan berdasarkan kondisi di masing-masing usia. Pada bagian ini akan difokuskan kepada taraf usia remaja dan dewasa.
Seperti telah diketahui sebelumnya mengenai psikologi perkembangan secara khusus taraf usia remaja, usia remaja merupakan usia yang memiliki pola psikis menyerupai pola masa anak-anak, yang membedakan adalah rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajad, secara khusus pada pengendalian diri untuk mengungkapkan sesuatu (Hurlock, 2002: 213). Pada usia ini kaum remaja tidak mau lagi disebut anak-anak, cara mengungkapkan perasaan amarah pun juga berbeda, dan lain sebagainya seperti yang diungkapkan pada bab II. Menurut Elizabeth B. Hurlock (2002: 247) masa anak-anak dan remaja merupakan periode “pertumbuhan” dan masa dewasa merupakan masa “pengaturan atau sattle down”.
Maksudnya adalah ketika anak-anak dan remaja, individu hanya sekadar bertumbuh mulai dari fisik, pola pikir, emosi, dan lain sebagainya. Namun mulai menginjak masa dewasa pertumbuhan itu sudah digantikan dengan pola pengaturan, mulai mengendalikan emosi, merencanakan masa depan yang riil dan pasti, dan lain sebagainya.
Pola pendampingan untuk usia remaja dan dewasa pun berbeda degan pola pendampingan usia anak-anak. Pada kesempatan ini, pola yang akan diterapkan sebagai bentuk usulan pendampingan pasien kanker pasca kemoterapi usia remaja dan dewasa adalah model Shared Christian Praxis yang disesuaikan dengan golongan usia.
Menurut pencetus model katekese Shared Christian Praxis yakni Thomas Groome, katekese model ini disusun sebagai sarana umat beriman Kristiani mengadakan sharing-dialog yang berisi refleksi kritis tentang pengalaman iman mereka pada saat ini, dalam terang Tradisi dan Visi iman Kristiani, sehingga menimbulkan suatu aksi nyata dalam iman Kristiani (Groome, 1980: 191-193). Yang khas dari katekese model ini adalah pengalaman peserta menjadi sumber yang kemudian dibagikan kepada peserta yang lain dalam suatu pertemuan. Melalui hal ini, dapat membantu membangkitkan, memperluas, memperdalam, mengungkapkan, dan membagikannya kepada peserta lain, sehingga dapat melibatkan eksistensi pribadi dan bersama menuju suatu kematangan iman (Sumarno Ds., 2009: 5-6).
Model ini mencakup lima langkah, yakni mengungkapkan pengalaman hidup peserta, mendalami pengalaman hidup peserta, menggali pengalaman iman Kristiani, menerapkan iman Kristiani dalam situasi hidup peserta secara konkrit, dan mengusahakan suatu aksi nyata sebagai bentuk tindak lanjut (Sumarno Ds., 2009: 29-30).
Alasan penulis menggunakan model ini sebagai bentuk pendampingan pasien kanker pasca kemoterapi adalah pertama model ini bertitik tolak dari
pengalaman hidup peserta, kedua langkah-langkah yang digunakan praktis untuk dilaksanakan oleh siapa saja, ketika peserta berasal dari kondisi yang sama sehingga dapat membantu melihat proses pengolahan pribadi dari pengalaman dan situasi yang sama, keempat peserta diajak untuk merumuskan niat yang akan dilaksanakan, hal ini menjadi ukuran kesuksesan pendampingan mengingat pendampingan yang digagas tidak melulu hal yang bersifat ritual.