HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pontoscolex corethrurus 14,66 66,00 20,89 58,02
2. Peryonix excavatus 3,55 16,00 2,66 7,40 3. Pheretima posthuma 1,77 8,00 2,22 6,18 4. Drawida sp - - 10,22 28,40 5. Megascolex cempii 2,22 10,00 - - Jumlah 22,22 100,00 35,99 100,00
Keterangan: K= Kepadatan, KR = Kepadatan Relatif
Pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pada lokasi I jenis Pontoscolex
corethrurus memiliki nilai kepadatan tertinggi yaitu 14,66 individu/m² dengan nilai
kepadatan relatif yaitu 66% dan nilai kepadatan terendah didapatkan dari jenis
Pheretima posthuma yaitu 1,77 individu/m² dengan nilai kepadatan relatif yaitu 8%.
Pada lokasi II jenis Pontoscolex corethrurus memiliki nilai kepadatan tertinggi yaitu 20,89 individu/m² dengan nilai kepadatan relatif yaitu 58,02% dan nilai kepadatan terendah didapatkan dari jenis Pheretima posthuma, yaitu 2,22 individu/m² dengan
Morario : Komposisi Dan Distribusi Cacing Tanah Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Moeis Dan Di Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, 2010.
nilai kepadatan relatif yaitu 6,18%. Keadaan ini disebabkan ke dua spesies ini memiliki kisaran toleransi yang berbeda terhadap kondisi lingkungan, seperti pH dan kadar organik tanah. Hal ini dikarenakan faktor fisik-kimia yang berbeda seperti kelembaban, kadar organik dan kadar air. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Wallwork (1970) bahwa kepadatan cacing tanah pada suatu areal umumnya dipengaruhi oleh faktor fisik seperti kelembaban, vegetasi dan mikrohabitat.
Lee (1985) menyatakan bahwa bahan organik sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi cacing tanah karena bahan organik yang terdapat di dalam tanah sangat diperlukan untuk melanjutkan kehidupannya. Selanjutnya Hanafiah (2005) menyatakan bahwa distribusi bahan organik dalam tanah berpengaruh terhadap cacing tanah, karena terkait dengan sumber nutrisinya sehingga pada tanah miskin bahan organik hanya sedikit jumlah cacing tanah yang dijumpai.
4.3 Komposisi Cacing Tanah
Berdasarkan nilai kepadatan relatif dapat ditentukan komposisi cacing tanah dari urutan tertinggi sampai terendah pada masing-masing lokasi seperti pada Tabel 4.3 berikut ini:
Tabel 4.3 Komposisi Cacing Tanah pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Jenis Lokasi I Lokasi II KR (%) Komposisi KR (%) Komposisi 1. Pontoscolex corethrurus 66,00 1 58,02 1 2. Peryonix excavatus 16,00 2 7,40 3 3. Pheretima posthuma 8,00 4 6,18 4 4. Drawida sp - - 28,40 2 5. Megascolex cempii 10,00 3 - - Jumlah 100,00 100,00
Keterangan: KR = Kepadatan Relatif
Pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pada lokasi I didapatkan komposisi cacing tanah secara berurutan adalah Pontoscolex corethrurus, Peryonix excavatus,
Morario : Komposisi Dan Distribusi Cacing Tanah Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Moeis Dan Di Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, 2010.
Megascolex cempii dan Pheretima posthuma. Pada lokasi II didapatkan komposisi
cacing tanah secara berurutan adalah Pontoscolex corethrurus, Drawida sp, Peryonix
excavatus dan Pheretima posthuma.
Pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa Pontoscolex corethrurus menempati urutan tertinggi pada kedua lokasi, sedangkan Pheretima posthuma menempati urutan terendah pada kedua lokasi. Hal ini dikarenakan adanya batasan toleransi yang sangat luas bagi kehidupan cacing tanah dari jenis Pontoscolex corethrurus sehingga jenis ini mampu hidup dimana saja. John (1998) menyatakan bahwa cacing tanah jenis
Pontoscolex corethrurus banyak ditemukan pada areal perkebunan kelapa sawit.
Selanjutnya Suin (1982) menjelaskan bahwa jenis Pontoscolex corethrurus banyak ditemuka n di Pulau Sumatera.
4.4 Frekuensi Kehadiran (FK) dan Konstansi Cacing Tanah
Frekuensi kehadiran dan konstansi cacing tanah yang didapatkan pada setiap lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
Tabel 4.4 Frekuensi Kehadiran (%) dan Konstansi Cacing Tanah pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Jenis Lokasi I Lokasi II
FK (%) Konstansi FK (%) Konstansi 1. Pontoscolex corethrurus 56 Konstan 60 Konstan
2. Peryonix excavatus 28 Asesoris 24 Aksidental
3. Pheretima posthuma 16 Aksidental 20 Aksidental
4. Drawida sp - - 36 Aksesoris
5. Megascolex cempii 16 Aksidental - -
Keterangan: FK= Frekuensi Kehadiran
Pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa jenis cacing tanah pada lokasi I yang bersifat konstan 1 jenis, bersifat aksidental ada 2 jenis dan bersifat asesoris 1 jenis. Pada lokasi II jenis cacing tanah yang bersifat konstan 1 jenis, bersifat aksidental ada 2 jenis dan bersifat asesoris 1 jenis tetapi yang bersifat absolut tidak ditemukan. Hal ini memperlihatkan bahwa tidak ada jenis yang sangat sering ditemukan (absolut) pada kedua lokasi, tetapi ada 1 jenis yang sering ditemukan (konstan) pada kedua lokasi yaitu Pontoscolex corethrurus. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan baik
Morario : Komposisi Dan Distribusi Cacing Tanah Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Moeis Dan Di Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, 2010.
secara fisik-kimia maupun ketersediaan air dan unsur hara dapat mendukung bagi kehidupan cacing tanah dari jenis Pontoscolex corethrurus.
4.5 Cacing Tanah yang Memiliki Nilai Kepadatan Relatifnya (KR) ≥ 10% dan
Frekuensi Kehadiran (FK) ≥ 25%
Berdasarkan Nilai Kepadatan Relatif (KR) ≥ 10% dan Frekuensi Kehadiran (FK) ≥
25% cacing tanah dapat dikelompokkan seperti yang terlihat pada Tabel 4.6 berikut ini.
Tabel 4.5 Cacing Tanah yang Memiliki Nilai Kepadatan Relatif (KR) ≥ 10% dan
Frekuensi Kehadiran (FK) ≥ 25%
No Spesies Lokasi I Lokasi II
KR (%) FK (%) KR(%) FK(%) 1 2 3 Pontoscolex corethrurus Peryonix excavatus Drawida sp 66 16 - 56 28 - 58,02 - 28,4 60 - 36
Didapatkan 3 jenis dari 5 jenis cacing tanah yang dapat hidup dan berkembang dengan baik yaitu Pontoscolex corethrurus, Peryonix excavatus dan Drawida sp. Dimana pada lokasi I yaitu dari jenis Pontoscolex corethrurus dan Peryonix excavatus dan pada lokasi II yaitu dari jenis Pontoscolex corethrurus dan Drawida sp.
Hal ini memperlihatkan bahwa kondisi masing-masing lokasi penelitian dapat mendukung kehidupan dan perkembangbiakan dari jenis Pontoscolex corethrurus, hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Suin (1988) apabila nilai KR ≥ 10% dan FK ≥
25% menunjukkan bahwa hewan tersebut mampu hidup dengan baik di habitatnya. Sedangkan Drawida sp hanya dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik pada lokasi II dan Peryonix excavatus hanya dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik pada lokasi I, hal ini dikarenakan ke dua jenis ini memiliki kisaran toleransi yang berbeda terhadap kondisi lingkungan, seperti pH dan kadar organik tanah. Menurut
Morario : Komposisi Dan Distribusi Cacing Tanah Di Kawasan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Moeis Dan Di Perkebunan Rakyat Desa Simodong Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batu Bara, 2010.
John (1998) cacing tanah dari jenis Megascolex cempii lebih menyukai kondisi lingkungan dengan pH sedikit asam (< 6), kelembaban tanah berkisar antara 80-90%, dan kadar organik tergolong rendah (< 1 %), sedangkan cacing tanah dari jenis Drawida sp lebih menyukai kondisi lingkungan dengan pH netral (6-7), kelembaban tanah berkisar antara 85-95%, dan kadar organik tergolong cukup tinggi (1-2 %).
4.6 Nilai Indeks Morista (Distribusi) Cacing Tanah
Distribusi cacing tanah pada setiap lokasi penelitian menurut Nilai Indeks Morista diperoleh hasilnya pada lokasi I dan II yaitu lebih besar dari 1 seperti terlihat pada
Tabel 4.6 berikut ini.
Tabel 4.6 Indeks Morista (Distribusi) Cacing Tanah pada Masing-Masing Lokasi Penelitian
No Jenis Indeks Morista