TINDAK PIDANA
4.3. Jenis-Jenis Pidana
4.3.1. Pidana Pokok 1. Pidana Mati
4.3.1.3. Pidana Kurungan
Pengertian pidana kurungan hampir sama dengan pidana penjara. Hanya saja, pidana kurungan merupakan satu-satunya jenis pidana pokok berupa pembatasan kebebasan bergerak yang dapat dijatuhkan oleh hakim bagi orang-orang yang telah melakukan pelanggaran-pelanggaran sebagaimana diatur di dalam Buku III KUHP. Namun, pidana kurungan dapat juga diancamkan bagi kejahatan-kejahatan yang dilakukan secara tidak sengaja yang diatur di dalam Buku II KUHP dengan perumusan ancaman pidana secara alternatif dengan pidana penjara.98
Menurut Memorie van Toelichting, sebagaimana dikutip oleh P.A.F. Lamintang, pidana kurungan yang diatur di dalam KUHP itu dimaksudkan untuk 2 (dua) kebutuhan. Pertama, oleh kebutuhan akan perlunya suatu bentuk pidana yang sangat sederhana berupa suatu pembatasan kebebasan bergerak yang sifatnya sangat sederhana bagi tindak pidana-tindak pidana yang sifatnya ringan. Kedua, oleh kebutuhan akan perlunya suatu bentuk pidana berupa suatu pembatasan kebebasan bergerak yang sifatnya tidak begitu mengekang bagi tindak pidana-tindak pidana yang menurut sifatnya “tidak menunjukkan adanya suatu kebobrokan mental atau adanya suatu maksud yang sifatnya jahat pada pelakunya.”99
Pasal 18 ayat (1) KUHP mengatur, “Pidana kurungan paling sedikit satu hari dan paling lama satu tahun.” Apabila ada
98 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 71.
99 Ibid., 72.
173 (samenloop), pengulangan (recidive), atau karena ketentuan Pasal 52 KUHP100, maka sesuai ketentuan Pasal 18 ayat (2) KUHP pidana kurungan dapat ditambah menjadi 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan. Oleh karena itu, Pasal 18 ayat (3) KUHP menegaskan, “Pidana kurungan sekali-kali tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan.”
Di dalam sistem KUHP yang berlaku di Indonesia, selain sebagai pidana pokok, pidana kurungan dapat dijatuhkan oleh hakim kepada pelaku tindak pidana sebagai pengganti pidana denda yang tidak dibayar. Menurut Pasal 30 ayat (3) KUHP, lamanya pidana kurungan pengganti paling sedikit 1 (satu) hari dan paling lama 6 (enam) bulan. Apabila ada pemberatan pidana denda disebabkan karena perbarengan (samenloop), pengulangan (recidive), atau karena ketentuan Pasal 52 KUHP, maka sesuai ketentuan Pasal 30 ayat (5) KUHP pidana kurungan pengganti paling lama adalah 8 (delapan) bulan. Oleh karena itu, Pasal 30 ayat (6) KUHP menegaskan, “Pidana kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan.”
Pasal 30 ayat (4) KUHP telah mengatur cara menentukan lamanya pidana kurungan pengganti pidana denda:
Dalam putusan hakim, lamanya pidana kurungan pengganti ditetapkan demikian: jika pidana dendanya tujuh rupiah lima puluh sen atau kurang, dihitung satu hari; jika lebih dari tujuh rupiah lima puluh sen, tiap-tiap tujuh rupiah lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari demikian pula sisanya yang tidak cukup tujuh rupiah lima puluh sen.
P.A.F. Lamintang memberikan ilustrasi sebagai berikut:101
100 Pasal 52 KUHP mengatur, “Bilamana seorang pejabat, karena melakukan tindak pidana, melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan tindak pidana memakai kekuasaan, kesempatan atau sarana yang diberikan kepadanya karena .jabatannya, maka pidananya dapat ditambah sepertiga.”
101 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 79.
174
Ini berarti bahwa apabila di dalam putusannya itu hakim telah menjatuhkan pidana densa sebesar Rp600,00, maka di dalam putusannya tersebut, hakim juga harus menetapkan lamanya pidana kurungan yang harus dijalankan oleh terpidana, yakni selama 80 hari (600 : 7,50 = 80) sebagai penggantinya, apabila terpidana telah tidak membayar lunas jumlah uang denda yang telah ditetapkan oleh hakim.
Terpidana dapat menjalani pidana kurungan pengganti tanpa menunggu batas waktu pembayaran denda. Terpidana diberikan kewenangan membebaskan dirinya dari pidana kurungan pengganti dengan membayar dendanya. Pembayaran sebagian dari pidana denda, baik sebelum maupun sesudah mulai menjalani pidana kurungan pengganti, membebaskan terpidana dari sebagian pidana kurungan yang seimbang dengan bagian yang dibayarnya. Demikian diatur secara berturut-turut di dalam Pasal 31 KUHP, mulai ayat (1), ayat (2), sampai dengan ayat (3).
Merujuk pada ketentuan Pasal 32 ayat (1) KUHP, pidana kurungan itu mulai berlaku sejak pidana tersebut diputuskan oleh hakim melalui putusan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) bagi terpidana yang sudah di dalam penahanan sementara. Di sisi yang lain, bagi terpidana yang tidak berada di dalam penahanan sementara, pidana kurungan itu mulai berlaku sejak putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) itu dijalankan. Mengenai hal ini, perlu untuk mengetahui ketentuan Pasal 32 ayat (2) KUHP:
Jika dalam putusan hakim dijatuhkan pidana penjara dan pidana kurungan atas beberapa perbuatan pidana, dan kemudian putusan itu bagi kedua pidana tadi menjadi tetap pada waktu yang sama, sedangkan terpidana sudah ada dalam tahanan sementara karena kedua atau salah satu perbuatan pidana itu, maka pidana penjara mulai berlaku pada saat ketika putusan hakim menjadi tetap, dan pidana kurungan mulai berlaku setelah pidana penjara habis.
175 Pidana denda, selain diancamkan pada pelaku pelanggaran, juga diancamkan terhadap kejahatan yang adakalanya sebagai alternatif atau kumulatif.102 Sebagaimana ketentuan Pasal 30 ayat (1) KUHP, pidana denda paling sedikit adalah 3 (tiga) rupiah 75 (tujuh puluh lima) sen. Dengan demikian, KUHP tidak menentukan berapa besarnya pidana denda yang sebesar-besarnya. Hanya saja, apabila menelusuri pasal-pasal di dalam KUHP yang merumuskan adanya ancaman pidana denda, maka pidana denda yang terbesar dirumuskan di dalam Pasal 303 ayat (1) KUHP103, yaitu sebesar Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).
Pada perkembangannya kemudian, sesuai ketentuan Pasal 3 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2021 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP, tiap jumlah maksimum pidana denda yang diancamkan di dalam KUHP dilipatgandakan menjadi 1.000 (seribu) kali, kecuali Pasal 303 ayat (1) KUHP, Pasal 303 ayat (2) KUHP, Pasal 303 bis ayat (1) KUHP, dan Pasal 303 bis ayat (2) KUHP. Dengan adanya aturan penyesuaian terhadap jumlah pidana denda di dalam KUHP tersebut, hakim diwajibkan
102 Marpaung, Asas, Teori, Dan Praktik Hukum Pidana, 109.
103 Pasal 303 ayat (1) KUHP mengatur: “(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidanadenda paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapa tanpamendapat izin: 1. dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan untukpermainan judi dan menjadikannya sebagai pencarian, atau dengansengaja turut serta dalam suatu perusahaan untuk itu; 2. dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada khalayakumum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalamperusahaan untuk itu, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakankesempatan adanya sesuatu syarat atau dipenuhinya sesuatu tata-cara; 3. menjadikan turut serta pada permainan judi sebagai pencarian.
(2) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam mejalakanpencariannya, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian itu. (3) Yang disebut permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana padaumumnya kemungkinan mendapat untung bergantung pada peruntunganbelaka, juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Di situ termasuksegala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lain-lainnyayang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain,demikian juga segala pertaruhan lainnya.
176
memperhatikan ketentuan-ketentuan yang dimaksud ketika menangani perkara tindak pidana yang didakwa dengan pasal-pasal KUHP yang dapat dijatuhkan pidana denda.
Di dalam pembahasan mengenai pidana denda ini, P.A.F.
Lamintang memandang perlu untuk mengetengahkan ketentuan Pasal 82 ayat (1) KUHP yang merumuskan:
“Kewenangan menuntut pelanggaran yang diancam dengan pidana denda saja menjadi hapus, kalau dengan suka rela dibayar maksimum denda dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan kalau penuntutan telah dimulai, atas kuasa pejabat yang ditunjuk untuk itu oleh aturan-aturan umum, dan dalam waktu yang ditetapkan olehnya.”
Sesuai dengan rumusan pasal tersebut, apabila para pelanggar itu secara sukarela telah membayar uang denda tertinggi kepada jaksa bagi pelanggaran-pelanggaran yang telah mereka lakukan, maka dengan sendirinya jaksa juga tidak akan menuntut mereka di depan pengadilan. Sementara itu, apabila mereka itu tidak dituntut di depan pengadilan, maka dengan sendirinya mereka itu juga tidak perlu menghadap ke sidang pengadilan.104
Merujuk pada uraian P.A.F. Lamintang di atas, kata
“pejabat” yang dimaksud di dalam Pasal 82 ayat (1) KUHP adalah jaksa. Oleh karena itu, tenggang waktu untuk membayar lunas uang denda tertinggi yang telah diancamkan bagi sesuatu pelanggaran itu harus ditetapkan oleh jaksa.105 Pidana denda yang dimaksud dapat dibayar oleh siap saja, baik keluarga maupun kenalan terpidana.106 Mengingat tidak dipedulikan siapa yang membayar pidana denda, bagi Wirjono Prodjodikoro, sifat pidana yang ditujukan kepada pribadi narapidana menjadi kabur.107
104 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 82.
105 Ibid., 82–83.
106 Marpaung, Asas, Teori, Dan Praktik Hukum Pidana, 110.
107 Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, 185.
177 sebagai pidana pokok, pidana kurungan dapat dijatuhkan oleh hakim kepada pelaku tindak pidana sebagai pengganti pidana denda yang tidak dibayar. Menurut Pasal 30 ayat (3) KUHP, lamanya pidana kurungan pengganti paling sedikit 1 (satu) hari dan paling lama 6 (enam) bulan. Apabila ada pemberatan pidana denda disebabkan karena perbarengan (samenloop), pengulangan (recidive), atau karena ketentuan Pasal 52 KUHP, maka sesuai ketentuan Pasal 30 ayat (5) KUHP pidana kurungan pengganti paling lama adalah 8 (delapan) bulan. Oleh karena itu, Pasal 30 ayat (6) KUHP menegaskan, “Pidana kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan.”
Pasal 30 ayat (4) KUHP telah mengatur cara menentukan lamanya pidana kurungan pengganti pidana denda:
Dalam putusan hakim, lamanya pidana kurungan pengganti ditetapkan demikian: jika pidana dendanya tujuh rupiah lima puluh sen atau kurang, dihitung satu hari; jika lebih dari tujuh rupiah lima puluh sen, tiap-tiap tujuh rupiah lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari demikian pula sisanya yang tidak cukup tujuh rupiah lima puluh sen.
P.A.F. Lamintang memberikan ilustrasi sebagai berikut:108 Ini berarti bahwa apabila di dalam putusannya itu
hakim telah menjatuhkan pidana densa sebesar Rp600,00, maka di dalam putusannya tersebut, hakim juga harus menetapkan lamanya pidana kurungan yang harus dijalankan oleh terpidana, yakni selama 80 hari (600 : 7,50 = 80) sebagai penggantinya, apabila terpidana telah tidak membayar lunas jumlah uang denda yang telah ditetapkan oleh hakim.
Terpidana dapat menjalani pidana kurungan pengganti tanpa menunggu batas waktu pembayaran denda. Terpidana diberikan kewenangan membebaskan dirinya dari pidana
108 Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia, 79.
178
kurungan pengganti dengan membayar dendanya. Pembayaran sebagian dari pidana denda, baik sebelum maupun sesudah mulai menjalani pidana kurungan pengganti, membebaskan terpidana dari sebagian pidana kurungan yang seimbang dengan bagian yang dibayarnya. Demikian diatur secara berturut-turut di dalam Pasal 31 KUHP, mulai ayat (1), ayat (2), sampai dengan ayat (3).