Oleh: Moeso
Proletar, 23 Juli 1925
D
alam pergaulan kapital sekarang manusia dibagi jadi dua klas, yaitu klas buruh dan klas kapital. Kebutuhan-kebutuhan dua-dua klas ini tidak sama. Apa yangmenguntungkan klas kapital hampir selamanya merugikan klas buruh. Apa yang menguntungkan klas buruh, hampir semua merugikan kepada klas kapital.
Apa yang baik bagi klas buruh, selamanya dipandang tidak adil oleh klas kapital.
Karena itulah klas buruh dan klas kapital tidak bisa dipersatukan kekal, meskipun sama kebangsaan dan agamanya.
Klas kapital mempunyai keperluan sendiri. Klas kapital mempunyai maksud sendiri, sedang klas buruh
bermusuhan dengan klas kapital. Sebagaimana kambing dengan harimau tidak bisa dirukunkan, begitu juga klas buruh dan klas kapital tidak bisa dirukunkan. Dua-duanya mesti bertanding. Salah satunya mesti hancur.
Apabila klas kapital hingga sekarang masih bisa merajalela di seluruh dunia, itulah sebabnya nomer satu tidak lain, yaitu karena kaum buruh bisa disesatkan pikirannya!
pandang sudah semesti-mestinya ada kaum kapital yang menghisap dan ada kaum buruh yang dihisap.
Dengan buku-bukunya, surat-surat kabarnya, guru-gurunya dan lain-lain orang yang pandai dan terbayar, kaum kapital bisa menanam pikiran dalam kepala kaum buruh, bahwa kekuasaan kaum kapital itu sudah seperti disahkan oleh langit dan tidak boleh diubah lagi. Orang-orang ulama yang dibayar oleh kaum kapital berkata di mana-mana tempat, bahwa kekuasaan kapital dengan hak privat itu suatu aturan yang memang dikehendaki oleh Allah.
Begitulah Rakyat yang tertindas jadi diam. Ia tidak bisa berbuat apa-apa yang keras, karena pikiran dan nasehat-nasehat yang diadakan dari pihak sana itu.
Apabila kaum tertindas hendak bertanding dengan mengharapkan kemenangan, haruslah ia melepaskan pikirannya dari pengaruh pihak sana. Rakyat yang bertanding merebut kemerdekaannya sendiri, harus mempunyai pikirannya sendiri tentang baik dan jelek. Tidak seharusnya ia memakai nasehat yang diberikan dari pihak sana itu.
Nasehat-nasehat yang diberikan oleh pihak sana tidak lain maksudnya, yaitu meneruskan kekuasan dan penghisapan. Dulu-dulu, ketika raja masih kuasa, anak-anak dan orang-orang tua juga diberi nasehat supaya takluk kepada raja, guru dan orang tua. Menghormati orang tua itu bolehlah dijalankan, demikian pula menghormati guru, apabila ini baik dan tidak merugikan. Tetapi jika orang dinasehati supaya menjunjung raja seperti manusia yang lain macam,
maka nasehat yang demikian itu tidak lain maksudnya, supaya raja menghisap Rakyat.
Ada nasehat, yang manusia harus sabar! Kelihatannya ini adalah nasehat baik. Tetapi jika diperiksa betul, maka nasehat ini bisa tidak baik juga. Umpamanya: sabar buat siapa?
Apabila orang buruh dikerjakan siang malam dan ia tinggal pikul saja nasib yang celaka itu, maka kesabaran yang demikian tidak ada gunanya. Kesabaran serupa itu
malahan jadi sebab ia mendapat nasib jelek, pada hal kaum majikan mengantongi untung banyak. Jikalau kesabaran itu baik, itulah tidak buat orang-orang dari klas buruh sendiri.
Orang dinasehati tidak boleh berdusta. Ini nasehat
dikatakan sering dalam buku-buku yang ditulis oleh pihak sana. Kaum kapital sendiri tiap hari terhadap kaum buruh surat-surat kabarnya menceritakan kabar-kabar bohong. Tetapi ia minta supaya kaum buruh berbuat setia
kepadanya. Apabila kaum buruh perhatikan itu nasehat dan tidak lihat papan dan tempo, ia bisa merugikan
pertandingan dan perkumpulannya, ia bisa membikin jelek sendiri nasibnya. Misalnya: Jika ada pemogokan atau perlawanan keras, dan ada seorang buruh sebelumnya pemogokan diadakan pergi ke majikan dan
memberitahukan apa yang dikehendaki oleh vakbond, maka seorang buruh yang demikian itu disebut pengkhianat klasnya, meskipun ia bilang sesungguhnya apa yang terjadi. Jika ia seorang buruh sejati, ia tidak perlu berkata apa-apa kepada majikan. Dan jika ia ditanya oleh majikan, ia harus berdusta, jika ini kedustaannya untuk keperluan klasnya. Jadi dusta itu ada baiknya juga. Dan dusta itu
selamanya baik, jika perlu buat membantu dan memperbaiki nasib klasnya.
Hemat juga dipuji-puji dalam buku yang ditulis oleh pihak sana. Tetapi orang-orang kaya sendiri membuang-buang kekajaan dengan tak ada batasnya.
Dalam koran nasrani dilarang orang membunuh sesama manusia. Membunuh memang tidak baik. Jika sekarang ada orang membunuh lain orang, ia ditangkap dan diberi hukuman.
Tetapi ketika ada perang, pemerintah-pemerintah kristen di Eropa saban hari membunuh beribu-ribu orang. Kekajaan negeri dipergunakan untuk bunuh-membunuh. Orang-orang yang baik-baik dididik jadi pembunuh.
Apakah ini artinya? Membunuh itu baik, jika untuk membela keperluan alias keuntungan sendiri. Jadi membunuh itu tidak selamanya dipandang jelek oleh kapital jika pembunuhan itu memberi untung kepadanya, ia tak akan takut menjalankan itu, meskipun beribu-ribu atau berjuta-juta manusia jadi korban.
Apakah artinya ini semua?
Bahwa perasaan baik atau jelek itu tidak boleh dipakai buat semua manusia. Dalam bahasa biasa, maka baik itu artinya tidak lain yaitu berguna atau menguntungkan. Jelek artinya tidak lain merugikan.
Karena apa yang menguntungkan kepada kaum kapital hampir selamanya merugikan kepada kaum buruh, tidak seharusnyalah kaum buruh mempunyai pikiran-pikiran seperti klas kapital.
Karena itulah kaum buruh seharusnya tidak membaca buku-buku atau surat-surat kabar yang dikeluarkan oleh klas kapital atau saudara-saudaranya.
Kaum buruh harus mempunyai kebiasaan sendiri, ia harus mempunyai buah pikiran sendiri. Ia harus mempunyai
kultuur (kesopanan sendiri, ia harus mempunyai moral
sendiri, artinya, K.b. harus mempunyai pemandangan sendiri tentang baik dan jelek dan tidak boleh mengambil pemandangan itu begitu saja dari buku-bukunya kapital. Kaum kapital sekarang menerbitkan macam-macam buku yang tidak terhingga banyaknya. Itu semua maksudnya tidak lain yaitu untuk menyesatkan dan membingungkan kaum buruh, supaya ini tidak bisa melawan keras-kerasan sebagai mestinya.
Apabila sekolahan-sekolahan Rakyat dalam tempo-tempo terachir mendapat rintangan begitu banyak, itulah disebabkan karena ditakutilah yang anak-anak itu nanti terlepas dari buah-buah pikiran yang merugikan kepada kaum buruh itu.
Karena itulah kaum buruh dan kaum tani yang tertindas di sini tidak seharusnya membaca buku-buku yang
diterbitkan oleh pihak sana, karena buku-buku ini cuma untuk menguatkan tindasan saja, lain tidak!
Kaum tertindas di sini haruslah membaca buku-bukunya sendiri yang ditulis oleh orang-orang dari klasnya sendiri. Begitulah klas yang tertindas, di sini nanti jadi insyaf betul akan nasibnya.
Apabila pikiran klas yang tertindas lepas dari pengaruh klas kapital, akan lekaslah ia menguatkan barisannya dan
akan lekas juga ia menggalang barisannya untuk merebut apa yang dipandangnya baik bagi diri sendiri.
Apakah yang dipandang baik oleh klas yang tertindas selain jatuhnya kapital, karena jatuhnya kapital
menimbulkan komunisme, yaitu dunia yang selamat itu, di mana semua penduduk negeri bisa hidup rukun
bersaudaraan dengan tidak kekurangan sesuatu apa. Untuk mencepatkan datangnya kemerdekaan kita,
haruslah sekalian saudara membaca buku-bukunya sendiri, yang ditulis oleh orang-orang dari klasnya sendiri.
Klas yang tertindas harus menerbitkan buku-buku yang perlu dalam pertandingan melawan kapital.
Begitulah nanti kita bisa memudahkan datangnya komunisme!!!!
Api, 24 Juli 1925
Dengan kepala sebagai di atas H.B. menulis sebagai di bawah ini:
Pada malam Kemis tg. 15-16 Juli 1925 di onderdistrict Malangbong 70 buah rumah dimakan api, di antaranya berpuluh-puluh rumah lid S.I. Kring Malangbong habis terbakar.
Kerugian belum bisa ditaksir. Perbuatan semacam inilah yang sudah menjadi buah bibir pergerakan khianat. Dan sekarang sekonyong-konyong terjadilah api menjilat beberapa rumah tersebut.
Tidakkah perbuatannya fasisme Hindia yang semacam itu? Insya Allah! Perbuatan yang secemar itu dilaknatlah oleh Allah Soebhawa wataala.
Awas! Kaum S.I. Bukalah mata dengan notesnya: pergerakan edan-edanse itu harus kita ketahui benar-benar.
*
Begitulah H.B. memberi nama orang-orang gila itu Fasis. Sedang sebenarnya itu tidak lain hanya perbuatannya orang-orang belian untuk merusakkan pergerakan Rakyat. Bedanya:
dengan mati-matian dalam perjoangan politik akan tetapi Fascisten di Hindia hanya melulu geraknya orang-orang yang ingin uang f 5 atau f 7,50 saja dengan perbuatannya jahat dan kejam melempari batu dan membakar rumah, tidak lebih.