Kebersamaan tiga saudara menjadikan masa pingitan terasa lebih ringan, karena semua suka dan duka dialami dan dirasakan ber- sama. Mereka leluasa menyalurkan kegemaran-kegemarannya seperti, menggambar, melukis, main piano, membuat ketrampilan tangan serta
aktifitas-aktifitas lain yang bisa menghibur perasaan. Kartini juga me- nularkan kebiasaan membaca kepada adik-adiknya.
Pengetahuan tiga saudara terus berkembang, karena mereka mendiskusikan bahan bacaan yang dibacanya. Surat kabar De Locomotief juga menjadi bahan bacaan ruti, sehingga mereka mengetahui dan memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi di Hindia Belanda atau di Eropa.
Mas Ajeng Ngasirah ikut berperan mendidik anak-anaknya, dengan memberikan pengetahuan dan ketrampilan membatik. Sesudah makan siang, mereka dibimbing ke serambi belakang untuk belajar membatik. Ketekunan ibu dalam mendidik tiga saudara, menjadikan mereka mahir dan memahami proses membatik dari awal sampai akhir.14
Hidup bersama adik-adik tidak membuat Kartini merubah kebia- saan baik yang dijalani selama ini. Kartini memanfaatkan suasana malam
yang hening untuk menuliskan gagasan-gagasannya. Aktifitas menulis
dilakukan sampai tengah malam, kemudian dilanjutkan kembali di pagi hari. Kebiasaan tersebut diketahui oleh semua orang dalam lingkungan kabupaten, karena Kartini melakukannya secra tertib dan teratur.
Pengaruh Kartini tertanam kuat pada diri R.A. Roekmini dan R.A. Kardinah, mereka bertekad untuk mendukung gagasan kakaknya. Tiga saudara sepakat bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak akan tercapai tanpa memajukan terlebih dahulu kaum perempuan. Gagasan tersebut terus berkutat dalam pikiran belum bisa diwujudkan, karena diusia yang masih muda mereka belum memiliki kekuatan untuk me- lakukannya.
14 Pengetahuan tentang proses pembuatan batik diuraikan oleh Kartini dalam sebuah karan- gan dengan judul De Batikkunst in Indie
Kartini berusaha mengurangi keterlibatan adiknya dalam men- sosialisasikan dan memperjuangkan gagasannya, karena khawatir akan menyulitkan kehidupan mereka. Usaha Kartini untuk mengurangi ke- terlibatan adiknya tidak berhasil, karena mereka terus mendesak untuk bersama memperjuangkan cita-cita yang sangat mulia tersebut. Diskusi yang mereka lakukan mengerucut pada keharusan untuk belajar men- gembangkan bakat masing, karena nanti akan dijadikan sebagai sarana mewujudkan cita-cita bersama.
Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Kartini menjadikan aturan-aturan pingitan menjadi melonggar. Bupati Sosroningrat mulai prihatin melihat kepedihan anak-anak perempuannya, karena itu beliau memberikan hadiah yang membuat tiga saudara bahagia.
Pada 1896 Bupati Sosroningrat mengajak anak-anak perempuanya mengikuti perjalanan dinas ke Kedungpenjalin menghadiri penahbisan seorang pendeta. Peristiwa ini sangat membahagiakan Kartini, dalam suratnya kepada Stella Kartini berkata : “Alhamdulillah! Alhamdulillah! Saya boleh meninggalkan penjara saya sebagai orang bebas“. Perjalanan ini nantinya akan disusul dengan perjalanan-perjalanan berikutnya baik bersama dengan ayah atau dengan teman-temannya dari Belanda.
Sejak aturan pingitan dilonggarkan tiga saudara dizinkan kem- bali mengunjungi rumah Nyonya Ovink Soer secara rutin. Membaca, mendongeng, bermain musik, atau membuat kerajinan tangan menjadi kegiatan yang biasa dilakukan. Tiga saudara mendapatkan hak istime- wa melakukan kegiatan dirumah tersebut karena hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak.
Nyonya Ovink Soer sangat menyayangi tiga saudara, mereka sering diajak menghadiri pesta di keluarga Belanda, pergi berwisata,
atau sekedar mengikuti perjalanan dinas Asisten Residen. Tiga saudara banyak mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan selama berinte- raksi dengan keluarga Nyonya Ovink Soer, tapi kebersamaan diantara mereka harus berakhir saat keluarga tersebut mendapatkan tugas baru ke daerah lain.
Tiga saudara memanfaatkan kelonggaran yang diberikan untuk mengembangkan potensi diri. Kondisi tersebut dicermati dengan baik oleh Bupati Sosroningrat, yang pada akhirnya memutuskan membe- baskan anak-anak perempuannya dari tradisi pingitan. Pada 2 Mei 1898 kurungan tiga saudara dibuka (Soeroto, 1982: 93), mereka dibebaskan menikmati kembali dunianya.
Kebebasan tiga saudara ditandai dengan diikutsertakanya me- reka dalam kunjungan Bupati Sosroningrat ke Semarang menghadiri perayaan penobatan Ratu Wilhelmina. Kartini membagi kebahagian tersebut kepada Stella melalui surat,
“Kami diperkenankan meninggalkan kota kediaman kami dan ikut pergi ke ibukota menghadiri perayaan penghormatan kepada Sri Ratu. Lagi kemenangan yang besar, amat besar yang sangat patut kami hargai“ (Sutrisno, 2014: 4).
Kehadiran tiga saudara di Semarang mendapat sambutan yang baik dari orang Belanda, sementara bangsawan yang masih berpikiran kolot mencibirnya. Bupati Sosroningrat tidak memperdulikan penilaian negatif atas sikapnya yang berbeda tersebut, bahkan sekembali dari Se- marang diambil keputusan yang sangat berani. Tiga saudara diizinkan mengunjungi desa-desa di Jepara untuk mengetahui permasalahan-per- masalahan yang dihadapi masyarakat.
Kartini bersama adik-adiknya berkunjung ke desa-desa untuk melakukan dialog dengan masyarakat tentang masalah yang dihadapi dan harapan yang dinginkan. Pada awalnya kehadiran mereka dipan- dang aneh, karena belum pernah puteri bangsawan berkunjung dan berdialog dengan masyarakat desa. Keramahan dan kesantunan tiga saudara berhasil mencairkan kebekuan yang terjadi antara mereka dengan masyarakat.
Masyarakat dengan jujur dan terbuka menyampaikan perma- salahan yang dihadapinya. Adik-adik Kartini menulis secara rinci apa yang disampaikan oleh masyarakat, catatan tersebut menjadi bahan diskusi untuk dicarikan jalan keluarnya. Salah satu permasalahan yang berhasil diatasi oleh tiga saudara adalah kemiskinan yang membelit para pengrajin ukir di Kampung Belakanggunung. Hasil karya mereka dihargai murah oleh masyarakat di Jepara, tidak sebanding dengan jerih payah yang sudah dilakukannya.
Kartini berusaha menghubungi beberapa orang Belanda di Sema- rang dan Batavia serta Oost en West15 untuk membantu mempromosikan kerajinan seni ukir Jepara. Kartini menugaskan kepada pengrajin ukir dari Belakanggunung membuat berbagai macam furnitur dan keraji- nan untuk dipasarkan ke Semarang, Batavia, bahkan Belanda. Harga kerajinan mereka mampu dijual dengan harga yang tinggi, sehingga kesejahteraan pengrajin bisa meningkat. Dengan cara yang sama Kartini juga berhasil meningkatkan kesejahteraan pengrajin emas dan tenun yang ada di Jepara.