dengan mata telanjang, pen- emuan Neptunus oleh manu-
sia pun menjadi lebih terlam-
bat bila dibandingkan dengan
planet-planet lainnya. Tan-
da-tanda keberadaan Nep-
tunus sendiri mulai diketahui oleh manusia pada tahun
1612. Di tahun tersebut, Gal- ileo Galilei melihat Neptunus melalui teleskopnya saat po-
sisi planet tersebut sedang berada di dekat Yupiter. Na- mun Galileo saat itu salah
mengira kalau benda langit di dekat Yupiter tersebut adalah sejenis bintang.
Tahun 1781, William Herscel
menemukan planet Uranus
sekaligus mendobrak peng-
etahuan umum pada waktu itu yang menganggap kalau hanya ada 6 planet di Tata Surya. Pengamatan lanjutan yang dilakukan pada Uranus
menemukan bahwa rute orbit
planet tersebut tidak sesuai dengan prediksi yang me-
makai Hukum Gravitasi New-
ton sebagai dasarnya. Teori baru pun diajukan kalau ma-
sih ada planet lain yang le-
taknya lebih jauh dari Uranus dan gravitasi planet tersebut mengganggu orbit dari Ura-
nus sehingga rute orbitnya melenceng dari perhitungan
para ahli.
Pasca munculnya teori men-
genai keberadaan planet yang letaknya lebih jauh dari Uranus, petualangan un- tuk mencari planet misterius
itupun dimulai. Tahun 1845, ilmuwan Inggris yang berna-
ma John Couch Adams mem-
ulai penelitiannya mengenai
perkiraan lokasi Neptunus. Di tempat terpisah, ilmuwan
Perancis yang bernama Ur-
ban Le Verrier juga memulai penelitiannya mengenai per Sebagai akibat dari letaknya
yang sangat jauh dari bumi dan pantulan cahayanya yang terlalu redup untuk ditangkap
kiraan lokasi Neptunus tanpa
mengetahui kegiatan pene-
litian yang sedang dilakukan oleh Adams. Le Verrier lalu menyurati Johann Gottfried Galle yang bekerja sebagai astronom di Observatorium
Berlin untuk melakukan pen-
gamatan dan menemukan keberadaan Neptunus den-
gan memakai hasil perhitun-
gannya.
Pengamatan pun dilakukan oleh Galle pada malam tang-
gal 23 September 1846. Hasil-
nya, keberadaan planet Nep-
tunus berhasil dikonirmasi di mana letaknya melenceng 1 derajat dari prediksi Le Verri-
er dan melenceng 12 derajat dari prediksi Adams. Perang klaim mengenai penemu Neptunus yang dibalut den-
gan sentimen nasionalisme pun langsung merebak di an-
tara khalayak Inggris dan Per-
ancis. Sebagai jalan tengah, akhirnya diputuskanlah kalau Adams dan Le Verrier adalah penemu bersama dari planet
Neptunus.
Selain perdebatan mengenai siapa yang berhak menyan-
dang gelar sebagai penemu
planet Neptunus, muncul
juga perdebatan mengenai nama yang pas untuk planet yang baru ditemukan terse- but. Le Verrier sempat men-
gusulkan nama Leverrier se-
bagai nama untuk planet baru tersebut yang diambil dari namanya sendiri, namun usu-
lan nama tersebut mendapat penolakan dari masyarakat di
luar Perancis. Bulan Desem-
ber 1846, akhirnya diputus- kan kalau planet baru terse-
but diberi nama Neptunus, nama versi Romawi dari dewa laut Poseidon dalam mitologi
Yunani.
Sejak Neptunus berhasil
ditemukan, pengamatan-pen-
gamatan lanjutan pun dilaku-
kan untuk mendapatkan fakta-fakta baru mengenai planet tersebut. Hanya be-
berapa minggu sesudah Galle mengkonirmasi keberadaan Neptunus lewat pengamatan langsung ke langit, satelit pertama dari Neptunus ber-
hasil ditemukan dan diberi nama Triton. Tahun 1949, gil-
iran satelit kedua Neptunus yang berhasil ditemukan un-
tuk kemudian diberi nama Nereid. Pengamatan yang dilakukan memakai wahana
tanpa awak sejak akhir tahun
1980-an berhasil menemu-
kan adanya cincin tipis serta belasan satelit baru di sekel-
iling Neptunus dan sejumlah badai raksasa berbentuk oval di permukaan atmosfer Nep- tunus.
JASMERAH
Candu tidak lepas dari stig-
ma sebagai sumber penyakit masyarakat. Sekali seseorang berada dalam jerat candu maka ia akan mengorbankan segalanya untuk memuaskan impuls ketagihan tersebut. Konon candulah yang telah mengambil nafas terakhir dinasti Qing di Tiongkok. Na-
mun itu semua tidak lepas dari sisi lain candu; ia adalah sumber pendapatan yang amat menguntungkan. Hing-
ga kini kita masih bisa melihat seorang panglima perang di Afghanistan atau Myanmar
membiayai pasukan mereka
melalui perdagangan candu. Peran candu bagi pendapatan pemerintah Hindia-Belanda tidak dapat disangkal. Meski bahasan tentang candu tidak menjadi bahasan utama seja-
rah Indonesia, namun selalu ada bahasan mengenai candu dalam narasi sejarah kolonial Indonesia. Bagaimana peran candu begitu memasuki ke-
merdekaan? Buku ini mem-
buka sedikit peran candu bagi pemerintah Indonesia.
RESENSI
By goed.aditJudul Buku : Opium dan Revolusi : Perdagangan dan Penggunaan Candu di Surakarta Masa Revolusi (1945-1950)
Penulis : Julianto Ibrahim Penerbit : Pustaka Pelajar Tebal : xvii + 157 halaman
Penulis buku tidak lupa menggambarkan latar be-
lakang Surakarta di masa revolusi. Kondisi sosial Surakarta, Badan Perjuan-
gan yang sekaligus ber-
peran sebagai preman, dan kerepotan lembaga kepolisian dijelaskan singkat
sebelum memasuki penjela-
san mengenai pengelolaan candu oleh pemerintah ko-
lonial dan kemudian oleh pemerintahan revolusioner Republik Indonesia ”dibawah wakil Presiden).
Wawancara penulis Julianto Ibrahim dengan orang-orang yang hidup di masa revolusi dan terlibat terhadap peng-
gunaan candu menghasilkan fakta-fakta yang menarik. Luasnya penggunaan can-
du di luar kalangan pecandu terlihat dari berbagai macam resep penggunaan candu se-
bagai obat bukan saja untuk orang dewasa namun bahkan untuk bayi dan ternak! Bah-
kan sifat memabukkan candu justru dipercaya dapat mem-
fasilitasi paranormal dan seniman kuda lumping dalam menghubungi kekuatan gaib. Distribusi dan perdagangan candu oleh berbagai badan perjuangan RI meskipun sulit ditemui datanya namun telah dapat direkonstruksi penu-
lis. Ketiadaan data ini dikare-
kan sifat perdagangan can-
du yang amat rahasia ”hanya boleh diketahui kementerian keuangan, Presiden dan Wa-
pres, dan Kantor Regi Candu dan Garam) dan juga karena ketiadaan dokumen yang dib- uat oleh TNI ketika itu. Per-
mintaan candu dari TNI amat besar dan sering tidak dapat
tercukupi.
Penyelundupan candu ke luar negeri saat ini kadang disang-
kal kalangan nasionalis yang tidak paham sejarah. Bahkan kalangan yang paham pun sering mengesampingkan fakta ini dan menganggap-
nya tidak ada. Namun penulis
buku menyajikan cerita men-
genai penyelundupan yang dilakukan demi membiayai pemerintah Indonesia. Bah-
kan tercatat antara Maret-Mei 1948 terjadi pengiriman se-
banyak 2,5 juta kilogram can-
du mentah ke Singapura. Fak-
ta ini didapat dari arsip yang bisa ditemui di Arsip Nasional Republik Indonesia.
Buku ini amat menarik un-
tuk memberikan pandangan baru tentang kondisi sosial masa revolusi isik. Meski dari ukuran buku ini tidak begitu
tebal, namun kita bisa mene-
mui banyak fakta sejarah kecil yang terhubung dengan per-
juangan bangsa saat itu.