TINJAUAN PUSTAKA Hewan Coba
D. Plasma Darah
Plasma adalah bagian cairan dari darah yang banyak mengandung sekali ion, molekul anorganik dan organik. Volume plasma normal dalam tubuh adalah sekitar 5 % dari berat badan. Seorang pria dengan berat badan 70 kg mempunyai kurang lebih 3500 ml plasma darah di dalam tubuhnya. Plasma akan menggumpal bila didiamkan dan akan bertahan untuk tidak menggumpal bila ditambahkan antikoagulan. Protein di dalam plasma terdiri dari fraksi-fraksi albumin, globulin dan fibrinogen. Plasma darah diproduksi oleh sel-sel plasma dan di hati. Plasma darah berfungsi sebagai pengatur osmotikdalam tubuh, faktor
20
pembekuan darah, sebagai media pembawa bahan-bahan dalam tubuh (Ganong 2002).
E. Hemoglobin
Hemoglobin adalah pigmen merah yang membawa oksigen dalam sel darah merah. Hemaglobin terbentuk dari gabungan 2 komponen yaitu heme dan globin. Heme merupakan protoporphyrin yang mengandung zat besi yang disintesis oleh mitokondria. Globin adalah suatu polipeptida yang didapat dari pembentukan hemoglobin yang disintesis oleh sitoplasma sel darah merah (William dan Wilking 1986) dan (Schalm 1975). Heme adalah porfirin yang mengandung besi dan berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Polipeptida yang terkojugasi tersebut secara kolektif disebut sebagai globulin dari molekul hemoglobulin. Ada 2 pasang polipeptida di dalam setiap molekul hemoglobin. Dua dari subunit tersebut mengandung satu jenis polipeptida dan 2 jenis lainnya mengandung polipeptida lain (Gambar 11) (Ganong 2002).
Gambar 11 Hemoglobin (Catherine 1997)
Beberapa penelitian dengan menggunakan isotop diketahui bahwa hema terutama yang disintesis dari asam asetat dan glisin banyak terjadi di mitokondria (Guyton 1996). Kandunga zat besi yang terlepas ketika hemoglobin mengalami kerusakan akan menuju ke hati kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan hemoglobin baru (Ganong 2002).
F. Hematokrit
Hematokrit adalah penghitungan konstanta darah dan jumlah sel darah merah. Meskipun hematokrit bukan pengukur volume darah yang tepat, derajat hemokonsentrasi pada syok yang berhubungan dengan kesehatan, trauma dan
21
luka-luka bakar dapat dinilai dengan hematokrit (Mitruka dan Rawnsley 1977). Hematokrit atau packed cell volume (PCV) dipengaruhi oleh ukuran dan jumlah eritrosit (Schalm 1975). Hematokrit atau PCV (Packed Cell Volume) adalah suatu persentasi sel darah merah di dalam 100 ml darah. Pada hewan normal PCV sebanding dengan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Widjajakusuma dan Sikar 1986). Hematokrit adalah suatu istilah yang artinya persentase (berdasarkan volume) dari darah yang terdiri dari sel-sel darah merah, total persentasi volume darah terhadap butiran darah yang tampak pada tabung dinamakan hematokrit. Nilai hematokrit dihitung dalam mililiter sel darah merah per 100 mililiter darah (Frandson 1992). Hematokrit adalah perbandingan antara eritrosit dengan plasma di dalam darah perifer. Sehingga berhubungan erat sekali bila terjadi penurunan jumlah eritrosit maka akan diikuti oleh penurunan nilai hematokrit (Kelly !984).
Salah satu parameter utama untuk mengetahui tingkat dehidrasi pada tubuh adalah dengan menghitung persentase plasma darah yang ada di dalam tubuh (Naylor et al, 1993). Sehingga penghitungan nilai hematokrit dapat digunakan dalam penentuan tingkatan dehidrasi, karena prinsip dasar penghitungan nilai hematokrit darah adalah membandingan antara volume sel darah merah (eritrosit) dengan plasma darah dalam 100 ml darah, (Sastradipradja et al, 1989). Pada hewan normal, PCV sebanding dengan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin (Widjajakusuma dan Sikar 1986).
Hubungan eritrosit terhadap kekentalan darah adalah berbanding lurus yaitu dengan bertambah besarnya nilai hematokrit, maka bertambah banyak pula gesekan yang ditimbulkan antara lapisan darah. Peningkatan kekentalan darah di dalam tubuh ditunjukan oleh terjadinya peningkatan derajat kesukaran aliran darah melalui pembuluh darah kecil (Guyton 1996). Nilai hematokrit itu sendiri dapat digunakan untuk mendeteksi adanya anemia (Archer et al, 1977). Darah dalam pembuluh darah kecil pada tubuh secara nyata memiliki nilai hematokrit yang rendah jika dibandingkan dengan darah yang berasal dari jantung atau pembuluh besar (Banks 1986).
Untuk menentukan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan teknik mikrohematokrit (Gambar 12) atau dengan teknik makrohematokrit (metode Wintrobe) (Gambar 13). Perbedaan antara mikrohematokrit dan makrohematokrit
22
adalah dalam mesin pemusingannya, alat-alat yang digunakan dan jumlah darah yang diperlukan. Prinsip penghitungan nilai hematokrit dengan metode makrohematokrit atau mikrohematokrit adalah darah yang dicampur dengan antikoagulan dipusing dengan alat centrifuge sehingga terbentuk lapisan-lapisan. Lapisan yang terdiri dari butir-butir darah merah atau eritrosit diukur dan dinyatakan sebagai % volume dari keseluruhan darah. Setelah dilakukan pemusingan akan terlihat 3 lapisan yang dihasilkan yaitu lapisan plasma darah yang berada pada bagian atas dan bagian bawahnya terdiri dari sel darah merah, terdapat batasan antara lapisan plasma darah dan sel darah merah yaitu buffy coat yaitu kumpulan sel darah putih dan trombosit (Sastradipradja et al, 1989).
Gambar 12 Mikrohematokrit (Foster dan Smith 2001)
Gambar 13 Makrohematokrit (Doohan 1999)
Pada saat pendarahan, jumlah eritrosit yang hilang berbanding lurus dengan plasmanya sehingga nilai hematokrit pada saat pendarahan tidak berubah tetapi setelah anemia nilai hematokrit akan menurun (Duncan dan Prase 1977). Persentase hematokrit normal tikus adalah berkisar antara 45-48 % (Mangkoewidjojo dan Smith 1988). Menurut Zutphen et al. (1993) serta Malole dan Pramono (1989), kisaran normal hematokrit tikus adalah 36-48 %.
Obat Laksansia
Laksansia adalah obat yang digunakan untuk memudahkan pelintasan dan pengeluaran tinja dari kolon dan rektum. Laksansia umumnya harus dihindari, karena akan memperparah suatu kondisi (seperti pada angina) atau meningkatkan resiko pendarahan rektal (seperti pada hemoroid). Laksansia juga bermanfaat pada konstipasi karena obat, untuk pengeluaran parasit setelah pemberian
23
antelmentik, serta untuk membersihkan saluran cerna sebelum pembedahan dan prosedur radiologi. Penyalahgunaan laksansia dapat menyebabkan hipokalemia dan atonia kolon sehingga tidak berfungsi (Sanjoyo 2007). Laksansia adalah obat yang dapat mempercepat gerakan peristaltik usus, sehingga terjadi defekasi dan digunakan pada konstipasi yaitu keadaan susah buang air besar (Anonimus 2007c).
Berdasarkan kerjanya, laksansia dapat di kelompokkan menjadi beberapa jenis antara lain:
1. Kelompok pembentuk massa dalam usus. Kelompok ini bekerja dengan menyerap cairan yang ada di usus halus sehingga terbentuk massa yang besar dalam usus. Selanjutnya dengan tekanan massa tersebut dapat terjadi defekasi. Contoh obat laksansia yang masuk dalam kelompok ini adalah metilselulosa, parafin cair dan agar-agar. Metilselulosa bila diberikan peroral tidak akan diserap oleh usus, metilselulosa akan mengembang menjadi gel emolien bila terkena air, sehingga dapat melunakan feses dan membuat massa (Gan et al, 1980; Anonimus 2007c).
2. Kelompok hiperosmotik. Kelompok ini bekerja dengan cara mempercepat gerakan peristaltik usus dengan menarik air dari jaringan tubuh ke dalam usus sehingga diperoleh tinja yang lunak. Contoh obat laksansia yang masuk dalam kelompok ini adalah laktulosa dan garam lnggris/garam magnesium = MgSO4, dioktil natrium sulfosuksinat (Gan et al, 1980; Anonimus 2007c).
3. Kelompok lubrikan atau pelumas. Kelompok ini bekerja dengan cara melindungi dinding usus, sehingga cairan dalam massa tinja tidak diserap dan tetap lunak. Contoh obat laksansia yang masuk dalam kelompok ini adalah minyak mineral dan minyak jarak (minyak kastor/Oleum ricini). Mekanisme minyak jarak sebagai laksatif adalah dengan melumasi usus agar pergerakan feses lebih lancar (Gan et al, 1980; Anonimus 2007c).
4. Kelompok stimulan. Kelompok ini bekerja dengan cara merangsang otot-otot usus agar kontraksi usus meningkat dan mempercepat gerak usus. Sehingga bahan-bahan yang ada di dalam makanan tidak diserap secara sempurna karena bahan-bahan makanan tersebut hanya sebentar melewati
24
mucosa usus. Contoh obat laksansia yang masuk dalam kelompok ini adalah fenoftalein dan bisacodyl. Fenolftalein yang diberikan oral akan diabsorbsi kurang lebih 15 % di usus halus. Ekskresi bersama empedu menyebabkan fenolftalein memiliki sirkulasi enterohepatik sehingga efek dapat bertahan lama. Kelompok ini merupakan laksansia yang cukup sering digunakan (Gan et al, 1980; Anonimus 2007c).
5. Kelompok lain adalah Kelompok kombinasi laksansia (Gan et al, 1980; Anonimus 2007c).
Secara umum kerja laksansia adalah mengambil air dari dalam usus dan mencegah air untuk diserap usus agar didapatkan kondisi feses yang lunak (Gan et al, 1980). Dengan berkurangnya penyerapan air dalam usus akan meningkatkan konsentrasi Na+ di dalam cairan ekstraselular (hipernatremia) sehingga terjadi pengeluaran air dari dalam sel, bila tidak dilakukan usaha rehidrasi tubuh akan mengalami dehidrasi (Wilson dan Price 1995).
Bisacodyl
Bisacodyl adalah laksansia yang bekerja lokal dari kelompok turunan difenil metan. Bisacodyl merupakan laksatif perangsang/stimulan (hidragogue antiresorptive laxative), bisacodyl bekerja langsung pada dinding usus besar dengan merangsang gerakan peristaltic usus besar setelah bisacodyl terhidrolisis, sehingga meningkatkan akumulasi air dan elektrolit dalam lumen usus besar. Pemberian bisacodyl peroral akan menimbulkan efek pencahar setelah 6-12 jam, bila dilakukan pemberian secara perektal (supositoria rectal) akan memberikan efek setelah ¼ - 1 jam. Pada pemberian oral, absorbsi bisacodyl berjumlah 5 %, dan diekskresi bersama urin dalam bentuk glukoronid. Ekskresi bisacodyl juga terjadi lewat feses (Gan et al, 1980). Bisakodyl dalam pemberian peroral pada tikus akan mengalami hidrolisis menjadi difenol di usus bagian atas. Difenol setelah diabsorbsi mengalami konjugasi di hati dan dinding usus. Metabolit ini diekskresi melalui empedu, selanjutnya mengalami rehidrolisis menjadi difenol kembali yang akan merangsang motilitas usus besar (Gan et al, 1980).
Bisacodyl digunakan untuk pasien yang menderita konstipasi, untuk persiapan prosedur diagnostic, terapi sebelum dan sesudah operasi serta dalam kondisi untuk mempercepat defekasi. Bisacodyl dikontraindikasikan pada pasien
25
ileus, obstruksi usus, yang baru mengalami pembedahan di daerah perut seperti usus buntu, penyakit radang usus akut dan dehidrasi parah. Bisacodyl juga dikontraindikasikan pada pasien yang diketahui hipersensitif terhadap bisacodyl atau komponen lain dalam produk (Anonimus 2007a).
Dosis efektif yang dapat diberikan pada manusia adalah pada orang dewasa menggunakan dosis 10-15 mg, sedangkan untuk anak-anak yang berkisar antara umur 6-12 tahun menggunakan dosis 5-10 mg. Terdapat tablet bersalut enteral antara 5 dan 10 mg/tablet. Efek yang diharapkan dengan dilakukannya pemberian bisacodyl adalah terjadi kontraksi pada usus sehingga akan terjadi pengeluaran feses (Anonimus 2007a).
Bila dosis bisacodyl terlalu tinggi, maka dapat terjadi diare, kram perut dan berkurangnya kadar kalium serta elektrolit lainnya secara nyata. Overdosis kronis bisacodyl dapat menyebabkan diare kronis, sakit perut, hipokalemia, hiperaldosteronisme, dan batu ginjal, kerusakan tubulus ginjal, alkalosis metabolik dan kelelahan otot akibat hipokalemia juga terjadi pada penyalahgunaan laksatif kronis (Anonimus 2007a). Efek sistemik bisacodyl belum pernah dilaporkan. Bisacodyl dapat me nimbulkan perasaan terbakar pada rektum dan menimbulkan proktitis pada penggunaan beberapa minggu (Gan et al, 1980). Tidak ada efek samping yang berbahaya selama kehamilan. Namun demikian, seperti halnya obat lain, penggunaan bisacodyl selama kehamilan harus sesuai dengan petunjuk medis. Belum diketahui apakah bisacodyl menembus air susu atau tidak. Oleh karena itu penggunaan bisacodyl selama menyusui tidak dianjurkan (Anonimus 2007a).
26
METODOLOGI