Marker nutrisi yang ideal adalah marker yang mempunyai respon segera terhadap perubahan asupan nutrisi , tidak dipengaruhi oleh proses penyakit lain , dapat diukur dengan peralatan yang tersedia dirumah sakit , tidak mahal, mempunyai waktu paruh biologis yang relatif singkat, mempunyai pool ditubuh yang kecil, mempunyai laju katabolik yang dapat diprediksi, laju sintesis yang cepat terhadap perubahan asupan protein. Terdapat 4 protein plasma yang disintesa hati diantaranya prealbumin, albumin, transferin, dan retinol binding protein (Shenkin A, Cederblad G, Elia M, Isaksson , 1996; Elamin M, Camporesi E, 2009).
Tabel 2.6 Perbandingan protein plasma yang disintesa oleh hati NO Jenis Protein
Plasma
Nilai Normal
WaktuParuh Ringan Sedang Berat
1 Albumin 3.5-4.5 gr/dl 18-21 hari 2.8-3.5 2.1-2.7 <2.1 2 Prealbumin 15-40 mg/dl 2-3 hari 10-15 5-10 <5 3 Transferrin 200-400 mg/dl 8-10 hari 150-200 100-150 <100 4 Retinol binding Protein 2.7-7.6 mg/dl 8-10 jam 4-6 2-4 <2 (Sumber : Elamin M, Camporesi E, 2009)
Dahulu albumin digunakan sebagai marker status nutrisi, tetapi albumin tidak sensitif terhadap perubahan asupan nutrisi. Albumin mempunyai pool dtubuh yang besar dan mempunyai waktu paruh yang sangat panjang dibandingkan protein plasma yang lain. Serum albumin dipengaruhi oleh hidrasi yang diberikan dan fungsi ginjal pasien. Kadar albumin akan kembali normal
dalam 14 hari ketika cadangan albumin telah hilang (Shenkin A, Cederblad G, Elia M, Isaksson , 1996).
Serum albumin hampir dapat dikatakan tidak mempunyai nilai dalam monitoring status nutrisi tetapi tetap dipakai karena beberapa klinisi tetap menggunakan albumin dalam penilaian status nutrisi. Faktor utama yang penting pada konsentrasi plasma albumin laju transcapillary escape menuju interstisial. Laju transcapillary escape akan meningkat pada keadaan sepsis sehingga kadar albumin menurun. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa pada pasien dengan infeksi berat paska pembedahan akan mempunyai kadar albumin yang rendah. Semakin tinggi keparahan suatu penyakit maka akan semakin rendah juga kadar albumin. Semakin rendah kadar albumin maka akan semakin buruk prognosis (Beck FK, Rosenthal TC,2002).
Albumin adalah serum protein yang memiliki pool di tubuh yang luas, hanya 5% dari albumin yang disintesis setiap harinya. Mayoritas albumin didistribusikan antara vaskular dan rongga interstitial. Dimana lebih dari 50% albumin terletak diekstravaskular. Karena sangat kecil perbandingan pool albumin dengan albumin yang baru disintesa, asupan protein memiliki efek yang kecil terhadap pool albumin setiap harinya. Redistribusi antara ekstravaskular dan rongga interstitial kerap terjadi. Distribusi dapat juga disebabkan penggunaan cairan dalam jumlah yang besar terutama pada pasien kritis yang membutuhkan terapi resusitasi cairan. Waktu paruh albumin yang panjang menyebabkan albumin menjadi marker status nutrisi kronis. Fungsi utama albumin selain transport protein adalah membantu mempertahankan tekanan onkotik. Karena peranan albumin tersebut, albumin selalu dikaitkan dengan status nutrisi walaupun hal tersebut masih kontroversi (Barron ME, Wilkes MM, Navickis RJ, 2004).
Prealbumin atau yang sering dikenal dengan transthyretin atau transthyretin bound prealbumin. Prealbumin adalah protein viseral pada fase akut reaktan negatif. Prealbumin mempunyai pool di tubuh kecil yang termasuk diantaranya serum protein, eritrosit, granulosit, limfosit. Sebagai konsekuensi, prealbumin mempunyai faktor yang mempengaruhi sintesa dan katabolisme sama seperti albumin. Prealbumin mempunyai keuntungan waktu paruh 2-3 hari, lebih
pendek dibandingkan albumin dan dipercaya untuk melihat perubahan akut terhadap perubahan asupan nutrien. Prealbumin mempunyai ukuran pool ditubuh yang kecil dibandingkan albumin, kurang lebih 0.01 gram/KgBB. Prealbumin berfungsi sebagai transport tiroksin dan membawa retinol binding protein (RBP). Prealbumin dapat meningkat pada keadaan gagal ginjal akut (Gibson RS,1990; Raguso CA, Dupertuis YM, Pichard C,2003).
Protein plasma yang lain adalah transferrin dan Retinol binding Protein (RBP).Transferrin mempunyai waktu paruh 8-10 hari dan RBP 12 jam. Keduanya dapat menjadi marker status nutrisi. Karena transferrin berfungsi sebagai transport besi, kadarnya dipengaruhi oleh kadar besi. Defisiensi zat besi dapat meningkatkan kadar transferrin meningkat, dimana terjadi peningkatan absorpsi zat besi dan secara tidak langsung digunakan untuk menilai kapasitas pengikatan dari semua zat besi. Secara keseluruhan RBP sebagai retinol-circulating complex, termasuk didalamnya prealbumin, retinol dan RBP. Dimetabolisme diginjal dan akan meningkat pada keadaan gagal ginjal. Selain itu tidak semua fasilitas kesehatan mempunyai pemeriksaan RBP. Hal tersebut menjadi kendala pada RBP sebagai marker nutrisi ideal (Raguso CA, Dupertuis YM, Pichard C,2003).
Marker pilihan pada keadaan malnutrisi protein adalah kadar prealbumin. Prealbumin mempunyai rasio tertinggi terhadap asam amino esensial dan asam amino nonesensial sebagai marker sintesa protein. Prealbumin diproduksi di pleksus koroid oleh kelenjar pankreas, lebih sensitif terhadap perubahan keadaan protein dibandingkan albumin, serta konsentrasi prealbumin mencerminkan perubahan asupan diet yang diberikan. Sebagai akibat waktu paruh prealbumin yang singkat maka konsentrasi prealbumin dapat turun cepat sebagai hasil penurunan sintesis protein plasma dihati. Prealbumin juga seperti Albumin, penurunan konsentrasi prealbumin juga dapat disebabkan oleh laju transcapillary rate. Selain itu status hidrasi tidak mempengaruhi kadar prealbumin sehingga prealbumin merupakan marker status nutrisi potensial dibandingkan protein plasma yang lain (Ingenbleek Y, Young VR, 2002; Beck FK, Rosenthal TC, 2002).
Respon prealbumin mempunyai korelasi terhadap outcome pasien. Studi yang dilakukan sulivan pada 102 pasien yang mendapatkan asupan nutrisi dirumah sakit kurang dari 50% dari kebutuhan, pasien dengan kadar prelbumin rendah mempunyai resiko mortalitas yang tinggi. Studi lain yang dilakukan sreedhara pada 13 pasien yang menjalani hemodialisa, serum prealbumin mempunyai korelasi terhadap albumin dan prealbumin, namun hanya prealbumin prediktor angka kelangsungan hidup terbaik. Pasien dengan resiko malnutrisi berat (kadar prealbumin <10 mg/dL) mempunyai rata-rata masa rawat 22 hari sedangkan pada pasien dengan resiko malnutrisi sedang ( 10-17 mg/dL) yang mempunyai rata-rata masa rawat 6 hari. Studi yang dilakukan di spanyol pada 14 pasien yang dirawat diinstalasi rawatan intensif yang mendapat diet formula asam amino tinggi lebih cepat pulih dari sepsis, dimana hal tersebut berhubungan dengan peningkatan kadar prealbumin. Jika kadar prealbumin meningkat, maka 65% kebutuhan energi dan protein telah tercukupi (Sreedhara R, Avram MM, Blanco M, Batish R, Avram MM, Mittman N, 1996; Sullivan DH, Sun S, Walls RC, 1999; Beck FK, Rosenthal TC, 2002).