• Tidak ada hasil yang ditemukan

PNPM Mandiri: Pengalaman Sulawesi Selatan

MEMBERDAYAKAN MASYARAKAT DENGAN TRADISI LOKAL

B. Pemberdayaan Masyarakat: Pengalaman Daerah 1. Kemiskinan di Perkotaan

4. PNPM Mandiri: Pengalaman Sulawesi Selatan

Upaya penanggulangan kemiskinan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan secara langsung pada masyarakat miskin karena penyebab kemiskinan tidak hanya disebabkan oleh aspek-aspek yang bersifat ekonomi semata, tetapi juga karena kerentanan dan minimnya akses untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat miskin. Pendekatan pemberdayaan dilakukan agar masyarakat miskin dapat keluar dari kemiskinan dengan menggunakan potensi dan sumber dayayang dimilikinya. Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat merupakan

sebuah tahap lanjut dalam proses penanggulangan kemiskinan. Pada tahap ini, masyarakat miskin mulai menyadari kemampuan dan potensi yang dimilikinya untuk keluar dari kemiskinan. Pendekatan pemberdayaan sebagai instrumen dari program ini dimaksudkan tidak hanya melakukan penyadaran terhadap masyarakat miskin tentang potensi dan sumber daya yang dimiliki, akan tetapi juga mendorong masyarakat miskin untuk berpartisipasi dalam skala yang lebih luas terutama dalam proses pembangunan di daerah.

Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Namun penanganannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan masyarakat pada umumnya juga belum optimal. Kerelawanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber penting pemberdayaan dan pemecahan akar permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Salah satu program unggulan yang dilaksanakan diseluruh daerah adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri mulai tahun 2007. Melaui PNPM Mandiri dirumuskan kembali mekanisme upaya penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat, terutama masyarakat miskin, dapat dapat ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai objek melainkan sebagai subjek upaya penanggulangan kemiskinan.

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Provinsi Sulawesi Selatan mulai melaksanakan PNPM Mandiri tahun 2007 dimulai dengan Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebagai dasar pengembangan pemberdayaan masyarakat di perdesaan beserta program pendukungnya seperti PNPM Generasi; Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) sebagai dasar bagi pengembangan pemberdayaan masyarakat di perkotaan. Mulai tahun 2008 PNPM Mandiri diperluas dengan melibatkan Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) untuk mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah sekitarnya. PNPM Mandiri diperkuat dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh berbagai departemen/sektor dan pemerintah daerah. Pelaksanaan PNPM Mandiri 2008 juga akan diprioritaskan pada desa-desa tertinggal. PNPM di Sulawesi Selatan telah dilaksanakan di 236 kecamatan dan 2884 desa dengan alokasi anggaran Rp729,5 miliar untuk sarana-prasarana dan ekonomi produktif. Kegiatan PNPM Mandiri ini telah menjangkau 19.937 kelompok.

Rangkaian proses pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui komponen program adalah: pertama, pengembangan masyarakat yang mencakup serangkaian kegiatan untuk membangun kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat yang terdiri dari pemetaan potensi, masalah dan kebutuhan masyarakat, perencanaan partisipatif, pengorganisasian, pemanfaatan sumber daya, pemantauan dan pemeliharaan hasil-hasil yang telah dicapai. Untuk mendukung rangkaian kegiatan tersebut, disediakan dana pendukung kegiatan pembelajaran masyarakat, pengembangan relawan dan operasional pendampingan masyarakat; dan fasilitator, pengembangan kapasitas, mediasi dan advokasi. Peran fasilitator terutama pada saat awal pemberdayaan, sedangkan relawan masyarakat adalah yang utama sebagai motor penggerak masyarakat di wilayahnya. Kedua, bantuan langsung masyarakat yaitu dana stimulan keswadayaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat untuk membiayai sebagian kegiatan yang direncanakan oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan terutama masyarakat miskin. Ketiga, peningkatan kapasitas pemerintahan dan pelaku loka, yaitu serangkaian kegiatan yang meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan pelaku lokal/kelompok perduli lainnya agar mampu menciptakan kondisi yang kondusif dan sinergi yang positif bagi masyarakat terutama kelompok miskin dalam menyelenggarakan hidupnya secara layak. Kegiatan terkait dalam komponen ini diantaranya seminar, pelatihan, lokakarya, kunjungan lapangan yang dilakukan secara selektif dan sebagainya.

Saat ini Pemerintah Kota Makasar sedang mengembangkan audit sosial bagi program sosialnya. Dua program utama yang sudahdiaudit sosial adalah program pendidikan gratis dan kesehatan gratis, yang akan dilanjutkandengan audit terhadap empat program penanggulangan kemiskinan termasuk satu kelembagaan. Empat program terkait pengentasan kemiskinan itu adalah Pendidikan Gratis dan Pendidikan Bersubsidi di Dinas Pendidikan Kota Makassar, program Nutrition Improvement Trough Community Empowerment atau (NICE) di Dinas Kesehatan, program Lifeskill di Badan Pemberdayaan Masyarakat, serta Akseptor KB di BKKBD Makassar. Ditambah audit sosial pada kelembagaan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD).

Lebih jauh, program audit sosial ini kemudian dikembangkan menjadi pola pertanggungjawaban pemerintah daerah terbuka di hadapan publik yang dikemas dalam acara Tudang Sipulung. Kata tudang sipulung secara harfiah berarti duduk bersama. Namun secara konseptual merupakan ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Tudang sipulung juga bisa diartikan sebagai wadah yang memediasi antara kepentingan

masyarakat dengan pemerintah. Sebagai nilai demokrasi, tudang sipulung sudah hidup dalam masyarakat Bugis Makassar, sebagai ruang bersama untuk bermusyawarah dan bermufakat dalam rangka mencari solusi atas persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

Salah satu ciri pelaksanaan PNPM Mandiri adalah bermusyawarah dan berdiskusi untuk menetapkan program kegiatan yang akan dilaksanakan.

Dalam kaitan ini, salah satu nilai tradisional yang relevan untuk direvitalisasi adalah nilai tudang sipulung yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan tudang sipulungdapat bersifat resmi maupun tidak resmi, mulai dari tingkat paling kecil dalam keluarga, antarkeluarga, dalam kampung, antarkampung, dalam negara, hingga antaranegara. Tudang sipulung yang sifatnya tidak resmi biasanya dilakukan dalam lingkungan keluarga atau antarkeluarga. Musyawarah yang menyangkut persoalan masyarakat atau keputusan penting dalam suatu kampung atau kerajaan, biasanya dilaksanakan secara resmi, yang dipimpin oleh seorang matoa sebagai pemimpin atau raja suatu kampung atau negara. Tudang sipulung yang dilaksanakan dalam suatu kampung disebut tudangwanua yang dihadiri oleh seluruh masyarakat dan para penghulu-penghulu adat (pakketenni ade’). Proses musyawarah untuk mencapai mufakat berlangsung secara demokratis. Pimpinan tudang sipulung yakni arung matoa berkewajiban meminta pendapat kepada peserta tudang sipulung. Keputusan yang diambil dalam tudang sipulung harus berdasarkan prinsip massolo’

pao (mengalir bersama), yang artinya bahwa keputusan yang akan dicapai dalam musyawarah merupakan keputusan atas kehendak bersama dan untuk kepentingan bersama, yang diibaratkan bagaikan air yang mengalir bersama-sama. Antara kehendak penguasa dan kehendak rakyat harus berjalan beriringan dalam menemukan titik temu berdasarkan kepentingan bersama.

Selain nilai yang bersifat kolektif, terdapat satu nilai individual yang memiliki dampak kolektif, yaitu siri’ na pacce yang merupakan filosofi dasar dalam kehidupan keseharian masyarakat Bugis Makassar. Siri’ na pacce tidak memiliki padanan yang tepat dalam kosa kata bahasa Indonesia, namun arti yang mendekati kata ini adalah “malu, harga diri”, atau “usaha yang kuat”. Atau dapat juga berarti ”marwah” untuk kata ”siri”, dan ”pacce”

lebih mendekati kata tanggung jawab, sanggup memikul rasa pahit, pantang lari atau mengundurkan diri, berani mengambil risiko. Masyarakat Bugis Makassar sangat menjunjung tinggi filosofi siri’na pacce ini sebagai tolak ukur kebaikan, baik dalam melakukan hubungan sosial maupun ekonomi. Karena filosofii siri na pacce, bisa dilihat bahwa orang-orang Bugis Makassar adalah orang-orang tangguh, berani mengambil risiko, tetapi tetap dalam bingkai pacce (bertanggungjawab). Jadi, sesungguhnya siri’ na pacce tidak identik

dengan kekerasan. Dia lebih identik dengan menjaga kehormatan. Menjaga kehormatan yang dimaksud adalah unggul, terbaik, jujur, berani mengambil resiko tetapi tetap bertanggungjawab.

Nilai filosofis siri’ na pacce merepresentasikan pandangan hidup orang Bugis Makassar mengenai berbagai persoalan kehidupan meliputi: (1) prototipe watak orang Makassar yang terdiri atas: reaktif, militan, optimis, konsisten, loyal, pemberani, dan konstruktif. (2) nilai etis siri’ na pacce meliputi:

teguh pendirian, setia, tahu diri, berkata jujur, bijak, merendah, ungkapan sopan untuk sang gadis, cinta kepada Ibu, dan empati. Dengan filosofi ini, setiap pelaksanaan program pengentasan kemiskinan, termasuk pelaksanaan PNPM Mandiri akan dapat berhasil dengan baik, karena masyarakat Bugis Makassar dikenal orang yang tangguh, pelaut-pelaut ulung, dan saudagar-saudagar yang yang sukses. Mereka tidak cengeng dengan keadaan yang ada, sehingga lautan yang luas menjadi hamparan harapan yang seluas lautan. Sekali layar terkembang, pantang untuk surut kembali. Siri’ na pacce juga lebih identik dengan kejujuran. Kejujuran adalah pintu kehormatan, mengkhianati kepercayaan adalah sebuah siri’ dan kehilangan siri’ adalah aib yang sangat melalukan, sehingga dalam hubungan sosial, orang yang kehilangan siri’ adalah orang-orang yang terkucil.