Penulisan ulang pohon gagasan ekonomi tentu saja tidak seharusnya berhenti pada pengklaiman kembali apa yang sudah terlanjur dilupakan peradaban modern. Pohon gagasan ekonomi ini kemudian meminta pertanggungjawaban: kalau memang filsuf Muslim memberikan kontribusi pada pemikiran ekonomi dunia, apa sajakah kontribusi itu?
Sebagai upaya untuk merumuskan jawaban itu, buku ini ditulis. Selain itu, buku ini ditulis dengan tujuan memberikan basis teoritis dari hal praktis (praktek ekonomi Islam) yang sudah kadung berkembang. Alasan utamanya adalah tanpa pendasaran filosofis, bisa jadi, praktik ekonomi Islam berkembang dalam pengulangan di wilayah yang sama. Untuk itulah dapat dipahami spirit Abdul Azis Islahi yang mencoba mengembangkan Arus pemikiran Ekonomi dari lubuk pemikiran Islam. Setelah menegaskan bahwa ‖ada‖ kontribusi pemikir Muslim pada
21
Abbas Mirakhor, op.cit., hlm 84
GAGASAN YUNANI
KONTRIBUSI MUSLIM
SKOLASTIK
PHYSYOCRACY
perkembangan pemikiran Ekonomi, Pemikiran Ekonomi Islam memiliki spirit untuk mengembangkan pemikirannya sendiri. Namun karena pemikiran ekonomi Islam dari kalangan para filsuf tidak banyak berkembang, maka dibutuhkan upaya untuk menjadikan pemikiran Islam yang dikembangkan para fuqaha yang lebih banyak menghasilkan pemikiran genuine mengenai perdagangan atau pertanian.
Sumber: Abdul Azis Islahi (2004)
Pohon gagasan di atas tidak hanya menggambarkan apa yang sudah, namun juga membayangkan apa yang seharusnya dilakukan. Pada bagian akhir dari pohon ini terlihat adanya keinginan untuk mengembangkan pemikiran ekonomi Islam modern dari tahun 1930-an yang terus dilakukan sampai saat ini.
Hal lain dari pohon gagasan ini adalah pendasaran ekonomi Islam modern dari zaman Rasulullah. Mungkinkah ini dilakukan? Jika kita membaca sejarah Rasulullah
Juridical Economic Thought 10-240 H/630-855 AD
Abu Ubayd Abu Yusuf
Al-Syaibani Yahya b Adam
al-Quraishi
Innovation, Translation & Adaptation Period (240-500 AH/855-1100 AD)
Transmission Period 500-900 AH/1100-1500 AD
Imitation and Stagnation Period 900-1200 AH/1500-1785 AD
Awakening, Reestablishing Effort 1200-1350 AH/1785-1930 AD
Modern Islamic Economics 1350-..H/1930-…AD The Quran and Sunnah
segera kita akan menemukan bahwa Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang yang lahir dan bertumbuh di masyarakat pedagang. Sangat wajar jika pada kehidupannya ia memiliki keputusan atau pemikiran mengenai perdagangan. Misalnya ada sebuah hadits dari Anas RA yang menceritakan kebijakan/pemikiran Rasulullah mengenai adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut :
س ي ع ه ى ص ه س ل عسف عسلا اغ : ى ي حأ سيل ىب ى لأ أ ا ج أ ى ا عس لا ا لا طس لا ضب لا ل لا ه ا ا ب يا ت ظ ب ) ى ا لا ا )
“Harga melambung pada zaman Rasulullah SAW. Orang-orang ketika itu mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “ya Rasulullah hendaklah engkau menentukan harga”.
Rasulullah SAW. berkata:”Sesungguhnya Allah-lah yang menetukan harga, yang menahan dan mela pangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.‖22
Hadits ini terlihat dengan jelas bahwa Rasulullah menyetujui penentuan harga berdasar pada mekanisme pasar– 1160 tahun kemudian barulah Adam Smith menyadarinya. Rasulullah juga menegaskan bahwa harga ditentukan oleh Allah, bukan oleh kuasa manusia. Hadits ini dapat menjadi inspirasi dan telah menjadi inspirasi dari sejumlah pemikir ekonomi kemudian.
Selanjutnya, menurut catatan Drs.Agustianto.MA (sekjend Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen Fikih Muamalah Ekonomi Pascasarjana Universitas Indonesia)23 ada beberapa ilmuwan Barat yang mengadopsi pemikiran Ilmuwan Islam:
- ilmuwan Barat bernama Gresham telah mengadopsi teori Ibnu Taymiyah tentang mata uang (curency) berkulitas buruk dan berkualitas baik. Menurut Ibnu Taymiyah, uang berkualitas buruk akan menendang keluar uang yang berkualitas baik, contohnya fulus (mata uang tembaga) akan menendang keluar mata uang emas dan perak.24 Inilah yang disadur oleh Gresham dalam teorinya Gresham Law dan Oresme treatise.
- St. Thomas menyalin banyak bab dari Al-Farabi. St. Thomas juga belajar di Ordo Dominican mempelajari ide-ide Al-Gazhali. Teori pareto optimum diambil dari kitab Nahjul balaghah, karya Imam Ali. Bar Hebraeus, pendeta Syriac Jacobite Church, menyalin beberapa bab dari kitab Ihya Ulumuddin, karya al-Gahazali. Pendeta Spanyol Ordo Dominican bernama Raymond
22
Ad-Darimy, Sunan Ad-Darimy, Darul Fikri Beirut , tt., hlm 78
23
Agustianto, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam
Martini, menyalin banyak bab dari tahafut al-falasifa, dan Ihya al-Ghazali.25 Bahkan Bapak ekonomi Barat, Adam Smith (1776) dengan bukunya The Wealth of Nation diduga keras banyak mendapat inspirasi dari buku Al- Amwalnya Abu ‗Ubaid (838). Judul buku Adam Smith saja persis sama dengan judul buku Abu ‗Ubaid yang berjudul Al-Amwal.26 Hiwalah yang dipraktekkan sejak zaman Nabi, baru dikenal oleh praktisi perbankan konvensional tahun 1980-an dengan nama anjak piutang.
- Menurut Dr Sami Hamond, seorang ahli perbankkan dari Yordan, cek pertama ditarik di dunia ini bukan oleh tukang besi Inggris tahun 1675 di London sebagaimana disebutkan dalam textbook Barat, tetapi dilakukan oleh Saifudawlah Al-Hamdani, putra mahkota Aleppo yang berkunjung ke Bagdad pada abad X Masehi. Penukaran mata uang mengakui keabsahan cek yang dikeluarkan putera mahkota karena ia mengenal tanda tangannya. Dalam Encyclopedia of Literates, menurut Hamond, juga diceritakan seorang penyair bernama Jahtha menerima selembar cek yang ia gagal menguangkannya. Ini terjadi juga pada abad ke 10 Masehi. Sejarah itu menunjukkan bahwa pada abad ke 10 yang lalu cek sudah dikenal dalam ekonomi Islam. Seorang pengelana Persia Naser Kashro yang pergi ke kota Bashrah pada abad ke 10 M menceritakan, bahwa uang yang dibawanya diserahkan pada penukar mata uang dan ia menerima kertas berharga, semacam traveller cheques yang dipakai dalam berbelanja
- Selain contoh di atas masih banyak lagi konsep ekonomi Islam yang ditiru Barat. Beberapa institusi dan model ekonomi yang ditiru oleh Barat dari dunia Islam adalah syirkah (lost profit sharing), suftaja (bills of excahange), hiwalah (Letters of Credit), funduq (specialized large scale commercial institutions and markets which developed into virtual stock exchange),27 yakni lembaga bisnis khusus yang memiliki skala yang besar yang dikembangkan dalam pasar modal.
- Funduq untuk biji-bijian pertanian dan tekstil ditiru dari Baghdad, Cordova dan Damaskus. Demikian juga darut tiraz (pabrik yang dibangun oleh negara untuk usaha eksploitasi tambang besi dan perdagangan besi) di Spanyol28 Menurut penjelasan Labib, insitusi yang mirip dengan darut tiraz adalah institusi ma‟una, (sejenis bank privasi yang dibangun di dunia Islam ditemukan di di Eropa Tengah dengan nama Maona. Insitusi ini digunakan di Tuscani yang berfungsi sebagai sebuah perusahaan umum yang
25
Hammond, The Philosophy of Al-Faraby its influence on Medieval though, New York, 1974).
26
Zainul Arifin, Memahami Bank Syari‟ah, Jakarta, Alpabet,2000, hlm. 6-7 27
Abbas Mirakhor, op.cit, hlm 98 28
Shubi Labib, Capitalism in Medievel Islam, Journal of Economic History, vol. 29, 1968). Abbas Mirakhor, op.cit., hlm. 99
mengembangkan dan menggali tambang besi serta melakukan perdagangan besi tersebut dalam skala yang amat luas.29 Selanjutnya wilayatul hisbah, yakni polisi ekonomi (pengawas ekonomi perdagangan) yang sudah ada sejak masa Rasul Saw, juga ditiru oleh Barat30.
Refleksi
Abdul Azis Islahi pada tulisan The Myth of Bryson and Economic Thought in Islam mengekukakan bahwa filsuf Muslim tidak menerjemahkan the Greek oikonomia dengan bahasa Arab „ilm tadbir al-manzil (the science of household management) namun juga menambahkan ruang lingkup bahasan ekonomi. Jika ekonomi Yunani terbatas pada pembahasan gagasan, „wants and their satisfactions‟, „economy of self sufficient households‟, „division of labour‟, „barter‟, and „money‟ filsuf Muslim memperluasnya ke wilayah market function and pricing mechanism, production and distribution problems, government economic role and public finance, poverty eradications, and economic development, etc. Kesimpulan Islahi ini diperkuat dengan tulisan Spengler (1964, p. 304) yang menegaskan bahwa ―Muslim scholars extended this branch of knowledge „far beyond the household, embracing market, price, monetary, supply, demand phenomena, and hinting at some of the macro- economic relations stressed by Lord Keynes‟.”
Kesimpulan Islahi ini menunjukkan adanya perluasan bahasan ekonomi dari pemikiran Yunani ke wilayah yang lebih luas. Ekonomi tidak sekadar pengurusan kebutuhan rumah tangga masyarakat, melainkan lebih dari itu. Situasi perluasan ini dapat dipahami karena peradaban Islam telah berkembang sedemikian rupa sehingga berhadapan dengan sejumlah permasalahan baru yang sebelumnya tidak ditemukan pada zaman Yunani.
29
Ibid, hlm. 94 30
Thomas Glick, Muhtasib and Muhtasab, A Case Study of Institusional Diffusions, Viator, volume II, 1971, hlm. 45
8
PARA PEMIKIR EKONOMI ISLAM