2.Kemana tujuan melaut?
a. Karang Congkak (Lanjut pertanyaan 3)
b. Bukan Karang Congkak (Berhenti dan lanjut pertanyaan umum (sosial masyarakat dan kearifan lokal))
3.Apakah bertemu dengan lumba-lumba? a. Iya (lanjut pertanyaan 4)
b. Tidak (Berhenti dan lanjut pertanyaan umum (sosial masyarakat dan kearifan lokal))
4.Berapa jumlah lumba-lumba, Kapan dan di bagian mana munculnya, perkiraan kondisi cuaca dan perairan?
5.Apa aktivitas yang sedang dilakukan saat kemunculan lumba-lumba? 6.Bagaimana kearifan lokal masyarakat setempat tentang lumba-lumba?
KEBERADAAN LUMBA-LUMBA DAN HUBUNGANNYA
DENGAN KONDISI HABITAT DI PERAIRAN PULAU
KARANG CONGKAK, KEPULAUAN SERIBU,
PROVINSI DKI JAKARTA
MEGA DEWI ASTUTI
SKRIPSI
DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
RINGKASAN
Mega Dewi Astuti. C24070066. Keberadaan Lumba-lumba dan Hubungannya dengan Kondisi Habitat di Perairan Pulau Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Di bawah bimbingan M. Mukhlis Kamal dan Totok Hestirianoto.
Menurut Irfangi (2010) dan Wahyudi (2010) kelimpahan jenis dan jumlah lumba-lumba di perairan Kepulauan Seribu pada saat ini paling banyak di Pulau Karang Congkak. Hal ini diduga karena keadaan Pulau Karang Congkak yang memiliki gugusan karang sebagai habitat berbagai jenis ikan yang menjadi makanan bagi lumba-lumba, kondisi perairan yang sesuai dengan habitat lumba- lumba, dan keadaaan sekitar pulau yang tenang tanpa gangguan kapal nelayan. Untuk mengetahui informasi yang tepat maka diperlukan studi melalui pendekatan kondisi habitat perairan baik secara fisika, kimia, biologi serta sosial masyarakat di Pulau Karang Congkak dan sekitar perairan pulau tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi informasi untuk kemunculan lumba- lumba khususnya dalam pengembangan ekowisata dan bermanfaat bagi pengelola Taman Nasional Kepulauan Seribu dalam menentuka arah kebijakan dalam pengelolaan.
Penelitian ini dilakukan di Perairan Pulau Karang Congkak, Jakarta Utara.
Survey diadakan pada bulan Juli 2010 sedangkan penelitian utama dilaksanakan pada bulan Maret-Juni 2011 dengan durasi pengamatan antara 7-14 hari tiap bulanya. Lokasi pengambilan data dan sampel air terletak disekitar Perairan Pulau Karang Congkak, sedangkan Pengamatan biota pelankton dilakukan di laboratorium Biologi Mikro, FPIK, IPB. Pengamatan lumba-lumba pada penelitian ini menggunakan metode penjelajahan mengelilingi perairan disekitar pulau tersebut menggunakan survey dengan satu kelompok pengamat (single platform). Parameter yang diamati meliputi jenis lumba-lumba, jumlah lumba- lumba, kordinat pada saat lumba-lumba terlihat serta waktu lumba-lumba ditemukan, kecepatan angin, suhu, salinitas, pH dan sampel plankton dan wawancara masyarakat sekitar. Analisis data yang digunakan meliputi sebaran keberadaan lumba–lumba dengan menggunakan software Global Mapper 11 dan
ArcView 3.3 melalui proses digitasi dan Overlay, Software Ocean Data View (ODV), Surfer 8 sedangkan pada plankton meliputi kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi plankton.
Pola distribusi lumba-lumba terlihat tersebar di perairan Pulau Karang Congkak kecuali bagian barat perairan tersebut. Selama 41 hari pengamatan di dapat 5 periode dengan hasil kemunculan lumba-lumba sebanyak 10 titik perjumpaan dengan jumlah 88 individu, adapun spesies yang ditemukan yaitu
Delphinus delphis dan Tursiops truncantus. Saat perjumpaan lumba-lumba melakukan aktivitas travelling dan mencari makan. Saat mencari makan lumba- lumba lebih menuju ke tubir terumbu karang. Kondisi lingkungan oseanografi perairan Pulau Karang Congkak secara umum sangat sesuai bagi kelangsungan hidup plankton, ikan pelagis, dan lumba-lumba. Namun parameter suhu air, salinitas, kecepatan angin, dan kedalaman perairan memiliki korelasi yang sangat rendah terhadap jumlah pemunculan lumba-lumba, artinya bahwa keberadaan
lumba-lumba disana tidak semata-mata ditentukan oleh faktor oseanografi dan klimatologi. Keberadaan lumba-lumba di perairan Pulau Karang Congkak lebih dikareakan oleh faktor makan yang tersedia ini dapat dilihat dari kelimpahan plankton yg tinggi dan merupakan salah satu daerah spawning ground.
Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh implikasi pengelolaan yang tepat yaitu sistem manajemen berbasis ekosistem dengan penerapan Daerah Perlindungan Laut, dimana tetap memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar untuk mencari dan menagkap ikan. Selain itu adanya pengelolaan secara spasial dan temporal.
Kata kunci: distribusi, habitat, lumba-lumba.
1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perairan Indonesia merupakan perairan yang kaya akan sumberdaya Cetacea. Lebih dari sepertiga anggota ordo ini terdapat di perairan Indonesia atau sekitar 31 jenis dari total 86 jenis diseluruh dunia. Saat ini seluruh jenis dari ordo ini masuk dalam daftar Convention on Internasional Trade Endangered Spesies
(CITES), sebuah perjanjian internasional tentang pembatasan perdagangan satwa yang dilindugi dan terancam punah. Secara nasional mamalia laut dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistem, serta peraturan pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar (Siahainenia 2008). Salah satu famili Cetaceayang dilindungi tersebut adalah lumba-lumba.
Kepulauan Seribu memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi, oleh sebab itu sebagian wilayahnya ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut menurut SK Menteri Kehutanan No. 162/Kpts-II/1995, tanggal 25 Maret 1995 (Noor 2003
in Irfangi 2010). Menurut Irfangi (2010) dan Wahyudi (2010) Kepulauan Seribu merupakan salah satu habitat bagi lumba-lumba. Spesies lumba-lumba yang dapat dijumpai di Kepulauan Seribu adalah Delphinus delphis, Pseudorea crassidens, Stenella longirostis, dan Tursiops truncatus. Hasil penelitian mereka berhasil mencacah sekitar 145 individu yang ditemukan di sekitar Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak), Karang Lebar, Pulau Opak, Pulau Kelapa, Pulau Kaliage Besar, Gosong Mungu, Karang Baronang, Pulau Payung, Pulau Pari, Pulau Pramuka, dan Pulau Panggang. Lokasi perjumpaan dengan lumba-lumba yang paling sering terjadi di sekitar Pulau Gosong Congkak (Karang Congkak) dan Karang Lebar.
Kelimpahan jenis dan jumlah lumba-lumba pada setiap pulau mengalami perbedaan. Perairan Pulau Karang Congkak memiliki kelimpahan yang paling tinggi diduga kondisi perairanya sangat cocok sebagai habitat lumba-lumba. Berkembangnya aktivitas-aktivitas manusia, seperti penangkapan ikan, wisata selam, jalur pelayaran, budidaya, dan pengambilan karang untuk bahan bangunan dapat mengganggu kehidupan dan tingkah laku lumba-lumba. Berdasarkan uraian
tersebut maka dibutuhkan kajian tentang lingkungan, aktivitas manusia dan kelimpahan makanan untuk mengetahui kondisi habitat dengan kelimpahan dan pola distribusi di Pulau Karang Congkak dan sekitar pulau tersebut sebagai informasi pengolahan perairan agar tetap lestari.
1.2. Perumusan Masalah
Lumba-lumba hampir di temukan di seluruh perairan Kepulauan Seribu. Menurut penelitian sebelumnya (Irfangi 2010 ; Wahyudi 2010) kelimpahan jenis dan jumlah lumba-lumba paling banyak yaitu di Pulau Karang Congkak apabila di bandingkan dengan pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, sehingga untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang berfokus pada pendekatan kondisi habitat perairan baik secara fisika, kimia, biologi serta sosial masyarakat di perairan Pulau Karang Congkak serta sekitar perairan tersebut.
1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemunculan lumba-lumba dan hubunganya dengan kondisi habitat perairan yang mempengaruhi sebagai informasi biologi, ekologi dan sosial lingkungan di perairan Pulau Karang Congkak, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.
1.4. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai :
1. Bahan pertimbangan bagi pihak pengelola Kepulauan Seribu dalam menentukan kebijakan konservasi di sekitar perairan tersebut.
2. Dengan mengetahui hubungan antara habitat dengan kemunculan lumba- lumba maka dapat membantu memberikan informasi kepada pihak pengelola Kepulauan Seribu dalam upaya pengelolaan sesuai dengan karakteristik perairanya.
3. Membantu nelayan memberikan informasi kemunculan lumba-lumba di Pulau Karang Congkak sebagai potensi ekowisata yang dapat dikembangkan.
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Wilayah Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa. Lokasinya berada antara 06°00’40” dan 05°54’40” Lintang Selatan dan 106°40’45” dan 109°01’19” Bujur Timur. Jumlah keseluruhan pulau yang ada di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mencapai 110 buah. Adapun Komposisinya adalah sebagai berikut:
a. 50 Pulau mempunyai luas kurang dari 5 ha b. 26 Pulau mempunyai luas antara 5-10 ha c. 24 Pulau mempunyai luas lebih dari 10 ha
Keadaan angin di Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh angin monsoon yang secara garis besar dapat dibagi menjadi Angin Musim Barat (Desember-Maret) dan Angin Musim Timur (Juni-September). Musim Pancaroba terjadi antara bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Kecepatan angin pada musim Barat bervariasi antara 7-20 knot/jam, yang umumnya bertiup dari Barat Daya sampai Barat Laut. Angin kencang dengan kecepatan 20 knot/jam biasanya terjadi antara bulan Desember-Februari. Pada musim Timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot/jam yang bertiup dari arah Timur sampai Tenggara. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember-April dengan hujan antara 10-20 hari/bulan. Curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari dan total curah hujan tahunan sekitar 1700 mm. Musim kemarau kadang-kadang juga terdapat hujan dengan jumlah hari hujan antara 4-10 hari/bulan. Curah hujan terkecil terjadi pada bulan Agustus (Noor 2003).
Kawasan Kepulauan Seribu memiliki topografi datar hingga landai dengan ketinggian sekitar 0-2 meter d.p.l. Luas daratan dapat berubah oleh pasang surut dengan ketinggian pasang antara 1-1,5 meter. Morfologi Kepulauan Seribu merupakan dataran rendah pantai, dengan perairan laut ditumbuhi karang yang membentuk atol maupun karang penghalang. Atol dijumpai hampir diseluruh gugusan pulau, kecuali Pulau Pari, sedangkan fringing reef dijumpai antara lain di P. Pari, P. Kotok dan P. Tikus (Noor 2003).
Suhu permukaan di Kepulauan Seribu pada musim Barat berkisar antara 28,5-30 °C. Pada musim Timur suhu permukaan berkisar antara 28,5-31 °C. Salinitas permukaan berkisar antara 30-34 0/00 pada musim barat maupun pada
musim timur (Dinas Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta 1998 in Noor 2003). 2.2. Morfologi dan Klasifikasi Lumba-lumba
Lumba-lumba merupakan mamalia laut yang hidup bergerombol. Menurut Priyono (2001), klasifikasi lumba-lumba di Indonesia adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Cetacea
Subordo : Odontoceti (toothed whales) Famili : Delphinidae (oceanic dolphins) Genus : Genus Delphinus
Delphinus delphis (Short-Beaked Common Dolphin) (Linneaus 1758)
Genus Tursiops
Tursiops truncatus (BottlenosedDolphin) (Montagus 1821) Genus Sousa
Sousa chinensis (Indo-Pacific Hump-backed Dolphin) (Osbeck 1765)
Genus Stenella
Stenella attenuata (Pantropical Spotted Dolphin) (Gray 1846)
Stenella longirostris (Spinner Dolphin) (Gray 1828)
Stenella coeruleoalba (Striped Dolphin) (Meyen 1833) Genus Steno
Steno bredanensis (Rough-Toothed Dolphin) (Lesson 1828) Genus Grampus
Grampus griseus (Risso's Dolphin) (Cuvier 1812) Genus Lagenodelphis
Genus Orcaella
Orcaella brevirostris (Irrawaddy Dolphin) (Gray 1866)
Gambar 1. Morfologi mamalia laut (Edward 1993 in Siahainenia 2008) Dari segi reproduksi lumba-lumba termasuk yang lama dan sulit berkembang biak dengan cepat karena memerlukan waktu reproduksi yang lama seperti manusia. Lumba-lumba tergolong hewan mamalia yang melahirkan dan menyusui anaknya. Masa reproduksi setiap jenis lumba-lumba berbeda-beda antara 10-12 bulan. Data masa bunting lumba-lumba terdapat pada tabel 1.
Tabel 1. Masa lama reproduksi berbagai jenis lumba-lumba
Lumba-lumba termasuk ke dalam Famili Delphinidae, yaitu famili yang banyak anggotanya dibandingkan dengan famili lainya dan betuk tubuh yang beragam. Hampir sebagian besar dari famili ini memiliki kesamaan bila dilihat sepintas. Cara membedakan antar spesies dapat dilakukan dengan identifikasi (Ali 2006). Menurut Carwardine (1995) identifikasi lumba-lumba, paus dan porpoise di laut dapat dilakukan dengan melihat beberapa tanda atau ciri-ciri yang ada, antara lain:
1. Ukuran tubuhnya
2. Posisi, bentuk dan warna sirip punggung (dorsal fin)
No Jenis lumba-lumba Masa reproduksi (Bulan) 1 Tursiops truncatus 12
2 Delphinus delphis 10 – 11 3 Stenella attenuata 9 - 11.5 4 Stenella longirostris 9,5 – 10,7 5 Stenella coeruleoalba 12
3. Ciri-ciri lain yang tidak biasa
4. Bentuk tubuh, kepala dan moncongnya 5. Warna dan tanda yang ada di tubuhnya
6. Karakteristik semburan air dan lubang hidung (hanya untuk hewan yang lebih besar)
7. Bentuk ekor dan tanda-tandanya
8. Tingkah laku di permukaan dan urutan waktu menyelam 9. Breaching dan aktivitas lainya
10. Jumlah hewan yang diamati
11. Habitat utamanya (pantai,sungai dan lain-lain) 12. Lokasi geografi
Delphinus delphis (Short-Beaked Common Dolphin) memiliki bentuk tubuh ramping dengan moncong sedang sampai panjang serta sebuah sirip punggung yang agak tinggi dan agak membentuk sabit. Punggung berwarna abu-abu kecoklatan gelap, perut berwarna putih serta warna coklat kemerahan pada bagian depan sirip ventral dan melebar ke bawah hingga ke bagian bawah sirip punggung. Corak abu- abu terang terdapat pada batang ekor, moncongnya berwarna gelap dengan sebuah garis yang memenjang dari apexmelon (kening) hingga ke lingkar mata. Bobot tubuhnya mencapai 135 kg pada saat dewasa dengan panjang 2,3-2,6 m (Priyono 2001).
Tursiops truncatus (Bottlenosed Dolphin) menghuni perairan pantai. Tubuhnya relatif tegak dengan moncong yang pendek. Sirip punggungnya tinggi dan berujung agak bengkok seperti bulan sabit serta muncul dari pertengahan punggung. Pada bagian punggung berwarna abu-abu terang hingga agak hitam dan kadang berbintik. Terdapat garis gelap dari mata hingga ke flipper. Pada bagian muka dan dari apexmelon ke lubang hidung berwarna abu-abu dengan ukuran tubuh 1,9-3,8 m dan bobot berkisar 650 kg. Lumba-lumba ini sering memukul-mukul air dengan ekornya, berlompatan dan membentuk formasi di udara. Daerah penyebaran lumba-lumba hidung botol terutama di perairan pantai dan lepas pantai di daerah tropis dan subtropis (Priyono 2001).
Sousa chinensis (Indo-Pacific Hump-backed Dolphin) atau sering disebut lumba-lumba bongkok, memiliki panjang badan 3,2 m untuk jantan dan 2,5 m untuk
betina dan bobotnya bisa mencapai 284 kg. Badannya besar, kuat dan tegap dengan sebuah moncong panjang yang jelas. Terdapat melon yang kecil pada dahi. Selain itu, terdapat juga sebuah bongkok, yaitu sebuah tonjolan pada punggung tempat sirip dorsal berada. Di daerah tertentu, terkadang terdapat pula lipatan pada batang ekor. Lumba-lumba jantan biasanya mempunyai bongkok dan lipatan yang lebih besar dibandingkan betina (Jefferson et al. 1993).
Pola warnanya bervariasi tergantung umur dan daerah tempat tinggal. Diantaranya adalah abu-abu gelap putih pada punggung dan sisi samping atas, kemudian biasanya lebih cerah pada sisi samping bawah sampai ke perut. Terdapat ujung putih pada moncong, flipper, dan sirip dorsal. Ketika dewasa terkadang terdapat bintik berwarna putih atau merah muda. Spesies ini terkadang melakukan akrobatik melompat berputar di udara (Jefferson et al. 1993). Sousa chinensis
tersebar di pesisir perairan hangat 4 musim, daerah pesisir laut tropis, dan perairan lepas pantai Afrika Selatan sampai Laut Merah dan Thailand, Kepulauan Indo- Australia sampai bagian utara Laut Cina Selatan dan pesisir utara Australia. Mereka adalah penghuni tropis ke perairan pantai beriklim sedang hangat dan mereka masuk sungai, muara, dan pohon bakau (Jefferson et al. 1993). Menurut Hoyt (2005), lumba-lumba bongkok ini melakukan perkawinan, melahirkan, perawatan anak, dan mencaridi daerah pantai (inshore).
Stenella attenuata (Pantropical Spotted Dolphin) bertubuh ramping dengan moncong panjang dan tipis yang terpisah dari melon oleh sebuah lipatan yang jelas. Sirip punggung sempit, berbentuk sabit, dan ujungnya runcing. Ciri khas jenis ini adalah terdapatnya pola bintik-bintik pada punggung yang menyempit ke arah kepala dan mulai memudar pada bagian depan sirip dorsal. Ukuran lumba-lumba betina dewasa 1,6-2,4 m dan untuk lumba-lumba jantan panjangnya 1,6-2,6 m. Pada saat lahir panjangnya hanya mencapai 85 cm. Bobot tubuhnya mencapai 120 kg. Lumba-lumba totol merupakan jenis perenang cepat dan sering mengikuti haluan kapal (Priyono 2001).
Stenella longirostris (Spinner Dolphin) atau sering disebut lumba-lumba paruh panjang memiliki tubuh yang ramping dengan moncong yang panjang dan tipis. Sirip punggungnya tegak berbentuk sabit, hampir menyerupai segitiga. Pada lumba-lumba jantan dewasa terkadang sirip punggungnya miring ke depan sehingga
nampak seolah-olah sedang bergerak ke arah belakang, dan batang ekor nampak sangat tebal. Terdapat garis gelap dari mata ke flipper, serta warna gelap pada bibir dan ujung moncong. Pola warna pada tubuh lumba-lumba ini ada 3 bagian, yaitu warna abu-abu gelap pada bagian punggung, abu-abu terang pada sisi tubuh dan warna putih pada perut denga panjang saat dewasa 2-2,4 m dan bobot 77 kg (Priyono 2001).
Stenella coeruleoalba (Striped Dolphin) memiliki pola warna sangat menarik, yaitu pada bagian perut putih agak merah muda dan punggung abu-abu gelap. Warna hitam pada moncong bersambung dengan garis hitam yang melingkari mata dan terus memanjang ke belakang hingga bagian anus. Ada pula sebuah garis dari mata ke flipper dan sebuah garis hiasan diantara kedua garis hitam tersebut. Warna flipper dan sirip punggung adalah abu-abu gelap hingga hitam dengan panjang dewasa mencapai 2,6 m dan bobot 156 kg (Priyono 2001).
Steno bredanensis (Rough-Toothed Dolphin) atau sering disebut lumba- lumba gigi kasar. Tubuhnya tegap dengan kepala agak kerucut dan tidak ada batas antara melon dengan moncong. Sirip punggungnya berbentuk bulan sabit. Warna tubuhnya abu-abu gelap dengan sebuah garis sempit pada punggung. Warna bagian perut, bibir, dan rahang bawah adalah putih. Panjang tubuhnya mencapai 2,8 m dengan bobot tubuh mencapai 150 kg (Priyono 2001).
Grampus griseus (Risso's Dolphin) memiliki tubuh yang relatif besar dan tegap dengan kepala membulat tanpa moncong. Flipper panjang, runcing, dan melengkung. Sirip punggungnya tinggi dan berbentuk sabit. Pada bagian mulut terdapat garis-garis mulut yang miring ke depan. Ciri khas dari lumba-lumba ini adalah sebuah tonjolan pada bagian depan melon (kepala). Warna tubuh dewasa berkisar antara abu-abu gelap hingga hampir putih, tetapi yang khas adalah tubuhnya tertutup dengan goresan-goresan putih dan bintik-bintik dengan panjang 3,8 m dan bobot mencapai 400-500 kg. Sedangkan lumba-lumba yang masih muda tubuhnya berwarna abu-abu terang hingga abu-abu gelap kecokelatan, serta relatif tidak memiliki goresan-goresan (Priyono 2001).
Lagenodelphis hosei (Fraser's Dolphin) memiliki bentuk tubuh tegap dan sirip-sirp yang kecil. Sirip punggungnya kecil berbentuk segitiga atau agak menyabit. Monconya sangat pendek dan tebal. Warna tubuhnya mencolok, terdapat
sebuah garis gelap dengan lebar yang bervariasi dan memanjang dari wajah hingga anus. Garis ini akan nampak melebar dan bertambah gelap dengan bertambahnya umur. Punggungya berwarna abu-abu kecoklatan gelap, sedangkan sisi bawahnya warna krem dan bagian perutnya berwarna putih atau merah muda dengan panjang mencapai 2,7 m dan bobot 219 kg (Priyono 2001).
Orcaella brevirostris (Irrawaddy Dolphin) memiliki kepala bulat secara luas dan tidak memiliki paruh. Sirip dorsal kecil dan lebar, menyerupai dayung untuk memudahkan pergerakan. Pola warna bervariasi antara abu-abu gelap ke abu-abu terang. Panjang maksimumnya mencapai 275 cm, tapi rata-rata hanya 210 cm, dengan berat tubuh 115-130 kg.
Lumba-lumba lrrawaddy menyukai daerah pantai, terutama yang berlumpur, air payau di mulut sungai dan tidak melakukan migrasi untuk menjelajah jauh ke lepas pantai. Menurut Hoyt (2005), lumba-lumba Irrawaddy melakukan perkawinan, melahirkan, perawatan anak, dan mencari di daerah pantai (inshore) dan sungai. Beberapa populasi terbatas pada air tawar. Mereka sering terlihat berada di daerah yang sama dengan lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba bongkok (Sousachinensis).
Satwa lumba-lumba dan paus dengan bentuk badan seperti ikan termasuk ordo cetacea yang hidup dilingkungan perairan. Untuk mampu bergerak dengan efektif dalam lingkungan perairan, tubuh lumba-lumba sangat hidrodinamis seperti tropedo atau streamline, dengan bagian ujung tubuh yang meruncing dan langsing, sehingga memungkinkan bergerak dalam air tanpa hambatan yang berarti. Sirip ekor pada lumba-lumba berposisi mendatar tidak tegak atau berdiri, serta bergerak naik turun untuk membantu mendorong tubuhnya. Untuk bergerak dalam air, lumba-lumba dilengkapi pula dengan sirip dada dan sirip punggung dan memiliki moncong yang panjang serta ukuran tubuh yang lebih kecil. Panjang tubuh lumba- lumba terbesar umumnya dibawah 5 meter dengan usia produktif dicapai antara umur 1,5-2,6 meter ( Priyono 2001).
2.3. Tingkah Laku Lumba-lumba
Lumba-lumba termasuk dalam ordo cetacea. Cetacea melakukan berbagai macam gerakan dan tingkah laku yang berhubungan dengan kehidupanya. Tingkah laku ini sangat beragam, mulai dari yang sangat jelas terlihat sampai yang sangat
jarang dilakuakan, namun dapat dipelajari beberapa jenis tingkah laku dari cetacea sehungga bias mengartikan tingkah laku tersebut.
Paus dan lumba-lumba seringkali melakukan aktivitas melompat ke udara dengan kepala terlebih dahulu dan menjatuhkan diri kembali ke air. Aktivitas ini disebut dengan istilah breaching. Aktivitas breaching ini masih merupakan misteri namun terdapat beberapa alasan yaitu sebagai suatu tanda, menghilangkan parasit yang menempel pada tubuh mamalia tersebut, untuk kekuatan, sekedar kesenangan dan suatu bentuk komunikasi pada kelompok mereka (Carwadine 1995).
Beberapa mamalia laut kecil seperti lumba-lumba mampu melakukan lompatan yang sangat tinggi dan terkadang melakukan gerakan salto, berputar dan berbalik sebelum masuk kembali ke air dan gerakan ini disebut dengan aerials
(Carwadine 1995). Disamping itu aktivitas lainya adalah bowriding. Carwadine (1995) menjelaskan bahwa bowriding adalah aktivitas berenang yang dilakukan lumba-lumba mengikuti gerakan ombak yang terjadi akibat gerakan kapal dan mengikuti kapal tersebut. Aktivitas ini merupakan salah satu bentuk peramainan yang dilakukan lumba-lumba.
Sphyop adalah gerakan memunculkan kepala ke permukaan air. Gerakan ini berfungsi untuk mengamati keadaan disekitarnya karena jarak pandang di udara lebih jauh dibandingkan didalam air. Sementara aktivitas lainnya adalah gerakan mengangkat flukes atau ekor tersebut kedalam air yang disebut dengan lobtailing. Diduga hal ini berkaitan dengan agresifitas lumba-lumba dan paus dengan salah satu cara komunikasi (Carwadine 1995).
Menurut Shane (1990) in Siahainenia 2008, lumba-lumba memiliki tingkah laku sosial yang ditandai dengan :
1. Greeting: lumba-lumba melakukan greeting pada beberapa keadaan ketika bertemu kelompoknya dengan cara berenang cepat diantara yang lainnya di